Tampilkan postingan dengan label Pondok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 November 2015

MTA Solo Diajak Baca Kitab Kuning Malah Kabur

Santriwati Cantik - Sebagaimana dijelaskan dalam site resminya, Yayasan Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) adalah sebuah lembaga pendidikan dan dakwah Islamiyah yang berkedudukan di Surakarta. MTA didirikan oleh Almarhum Ustadz Abdullah Thufail Saputra di Surakarta pada tangal 19 September 1972 dengan tujuan untuk mengajak umat Islam kembali ke Al-Qur’an. Sesuai dengan nama dan tujuannya, pengkajian Al-Qur’an dengan tekanan pada pemahaman, penghayatan, dan pengamalan Al-Qur’an menjadi kegiatan utama MTA.

Organisasi yang sekarang dipimpin oleh Ahmad Sukino ini, meskipun bertujuan melakukan pengkajian Al-Qur’an dengan tekanan pada pemahaman, penghayatan, dan pengamalan Al-Qur’an, namun dalam prakteknya cara pemahamannya sangat dangkal dan cenderung memahami sesuai keinginan nafsunya untuk membid’ahkan dan mengkufurkan orang Islam.

Meskipun sering menyalahkan dan membid’ahkan orang, ternyata organisasi ini tidak kebal kritik atau tidak mau diluruskan apalagi disalahkan. Salah satu buktinya, pada Pengajian di Wonosobo dalam tri wulanan jamaah tariqoh Naqsabandiyah-Kholidiyah, Gus Zuhrul Anam Pondok Pesantren Leler Banyumas, salah seorang menantu Mbah Kyai Maimun Zubair Sarang dan murid Abuya Sayyid Muhammad Alwy al Maliki, bercerita bahwa beliau baru saja didatangi kelompok garis keras MTA (Majelis Tafsir Al-Quran).

MTA menyatakan keberatan dengan pengajian-pengajian Gus Anam yang sering menyinggung-nyinggung MTA. Gus Anam menjawab, bahwa dia menyinggung ajaran MTA hanya sekadar menggunakan hak jawab, karena ceramah-ceramah MTA sering membid’ahkan dan menyesat amaliah-amaliah umat Islam, khususnya NU. Gus Anam menyarankan agar MTA tidak usah menyinggung-menyinggung soal khilafiah dalam dakwahnya.

MTA tetap tidak bisa menerima penjelasan Gus Anam. Gus Anam kemudian mengusulkan debat terbuka di Banyumas difasilitasi perguruan tinggi dengan guru-guru atau tokoh MTA. Debat disiarkan langsung di TV, diliput wartawan-wartawan untuk membuktikan siapa yang benar. MTA tidak mau, alasannya agama bukan untuk debat-debatan.

Gus Anam menjawab yang membuat masalah terlebih dahulu bukan dirinya, tapi MTA. Dan di dalam Qur’an disebutkan “wa jadilhum billatiy hiya ahsan”.

Meski sudah dijelaskan panjang, MTA tetap memaksa Gus Anam jangan menyinggung-nyinggung lagi MTA dalam tiap pengajiannya. Bosan bertemu dengan orang-orang bodoh tapi ngeyel, Gus Anam akhirnya mengambil kitab, tokoh-tokoh MTA disodori kitab diminta membaca kitab tersebut. Mengetahui akan dites bahasa Arab dan pengetahuan agamanya, rombongan MTA langsung bersiap pamit.

Gus Anam terus meminta agar salah satu rombongan MTA mau membaca kitab itu, tapi tetap tidak mau, bahkan mereka terus berdiri, dan pergi tanpa sempat menikmati minuman dan makanan yang dhidangkan.

Cerita ini, seperti cerita-cerita lain tentang tokoh-tokoh Wahabi yang sering lari bila diajak berdebat atau berdiskusi sehat untuk membuktikan hujjah siapa yang sahih dan benar, bukan dalam rangka merendahkan mereka, namun agar kita semua tidak mudah terlena dengan jargon kembali kepada Al Qur’an dan Hadits. Terlebih bila jargon itu dipekikkan oleh orang yang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban ilmu yang dimilikinya, dan hanya berani bermain petak umpet, seperti anak kecil yang tidak perlu diladeni apalagi digugu dan ditiru. Wallahu a’lam bish shawwab. [Santriwati Cantik/ab]


Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/mta-solo-diajak-baca-kitab-kuning-malah-kabur.html

Minggu, 05 Oktober 2014

Kondisi Pendidikan Terkini Jadi Perhatian Halal Bihalal IPNU-IPPNU Jatim Lintas Generasi

Surabaya, Santriwati Cantik. Sejumlah kejadian yang melingkupi dunia pendidikan di Tanah Air akan menjadi perhatian aktivis lintas generasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Jawa Timur. Para praktisi dan wakil rakyat akan bertemu dalam kegiatan halal bihalal dan temu alumni lintas generasi, Ahad (24/7) mendatang.

"Kasus dipenjarakannya sejumlah guru akibat melakukan tindakan yang dianggap menyakiti peserta didik tentu akan didiskusikan dari berbagai aspek," kata Sudarsono, Kamis (14/7). Demikian pula terbatasnya sarana dan prasarana bagi lembaga pendidikan negeri serta swasta, juga alokasi anggaran yang mestinya diterima para guru dan praktisi pendidikan, lanjutnya.

Kondisi Pendidikan Terkini Jadi Perhatian Halal Bihalal IPNU-IPPNU Jatim Lintas Generasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kondisi Pendidikan Terkini Jadi Perhatian Halal Bihalal IPNU-IPPNU Jatim Lintas Generasi (Sumber Gambar : Nu Online)


Kondisi Pendidikan Terkini Jadi Perhatian Halal Bihalal IPNU-IPPNU Jatim Lintas Generasi

Berbagai masukan dari sejumlah kota dan kabupaten diharapkan juga mendapat perhatian di acara yang akan berlangsung di Aula PWNU Jatim tersebut. "Termasuk minimnya perhatian pemerintah kepada lembaga pendidikan madrasah dan pesantren," kata mantan Ketua PW IPNU Jatim periode tahun 1988-1992 tersebut. Padahal tidak sedikit pesantren dan madrasah yang telah berusia satu abad dan memberikan pendidikan berkualitas kepada anak bangsa.

Narasumber yang akan dihadirkan adalah wakil rakyat dari DPRD yang membidangi pendidikan. "Juga akan hadir aktivis IPNU yang sekarang menjadi aktif di Dewan Pendidikan Propinsi Jatim," katanya. Dan sebagai perimbangan, akan diundang pula pengamat pendidikan.

Santriwati Cantik

Santriwati Cantik

"Kegiatan nantinya dikemas dalam acara halal bi halal karena masih dalam nuansa bulan Syawal," kata Cak Dar, sapaan akrabnya. Karenanya kegiatan juga sebagai ajang reuni seluruh aktifis, simpatisan, serta kader IPNU dan IPPNU se-Jawa Timur.

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Merdeka Surabaya ini mengemukakan bahwa kegiatan ini akan mempertemukan seluruh angkatan kepengurusan. "Kalau PW IPNU Jatim hingga saat ini sudah mencapai periode ke-22, sedangkan kepengurusan IPPNU memasuki periode ke-18," terangnya.

"Dengan pertemuan sekaligus halal bihalal ini akan diketahui, siapa saja para aktifis yang telah membesarkan IPNU serta IPPNU pada periode awal hingga saat ini," katanya. Para generasi muda yang menjabat kepengurusan saat ini harus berterimakasih kepada para senior, demikian pula para pendahulu bisa mengetahui perkembangan badan otonom tersebut, lanjutnya.

Halal bihalal dan temu alumni lintas generasi IPNU dan IPPNU ini akan berlangsung di Aula PWNU Jalan Masjid Al-Akbar Timur 9 Surabaya. "Informasi ini sekaligus sebagai undangan bagi rekan IPNU dan IPPNU Jatim di berbagai kota di Tanah Air untuk hadir dan bisa menyampaikan kepada kerabat yang lain," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/69713/kondisi-pendidikan-terkini-jadi-perhatian-halal-bihalal-ipnu-ippnu-jatim-lintas-generasi

Selasa, 24 Desember 2013

Foto 2006 Disebar Lagi Untuk Provokasi Kebencian Tionghoa

Santriwati Cantik - Dalam sepekan ini beredar foto warga keturunan Tionghoa yang menggunakan atribut mirip pakaian Satuan Brimob Polda Sumut di jejaring sosial. Foto-foto itu menimbulkan pertanyaan besar. Banyak di antara netizen yang menyalahkan pemerintah.

Dalam foto tersebut sembilan orang warga keturunan Tionghoa terlihat berdiri rapi dalam pose berfoto.

Selain manggunakan baret, mereka juga menggunakan tanda kepangkatan plus sepatu hitam mengkilat.

Foto tersebut sempat dikaitkan dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Forum Bhayangkara Indonesia (FBI) yang juga menggunakan seragam layaknya anggota Polri.

Mulai lencana, seragam hingga baret.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Rina Sari Ginting, mengatakan ke sembilan orang tersebut memang mengunakan seragam satuan Brimob.

"Benar memang seragam yang digunakan tersebut milik Polri," katanya, Senin (19/12/2016).

Ke sembilannya orang yang diebut bermata sipit itu, kata Rina, adalah warga sipil yang mahir menggunakan peralatan musik dan tergabung dalam Korps Musik (Korsik) Brimob Polda Sumut. "Mereka adalah orang sipil yang menggunakan seragam polisi," ujarnya.

Menurutnya, mereka hanya menggunakan seragam pada moment tertentu di Polda Sumut. Dan mereka hanya tampil khusus untuk membawakan musik.

Namun, mantan Kapolres Binjai ini mengaku heran dengan kembali beredarnya foto tersebut. Dia mengatakan foto tersebut didokumentasikan pada tahun 2006. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/foto-2006-disebar-lagi-untuk-provokasi-kebencian-tionghoa.html

Jumat, 13 Desember 2013

Penetapan Fatwa NU sudah Komprehensif

Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) merupakan perangkat organisasi Nahdlatul Ulama (NU) bertugas menyelenggarakan forum bahtsul masail atau kajian hukum Islam, dalam hal ini berkaitan dengan fatwa. Bahtsul masail melibatkan para kiai yang berada di jajaran syuriyah maupun para ahli fikih yang tersebar di berbagai pondok pesantren.

Perkembangan mutakhir mengantarkan bahtsul masail turut merespon isu-isu hukum kontemporer. Akan tetapi, sudut pandang tradisional yang dipakai kadang memancing kritik dari sejumlah pihak. Misalnya, bahtsul masail mendapat tudingan sebagai anti konteks, konservatif, dan lain-lain. Berikut wawancara Mahbib Khoiron dari Santriwati Cantik dengan Wakil Ketua Pengurus Pusat LBM NU, KH Arwani Faisal.

Penetapan Fatwa NU sudah Komprehensif (Sumber Gambar : Nu Online)
Penetapan Fatwa NU sudah Komprehensif (Sumber Gambar : Nu Online)


Penetapan Fatwa NU sudah Komprehensif

Bagaimana LBM menanggapi kritik beberapa akademisi bahwa bahtsul masail selama ini kurang ilmiah dalam menyikapi kasus hukum?

Menurut saya itu karena mereka belum paham. Mereka mengerti hukum Islam baru secara dhahir saja. Justru cara yang ditempuh oleh NU setiap kali membahas hukum itu lebih general dan lebih transparan. Karena, banyak langkah yang harus dilalui. Pertama, harus mengulas pandangan ulama mujtahid dari berbagai mazhab. Dalam satu mazhab sudah ada perbedaan pandangan, apalagi menginventarisir mazhab-mazhab lain. Dari sekian pendapat-pendapat itu kita telusuri dalil-dalil yang digunakan. Itulah yang dimaksud proses istidlal (penerapan dalil). Terus kita telusuri juga proses istinbath-nya (penggalian hukum). Baru nanti kita tentukan mana yang lebih kuat dari sekian banyak pendapat itu. Jadi lebih general dan lebih transparan ketimbang orang yang langsung mengambil ayat untuk memutuskan hukum.

Santriwati Cantik

Santriwati Cantik

Apakah konteks historis dari pendapat-pendapat ulama itu juga dibahas?

Kalau untuk fatwa memang jawabannya singkat padat. Fatwa di manapun jawaban dipaparkan secara ringkas, bukan uraian kajian buku atau kitab. Kalau soal berdasarkan istidlal dan istinbath itu sudah pasti. Makanya yang mengerti fatwa itu hanya orang-orang yang benar-benar menguasai proses istinbatul hukmi; dari proses istidlal, istinbath, sampai ke tarjih (pemilihan pendapat yang terkuat). Kalau pihak akademisi mengritik berarti mereka baru kenal Islam.

Kalau soal sejarah dan konteks, sejauhmana petingnya dalam pengambilan hukum?

Sejarah itu sebagai sababun nuzul saja. Sebab turunnya suatu dalil. Itu kan tidak mutlak jadi putusan hukum. Sebab hukum itu lebih luas, sementara sababun nuzul itu sifatnya khusus. Makanya ada pernyataan al-ibrah bi umumil lafdh la bi khususis sabab (hukum mengacu pada teks, bukan konteks). Itu kaidah ushul fiqh. Jadi yang dipandang itu dalalah. Dalil secara umum, bukan sebab yang lebih khusus itu.

Suatu contoh, ketika di antara para shahabat bertanya tentang air laut, suci apa nggak? sementara air tawar tidak ditemukan. Nah, Rasulullah menyatakan, at-thuhur mauhu. Artinya, suci airnya (air laut). Rasulullah saat ditanya itu kan dalam kondisi tidak ditemukannya air tawar, tapi itu bukan berarti kita hanya boleh menggunakan air laut. Bukan begitu. Meskipun ada air tawar, air laut juga suci. Lha, itu artinya al-ibrah bi umumil lafdh la bi khususis sabab.

Kalau pentingnya konteks kekinian dalam proses penetapan hukum?

Oh, itu hal biasa. Konteks kekinian tetap menjadi pertimbangan. Tapi harus dipilah tentang aspek-aspek hukumnya. Masalikul illat-nya atau reason of law-nya. Jadi tidak konteks itu dibawa secara utuh. Keterlibatan konteks itu pasti, karena justru yang dijawab itu kan persoalan konteks. Substansi persoalnnya kan konteks itu. Tapi tidak serta-merta mengambil unsur illat (alasan) hukum. Illat hukum dalam konteks itu kan banyak sekali. Illat hukum itulah nanti yang akan dibahas. Maksudnya, apakah mengandung mashlahah (kebaikan/kemanfaatan) atau mafsadah (kerusakan/mudarat), ada landasan hukumnya atau tidak, dan sebagainya. Jadi kajian hukum itu sangat general. Jadi tidak bisa dipahami dari secara tekstual dari al-Quran dan as-Sunnah, tapi harus diuji dulu bagaimana istidlal. Pembahasan istidlal nanti mengarah pada bagaimana wajhud dalalah-nya (aspek dalil), dikaji dari segi istinbath-nya. Putusan hukum yang didasari dengan illat.

Apakah proses penetapan hukum juga melibatkan pakar-pakar lain di luar bidang fiqh?

Setiap bahas hukum pasti melibatkan ahli. Karena hukum diputuskan berdasarkan orang-orang ahli itu. Satu contoh misalkan ketika membahas vaksin meningitis atau vaksin polio. Kita harus ngerti unsur-unsurnya apa saja yang terkait dengan hukum. Pasti, setiap membahas hukum ada tahqiq. Itu namanya tahqiqul manat. Kalau ada pemikir yang menyebut tidak melibatkan ahli tidak benar. Kalau nggak melibatkan mereka mungkin iya karena mereka bukan orang ahli. Itu lho persoalannya.

Pernah ada masyarakat yang tidak puas terhadap keputusan bahtsul masail?

Alhamdulillah tidak ada. Justru apa yang diputuskan selama ini diterima masyarakat dengan baik.

Kadang-kadang kita mengenal sikap mauquf, itu maksudnya apa

Tida ada. Nggak pernah ada kajian yang sifatnya mauquf. Tidak ada. Mauquf itu artinya persoalan belum bisa diputuskan hukumnya. Selama ini belum pernah ada. Semua dibahas tuntas, karena kajian bersifat general dan transparan itu. General terkait dengan pembahasan hukum, lho ya. Komprehensif.

Untuk akumulasi masalah di daerah-daerah, cara LMB seperti apa?

Kalau persoalan di wilayah akan dibahas oleh wilayah. Karena pengurus wilayah sampai pengurus cabang punya lembaga bahtsul masailnya. Jadi mereka punya otoritas untuk melaksanakan bahtsul masail, dan mereka bener-bener mandiri. LBM Pusat (Pengurus Pusat LBM NU, Red) tidak mempengaruhi. Jadi sangat mandiri.

Tidak ada klasifikasi putusan benar-salah. Mereka memutuskan kan dasarnya jelas. Dengan kajian yang sifanya komprehensif dan transparan, karena diawali kajian pandangan ulama mujtahid yang empat mazhab itu.

Yang dilakuan PP LBM NU terhadap segenap putusan di daerah?

LBM PBNU melakukan tahqiq atau verifikasi keputusan-keputusan wilayah yang dikirimkan atau dimintakan dilakukan tahqiq, kalau nggak, ya nggak. Jadi sebatas melakukan tahqiq keputusan-keputusan wilayah yang dimintakan kepada LBM PBNU untuk mentahqiq. Dan tidak ada ketentuan bahwa keputusan wilayah itu harus ditahqiq oleh LBM PBNU.

Menjelang kampanye pemilu atau pilkada, ada yang menemukan surat edaran bahtsul masail yang memihak politisi tertentu, itu bagaimana?

Itu oknum-oknum tertentu yang ingin memanfaatkan keputusan hukum di NU untuk kepentingan partai atau politik. Kalau memang terjadi, hal itu di luar sepengetahuan LBM PBNU. Bisa jadi hal-hal itu dilakukan oleh orang atau sekelompok orang yang tidak senang dengan NU.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari (Wawancara) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/37207/penetapan-fatwa-nu-sudah-komprehensif

Santriwati Cantik

Kamis, 25 Juli 2013

LPBINU Sampang Desak Pemerintah Perbaiki Terumbu Karang

Sampang, Santriwati Cantik. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) menilai, kerusakan lingkungan di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, tak hanya terjadi di darat tapi juga di laut. Ironisnya, selama ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang memandang sebelah mata dalam menyikapi rusaknya terumbu karang di laut.

Menurut Ketua LPBINU Sampang Hasan Jailani, kerusakan alam di dasar laut salah satunya terjadi di perairan Pulau Mandangin, Sampang. Akibat kerusakan itu, tiap tahunnya sebaran terumbu karang di perairan Pulau Mandangin menjadi berkurang.

LPBINU Sampang Desak Pemerintah Perbaiki Terumbu Karang (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Sampang Desak Pemerintah Perbaiki Terumbu Karang (Sumber Gambar : Nu Online)


LPBINU Sampang Desak Pemerintah Perbaiki Terumbu Karang

Untuk itu, kami mengajak Pemerintah Daerah ikut terlibat. Karena salama ini pemerintah tidak pernah menyentuh ke arah pelestaraian terumbu karang. Masyarakat juga harus bersama-sama menjaga alam. Karena kerusakan alam terjadi akibat ulah manusia, tegas pria yang akrab dipanggil Mamak ini, Rabu (16/12/2015).

Mamak menambahkan, untuk menanggulangi kerusakan terumbu karang, pihaknya Selasa, (15/12) kemarin, terlibat dalam kegiatan rehabilitasi Pulau Mandangin bersama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Pesisir dan Kelautan (PPLPK) dan Lembaga Pusat Pengabdian Masyarakat (LPPM).

Santriwati Cantik

Santriwati Cantik

Kegiatan yang diisi dengan aksi penenggelaman terumbu karang dan penataan terumbu karang buatan di peraian Pulau Mandangin tersebut melibatkan penyelam dari LPBINU Sampang, mahasiswa ilmu kelautan Universitas Trunojoyo Madura (UTM), serta warga Pulau Mandangin yang tergabung dalam kelompok konservasi Tase Biru.

Penyelam dari LPBINU Sampang, Parmadi, mengatakan, kondisi terumbu karang di Pulau Mandangin saat ini banyak yang rusak dan berkurang. Salah satu faktornya adalah aksi pengambilan batu karang oleh nelayan dan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dengan menggunakan potas.

Kegiatan ini juga melibatkan masyarakat setempat untuk memberikan pemahaman akan pentingnya menjaga terumbu karang dan lingkungan perairan. Karena terumbu karang menjadi tempat berlindung dan bertelurnya ikan, jadi kalau termbu karang rusak maka ikan tidak ada. Yang rugi juga nelayan karena hasil tangkapan berkurang, papar penyelam yang akrab dipanggil Aar. (Red: Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/64343/lpbinu-sampang-desak-pemerintah-perbaiki-terumbu-karang

Rabu, 19 Juni 2013

Jadi Ustadz Wahabi Dapat Gaji 1500 Dolar Perbulan, Mau?

Santriwati Cantik - Jadi dai yang mendakwahkan ideologi wahabi ternyata menggiurkan. Ada ongkos wajib yang diterimakan kepada ustadz wahabi setiap bulan. Nilainya tidak tanggung-tanggung, 1500 dolar.  Setara Rp.20 juta.

Hal itu diungkapkan oleh Ustadz Idrus Ramli dalam Tawajuhan Aswaja di Pondok Pesantren Afaada Sunan Pandanaran, Boyolali Jawa Tengah, Jumat (30/09/2016) malam. “Kalau membeli lahan, mereka dilayani bosnya,” kata Idrus dalam materi pertama, Aktualisasi Nilai-Nilai Aswaja.

Keterangan tentang gaji ustadz itu ia dapatkan dari seorang mantan ustadz wahabi dari Bogor yang sekarang sudah insaf kembali ke NU. Cerita yang disampaikan, sang ustadz itu adalah lulusan pondok pesantren. Karena tidak mendapatkan pekerjaan usai boyong dari pondok, ia iseng-iseng melamar lowongan kerja dakwah ala wahabi.

Jadi Ustadz Wahabi Dapat Gaji 1500 Dolar Perbulan, Mau? - Santriwati Cantik
Jadi Ustadz Wahabi Dapat Gaji 1500 Dolar Perbulan, Mau? - Santriwati Cantik


Jadi Ustadz Wahabi Dapat Gaji 1500 Dolar Perbulan, Mau?

Setelah diterima, sang ustadz ditugaskan berdakwah ke daerah-daerah target wahabisasi. Namun, kata Idrus, sang ustadz itu meminta kepada penyandang dana agar ditugaskan ke daerah-daerah terpencil yang sulit dipantau gerakannya oleh donatur. “Supaya bisa tahlilan dan maulidan,” kata Idrus menirukan pengakuan mantan ustadz wahabi itu.

Santriwati Cantik

Tapi, lama-kelamaan, sang ustadz justru yang sungkan sendiri karena tidak menjalankan misi dakwah wahabisasi sesuai keinginan big bos. “Akhirnya dia keluar sendiri dan kembali di NU,” terang Idrus.

Santriwati Cantik

Untuk menjadi ustadz wahabi, mereka juga harus bisa memerankan diri menuduh bid’ah orang-orang yang tidak melaksanakan sunnah. Jadi, yang tidak mau mengamalkan sunnah, harus dicarikan dalil agar bisa

dituduh bid’ah, kafir dan sesat.

“Padahal, orang yang tidak mengamalkan sunnah kan tidak bisa disebut ahli bid’ah sebab tidak mengamalkan sunnah itu tidak dosa,” jelas Idrus Ramli kepada 70 an santri peserta tawajuhan.

Bukan hanya itu, para pendana wahabi juga main curang dengan isi kitab kuning. Tafsir Showi yang menyebut golongan wahabi bagian dari kelompok Khawarij, minta dihilangkan dari percetakan jika mau dipasarkan dan dibeli oleh pemerintah Saudi Arabia. “Tidak bisa dijual di Saudi jika kata wahabi tidak dihapus,” tutur Idrus.

Kalimat yang harus dihilangkan dalam kitab tafsir karya Syeikh Ahmad bin Muhammad as Showy Al Maliky itu ada di halaman 78 cetakan lama. Artinya, “wahabi adalah golongan khawarij yang telah merusak

penafsiran Al-Qur’an dan As Sunnah, suka membunuh kaum muslimin dst”. Jika kalimat itu tidak ada, berarti palsu.

Intinya, yang membedakan metode dakwah wahabi dan ahlus sunnah wal jamaah adalah pendekatannya. Jika wahabi menggunakan suntikan harta (ekonomi), maka Aswaja menggunakan pendekatan ideologi, dan itu tiada biaya, seperti acara tawajuhan Aswaja di Boyolali itu. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/jadi-ustadz-wahabi-dapat-gaji-1500-dolar-perbulan-mau.html

Selasa, 09 Oktober 2012

Hadits-Hadits Menyatakan Bahwa Khilafah Sudah Selesai

Santriwati Cantik - Melihat referensi yang ada, sistem khilafah saat ini muttafaq alaih sudah selesai, tidak ada, alias bid'ah. Buktinya adalah, pertama, hadits shahih berikut ini:

Hadits-Hadits Menyatakan Bahwa Khilafah Sudah Selesai - Santriwati Cantik
Hadits-Hadits Menyatakan Bahwa Khilafah Sudah Selesai - Santriwati Cantik


Hadits-Hadits Menyatakan Bahwa Khilafah Sudah Selesai

عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُمْهَانَ قَالَ حدثني سَفِينَةُ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْخِلاَفَةُ فِي أُمَّتِي ثَلاَثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ لِي سَفِينَةُ أَمْسِكْ خِلاَفَةَ أَبِي بَكْرٍ ثُمَّ قَالَ وَخِلاَفَةَ عُمَرَ وَخِلاَفَةَ عُثْمَانَ ثُمَّ قَالَ لِي أَمْسِكْ خِلاَفَةَ عَلِيٍّ قَالَ فَوَجَدْنَاهَا ثَلاَثِينَ سَنَةً قَالَ سَعِيدٌ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّ بَنِي أُمَيَّةَ يَزْعُمُونَ أَنَّ الْخِلاَفَةَ فِيهِمْ قَالَ كَذَبُوا بَنُو الزَّرْقَاءِ بَلْ هُمْ مُلُوكٌ مِنْ شَرِّ الْمُلُوكِ.

Artinya: Sa’id bin Jumhan berkata “Safinah menyampaikan hadits kepadaku, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Pemerintahan Khilafah pada umatku selama tiga puluh tahun, kemudian setelah itu dipimpin oleh pemerintahan kerajaan.” Lalu Safinah berkata kepadaku: “Hitunglah masa kekhilafahan Abu Bakar (2 tahun), Umar (10 tahun) dan Utsman (12 tahun).” Safinah berkata lagi kepadaku: “Tambahkan dengan masa khilafahnya Ali (6 tahun). Ternyata semuanya tiga puluh tahun.” Sa’id berkata: “Aku berkata kepada Safinah: “Sesungguhnya Bani Umayah berasumsi bahwa khilafah ada pada mereka.” Safinah menjawab: “Mereka (Bani Umayah) telah berbohong. Justru mereka adalah para raja, yang tergolong seburuk-buruk para raja”. (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi).

Hadits di atas menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa kepemimpinan khilafah yang mengatur roda pemerintahan umat sesuai dengan ajaran kenabian (khilafah al-nubuwwah) dan menerapkan syariat Islam secara sempurna, hanya berjalan selama tiga puluh tahun, yaitu masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali -radhiyallahu ‘anhum. Sebagian ulama ada yang memasukkan masa pemerintahasan Sayidina Hasan bin Ali -radhiyallahu ‘anhuma-, ke dalam khilafah al-nubuwwah ini, karena masa kekuasaan beliau melengkapi masa tiga puluh tahun tersebut. Kedua, hadits lain yang menjelaskan tentang khilafah al-nubuwwah, adalah hadits shahih berikut ini:

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رضي الله عنه قَالَ إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا شَاءَ، ثُمَّ تَكُوْنُ الْخِلاَفَةُ عَلىَ مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ يَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًّا فَتَكُوْنُ مُلْكًا مَا شَاءَ اللهُ، ثُمَّ يَرْفَعُهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهُ ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ. قَالَ حَبِيبٌ فَلَمَّا قَامَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَكَانَ يَزِيدُ بْنُ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ فِي صَحَابَتِهِ فَكَتَبْتُ إِلَيْهِ بِهَذَا الْحَدِيثِ أُذَكِّرُهُ إِيَّاهُ فَقُلْتُ لَهُ إِنِّي أَرْجُو أَنْ يَكُونَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ يَعْنِي عُمَرَ بَعْدَ الْمُلْكِ الْعَاضِّ وَالْجَبْرِيَّةِ فَأُدْخِلَ كِتَابِي عَلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فَسُرَّ بِهِ وَأَعْجَبَهُ.“

Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhyalahu ‘anhu, berkata: “Sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “Kenabian akan menyertai kalian selama Allah menghendakinya, kemudian Allah mengangkat kenabian itu bila menghendakinya. Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian dalam waktu Allah menghendakinya. Kemudian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya. Kemudian akan datang kerajaan yang menggigit dalam waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya dan diganti dengan kerajaan yang memaksakan kehendaknya. Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian. Lalu Nabi SAW diam”.

“Habib bin Salim berkata: “Setelah Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, sedangkan Yazid bin al-Nu’man bin Basyir menjadi sahabatnya, maka aku menulis hadits ini kepada Yazid. Aku ingin mengingatkannya tentang hadits ini [yang aku riwayatkan dari ayahnya]. Lalu aku berkata kepada Yazid dalam surat itu: “Sesungguhnya aku berharap, bahwa Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah yang mengikuti minhaj al-nubuwwah sesudah kerajaan yang menggigit dan memaksakan kehendak.” Kemudian suratku mengenai hadits ini disampaikan kepada Umar bin Abdul Aziz, dan ternyata beliau merasa senang dan kagum dengan hadits ini.” (HR. Ahmad, al-Bazzar, Abu Dawud, al-Baihaqi dan lain-lain).

Hadits pertama membatasi khilafah selama tiga puluh tahun, yaitu masa khilafahnya Khulafaur Rasyidin. Sedangkan hadits Hudzaifah bin al-Yaman, menjanjikan adanya khilafah lagi, pasca kerajaan yang diktator dan otoriter. Akan tetapi semua ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan khilafah al-nubuwwah dalam hadits Hudzaifah tersebut adalah khilafahnya Umar bin Abdul Aziz.

Oleh karena itu, al-Imam al-Syafi’i:

اَلْخُلَفَاءُ خَمْسَةٌ أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ.

“Khalifah itu ada lima orang, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhum.” (Ibnu Abi Hatim al-Razi, Adab al-Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 189).

Al-Imam Sufyan al-Tsauri, juga berkata:

اَلْخُلَفَاءُ أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ وَمَنْ سِوَاهُمْ فَهُوَ مُبْتَزٌّ.

“Para Khalifah itu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz. Sedangkan selain mereka, itu adalah perampas atau pemeras.” (Ibnu Abi Hatim al-Razi, Adab al-Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 191).

Dua hadits di atas menyatakan bahwa khalifah itu hanya tiga puluh tahun, ditambah dengan seorang khalifah setelah penguasa yang diktator. Kemudian para ulama seperti al-Imam al-Syafi’i dan al-Imam Sufyan al-Tsauri menyatakan, bahwa khalifah itu hanya lima orang, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz, sedangkan selain lima orang tersebut hanyalah penguasa yang merampas kekuasaan dengan tidak benar.

Dengan demikian, berarti obsesi Hizbut Tahrir dalam memperjuangkan khilafah, pasti menemukan kegagalan, karena apa yang akan mereka raih –seandainya berhasil-, itu bukan khilafah, tetapi kekuasaan diktator dan perampas. Wallahu a’lam. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/hadist-hadits-yang-menyatakan-khilafah-islam-telah-rampung.html

Minggu, 05 Februari 2012

Perancis Mengelak Bertanggung Jawab atas Mali

Jakarta, Santriwati Cantik. Perancis tidak mau bertanggung jawab atas kematian warga sipil di Mali, kata perwakilan Departemen Pertahanan Rusia seperti dilansir kantor berita Russia Today.

Perancis menyangkal laporan korban sipil dalam serangan udara militer, dengan menyatakan tak ada bukti yang mendukung klaim tersebut.

Perancis Mengelak Bertanggung Jawab atas Mali (Sumber Gambar : Nu Online)
Perancis Mengelak Bertanggung Jawab atas Mali (Sumber Gambar : Nu Online)


Perancis Mengelak Bertanggung Jawab atas Mali

Amnesty International telah meminta pemerintah Perancis untuk melakukan penyelidikan terhadap laporan kematian warga sipil selama serangan militer di Mali, sejak 11 Januari lalu. Menurut catatan organisasi tersebut setidaknya lima warga sipil, termasuk seorang wanita dan tiga anaknya tewas dalam serangan di kota Konna.

Saya mendengar dugaan itu. Tapi jelas tak ada bukti-bukti yang menunjukkan warga sipil tewas selama serangan militer Perancis di wilayah Konna. Bukti-bukti yang saya miliki sangat komprehensif, kata juru bicara militer Perancis Kolonel Thierry Burkhard menampik.

Santriwati Cantik

Ia melanjutkan bahwa jika ada korban sipil di sana atau di tempat lain di Mali, Perancis tidak dapat bertanggung jawab karena tidak ada bukti keterlibatannya.

Laporan para saksi yang dikumpulkan oleh Amnesty mengatakan, roket yang ditembakkan dari helikopter itu menghancurkan rumah korban di pagi hari tanggal 11 Januari. Tidak ada target militan di rumah atau masjid terdekat, juga tak ada serangan apapun dari militan, tapi sejumlah pejuang Islam memang berada di persimpangan berjarak 150 meter, seperti dinyatakan Amnesty.

Santriwati Cantik

Bukhard membantah keterlibatannya dan mengatakan bahwa, menurut intelijen Perancis, serangan yang menewaskan warga sipil itu dilakukan pada jam 11 siang waktu setempat, sementara pasukan Perancis hanya memulai serangan mereka di tengah hari.

Dia mengelak, dengan mengatakan bentrokan antara pasukan keamanan Mali dan kelompok teroris di daerah tersebut yang harus disalahkan.

Ada bentrokan signifikan antara pasukan Mali dan kelompok teroris, yang dipersenjatai dengan peluncur roket, ujar Bukhard. Ia pun menambahkan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan serangan (Perancis) melukai atau membunuh warga sipil.

Aksi Bunuh balasan

Kelompok-kelompok Pejuang Hak Asasi Manusia juga menaruh perhatian terhadap luasnya laporan mengenai aksi bunuh balasan di Mali ketika Perancis membantu orang-orang Mali untuk merebut pemukiman dari kontrol kaum militan.

Bukhard telah mengkonfirmasi laporan-laporan mengenai tindakan balas dendam terhadap para pendukung kelompok teroris sejak awal pendudukan pada 2011.

Amnesty International menegaskan dalam sebuah laporan bahwa pembunuhan balasan tersebut tidak hanya dilakukan oleh warga sipil, tetapi juga oleh anggota pasukan keamanan Mali yang terlibat dalam kekerasan balas dendam. Pekan lalu tiga militan yang ditangkap oleh pasukan keamanan Mali mengatakan kepada kantor berita AFP yang bermarkas di Paris bahwa mereka disiksa oleh tentara, dengan menggunakan teknik waterboarding.

Tiga tersangka militan juga ditahan dalam sel tanah di bekas kamp militer di Timbuktu, menurut wartawan AP yang berbicara kepada para korban tersebut.

The Human Rights Watch juga memperingatkan kemungkinan pelanggaran yang lebih banyak saat pasukan Perancis dan tentara Mali bergerak ke arah utara.

Jika mereka (tentara Perancis) menyaksikan tindakan balas dendam tersebut, mereka wajib campur tangan dan melaporkan kejadian tersebut segera, kata Bukhard. Ia pun menambahkan bahwa tentara Mali secara aktif bekerja untuk membasmi aksi bunuh balasan tersebut. Namun sayangnya Burkhard tidak meyebutkan kasus intervensi apapun yang dilakukan oleh Perancis.

Serangan Perancis di Mali sekarang telah memasuki minggu keempat, dengan mengerahkan sekitar 4.000 tentara. Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius mengatakan kepada pers bahwa Paris dapat mulai mengurangi kehadiran pasukannya di Mali pada awal Maret.

Sementara itu, Kantor Berita Associated Press (AP) melaporkan, seorang pembom bunuh diri menghantam sebuah pos pemeriksaan di utara Mali, Jumat (8/2), yang menewaskan dirinya sendiri dalam aksi bom bunuh diri untuk pertama kalinya sejak pasukan militer Perancis campur tangan di negara Afrika bagian utara yang dikuasai militant Islam bersenjata.

Dan di ibu kota Bamako, jauh ke arah selatan, tentara dari sebuah unit yang berafiliasi dengan pemimpin kudeta militer tahun lalu di Mali menyerbu perkemahan pasukan Baret Merah pengawal presiden, Jumat pagi. Setidaknya satu orang tewas dan lima orang terluka, kata beberapa saksi mata. Pertumpahan darah tersebut menegaskan bahwa militer Mali sedang berantakan.

Redaktur : Hamzah Sahal

Kontributor : Mh Nurul Huda

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42395/perancis-mengelak-bertanggung-jawab-atas-mali

Santriwati Cantik

Minggu, 08 Januari 2012

Fakta Seputar Pemakaman Gus Dur

Oleh M Zainal A Khosyi’in Santriwati Cantik - Acapkali mendapat undangan ceramah di Malang, Prof DR KH Ali Maschan Moesa, M.Si (Wakil Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur) singgah dan menghampiri untuk mengajak penulis mendampingi beliau. Setiap masuk rumah sebelum duduk beliau selalu saja tertegun memandangi demikian dalam foto yang menggambarkan jasad mulia KH Abdurrohman Wahid (Gus Dur) berjalan dari tangan ke tangan sejak diturunkan dari mobil ambulans hingga memasuki Masjid Ulul Albab Pesantren Tebuireng untuk disholatkan sambil bergumam, “sungguh karunia luar biasa mendapat amanah tidak sengaja mengimami sholat jenazah Gus Dur”.

Fakta Seputar Pemakaman Gus Dur
Fakta Seputar Pemakaman Gus Dur


Kiai Ali—demikian biasa penulis menyapa beliau—lantas bercerita—sesuatu yang telah berkali-kali beliau tuturkan tetapi tetap saja penulis dengan semangat mendengarkannya seolah baru pertama kali beliau menceritakan—bahwa setelah wafat pada Rabu tanggal 30 Desember 2009 pukul 18.40 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, pihak keluarga—menuruti permintaan Gus Dur sendiri—memutuskan untuk memakamkan Gus Dur di Maqbarah Tebuireng yang berada dalam komplek Pesantren Tebuireng Jombang tempat dimana jasad mulia Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari (kakek), Nyai Nafiqoh (nenek), KH A Wahid Hasyim (ayah), Nyai Sholihah Bisri (ibu) dan kerabat Tebuireng lainnya diistirahatkan dari kepayahan dunia.

Sejurus setelah itu komplek Pesantren Tebuireng Jombang telah sesak dengan peziarah dari berbagai penjuru dan Kiai Ali—yang ketika itu seperti biasa setiap hari sabtu, ahad dan hari libur berada di Surabaya karena libur tidak ada aktifitas kelegislatifan dalam kapasitasnya sebagai Anggota Komisi 8 DPR RI 2009-2014—pagi-pagi sudah berada di Tebuireng sekalian menjenguk salah satu putrinya yang sedang ngangsu kaweruh di Pesantren Putri Tebuireng. Karena Masjid Ulul Albab—tempat dimana jenazah Gus Dur telah ditunggu ratusan ribu takziyin untuk disholati—berada satu komplek dengan pesantren putri tentu saja Kiai Ali merupakan sedikit kiai dari ribuan kiai pentakziyah yang dengan mudah mencapai masjid.

Maka ketika keranda berbalut merah putih yang membawa jenazah Gus Dur yang diusung dan dikawal sepasukan TNI berhasil mencapai mihrob masjid setelah sejaman lebih susah paya menyibak ratusan ribu pentakziyah yang terus berusaha berada paling dekat dengan jasad mulia Gus Dur tetapi sholat jenazah tidak kunjung dimulai dikarenakan menunggu sang imam sholat jenazah yang telah ditunjuk pihak Pesantren Tebuireng terblokade tidak bisa masuk masjid. Melalui telepon seluler KH Shalahuddin Wahid lantas menanyakan kepada petugas tentang siapa saja kiai yang berada didalam masjid, petugas menyebut KH Ahmad Mustofa Bisri—yang memang sejak berangkat dari kediaman Gus Dur di kawasan Warung Silah Ciganjur Jakarta terus berada mendampingi pihak keluarga—dan KH Ali Maschan Moesa. Karena KH Ahmad Mustofa Bisri sudah bersholat jenazah di Ciganjur dan sedang batal wudlu’ maka amanah itupun jatuh kepada KH Ali Maschan Moesa

Pentakziyah yang terus menangis dan tidak jarang histeris itu sudah berkali-kali dikomando melalui pengeras suara untuk tenang karena sholat segera dimulai. Pihak keluarga Tebuireng, pengurus masjid,  Banser dan bahkan TNI bergantian berusaha menenangkan gemuruh umat, sampai akhirnya KH Ali Maschan Moesa berteriak lantang ; “Allohumma sholli alaa Muhammad! Monggo sholat jenazah dimulai nggee...?!!”. Pentakziyahpun secara kuur menyahut ; “Nggggeeee...!!!”

Siapapun yang dikaruniai kesempatan bisa hadir untuk mengikuti sholat jenazah di Masjid Ulul Albab pada saat itu pasti merasakan atmospir kesedihan dan duka teramat sangat dalam karena kepergian Gus Dur. Penulis yang saat itu berada dilantai II Masjid Ulul Albab dapat menyaksikan betapa untuk memasuki masjid saja dibutuhkan kekuatan himmah untuk semata memberikan penghormatan terakhir kepada Gus Dur. Dan pasti untuk menenangkan ratusan ribu pentakziyah yang sangat larut dalam duka mendalam itu dibutuhkan kekuatan supranatural yang hebat.

Kiai Ali setiap habis menceritakan hal tersebut senantiasa mengijazahkan suatu amalan yang bisa membantu setiap kita dalam kondisi terjepit dan kepepet seolah Kiai Ali tahu

bahwa penulis tidak pernah sanggup menyelesaikan ijab qobul ijazah dengan mengatakan qobiltu. Ya bagaimana penulis sanggup menjawab qobiltu, sementara jiwa dan perasaan penulis setiap mendengar cerita itu terbawa pada situasi sangat syakral dan khidmad di pagi Kamis 31 Desember 2009 itu.

Tidak itu saja, memori penulis langsung saja tersambung dengan situasi di saat kapundutnya guru ayah penulis, H.M.Nashiruddin Kholil, seorang wali besar abad 20 yang adalah keponakan Rois Aam PBNU almaghfurlah KH Achmad Shiddiq yaitu KH Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar Pasuruan pada Sabtu dinihari, tanggal 9 Robiul Awal 1403 H bertepatan dengan 25 Desember 1982, dalam usia 70 tahun menurut hitungan hijriyah atau 69 tahun menurut hitungan miladiyah.

Sebagaimana dituturkan secara apik oleh Hamid Ahmad dalam buku “Percik-Percik Keteladanan Kiai Hamid Pasuruan” : Kabar (kewafatan Kiai Hamid) pun segera menyebar, lewat radio, dari mulut kemulut dan dari telpon ke telpon. Umat datang berbondong-bondong untuk melayat ke rumah duka sejak pagi. Mereka berasal dari berbagai penjuru. Umumnya seperti tak percaya Kiai Hamid meninggal. Mereka menangis, mereka histeris. Melihat begitu banyaknya pelayat, pihak keluarga tidak mau ambil resiko. Khawatir rusak jadi rebutan, kerandanya diikat kuat-kuat

Menjelang Ashar, keranda dibawa ke masjid. Keranda itu berjalan dari satu tangan ketangan lain karena orang tak bisa berjalan, saking padatnya. Terjadi tarik menarik di antara mereka. Misalnya, ketika hendak keluar dari komplek pondok, sebagian orang hendak membawanya keluar dari gerbang barat, sebagian lainnya ke arah gerbang timur. Sampai di masjid pun begitu. Terjadi tarik menarik sehingga beberapa kali orang melanggar(?) jendela masjid. Konon, dari rumah ke masjid dibutuhkan waktu hingga dua jam (padahal jarak kediaman Kiai Hamid di komplek Pondok Salafiyah dengan Masjid Agung Al Anwar hanya sekitar

setengah kilo saja, pen.)

Dilaporkan, jamaah yang menyalati meluber. Tidak hanya ke alun-alun depan masjid, tapi terus ke timur hingga perempatan PLN (sekitar 100 meter), dan memenuhi Jalan Niaga hingga ke ujung utara dan ruas-ruas Jalan Nusantara hingga ke ujung selatan (dua jalan ini merentang dari utara ke selatan sepanjang 1 km). Diperkirakan jumlah mereka mencapai ratusan ribu orang. KH Ali Maksum (Rois Aam PBNU yang adalah karib Kiai Hamid, pen.) bertindak sebagai imam sholat.

Setelah sholat Ashar, jasad beliau disemayamkan di kompleks makam sebelah barat masjid Agung Al Anwar Pasuruan. Kompleks ini memang diperuntukkan bagi para kiai dan habaib. Di sana antara lain ada makam Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf (guru beliau), Kiai Achmad Qusyairi (paman sekaligus mertua beliau) dan Kiai Achmad bin Sahal (ipar beliau).

Waba’du. Mensejajarkan dan menyebut KH A Hamid Abdulloh dan KH Abdurrohman Wahid dalam satu tariakan nafas rasanya tidak berlebihan. Sekalipun dengan citra yang berbeda, kebanyakan orang

utamanya yang mengenal dekat beliau berdua, sama-sama meyakini jika keduanya adalah wali Allah. Sekalipun Gus Dur tidak ada kedekatan personal dengan Kiai Hamid, tapi orang-orang terdekat Gus Dur semisal KH Achmad Shiddiq (Rois Aam PBNU seperiode dengan Gus Dur ketika menjadi Ketua Umum PBNU), KH Ali Maksum (guru Gus Dur) dan KH Hamim Jazuli (Gus Mik Kediri) adalah kerabat dan teman dekat Kiai Hamid.

Jika ditelusuri lebih jauh, Kiai Hamid dan Gus Dur mempunyai kebiasaan yang sama: suka berziarah ke makam ulama dan terutama wali. Konon saking terbiasanya Gus Dur ziarah makam Sunan Ampel, sampai-sampai KH Nawawi (dzurriyah Sunan Ampel dan imam besar Masjid Agung Sunan Ampel sebelum tahun 2000-an) hafal betul kapan Gus Dur mesti datang berziarah sehingga Kiai Nawawi mesti

tidak diberitahu sebelumnya sudah menunggu kedatangan Gus Dur di pusara makam Sunan Ampel.

Gus Dur pula—ketika menjabat Presiden RI—yang memasyhurkan makam Sayyid Ibrohim as-Samarqondi (orang Jawa menyebutnya Maulana Ibrohim Asmorokondi) di Palang, Tuban. Pun Komplek Pemakaman

Troloyo di mana Sayyid Jamaluddin Husein (lebih karib dengan Syekh Jumadil Kubro) di Mojokerta dimasyhurkan Gus Dur dengan menyebut bahwa moyangnya yang berasal dari China yang bernama Tan Kim Han (didefinisikan orang sebagai Syekh Abdul Qodir as-Shiniy), dimakamkan di Troloyo juga.

Adapun perihal kebiasaan Kiai Hamid berziarah makam ulama, ada fakta menarik—sebagaimana disebutkan dalam buku Percik-Percik Keteladanan Kiai Hamid dan cerita ayah penulis—bahwa setiap

berziarah, Kiai Hamid senantiasa mengutamakan akhlaq. Sebagaimana ketika biasa mendawamkan ziarah makam gurunya—Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaff—dan mertua sekaligus pamannya—KH Achmad Qusyairi Shiddiq—di pemakaman barat Masjid Agung Al-Anwar Pasuruan, Kiai Hamid selalu masuk dari arah yang menunjukkan posisi kaki dan duduk agak menjauh dari kijing makam. Ini sangat berbeda dengan kebanyakan orang dalam berziarah makam ulama atau wali selalu berebut posisi paling dekat dengan kepala.

Demikianlah, biar sangat terlambat tapi penulis bersyukur pada akhirnya dikaruniai kemampuan untuk mengungkap salah satu fakta kecil diseputar peristiwa besar mangkatnya orang besar yang mantan ketua umum pengurus besar organisasi besar. Semoga hal ini tercatat sebagai termasuk mengingat ulama dan orang-orang besar yang akan mendatangkan rahmat, idz bidzikrihim tatanazzalur rahamat. Amin. Santriwati Cantik

M Zainal A Khosyi’in, penulis buku Perintah

Perang Suci (2015)

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/fakta-seputar-pemakaman-gus-dur.html

Rabu, 31 Agustus 2011

Andai Saja Santri-Santri NU Mudah Dihasut dan Gampang Murka

Santriwati Cantik - Andai saja santri-santri NU gampang murka, mudah dihasut untuk melakukan massa aksi, waktu itu seluruhnya pasti akan turun ke jalan untuk menggugat yang menghina Kiai Said Agil, Gus Mus, dan Mbah Maimun.

Tapi rupanya, masalah ini cukupdiselesaikan dengan cara mengajak si 'penghina' sowan, bertabayyun, saling memaafkan, selesai perkara! Kini giliran Mbah Ma'ruf Amin, tokoh NU yang sangat dihormati, yang katanya diejek dan diancam.

Melihat berbagai berita di media sosial, saya tak mengendus bahwa penyelesaian masalah ini akan dilakukan seperti sebelumnya: sowan, tabayyun, saling memaafkan, selesai perkara! Bahkan yang jadi lucu, Kang Felix Shiaw saja tiba-tiba merasa terluka atas apa yang terjadi pada Mbah Ma'ruf.

Andai Saja Santri-Santri NU Mudah Dihasut dan Gampang Murka - Santriwati Cantik
Andai Saja Santri-Santri NU Mudah Dihasut dan Gampang Murka - Santriwati Cantik


Andai Saja Santri-Santri NU Mudah Dihasut dan Gampang Murka

Bung Jonru pun demikian, Aa Gym juga demikian, Zaitun Rasmin dan kawan-kawannyapun gak kalah berlagak menangis, bicara panjang lebar tentang Mbah Ma'ruf. Kemana mereka saat Gus Mus, Kiai Said dan Mbah Maimun dihina?

Apa mereka menulis juga bahwa 'Terkutuklah para penghina ulama'? Apa mereka menulis juga bahwa 'melecehkan ulama adalah melecehkan Islam' seperti kasus Mbah Ma'ruf? Tidak, bukan?

Santriwati Cantik

Santriwati Cantik

Coba lihat gambar yang bertebaran, tulisan yang berserakan, ada aroma bahkan hasutan bahwa dalam kasus ini, para santri NU tak boleh lagi tinggal diam, jangan lagi lemah lembut, jangan lagi memperlihatkan akhlak baik seperti sebelumnya. Apa karena yang mengejek itu si Ahok? Bukan orang-orang biasa seperti yang mengejek Kiai sepuh dulu?

Dikabarkan Mbah Ma'ruf sudah memaafkan atas apa yang terjadi padanya, tapi propaganda itu tak juga reda. "Ayo bela ulama! Ayo bela Kiai Ma'ruf! Ayo turun ke jalan! Ayo ganyang si penista agama yang melecehkan muruahnya kyai! Ayo kita siaga untuk berdemo!" kata beberapa tulisan.

Seharusnya yang fair dong, misal, ayo ganyang si penghina Gus Dur, ayo adili si penista Kiai Said Aqil, gitu baru Pembela Ulama Sejati. [Santriwati Cantik/ab]

Ditulis oleh Abdul Khamid, Pekalongan

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/andai-saja-santri-santri-nu-mudah-dihasut-dan-gampang-murka.html

Selasa, 08 Maret 2011

IKA PMII: Wadah Kaderisasi di Tingkat Alumni

Tulisan ini sengaja ditulis untuk menyambut Munas IKA PMII (Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), yang bakal digelar pada tanggal 1 Juli mendatang.

Belakangan geliat kaderisasi dilingkungan NU termasuk PB PMII dengan dua ratus lebih cabangnya yang menyebar di 33 provinsi- semakin mendapatkan perhatian utama. Setidaknya PBNU sendiri terlihat sudah melakukan penataan secara serius dalam beberapa tahun terakhir di bidang kaderisasi dan pengembangan spirit kewirausahaan.

IKA PMII: Wadah Kaderisasi di Tingkat Alumni (Sumber Gambar : Nu Online)
IKA PMII: Wadah Kaderisasi di Tingkat Alumni (Sumber Gambar : Nu Online)


IKA PMII: Wadah Kaderisasi di Tingkat Alumni

Menurut hemat penulis, inti kaderisasi adalah pendidikan sekaligus pengajaran. Keduanya terlihat sama tapi beda karena hewan juga belajar. Pendidikan merupakan pekerjaan jangka panjang, memberikan penyadaran, transfer nilai dan teladan dalam keseharian. Sedangkan mengajar lebih kepada kegiatan teknis keseharian. Dengan kata lain mendidik dapat menggunakan proses mengajar sebagai sarana untuk mencapai hasil yang maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan. Mendidik bobotnya adalah pembentukan sikap mental atau kepribadian bagi anak didik, sedang mengajar bobotnya adalah penguasaan pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu yang berlangsung bagi semua manusia pada semua usia.

Hal yang paling utama dan pertama menjadi perhatian dalam kaderisasi PMII adalah soal mentalitas. Pada pendidikan akhlak yang membuahkan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan PMII. Di sinilah pondasi dasar dari kaderisasi PMII yang harus menjadi perhatian utama kader-kader pergerakannya.

Santriwati Cantik

Belasan mungkin puluhan ribu kader PMII yang terwadahi dalam dua ratus lebih cabang dan tersebar di 33 provinsi se-Indonesia bukanlah jumlah yang sedikit. Setiap tahun cabang melalui komisariat dan rayon melakukan perekrutan anggota baru. Mereka semua wajib mengikuti kaderisasi berjenjang yang kemudian menjadi kader pergerakan. Sehingga setiap tahun jumlah anggota dan kader bertambah, sungguh secara kuantitas tidak ada yang menandingi. Dibanding saudaranya yang terwadahi di IMM, HMI, GMNI, PMKRI, GMKI dan lainnya. Namun mungkin masih perlu diuji jika menyangkut kualitas, bidang penguasaan keilmuan serta keahlian.

Pada wilayah ini sesungguhnya posisi penting IKA PMII adalah sejauh mana alumni PMII ini berkontribusi secara aktif dan dalam bidang apa saja mereka membaktikan dirinya bagi bangsa dan negara. Jika kita lihat, begitu luas dan kaya NKRI, dengan sumber daya alamnya yang bisa diperbaharui maupun tidak, tentu membutuhkan SDM yang terampil dan mumpuni. Indonesia butuh seorang manajer yang handal sekaligus para pekerja yang ahli di bidangnya, para pendidik yang mumpuni, wirausahawan yang tangguh, bahkan juga buruh. Indonesia butuh kepastian regulasi mulai dari hulu hingga hilir. Lalu diposisi mana entitas IKA PMII dan persebaran alumninya? Apakah secara kuantitas dan kualitas berada pada posisi yang strategis? Ataukah banyak yang hanya menjadi pelengkap dari para pengambil kebijakan? Sejauh mana perannya sebagai jangkar bagi kader-kader PMII untuk meniti ke jenjang selanjutnya?

Santriwati Cantik

Disadari atau tidak di situlah tanggung jawab utama alumni PMII, karena bakti yang dilakukan alumni PMII kepada bangsa khususnya tunas muda pergerakan pasti juga akan berimbas kepada NU. Apalagi tugas dan kewenangan NU sebagai orang tua PMII sesungguhnya kini dalam tataran tertentu telah beralih kepada alumninya, IKA PMII. Tentu IKA PMII maupun bapak-bapak di lingkungan NU sadar betul akan hal ini. Dalam konteks membangun SDM inilah PMII, alumninya maupun aktivis NU lainnya dituntut untuk lari maraton dalam merespon dinamika bangsa dan Negara yang semakin kompetitif.

Mendinamisasi Tradisi

Gus Dur telah telah meletakkan dasar-dasar strategis dan merumuskan arah perkembangan tradisi dalam berbangsa dan bernegara. Beliau mengandaikan adanya dinamisasi dalam menjaga dan merawat tradisi. Bisa dipahami bahwa dinamisasi merupakan sebuah proses gerak maju yang berkelanjutan. Nyatanya di dalamnya terkandung watak modernisasi. Sebagai sebuah langkah perjalanan, gerak dinamis dari sebuah tradisi pada lanjutnya melingkupi modernitas itu sendiri. Jika dicari dasarnya, sejatinya gerak dinamis itu menemukan rujukannya pada kaidah menjaga tradisi yang baik dan secara sekaligus menggali tradisi-tradisi baru yang lebih baik. Pada akhirnya akan diketemukan bahwa di dalamnya juga terkandung pesan keharusan akan adanya proses belajar yang mutlak terus-menerus tiada akhir. Di sinilah letak penting garis-garis besar haluan aktivis NU terutama PMII dengan alumninya.

Barangkali hal itu juga tercermin dalam kedirian dan dinamika lintas alumni PMII (agen-agen tradisi), di daerah maupun di pusat. Sebagai sebuah wadah yang relatif baru, IKA PMII menurut sebagian pendapat merupakan pengganti atau pelanjut saja dari FOKSIKA (Forum Komunikasi Keluarga Alumni PMII). Karena pada kenyataannya hanya sebagai wadah kumpul-kumpul (paguyuban). Tak ada beda dengan wadah sebelumnya. Terlepas dari apapun, keberadaan wadah alumni yang sudah dibentuk dengan bagus itu di era sekarang dan kedepan dirasa sangat penting. Diharapkan pula bisa lebih berkembang lagi menjadi organisasi yang tidak asal jalan. Untuk itu diperlukan kepemimpinan yang kuat dan bisa mengorganisir seluruh potensi yang ada.

Periode IKA PMII sekarang dipandang cukup bagus dalam membentuk jejaring dan mengkonsolidasikan antar alumni di berbagai daerah. Langkah tersebut merupakan pondasi dasar bagi tegaknya wadah para alumni PMII yang tersebar di mana-mana. Namun sayangnya wadah alumni yang sekarang maupun sebelumnya belum mempunyai blue print strategi lanjut pengembangan kader, pembuatan data base dan penataan administrasi yang bagus. Sehingga cukup menyulitkan untuk melihat persebaran, keahlian serta spesifikasi bidang para alumni. Padahal langkah itu penting sekali sebagai variabel dalam merumuskan pengembangan kaderisasi.

Lebih lanjut, dalam kontestasi nasional para alumni PMII -yang menempati jabatan-jabatan penting di pemerintahan sekaligus lintas partai politik- ternyata cukup punya tempat tersendiri. Tidak jarang para alumni tersebut tidak berkenan duduk dalam satu meja dan bersepakat dalam satu persoalan. Hal inilah yang kemudian memahamkan kita bahwa menjaga tradisi tabayun ternyata tidaklah mudah.

Dinamika itu pun sebenarnya acapkali kita jumpai di berbagai organisasi lainnya, apalagi bila ditambahi bumbu momentum suksesi kepemimpinan nasional, eksekutif maupun legislatif. Persoalannya adalah bagaimana menyeimbangkan porsi kepentingan taktis dan strategis di tubuh alumni? Lantas apa langkah-langkah yang bisa menjadikan seluruh kader-kader PMII dan yang paling penting alumninya (IKA PMII) bersepakat dan bersatu? Adakah kalimatun sawa yang bisa menjadi pegangan sekaligus pemersatu? Menurut hemat penulis, pertanyaan-pertanyaan itulah yang mendesak untuk dicari bersama jawabnya.

Untuk merealisir agenda-agenda tersebut ada baiknya wadah alumni mempertimbangkan pola kepemimpinan kolektif kolegial untuk mencapai musyawarah mufakat dalam setiap keputusannya. Memang pola kepemimpinan ini terkesan kurang familiar dalam tradisi PMII. Namun sekali lagi watak mahasiswa sejak awal mempunyai tradisi pemikiran yang progresif. Kolektif Kolegial sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak model kepemimpinan yang diterapkan dalam berbagai organisasi. Dengan bentuk organisasi tersebut, memungkinkan setiap Anggota Pimpinan memiliki wewenang yang sama dalam hal mengambil keputusan. Jadi keputusan itu diambil secara bersama-sama (kolektif) dan bersifat kekeluargaan (kolegial).

Kepemimpinan kolektif kolegial bisa memadukan politisi, pengusaha, akademisi, ulama, birokrat dan sebagainya. Pola ini bisa diharapkan bisa saling melengkapi antar pimpinan. Memang sosok figur ketua umum tidak ada, namun pola kepemimpinan ini paling mendekati untuk menginginkan sebuah regenerasi kolektif yang bagus. Regenerasi secara kolektif, akan mempercepat proses penyegaran dan pencerahan dalam kepemimpinan alumni PMII ke depan. Transfer kader dari bawah keatas (vertikal) maupun horisontal akan berjalan secara dinamis. Tidak menutup kemungkinan, PMII sendiri ke depan bisa mengadopsi pola kepemimpinan serupa.

Penulis berpendapat alumni PMII tidak harus masuk ke dalam lembaga-lembaga NU. Kader-kader alumni PMII harus berdiaspora, menekuni berbagai bidang, di dalam maupun diluar pemerintahan dan menjadi yang terbaik. Namun kader-kader alumni PMII yang terbaik juga harus ada yang berkarya dan mengembangkan NU. Menggerakkan roda organisasinya untuk kemaslahatan seluruh warganya, bukan sebaliknya hanya mengambil manfaat saja dari NU, apalagi untuk kepentingan pribadi.

Jika satu dekade paska reformasi PMII dan juga NU panen para sarjana dan intelektual yang mumpuni dalam rumpun keilmuan agama, sosial dan humaniora. Maka satu atau dua dekade ke depan panen alumni PMII bisa dipastikan lebih beragam lagi dengan keahlian yang beragam pula. Bisa jadi banyak yang sukses menggeluti bermacam bidang industri, akademisi maupun pakar-pakar lainnya. Bola inilah yang diharapkan mampu dijemput oleh pengurus baru IKA PMII hasil Munas pada 1 Juli mendatang.

Kiranya dengan kualitas-kualitas yang mumpuni dengan etos kerja tinggi, banyak alumni yang pantas memimpin IKA PMII periode mendatang. Di antaranya, Surya Dharma Ali, Idrus Marham, A. Muhaimin Iskandar, Arif Mudatsir Mandan, Lukman Hakim Saifudin, Khofifah Indar Parawansa, Effendi Choiri, Ahmad Muqowam, dan Arvin Hakim Thoha. Sedangkan dari kalangan birokrat dan akademisi ada nama Ali Masykur Musa, Imam Anshari Saleh, Wahiduddin Adam, Kacung Maridjan, Lilis Nurul Husna, Abdul Hafidz Anshari. Dari kalangan muda ada nama Nusron Wahid, Heri Herianto Azumi, Zaini Rahman dan juga Juri Ardiantoro. Wallahualam bishowab.

*Kabiro Kaderisasi PB PMII

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/45438/ika-pmii-wadah-kaderisasi-di-tingkat-alumni

Minggu, 27 Februari 2011

Sastra Dapat Menjelma Pembela Rakyat dari Ketidakadilan

Kudus, Santriwati CantikDunia sastra memiliki arti sangat penting dalam kehidupan sosial. Sastra dapat menjelma sebagai pembela rakyat dan menjadi pengingat para pemegang kekuasaan.

Demikian disampaikan Sekretaris Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) Kudus Abu Hasan Asyari dalam perbincangan dengan Santriwati Cantik di sela-sela Lomba Puisi Porseni (Pekan Olahraga dan Seni) Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) di Kampus STAIN Kudus, Jawa Tengah, awal pekan lalu (24/7).

Sastra Dapat Menjelma Pembela Rakyat dari Ketidakadilan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sastra Dapat Menjelma Pembela Rakyat dari Ketidakadilan (Sumber Gambar : Nu Online)


Sastra Dapat Menjelma Pembela Rakyat dari Ketidakadilan

Abu Hasan mengatakan, sastra dengan diiksinya di satu sisi seolah angin syahdu yang perlahan bisa menentramkan segala kerisaun dan kegalauan yang berkembang di masyarakat. Di sisi lain, ia mampu menjadi pelecut atas segala bentuk ketidakadilan pemerintah.

Santriwati Cantik

"Kita bisa melihat contoh puisi sastra karya WS Rendra maupun Wiji Tukul yang sarat dengan nuansa kritik sosial. Hal ini supaya hakikat berkehidupan sosial di masyarakat senantiasa berjalan dalam koridor ketentramannya," kata Abud, sapaan akrabnya.

Ia menegaskan, sastra mampu memberi manfaat sebagai mediasi ketika permasalahan sosial banyak ditanggapi dengan kekerasan. "Sastralah mediasi yang tepat dalam menentramkan suasana melalui kata-kata indah penuh makna," tandas Abud.

Santriwati Cantik

Terkait perkembangan sastra di kalangan pelajar dan santri, ia menilai bagus dan pesat. Terlebih lagi pada komunitas santri banyak yang kemudian menciptakan kumpulan puisi, cerpen, dan beberapa karangan indah yang menyiratkan kehidupan sekarang berpadu dengan tuntunan dalam kitab kuning dan arahan kiai.

"Apalagi sekarang banyak pesantren membuka kelas sastra untuk mengasah santri supaya bisa menulis sastra. Alhamdulillah, ini sangat menggembirakan dalam dunia sastra pesantren," imbuh Abud .

Lesbumi NU Kudus yang baru dikukuhkan bulan Mei 2016 lalu akan mengakomodasi para pegiat sastra di kalangan Nahdliyin di samping budayawan maupun seniman lainnya. Lesbumi, kata Abud, mengajak dan memberi ruang mereka berapresiasi lewat bentuk pementasan dan juga penerbitan antologi puisi atau cerpen.

"Harapannya, agar eksistensi para pegiat sastra tidak tergerus dan senantiasa tersalurkan. Karenanya, para pegiat sastra, seniman atau budayawan pecinta sastra tetap berkreasi tanpa batas. Berkarya, berkarya, dan berkarya," harapnya menutup perbincangan. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70047/sastra-dapat-menjelma-pembela-rakyat-dari-ketidakadilan

Santriwati Cantik

Sabtu, 03 Oktober 2009

Anti Pancasila, Gerakan HTI Dilarang di Jawa Timur

Santriwati Cantik – Sejumlah pihak nampaknya sudah gerah dengan keberadaan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), terutama perihal kampanye khilafahnya. Dengan mengerek sistem khilafah, HTI dianggap sudah anti Pancasila. Karenanya, keberadaannya harus segera diakhiri agar tidak semakin mengganggu ketertiban masyarakat.

Anti Pancasila, Gerakan HTI Dilarang di Jawa Timur
Anti Pancasila, Gerakan HTI Dilarang di Jawa Timur


Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Timur, Irjen Anton Setiadji, dengan tegas ingin menghentikan aksi HTI di Jawa Timur. Karenanya, Polda menggandeng Kejaksaan Tinggi (Kejati) sudah mewacanakan kepada Gubernur Jawa Timur Soekarwo untuk segera membuat Peraturan Daerah (Perda) pelarangan HTI di Jawa Timur.

“Kita akan menegaskan pelarangan itu dengan Perda yang dikeluarkan Gubernur Jawa Timur. Tunggu saja, sebentar lagi,” tandasnya kepada Duta usai menjadi pembicara dalam seminar tentang terorisme dan menghadiri peletakan batu pertama pembangunan gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA)Surabaya, Rabu (07/09/2016).

Kapolda mengakui, pelarangan itu bukan tanpa alasan. Semua dikatakannya berawal dari kasus di Situbondo beberapa waktu lalu. Di mana dari hasil investigasi kepolisian, ternyata HTI itu benar-benar anti Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia.

“Kalau kita ya (Kepolisian, red), tidak memandang itu organisasi keagamaan atau bukan. Yang jelas, mereka sudah anti Pancasila, itu bagi kami (polisi) sudah sangat fatal. Ini harus dihentikan,” tandasnya serius. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/anti-pancasila-gerakan-hti-dilarang-di-jawa-timur.html

Sabtu, 14 Juli 2007

Sekjen PBNU Jelaskan Model Konsolidasi NU

Jakarta, Santriwati Cantik. PBNU terus berupaya membangun model konsolidasi gerakan NU. Model ini digunakan untuk menata organisasi dengan rapi, sehingga kekuatan NU di berbagai daerah bisa bergerak maksimal. Kekuatan NU jangan hanya terkonsentrasi di Jawa saja, tetapi juga harus meluas dan mencakup semua daerah, khususnya Indonesia timur.

Demikian ditegaskan Helmy Faishal Zaini, Sekretaris Jenderal PBNU dalam acara silaturahim PWNU se-Indonesia dan PBNU di lantai 8 Kantor PBNU, Selasa (15/12).

Sekjen PBNU Jelaskan Model Konsolidasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen PBNU Jelaskan Model Konsolidasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Sekjen PBNU Jelaskan Model Konsolidasi NU

"Kita membagi model konsolidasi dalam tiga hal. Pertama, Jawa-Lampung-NTB. Dalam model ini, konsolidasi harus sampai di tingkat ranting. Jawa Timur bahkan sudah menjadi contoh ideal untuk konsolidasi anak ranting (masjid). Kedua, konsolidasi luar Jawa. Dalam model ini, konsolidasi harus sampai pada tingkat MWCNU (kecamatan). Yang ketiga, konsolidasi daerah khusus. Ini konsolidasi tingkat cabang (PCNU)," terang Helmy.

Santriwati Cantik

Helmy juga mencontohkan bahwa antara Jawa Timur dan Papua sangat berbeda. Jawa Timur sudah sampai pada tingkat anak ranting, sementara di Papua, kepengurusan beberapa cabang ternyata ada di satu kantor. Bahkan ada yang satu Rais Syuriyah menjadi Rais Syuriyah untuk tiga cabang. Kantornya juga satu tempat.

"Daerah khusus, seperti Papua, harus menjadi perhatian serius. Ini gerak langkah nyata, agar konsolidasi NU secara menyeluruh sampai ke tingkat ranting, bahkan anak ranting," tambahnya.

Santriwati Cantik

Untuk itu, lanjut Helmy, seluruh kepengurusan NU di tingkat wilayah dan cabang harus selalu koordinasi dengan PBNU, sehingga diupayakan langkah-langkah strategis untuk membangun kekuatan NU.

"Kita akan bekerja keras. Konsolidasi organisasi akan terus kita kawal dan kita perbaiki, sehingga ke depan, NU benar-benar kuat secara kelembagaan dan peran sosial di masyarakat," tegasnya. (Madun/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/64330/sekjen-pbnu-jelaskan-model-konsolidasi-nu

Santriwati Cantik

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Cantik sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Cantik. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Cantik dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock