Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Desember 2016

Heboh Santri NU Mengobati Anjing Malang Karena Sayang

Santriwati Cantik – Santri yang berdakwah di Papua ini membuat netizen tersentuh. Di tengah budaya kebencian yang ditebar di situs-situs ektrim wahabi, Kang Wahab, nama santri itu, menebar pesan kasih sayang.

Heboh Santri NU Mengobati Anjing Malang Karena Sayang
Heboh Santri NU Mengobati Anjing Malang Karena Sayang


Postingan di wall Facebooknya Abdu L Wahab, yang memberi makan anjing luka dan kelaparan pada Sabtu (9/04/2016) mendapatkan 14 ribu likes dan 3.732 share dari facebookers. Ada 1.300 lebih komentar dalam foto yang ia beri catatan “Kasihan sekali anjing ini.. / Tubuhnya banyak sekali luka dan sprti sangat kelaparan . Tadi aku ajak ke Pondok dan sdikit aku obati dan kasih makan./ Walaupun najis tapi kata guruku ‘Puncak dari agama adalah cinta’.”

Ya, Abdul Wahab, santri utusan PPM Aswaja, PP LDNU dan Sarkub untuk berdakwah di Papua ini menampar laku latah umat Islam yang terlalu ektrem memaknai agama, yang, sedikit-sedikit harus merujuk langsung Al-Qur’an dan Hadits sesuai pilihan hawa nafsu. Padahal, semua ada solusinya. (Ini link foto itu: http://bit.ly/1XnNiHp)

Kepada Santriwati Cantik, Kang Wahab menuturkan awal mula anjing itu mendapat sentuhan tangan kasihnya. Pada Sabtu Pagi, seperti biasa, dia menyiapkan sarapan bagi anak-anak Papua yang mondok di pesantren Al-Payage, Angkasapura, Papua, tempat dia mengajar.

“Pagi tadi, pas saya sedang berjalan di samping dapur, saya melihat ada seekor anjing yang mondar-mandir di depan pesantren dengan penuh luka dan seperti sangat kelaparan,” kata Wahab. (Baca Santriwati Cantik: Air Mutlak dan Air Musta'mal)

Dalam keterangannya pada Sabtu (9/04) sore, anjing itu dibawa ke dalam pondok. Sungguh keputusan yang akan disebut sembrono. Anjing dibawa ke pondok bukan untuk dikurung oleh para santri, tapi dicek lukanya oleh Kang Wahab. Bahkan sempat ia menyuapi anjing malang itu karena dia melihat binatang haram tersebut susah menundukkan kepala hanya untuk ambil makan saja. “Ada beberapa luka di sekitar leher,” tuturnya.

Kang Wahab melakukan semua hal itu karena dia mempraktikkan apa yang dikatakan oleh para kyai dahulu dan ulama salaf yang kredibel. “Islam mengajarkan agar berbuat baik kepada manusia maupun hewan, seperti anjing yang kita ketahui ia disebut sebagai hewan najis,” terangnya. (Baca Santriwati Cantik: Cara Samak Kulit Bangkai Binatang)

Tanpa diperintah siapapun, setelah mengobati dan memberi makan anjing malang, kang Wahab langsung bersuci dengan basuhan 7 kali air suci (thahir muthahhir) yang salah satunya harus dicampur debu (endut atau tanah liat) karena anjing masuk kategori hewan najis mughalladhah (berat). Ini solusi untuk tetap bisa berbuat baik kepada anjing.

Kang Wahab mengingatkan, anjing itu haram dikonsumsi. Namun, kita diharuskan juga menolong anjing kelaparan di tengah jalan. Menurutnya, mengobati dan memberi makan anjing pada pagi itu bagian dari amal sholeh yang diharapkan dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu. (Baca Santriwati Cantik: Tampilan Suci, Dalamnya Najis)

“Saya hanya mengikuti dawuh sebuah hadits riwayat Bukhari yang di sana menyebutkan ada seorang laki-laki melihat anjing kehausan di tengah padang pasir. Karena kasihan, anjing itu diambilkan air dari sumur hingga ia meminumkannya dan lepas dahaga anjing tersebut. Lalu Nabi bersabda: Allah berterimkasih kepadanya, lalu mengampuni dosa laki-laki itu,” tandas Kang Wahab.

Kang Wahab juga bercerita, ada satu anjing di daerah Wamena, Jayapura, yang kadang menemani perjalanan dakwahnya. Ia tidak melampar batu, apalagi mengusirnya. Dia sudah biasa berinteraksi dengan anjing sejak di Papua. Di Papua, kang Wahab belajar berbagi kasih bukan hanya kepada sesama, tapi juga hewan seperti anjing. (Baca Santriwati Cantik: MTA Solo Diajak Baca Kitab Kuning Malah Kabur)

Kepada Santriwati Cantik, ia menyayangkan sikap saudara muslim yang mengatasnamakan agama namun menebar teror di mana-mana. “Melalui foto itu, saya berpesan kepada diri sendiri dan teman-teman lain bahwa puncak agama itu adalah cinta, bukan syariah dengan teror,” pungkasnya. [Santriwati Cantik/ m abdullah badri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/heboh-santri-nu-mengobati-anjing-malang-karena-sayang.html

Jumat, 13 Desember 2013

Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang Part 2

Amaliyah di bulan Rajab memang banyak sekali. Itu dikarenakan betapa mulianya bulan Rajab menurut Allah Swt. Dalam memberikan pemahaman amaliyah di bulan Rajab ini, KH Sholeh bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat) menyebutkan amalan istighfar yang perlu dibaca setiap pagi dan sore sebanyak 70 kali agar terbebas dari neraka.

Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang Part 2 - Santriwati Cantik
Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang Part 2 - Santriwati Cantik


Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang Part 2

Perintah membaca istighfar itu ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam haditsnya: "Barangsiapa yang mengucapkan dalam Rajab, Sya'ban dan Ramadan pada waktu diantara dzuhur dan ashar:

استغفر الله العظيم الذي لا اله الا هو الحي القيوم واتوب اليه توبة عبد ظالم لا يملك لنفسه ضرا ولا نفعا ولا موتا ولا حياتا ولا نشورا

Maka Allah memerintahkan dua malaikat untuk membakar buku tulisan amal jeleknya". Allah bahkan menegaskan bahwa setiap malam Rajab adalah malam bulan milik Allah. Dan hamba yang mengikuti juga hambaKu dan rahmat juga milik Allah. Termasuk fadl (kemuliaan) berada pada kekuasaan Allah. Dan Allah akan memberikan ampunan pada hambaNya yang selalu memohon ampun.

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa barangsiapa melaksanakan puasa pada hari keduapuluh tujuh bulan Rajab dan mengeluarkan shadaqah, maka Allah akan menulis pahala puasa dengan seribu kebaikan dan memerdekakan seribu budak.

Mbah Sholeh Darat juga menjelaskan tentang sebuah malam mulia di dalam bulan Rajab yang disebut sebagai lailatu raghaib (ليلة رغائب). Keterangan mengenai itu diambil dari hadits: "Janganlah Anda sekalian lupakan bahwa dalam awal Jum'at di bulan Rajab, maka malamnya disebut lailatu raghaib ketika berada pada sepertiga malam. Saat itu para Malaikat tujuh langit dan tujuh bumi berkumpul jadi satu di kanan kiri ka'bah dengan disaksikan oleh Allah. Saat melihat peristiwa itu, Allah menyampaikan bahwa apa yang diminta Malaikat akan dikabulkan. Dan Malaikat meminta pada Allah untuk memaafkan hambanya yang berpuasa Rajab. Dan Allah tegas menjawab telah memaafkan semua hambaNya itu".

Bersambung.....

Alfatihah.

Oleh M Rikza Chamami, wakil Ketua KOPISODA/Komunitas Pecinta Mbah Sholeh Darat, Alumni Qudsiyyah dan Dosen UIN Walisongo


Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/keutamaan-bulan-rajab-menurut-kh-sholeh-darat-semarang_17.html

Jumat, 08 November 2013

Membongkar Rencana Busuk Khasebul Katholik

Niat ingsun, lillahi ta’ala untuk keadilan, kedamaian, dan kemanusiaan.Santriwati Cantik - Saya telah tuntas membaca buku Islam Jowo Bertutur Sabdaraja: Pertarungan Kebudayaan, khasebul, dan Kerja Misi, karya teman seperguruan, Mbakyu Bray Sri Paweling. Isi di dalamnya sungguh mendebarkan, dan saya 101 persen membenarkan analisis Mbakyu Weling—panggilan akrab Bray Sri Paweling.

Saya juga mengikuti tanggapan dan respons dari sejumlah kalangan, termasuk resensi yang digubah oleh penulis anonim, Khasebul Katolik dan Runtuhnya Islam-Tradisi Jawa dan tanggapan dari seorang bernama Natalius Pigai, Benarkah Pater Beek, CSIS, dan Misi Katolik Merusak Budaya Jawa dan Kesultanan.

Membongkar Rencana Busuk Khasebul Katholik - Santriwati Cantik
Membongkar Rencana Busuk Khasebul Katholik - Santriwati Cantik


Membongkar Rencana Busuk Khasebul Katholik

Tentang tulisan pertama dari penulis anonim, saya tidak punya komentar, karena 99% sejalan dengan ide dalam buku Mbakyu Weling, sedangkan untuk tulisan kedua, ada beberapa catatan yang ingin saya jelaskan di sini.

Santriwati Cantik

Pertama, Natalius sepertinya ahistoris dan salah duga, yang menyebutkan seolah-olah penulis resensi buku Mbakyu Weling adalah Dr. Syaganda Nainggolan, padahal bukan, sebagaimana telah saya konfirmasi langsung kepada teman-teman paguyuban Islam Jawa. Kesalahan Natalius ini sebenarnya remeh, tapi cukup mengganggu konsentrasi dengan tiba-tiba menyebut Syaganda. Mungkin, Natalius membaca resensi buku yang penulisnya anonim itu karena diposting oleh saudara Syaganda, sehingga menduga kalau penulisnya adalah si pemosting.

Kedua, tulisan Natalius sama sekali tidak menyinggung pada pokok pikiran yang ada dalam resensi buku maupun bukunya langsung, sebab saya yakin, ia belum membaca dan memilikinya. Jadi wajar kalau tulisannya terasa hambar, seperti tubuh tak bertulang. Tetapi, Natalius justru mengafirmasi berdasarkan analisa historis yang ia kemukakan, bahwa memang telah terjadi konspirasi sejak tahun 1960-an yang dilakukan oleh Pater Beek, CSIS, dan Khasebul untuk kerja-kerja misi.

Pengakuan Natalius tersebut semakin menguatkan data-data yang terhampar detail dalam buku Mbakyu Weling. Dan yang lebih utama, afirmasi Natalius semakin meyakinkakan kami bahwa Khasebul alias fundamentalisme Katolik itu bukanlah hantu atau fiktif, tetapi berwujud nyata dan telah berhasil melakukan banyak agenda gerakan misi “Katolikisasi”.

Santriwati Cantik

Ketiga, Natalius berlindung di balik sejarah tentang akulturasi budaya Jawa Keraton dengan ajaran Katolik, yang menurutnya telah berlangsung lama sejak pra-kemerdekaan RI, bahkan konon era Sultan Hamengkubuwono VII (1877-1921). Argumen ini sepintas benar, tetapi justru merunyamkan masalah.

Natalius tidak jeli dan abai bahwa sejak Amangkurat IV (1719-1724) merupakan orang pertama menggunakan gelar khalifatullah, yang menegaskan perubahan konsep lama raja Jawa, dari perwujudan dewa menjadi wakil Allah di dunia. Dan ini jelas dan nyata pengaruh Islam sangat kuat serta formal, sebagaimana terlihat dalam gelar Sultan: Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Alaga Abdur Rahman Sayidin Panatagama Kalifatullah.

Tentang Sultan Hamengkubuwono VII yang disebutkan sangat toleran dan mengizinkan penyebaran agama Katolik di bumi Jogja itu adalah keniscayaan sebagai konsekuensi dari gelar Abdur Rahman Sayyidin Panatagama, yang berarti Sultan dianggap sebagai penata, pemuka dan pelindung agama, dan khalifatullah sebagai wakil Allah di muka bumi.

Tetapi yang terjadi hari ini, atau tepatnya sejak 2005 pasca-Sabdaraja, gelar yang menunjukkan simbol Islam itu telah dihapus atas inisiatif lingkaran Khasebul, seperti tertuang tegas dalam buku Mbakyu Weling, berdasarkan pengakuan langsung dari informan internal Keraton dan orang-orang Khasebul.

Pada akhirnya, saya memaklumi, Natalius yang berada di Jakarta tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Jogja. Kami yang berada di sekitar Keraton, dan bahkan di bilik cagaknya, bukan hanya suara jangkring yang terdengar, tapi juga rencana busuk Khasebul fundamentalisme Katolik lewat lingkaran orang-orang dekat Sultan.

Apa perlu kami ceritakan pula bagaimana Kristenisasi itu berlangsung kejam sejak era kolonialisme Belanda lewat Fransiscus Georgius Josephus van Lith—yang oleh Natalius disebut sebagai misionaris Belanda yang berkarya di Jawa—berhasil merekrut secara massal anak-anak muslim yang kala itu sekolah, sampai-sampai Karel Steenbrink mencatat, bahwa anak laki-laki yang masuk sekolah Katolik adalah semuanya muslim dan semuanya tamat sebagai orang Katolik. Korban utama dari Kristenisasi generasi awal dari kalangan pribumi ini adalah Soegijapranata, atau dikenal sebagai Romo Sogieja, yang tak lain adalah cucu dari seorang kiai di Jogja.

Atau apa perlu juga kami update berita tentang bagaimana Kristenisasi itu masih terus berlangsung sampai hari ini, di sekitaran Merapi-Merbabu, Kulonprogo, dan Gunungkidul, atau dari arah Muntilan-Magelang? Kami tahu semua, dan sengaja memilih diam dengan paling hanya melakukan peneguran secara kekeluargaan. Kami sadar, bahwa fundamentalisme Katolik melakukan kerja misi dengan cara memanfaatkan jargon Jogja city of tolerance.

Tetapi apa terus kami akan diam? Tidak! Di balik layar, kami akan bergerilya dan membangunkan semua jaringan untuk membentengi akidah umat Islam. Sedangkan di muka layar, atas nama toleransi, kami orang Jogja, juga siap menyambut rencana kunjungan Paus Fransiskus, pimpinan tertinggi umat Katolik, yang dijadwalkan tahun 2017 akan melewati karpet merah-darah Keraton Yogyakarta.

Suatu saat nanti, mungkin kami perlu membangunkan kembali dan menjalin kerjasama dengan ormas-ormas Islam yang sejak awal kontra-Kristenisasi, dari yang moderat sampai garis keras. Dan kepada kelompok Khasebul, teruslah berkelit atas fenomena ini, karena dengan cara itu kami bisa bangkit, amunisi data masih menumpuk, untuk sekadar berkampanye buruk rupa umat Katolik, agar tercipta kesadaran “Katolikfobia” di Indonesia. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/membongkar-rencana-busuk-khasebul-katholik.html

Rabu, 24 Oktober 2012

Nyantri di Negeri Ratu Elisabeth, Inggris, Why Not?

Santriwati Cantik - Pada postingan sebelumnya kita sudah mengenalkan para santri yang tengah "nyantri" di negari Kincir Angin. Belanda. Kali ini, kita akan menengok siapa saja santri cendekia yang tengah memperdalam ilmu di Britania Raya, terutama Inggris.

Selain terkenal karena liga sepakbolanya, Inggris juga menjadi salah satu negara tujuan studi paling banyak diminati oleh pelajar asal Indonesia. Saat ini, beberapa santri juga tercatat tengah asik menikmati dunia pendidikan di negeri Ratu Elisabeth itu. Siapa saja mereka? Yuk kita cari tahu!

Nyantri di Negeri Ratu Elisabeth, Inggris, Why Not? - Santriwati Cantik
Nyantri di Negeri Ratu Elisabeth, Inggris, Why Not? - Santriwati Cantik


Nyantri di Negeri Ratu Elisabeth, Inggris, Why Not?

Kita awali dari kota Manchester. Di kota ini, ada I'anatul Avifah, dara asal Lamongan, Jawa Timur ini sedang menempuh program master di University of Manchester dengan konsentrasi Educational Technology. Vifah, sapaan akrabnya, merampungkan pendidikan strata satu-nya di UIN Sunan Ampel Surabaya di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, sembari nyantri di PP Annuriyah, Surabaya. .

Di universitas yang sama, kita jumpai Siti Navila. Sebelum memilih program studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Jakarta, Navila telah menyelesaikan pendidikan menengahnya di Pondok Modern Gontor Putri Ponorogo.

Kini, keduanya duduk di kelas yang sama di jurusan TESOL (Teaching English to Speakers of Other Languages) di University of Manchester.

Beralih ke kota Lancaster, ada seorang santri lulusan PP Qomaruddin, Gresik, M. Sholakhuddin Al Fajri, sedang aktif belajar di University of Lancaster mengambil jurusan Language and Linguistics. Fajri sebelumnya telah menyelesaikan program sarjana di UIN MMI Malang di jurusan Bahasa dan Sastra Inggris sembari menjadi supervisor di Ma'had Al Jamiah UIN Malang.

Berpindah ke kota York. Di kota York ini, kita akan menjumpai Queen Rahmah Rizqi Zaidah atau Queen. Setelah sebelumnya belajar tentang Psikologi di UIN MMI Malang, Queen tengah menempuh program master di University of York di jurusan Music and Psychology. Jika sebelumnya ia mengabdikan diri menjadi supervisor di Ma'had Al Jamiah UIN Malang, kini ia bersama suami mengasuh santri-santri di PP Baitul Arqom.

Kemudian, di kota Leeds, tepatnya di University of Leeds, ada Mochamad Iqbal Abdul Ghoni, santri lulusan Al Hikmah 2 Brebes. Ia kini sedang tekun belajar di jurusan Professional Language and Intercultural Studies. Iqbal adalah salah satu anggota CSS MoRA (penerima beasiswa Kemenag) selama menyelesaikan program sarjana di Universitas Airlangga, Surabaya di jurusan Linguistik.

Selain itu, di kota Durham, kita kenalkan santriwati bernama Nuha Qonita, yang asyik mendalami ilmu Islamic Finance and Management di Durham University Bussiness School. Nuha sebelumnya adalah mahasiswa Islamic Law di Al Azhar University. Ia juga pernah nyantri di Pondok Modern Gontor and Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin.

Demikian ulasan singkat tentang santri yang sedang belajar di Inggris. Selamat berjuang, semoga sukses, dan segera pulang untuk mengabdikan diri pada pesantren, agama dan bangsa. Nantikan tulisan selanjutnya ya! Kita akan kenalkan beberapa santri yang sedang belajar di negara Bavaria, Jerman! [Santriwati Cantik/ramzi/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/nyantri-di-negeri-ratu-elisabeth-inggris-why-not.html

Senin, 31 Mei 2010

Tombak Trisula (Politik) Gus Dur: Cara Cerdas Menggagalkan Cawapres

Santriwati Cantik - Mengenang sang maestro politik, kembali saya ceritakan strategi politik guru bangsa, yang seolah kontroversial di tengah masyarakat majemuk saat itu. Sosok Gus Dur hadir menginspirasi sebuah perubahan pola pikir cerdas dalam menyikapi persoalan politik.

Tombak Trisula (Politik) Gus Dur: Cara Cerdas Menggagalkan Cawapres - Santriwati Cantik
Tombak Trisula (Politik) Gus Dur: Cara Cerdas Menggagalkan Cawapres - Santriwati Cantik


Tombak Trisula (Politik) Gus Dur: Cara Cerdas Menggagalkan Cawapres

“Mas Rozaq, saya ingin mengakhiri safari saya dengan Pak Beny di Pesantren Al-Muayyad, bagaimana?” Begitu kata dan tanya Gus Dur kepada saya di tahun 1987-an.

Masa itu mantan Ketua Tanfidziyah PBNU itu memang sedang gencar melakukan safari keliling ke beberapa tempat dan pesantren di beberapa daerah. Itu beliau lakukan bersama LB Moerdani, seorang jenderal di masa itu yang biasa disapa Pak Beny.

Perjalanan itu beliau lakukan bukan tanpa sebab dan alasan serta tujuan yang hendak dicapai. Saat itu, Presiden Soeharto yang masa baktinya hampir habis akan mencalonkan diri kembali sebagai presiden di republik ini.

Kali ini ia ingin menggandeng Pak Beny -yang nota bene beragama Nasrani-, sebagai wakilnya. Melihat kenyataan ini, masyarakat Indonesia, umat Islam khususnya, bereaksi. Mereka menolak rencana Pak Harto yang akan menjadikan Pak Beny sebagai wakil presiden. Suhu politik meningkat.

Gus Dur melihat, bila hal ini dibiarkan dan tidak diambil langkah yang tepat, maka akan membawa dampak yang serius bagi kelangsungan kehidupan bangsa besar ini. Maka beliau pun cepat bertindak dengan caranya sendiri.

Secara terang-terangan Gus Dur mempublikasikan bahwa ia mendukung dan mencalonkan LB Moerdani sebagai presiden menggantikan Soeharto. Sikap ini jelas mengundang reaksi panas.

Umat Islam secara umum, termasuk warga Nahdliyin yang selama ini sendika dhawuh kepada Gus Dur, menolak mentah-mentah sikap Gus Dur yang kontroversial tersebut. Mereka mencaci beliau sebagai orang yang berkhianat kepada umat Islam karena mencalonkan seorang Nasrani sebagai presiden.

Pun dengan Presiden Soeharto. Dukungan Gus Dur sebagai seorang tokoh dengan massa puluhan juta jiwa terhadap LB Moerdani, jelas-jelas menohok Pak Harto.

Pak Beny yang sedianya akan digandeng sebagai wakil kini justru diposisikan -dan mau- sebagai calon presiden pesaing incumbent. Jelas ini membuat Pak Harto marah besar dan pada akhirnya nanti tak jadi menggandeng Moerdani sebagai wakilnya.

Namun bukan Gus Dur namanya bila reaksi panas itu menyurutkan langkah. Sengaja ia membawa Pak Beny bertemu dengan warga Nahdliyin di banyak tempat di seantero Indonesia. Ini menjadikan Pak Harto makin tak suka dan umat Islam makin membenci Gus Dur.

Akhir dari perjalan itu adalah di Pondok Pesantren Al-Muayyad, Solo. Ketika Gus Dur meminta ijin pada saya untuk menggelar acara di sini, saya menyetujui. Maka digelarlah acara itu. Ratusan ulama se-Jawa Tengah hadir. Termasuk Rais Am PBNU saat itu yang dipegang oleh KH. Ahmad Sidiq, Jember.

Saat LB Moerdani akan memberikan sambutannya di atas panggung, ia dikalungi sorban, kalau tidak salah oleh Kyai Sidiq. Lalu saat beliau menuju panggung, Kyai Sidiq berbisik pada Gus Dur, “Kerbau kalau sudah dicucuk hidungnya pasti nurut,” Gus Dur terkekeh mendengarnya.

Saat acara seremonial usai dan semuanya menikmati makan siang, kami berempat duduk memisah; saya, Gus Dur, Kyai Sidiq, dan Pak Beny. Di tengah-tengah makan siang itulah semuanya diakhiri.

Kyai Sidiq secara jelas dan tegas berkata kepada Pak Beny, “Pak Beny, Anda tahu tidak, dalam beberapa bulan terakhir ini Gus Dur dibenci dan dicaci oleh hampir semua umat Islam di Indonesia yang selama ini menghormatinya. Anda tahu apa sebabnya?”

“Saya tidak tahu, Pak Kyai?” jawab Pak Beny.

“Penyebabnya adalah Anda, Pak Beny. Pencalonan Anda sebagai wakil dan presiden telah mengundang kemarahan umat Islam. Itu artinya, bangsa Indonesia tidak mau dipimpin oleh orang Nasrani. Maka, demi kebaikan bangsa ini, kami menyarankan Anda mundur dari pencalonan baik sebagai wakil maupun presiden!”

Tak lama setelah itu, melalui media massa, LB Moerdani menyatakan mundur dari pencalonannya. Umat Islam di negeri ini menjadi lega dan suhu politik kembali normal.

Begitulah Gus Dur. Ia telah memainkan tombak trisulanya. Satu mata tombak ia arahkan kepada Pak Harto agar merasa disaingi Pak Beny sehingga ia batalkan niatannya untuk menjadikan jenderal itu sebagai wakil presiden. Mata tombak kedua ia arahkan pada umat Islam agar marah sehingga dapat dijadikan alasan dan bukti nyata bahwa mereka tak mau dipimpin oleh orang Nasrani.

"Dan yang ketiga ia arahkan langsung pada Pak Beny agar mundur dari pencalonannya. Ini semua beliau lakukan demi keutuhan bangsa dan negara Indonesia, meski beliau harus menerima kecaman, cacian, dan kebencian dari umatnya,” kata KH. Abdul Rozaq Shafawi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta. [Santriwati Cantik]

Kiai Agus Himawan, keponakan Mbah KH. Abdurrozaq Shafawi

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/tombak-trisula-politik-gus-dur.html

Sabtu, 03 Oktober 2009

Anti Pancasila, Gerakan HTI Dilarang di Jawa Timur

Santriwati Cantik – Sejumlah pihak nampaknya sudah gerah dengan keberadaan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), terutama perihal kampanye khilafahnya. Dengan mengerek sistem khilafah, HTI dianggap sudah anti Pancasila. Karenanya, keberadaannya harus segera diakhiri agar tidak semakin mengganggu ketertiban masyarakat.

Anti Pancasila, Gerakan HTI Dilarang di Jawa Timur
Anti Pancasila, Gerakan HTI Dilarang di Jawa Timur


Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Timur, Irjen Anton Setiadji, dengan tegas ingin menghentikan aksi HTI di Jawa Timur. Karenanya, Polda menggandeng Kejaksaan Tinggi (Kejati) sudah mewacanakan kepada Gubernur Jawa Timur Soekarwo untuk segera membuat Peraturan Daerah (Perda) pelarangan HTI di Jawa Timur.

“Kita akan menegaskan pelarangan itu dengan Perda yang dikeluarkan Gubernur Jawa Timur. Tunggu saja, sebentar lagi,” tandasnya kepada Duta usai menjadi pembicara dalam seminar tentang terorisme dan menghadiri peletakan batu pertama pembangunan gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA)Surabaya, Rabu (07/09/2016).

Kapolda mengakui, pelarangan itu bukan tanpa alasan. Semua dikatakannya berawal dari kasus di Situbondo beberapa waktu lalu. Di mana dari hasil investigasi kepolisian, ternyata HTI itu benar-benar anti Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia.

“Kalau kita ya (Kepolisian, red), tidak memandang itu organisasi keagamaan atau bukan. Yang jelas, mereka sudah anti Pancasila, itu bagi kami (polisi) sudah sangat fatal. Ini harus dihentikan,” tandasnya serius. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/anti-pancasila-gerakan-hti-dilarang-di-jawa-timur.html

Kamis, 05 Maret 2009

Pembela Agama Atau Dibela oleh Agama (Refleksi Demo 4 Nov)

Santriwati Cantik - Dengan sebegitu besarnya aksi yang digalang dan ajakan yang menggunakan istilah 'Jihad', maka wajarlah bagi seorang muslim untuk bertanya; apakah Islam telah dirugikan? Apakah Islam telah terhina?

Pembela Agama Atau Dibela oleh Agama (Refleksi Demo 4 Nov) - Santriwati Cantik
Pembela Agama Atau Dibela oleh Agama (Refleksi Demo 4 Nov) - Santriwati Cantik


Pembela Agama Atau Dibela oleh Agama (Refleksi Demo 4 Nov)

Suatu hakikat yang pasti, yaitu bahwa; Islam tidak berkurang kesuciannya sedikitpun oleh cemoohan siapapun selama sepanjang masa, semenjak hari Rasulullah dimusuhi dan ayat-ayat suci diperolok kaum kafir, Islam tetap jaya.

Islam tidak ternista saat Nabi dituduh penyair gila dan para sahabatnya dilempari batu. Islam tidak terhina saat Kaisar dan Kisra merobek surat yang berisi ayat suci dan pesan yang dikirim oleh sang Nabi.

Tetapi, Islam ternodai saat penganutnya membudayakan korupsi. Islam direndahkan kala penganutnya menjadi kasar dan kurang ajar hanya karena merasa benar. Islam sedih saat penganutnya saling tuduh dan saling memusuhi. Islam tersakiti saat namanya menjadi produk jual beli, sementara ajarannya hanya digunakan untuk tujuan materi.

Islam malu saat umatnya mengaku membela ayat suci, sementara Kitab-Nya berdebu dalam lemari. Al-Qur'an sedih bukan karena ejekan orang luar namun oleh kita-kita yang hanya membaca tetapi tak mempelajari, atau mempelajari tapi tak mau mengerti.

Saudara-saudaraku, ingatlah bahwa setiap ayat itu menjadi suci bukan saat lidahmu berteriak murka, tetapi saat ia menyerap dalam hati menjadi cahaya. Ayat menjadi suci bukan saat dadamu panas berdendam, tetapi saat kalbu damai karena tersiram makna yang dalam.

Ayat menjadi suci bukan hanya saat tubuhmu gusar berteriak 'Allahu Akbar' tetapi saat raga pasrah bersandar sementara jiwa gemetar memahami makna Allah Maha Besar.

Wahai Saudaraku, Agamalah yang akan membela jikalau kita memuliakan dengan mengamalkan ajaran-Nya.

Bersyukurlah saudaraku, bahwa Islam sedang dalam keadaan aman dan tentram beribadah dengan tenang di negeri ini. Kemanapun kita pergi ada masjid yang tak pernah sunyi. Tiada yang memerangi atau membantai satu kelompok terhadap yang lainnya.

Tetapi lihatlah keadaan di Timur Tengah saat ini. Takbir telah menjadi teriakan muslim membunuh muslim lainnya. Seruan suci jihad telah menjadi panggilan untuk membantai sesama manusia sebangsa dan setanah airnya. 5 tahun lebih Timteng terus dikacaukan.

Sadarkah kita bahwa selama ini upaya musuh-musuh agama yang sebenarnya tak bisa mengganggu kestabilan dan keamanan Indonesia padahal sudah lama negeri ini dijadikan target juga, demi meruntuhkan kesatuannya dan keislamannya dari dalam.

Coba renungkan dan tanyalah kembali ke dalam hati nurani, sebenarnya apa yang hendak diperjuangkan. Nama Islam? Pengikutnya? Ajarannya? Keutuhannya? Semuanya itu ada di tangan kalian sendiri.

Bukankah Islam adalah rahmat untuk semua dan setiap muslim bersaudara? Jika benar mau berjuang unjuk rasa demi agama, maka dimanakah semangat kalian saat ada unjuk rasa untuk Palestina yang mana Al-Quds suci terus dinista?

Dimanakah kesatuan kalian saat ayat-ayat suci diplesetkan menjadi ayat-ayat setan dan Nabi dihina oleh Salman Rushdi? Apakah ada ajakan jihad atau demo besar depan kedutaan yang melindungi si penista?

Dimanakah tuntutan kalian kemarin lalu saat pemuda pemudi Jakarta mengkonsumsi arak di depan toko-toko mini market dan di hadapan khalayak umum dan anak-anak? Dimanakah gerakan kalian saat sebagian pejabat terbukti korupsi besar-besaran memakan harta rakyat dan anak yatim?

Dimanakah aksi kalian saat Amerika menjajah Irak, Afghanistan dan Yaman? Dimanakah ghirah kalian saat suatu perusahaan membangun club bar berbentuk Ka'bah dan menamakan Mecca di New York?

Dimanakah aksi kalian saat perusahaan Nike menempatkan nama Allah di alas sepatu buatannya? Apakah kalian berdemo besar dan menuntut perusahaan itu ditutup di Indonesia?

Jika semua yang lebih menistakan agama itu tiada yang menggerakkan secara besar-besaran, lalu tidakkah kalian bertanya mengapa untuk yang 4 November 2016 ini menjadi sebegitu dibesarkan? Hanya karena salah kata yang mana maksud menista atau tidaknya pun masih diperdebatkan?

Saya bukanlah siapa-siapa, hanya seorang hamba muslim seperti kalian, tetapi ingatlah banyak sekali alim ulama dan ahli agama yang tidak mendukung Aksi demo ini bukan karena mereka kurang beriman atau tidak mau membela, tetapi karena mereka tahu bahwa umat dan amarahnya adalah gerakan yang ampuh untuk merubah catur kekuasaan.

Maka janganlah sebegitu mudah terprovokasi karena pada akhirnya yang akan menduduki jabatan tidak bekerja atas nama Islam dan juga bukan untuk menjaga agama.

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/pembela-agama-atau-yang-dibela-oleh-agama.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Cantik sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Cantik. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Cantik dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock