Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Januari 2017

NU dari Kiai Hasyim Asyari ke Kiai Hasyim Muzadi

Oleh Deni Gunawan

Nahdlatul Ulama (NU) patut bersyukur, sampai detik ini ia masih bisa menghasilkan kader-kader terbaiknya untuk agama dan bangsa. Ini terbukti dari munculnya kader-kader NU yang berkiprah dan memberikan kontribusinya bagi kemajuan agama dan bangsa. Sejak NU didirikan, NU telah memiliki orang-orang hebat yang dihasilkan dari didikan serius ulama-ulama Nusantara. NU memang serius dalam meproduksi ulama-ulama kelas elit guna menyokong kemajuan bangsa dan agama. Elit disini tidak diartikan bahwa kader-kader NU dan ulamanya sebagai sok atas akan tetapi makna elit disini berkaitan dengan kemampuan yang luar biasa dan tinggi yang dimiliki kader-kader NU dan kiainya dalam menjawab persoalan-persoalan umat yang berkembang setiap saat.

NU dari Kiai Hasyim Asyari ke Kiai Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dari Kiai Hasyim Asyari ke Kiai Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)


NU dari Kiai Hasyim Asyari ke Kiai Hasyim Muzadi

Kiai Hasyim Asyari adalah salah satu figur elit yang pernah dimiliki NU, selain sebagai pendiri, ketua umum pertama dan hadratus syaikh di kalangana NU. Ia secara nyata telah meninggalkan warisan penting bagi kelangsungan umat dan bangsa Indonesia. Ia telah mewariskan satu wadah organisasi yang menampilkan satu wajah Islam yang ramah dan berkemajuan. Selain itu, Kiai Hasyim juga ikut melakukan perjuangan demi kemerdekaan bangsa Indonesia kala itu. Ini terbukti dari resolusi jihad yang dikeluarkannya untuk melawan penjajah hingga gelar pahlawan nasional yang diberikan negara padanya.

Dari Kiai Hasyim muncul lagi Kiai Hasyim-Hasyim yang lain di NU. Maksudnya adalah, bahwa NU selalu melahirkan ulama-ulama jenius yang memiliki wawasan keagamaan yang luas dibarengi dengan pemahaman kebangsaan yang tinggi. Dari Kiai Hasyim saat mendirikan NU hingga lahir Kiai Hasyim yang beberapa hari lalu telah berpulang adalah produk-produk elit NU yang sepanjang sejarahnya memang tidak pernah absen memberikan kader dan ulama terbaiknya bagi bangsa dan agama. Kepergian Kiai Hasyim Muzadi beberpa hari lalu memang menyisakan luka yang mendalam bagi masyarakat muslim Indonesia khususnya NU. Namun begitu, kepergian Kiai Hasyim tentu bukanlah kepergian yang sia-sia, sebagaimana tidak ada yang sia-sia dari kepergian Kiai Hasyim Asyari jauh sebelumnya. Hanya saja, sejauh mana ketidaksia-siaan itu dapat ditangkap pada generasi berikutnya adalah soal lain yang mestinya menjadi pertanyaan serius di dalam dirinya, khususnya generasi baru NU.

Santriwati Cantik

Warisan Kiai Hasyim

Secara garis besar perjuangan ulama-ulama NU tidak akan lepas dari persoalan keislaman dan kebangsaan. Dari sisi Islam, NU memang telah menyusun keislamannya dalam bentuk Islam yang bercirikan Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang di dalamnya dikembangkan sikap-sikap atau pripsip-prinsip hidup beragama kaum Nahdliyin. Prinsip-prinsip tersebut tidak lepas dari sikap tawassuth (moderat), taaddul (adil), tasamuh (toleran), dan tawazzun (imbang). Prinsip dasar ini kemudian juga memberikan sumbangan besar bagi NU dalam hidup berbangsa dan bernegara di negara yang realitas penduduknya adalah plural.

Santriwati Cantik

Pada prinsipnya Kiai Hasyim Muzadi juga memegang prisip Islam Aswaja ini dalam beragama dan bernegara. Bagi Kiai Hasyim Islam Indonesia adalah Islam yang ramah di mana ia harus mampu menampilkan wajah yang damai dan toleran sehingga dapat hidup berdampingan dengan siapapun. Selain itu, gagasan mengenai negara Islam bagi Indonesia harus ditolak mentah-mentah sebab tidak sesuai dengan kenyataan demografi bangsa Indonesia yang majemuk selain secara historis memang para founding father tidak menghendaki negara ini bagi satu golongan saja.

Style perjuangan Kiai Hasyim tentu tidak akan sama dengan Gus Dur, Kiai Hasyim Asyari dan Kiai-kiai yang lainnya. Akan tetapi secara prinsip mereka memperjuangkan hal yang sama yakni Islam Aswaja yang damai serta NKRI dan Pancasila dalam kedudukan konstitusionalnya adalah final bagi bangsa Indonesia. Tentu prinsip ini bukanlah prinsip yang mati dan kaku. Akan tetapi prinsip ini adalah prinsip yang dinamis yang kemudian memiliki skala kontekstualitas dalam penafsirannya sehingga menjadi relevan bagi masyarakat yang terus tumbuh dan berkembang. Karena itulah perbedaan cara pandang dalam kiai-kiai NU itu sering terjadi, ini karena pada dasarnya NU sebagai rumah besar memberikan peluang pada setiap penafsiran selama bisa dipertanggungjawabakan, ikhtilafu ummati khasanah, perbedaan di dalam umatku itu baik.

Saat sebagian orang dan warga dunia mengecam dunia Islam karena dianggap sarang teroris dan intoleran Kiai Hasyim semasa hidupnya berjuang menyuarakan baik di skala nasional maupun internasional bahwa Islam itu damai dan ramah. Ia selalu tampil dalam bingkai kebangsaan dengan baju ke-NU-annya. Kiai Hasyim memberikan contoh kepada dunia bahwa ada Islam ramah yang dimiliki dan ditampilkan oleh Islamnya orang-orang Indonesia.

Meski terdapat kritikan LSM dan dunia Internasional kepada Islam Indonesia yang dianggap tidak ramah dan intoleran terhadap minoritas. Kiai Hasyim tampil sebagai penyeimbang (tawazzun) yang semasa hidupnya pernah menjabat sebagai Ketua PBNU, Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) dan sekaligus sekjend ICIS (International Conference for Islamic Scholar). Ia menyampaikan kepada dunia bahwa cara pandang demikian sangatlah keliru. Indonesia sebagai negara, dan Islam sebagai mayoritas pada prinsipnya telah toleran terbukti dari kerukunan secara umum yang masih terjamin sampai saat ini di Indonesia. Hanya saja memang riak-riak intoleransi dalam skup lokalitas masih terjadi, ini memang perlu kerja keras dalam menemukan titik temunya dan (meminjam bahasa Gus Dur) perlu keberanian menegakkan hukum.

Kiai Hasyim dan Generasi Baru NU

Kepergian Kiai Hasyim Muzadi beberapa hari lalu memang tidak bisa ditolak, sebab memang sudah takdirnya Kiai Hasyim untuk pulang sebagaimana Kiai Hasyim Asyari yang juga sudah pulang. Kepulangan ini memang sudah menjadi sunatullah yang harus diterima dengan hati yang ikhlas dan lapang. Kepergian seorang ulama di satu sisi dalam agama Islam bisa dimaknai secara positif sebagai kasih sayang Allah kepada ulama tersebut, sehingga ia dipanggil Allah untuk segera istirahat dari hiruk-pikuk dunia. Namun di sisi lain, terkadang juga bisa bermakna negatif dari sisi manusia yang ditinggalkan. Kepergian ulama bisa menjadi bencana sebab sumber hikmah Tuhan yang berada dalam diri ulama itu telah dicabut dari tengah-tengah masyarakat bersamaan dengan diwafatkannya ulama tersebut.

Kepergian Kiai Hasyim harus dimaknai secara positif oleh generasi penerus NU selanjutnya. Maksudnya, Kiai Hasyim memang sudah saatnya berpulang, ini berarti Allah memberikan kesempatan kepada generasi baru NU untuk melakukan estafet perjuangan yang selama ini telah diusahakan Kiai Hasyim. Kepergian Kiai Hasyim harus sejalan dengan kemunculan generasi baru di NU yang memiliki vitalitas dan kharisma sekelas Kiai Hasyim atau bahkan lebih, tentu dengan berbagai karakter dan pemikirannya yang dibingkai dalam konsep Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang di dalamnya menampilkan Islam yang ramah dan progresif. Sebab jika tidak demikian maka kematian Kiai Hasyim dan kiai-kiai elit sebelumnya hanya akan membuat kita kehilangan hikmah itu secara totalitas di tengah-tengah hidup kita sebagai generasi NU.

Penulis adalah koordinator bidang Kaderisasi dan Intelektual PC PMII Jakarta Selatan

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77202/nu-dari-kiai-hasyim-asyari-ke-kiai-hasyim-muzadi

Santriwati Cantik

Selasa, 08 Maret 2011

IKA PMII: Wadah Kaderisasi di Tingkat Alumni

Tulisan ini sengaja ditulis untuk menyambut Munas IKA PMII (Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), yang bakal digelar pada tanggal 1 Juli mendatang.

Belakangan geliat kaderisasi dilingkungan NU termasuk PB PMII dengan dua ratus lebih cabangnya yang menyebar di 33 provinsi- semakin mendapatkan perhatian utama. Setidaknya PBNU sendiri terlihat sudah melakukan penataan secara serius dalam beberapa tahun terakhir di bidang kaderisasi dan pengembangan spirit kewirausahaan.

IKA PMII: Wadah Kaderisasi di Tingkat Alumni (Sumber Gambar : Nu Online)
IKA PMII: Wadah Kaderisasi di Tingkat Alumni (Sumber Gambar : Nu Online)


IKA PMII: Wadah Kaderisasi di Tingkat Alumni

Menurut hemat penulis, inti kaderisasi adalah pendidikan sekaligus pengajaran. Keduanya terlihat sama tapi beda karena hewan juga belajar. Pendidikan merupakan pekerjaan jangka panjang, memberikan penyadaran, transfer nilai dan teladan dalam keseharian. Sedangkan mengajar lebih kepada kegiatan teknis keseharian. Dengan kata lain mendidik dapat menggunakan proses mengajar sebagai sarana untuk mencapai hasil yang maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan. Mendidik bobotnya adalah pembentukan sikap mental atau kepribadian bagi anak didik, sedang mengajar bobotnya adalah penguasaan pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu yang berlangsung bagi semua manusia pada semua usia.

Hal yang paling utama dan pertama menjadi perhatian dalam kaderisasi PMII adalah soal mentalitas. Pada pendidikan akhlak yang membuahkan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan PMII. Di sinilah pondasi dasar dari kaderisasi PMII yang harus menjadi perhatian utama kader-kader pergerakannya.

Santriwati Cantik

Belasan mungkin puluhan ribu kader PMII yang terwadahi dalam dua ratus lebih cabang dan tersebar di 33 provinsi se-Indonesia bukanlah jumlah yang sedikit. Setiap tahun cabang melalui komisariat dan rayon melakukan perekrutan anggota baru. Mereka semua wajib mengikuti kaderisasi berjenjang yang kemudian menjadi kader pergerakan. Sehingga setiap tahun jumlah anggota dan kader bertambah, sungguh secara kuantitas tidak ada yang menandingi. Dibanding saudaranya yang terwadahi di IMM, HMI, GMNI, PMKRI, GMKI dan lainnya. Namun mungkin masih perlu diuji jika menyangkut kualitas, bidang penguasaan keilmuan serta keahlian.

Pada wilayah ini sesungguhnya posisi penting IKA PMII adalah sejauh mana alumni PMII ini berkontribusi secara aktif dan dalam bidang apa saja mereka membaktikan dirinya bagi bangsa dan negara. Jika kita lihat, begitu luas dan kaya NKRI, dengan sumber daya alamnya yang bisa diperbaharui maupun tidak, tentu membutuhkan SDM yang terampil dan mumpuni. Indonesia butuh seorang manajer yang handal sekaligus para pekerja yang ahli di bidangnya, para pendidik yang mumpuni, wirausahawan yang tangguh, bahkan juga buruh. Indonesia butuh kepastian regulasi mulai dari hulu hingga hilir. Lalu diposisi mana entitas IKA PMII dan persebaran alumninya? Apakah secara kuantitas dan kualitas berada pada posisi yang strategis? Ataukah banyak yang hanya menjadi pelengkap dari para pengambil kebijakan? Sejauh mana perannya sebagai jangkar bagi kader-kader PMII untuk meniti ke jenjang selanjutnya?

Santriwati Cantik

Disadari atau tidak di situlah tanggung jawab utama alumni PMII, karena bakti yang dilakukan alumni PMII kepada bangsa khususnya tunas muda pergerakan pasti juga akan berimbas kepada NU. Apalagi tugas dan kewenangan NU sebagai orang tua PMII sesungguhnya kini dalam tataran tertentu telah beralih kepada alumninya, IKA PMII. Tentu IKA PMII maupun bapak-bapak di lingkungan NU sadar betul akan hal ini. Dalam konteks membangun SDM inilah PMII, alumninya maupun aktivis NU lainnya dituntut untuk lari maraton dalam merespon dinamika bangsa dan Negara yang semakin kompetitif.

Mendinamisasi Tradisi

Gus Dur telah telah meletakkan dasar-dasar strategis dan merumuskan arah perkembangan tradisi dalam berbangsa dan bernegara. Beliau mengandaikan adanya dinamisasi dalam menjaga dan merawat tradisi. Bisa dipahami bahwa dinamisasi merupakan sebuah proses gerak maju yang berkelanjutan. Nyatanya di dalamnya terkandung watak modernisasi. Sebagai sebuah langkah perjalanan, gerak dinamis dari sebuah tradisi pada lanjutnya melingkupi modernitas itu sendiri. Jika dicari dasarnya, sejatinya gerak dinamis itu menemukan rujukannya pada kaidah menjaga tradisi yang baik dan secara sekaligus menggali tradisi-tradisi baru yang lebih baik. Pada akhirnya akan diketemukan bahwa di dalamnya juga terkandung pesan keharusan akan adanya proses belajar yang mutlak terus-menerus tiada akhir. Di sinilah letak penting garis-garis besar haluan aktivis NU terutama PMII dengan alumninya.

Barangkali hal itu juga tercermin dalam kedirian dan dinamika lintas alumni PMII (agen-agen tradisi), di daerah maupun di pusat. Sebagai sebuah wadah yang relatif baru, IKA PMII menurut sebagian pendapat merupakan pengganti atau pelanjut saja dari FOKSIKA (Forum Komunikasi Keluarga Alumni PMII). Karena pada kenyataannya hanya sebagai wadah kumpul-kumpul (paguyuban). Tak ada beda dengan wadah sebelumnya. Terlepas dari apapun, keberadaan wadah alumni yang sudah dibentuk dengan bagus itu di era sekarang dan kedepan dirasa sangat penting. Diharapkan pula bisa lebih berkembang lagi menjadi organisasi yang tidak asal jalan. Untuk itu diperlukan kepemimpinan yang kuat dan bisa mengorganisir seluruh potensi yang ada.

Periode IKA PMII sekarang dipandang cukup bagus dalam membentuk jejaring dan mengkonsolidasikan antar alumni di berbagai daerah. Langkah tersebut merupakan pondasi dasar bagi tegaknya wadah para alumni PMII yang tersebar di mana-mana. Namun sayangnya wadah alumni yang sekarang maupun sebelumnya belum mempunyai blue print strategi lanjut pengembangan kader, pembuatan data base dan penataan administrasi yang bagus. Sehingga cukup menyulitkan untuk melihat persebaran, keahlian serta spesifikasi bidang para alumni. Padahal langkah itu penting sekali sebagai variabel dalam merumuskan pengembangan kaderisasi.

Lebih lanjut, dalam kontestasi nasional para alumni PMII -yang menempati jabatan-jabatan penting di pemerintahan sekaligus lintas partai politik- ternyata cukup punya tempat tersendiri. Tidak jarang para alumni tersebut tidak berkenan duduk dalam satu meja dan bersepakat dalam satu persoalan. Hal inilah yang kemudian memahamkan kita bahwa menjaga tradisi tabayun ternyata tidaklah mudah.

Dinamika itu pun sebenarnya acapkali kita jumpai di berbagai organisasi lainnya, apalagi bila ditambahi bumbu momentum suksesi kepemimpinan nasional, eksekutif maupun legislatif. Persoalannya adalah bagaimana menyeimbangkan porsi kepentingan taktis dan strategis di tubuh alumni? Lantas apa langkah-langkah yang bisa menjadikan seluruh kader-kader PMII dan yang paling penting alumninya (IKA PMII) bersepakat dan bersatu? Adakah kalimatun sawa yang bisa menjadi pegangan sekaligus pemersatu? Menurut hemat penulis, pertanyaan-pertanyaan itulah yang mendesak untuk dicari bersama jawabnya.

Untuk merealisir agenda-agenda tersebut ada baiknya wadah alumni mempertimbangkan pola kepemimpinan kolektif kolegial untuk mencapai musyawarah mufakat dalam setiap keputusannya. Memang pola kepemimpinan ini terkesan kurang familiar dalam tradisi PMII. Namun sekali lagi watak mahasiswa sejak awal mempunyai tradisi pemikiran yang progresif. Kolektif Kolegial sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak model kepemimpinan yang diterapkan dalam berbagai organisasi. Dengan bentuk organisasi tersebut, memungkinkan setiap Anggota Pimpinan memiliki wewenang yang sama dalam hal mengambil keputusan. Jadi keputusan itu diambil secara bersama-sama (kolektif) dan bersifat kekeluargaan (kolegial).

Kepemimpinan kolektif kolegial bisa memadukan politisi, pengusaha, akademisi, ulama, birokrat dan sebagainya. Pola ini bisa diharapkan bisa saling melengkapi antar pimpinan. Memang sosok figur ketua umum tidak ada, namun pola kepemimpinan ini paling mendekati untuk menginginkan sebuah regenerasi kolektif yang bagus. Regenerasi secara kolektif, akan mempercepat proses penyegaran dan pencerahan dalam kepemimpinan alumni PMII ke depan. Transfer kader dari bawah keatas (vertikal) maupun horisontal akan berjalan secara dinamis. Tidak menutup kemungkinan, PMII sendiri ke depan bisa mengadopsi pola kepemimpinan serupa.

Penulis berpendapat alumni PMII tidak harus masuk ke dalam lembaga-lembaga NU. Kader-kader alumni PMII harus berdiaspora, menekuni berbagai bidang, di dalam maupun diluar pemerintahan dan menjadi yang terbaik. Namun kader-kader alumni PMII yang terbaik juga harus ada yang berkarya dan mengembangkan NU. Menggerakkan roda organisasinya untuk kemaslahatan seluruh warganya, bukan sebaliknya hanya mengambil manfaat saja dari NU, apalagi untuk kepentingan pribadi.

Jika satu dekade paska reformasi PMII dan juga NU panen para sarjana dan intelektual yang mumpuni dalam rumpun keilmuan agama, sosial dan humaniora. Maka satu atau dua dekade ke depan panen alumni PMII bisa dipastikan lebih beragam lagi dengan keahlian yang beragam pula. Bisa jadi banyak yang sukses menggeluti bermacam bidang industri, akademisi maupun pakar-pakar lainnya. Bola inilah yang diharapkan mampu dijemput oleh pengurus baru IKA PMII hasil Munas pada 1 Juli mendatang.

Kiranya dengan kualitas-kualitas yang mumpuni dengan etos kerja tinggi, banyak alumni yang pantas memimpin IKA PMII periode mendatang. Di antaranya, Surya Dharma Ali, Idrus Marham, A. Muhaimin Iskandar, Arif Mudatsir Mandan, Lukman Hakim Saifudin, Khofifah Indar Parawansa, Effendi Choiri, Ahmad Muqowam, dan Arvin Hakim Thoha. Sedangkan dari kalangan birokrat dan akademisi ada nama Ali Masykur Musa, Imam Anshari Saleh, Wahiduddin Adam, Kacung Maridjan, Lilis Nurul Husna, Abdul Hafidz Anshari. Dari kalangan muda ada nama Nusron Wahid, Heri Herianto Azumi, Zaini Rahman dan juga Juri Ardiantoro. Wallahualam bishowab.

*Kabiro Kaderisasi PB PMII

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/45438/ika-pmii-wadah-kaderisasi-di-tingkat-alumni

Minggu, 22 Agustus 2010

Bonus Demografi Kaum Santri

Oleh A Khoirul Anam

Kaum santri berpusat pada pesantren dan secara kultural dipimpin dan patuh kepada kiai, meskipun tidak semua pernah mondok atau menetap dan belajar di pesantren. Mereka sudah terbiasa menjalani kesalehan agama Islam semenjak masih kecil. Mereka tidak mesti berdagang, bahkan sebagian besar adalah keluarga petani. (Trikotomi Clifford Geertz 1951-1952 tentang santri-abangan-priyayi seringkali mengganggu pemahaman kita mengenai perkembangan kaum santri ini. Meskipun setelah peristiwa G30SPKI 1965 Geertz datang lagi ke Indonesia dan mengubah tesisnya, kesimpulannya itu sudah terlanjur terbit menjadi buku dan dikutip sana-sini.) Tegasnya, kaum santri berafiliasi dengan organisasi NU.

Bonus Demografi Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Bonus Demografi Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)


Bonus Demografi Kaum Santri

Pada mulanya kaum santri ini berada di desa-desa yang lekat dengan tradisi keagamaan seperti ritual kelahiran dan kematian (Geertz sebaliknya menyebut tradisi ini sebagai abangan). Berikutnya, sebagian dari kaum santri bermigrasi dan menetap di kota-kota, menjadi orang kota dan beranak-pinak. Kira-kira mereka yang bermigrasi sejak tahun 1960-1970an, saat ini sudah mempunyai cucu. Proses migrasi terus berlanjut. Migrasi yang terjadi pada kurun 1990an dan 2000an lebih banyak lagi, silakan diamati setiap musim mudik lebaran.

Santriwati Cantik

Orang-orang di luar sana sedang membicarakan soal bonus demografi. Jumlah penduduk produktif Indonesia besar sekali. Sementara sukses dakwah Islam telah berhasil menjadikan Indonesia mayoritas Muslim, sehingga bonus demografi yang dimaksud di atas pasti berkaitan dengan besarnya generasi muda Muslim di Indonesia. Catatan berikut fokus pada bonus demografi kaum santri.

Pada 2015 lalu sebuah media massa nasional yang aktif melakukan survei, merilis berita yang membuat saya tersenyum. Hasil survei menunjukkan ternyata, 70 persen wartawan berbagai media nasional di Jakarta mengaku sebagai warga NU, atau Nahdliyin. Ini hanya satu bidang profesi, sekedar menunjukkan betapa percaya dirinya kaum santri yang hidup di kota. Pada satu sisi, kemandirian yang diajarkan secara praktis di pesantren menjadi bekal yang luar biasa untuk bersaing hidup di kota. (Dalam catatan ini saya perlu menyampaikan kekaguman kepada sosok Savic Ali, alumni pesantren yang hijrah ke kota dan kuliah di jurusan filsafat, kemudian menjadi aktifis dan sekarang menjadi pebisnis sukses di bidang teknologi-komunikasi.)

Santriwati Cantik

Sesuatu yang menarik dalam bonus demografi sebenarnya bukan migrasi, tapi mobilitas sosial yang sudah terjadi pada kaum santri selama bertahun-tahun melalui beberapa bidang dan peran. Di bidang politik, kaum sarungan mulai meroket ke kancah nasional melalui Partai NU pada tahun 1955, dan berikutnya kiprah politik ini terus bertahan meskipun mengalami pasang-surut. Posisi kaum santri sangat kuat karena dalam sistem demokrasi yang selalu mengandalkan jumlah massa; sesuatu yang menjadi keunggulan kaum santri.

Berikutnya, kisaran akhir 1970an dan 1980an, sebagian kaum sarungan menjajaki dunia baru sebagai aktivis LSM, gerakan advokasi yang didahului dengan berbagai kajian kritis terhadap berbagai teks pesantren dan adaptasi berbagai kajian filsafat dan teori sosial dari Barat. Gus Dur menjadi satu ikon penting dalam hal ini. Kemudian tibalah era reformasi yang ditunggu-tunggu dan generasi ini sudah siap "merebut" jabatan strategis di lembaga-lembaga negara yang baru dibentuk, serta tenaga-tenaga ahli di berbagai bidang.

Sarana mobilitas sosial yang paling penting bagi kaum santri adalah pendidikan. Negara Indonesia ini harus berterimakasih kepada pesantren yang menyelamatkan pendidikan warga negara terutama di basis pedesaan dan kalangan ekonomi menengah ke bawah. Pada awal masa kemerdekaan, pesantren yang sejak awal memilih jalur politik non-kooperatif terhadap sistem kolonial, memilih tetap menjadi institusi pendidikan tersendiri yang secara nomenklatur berada di bawah naungan Kementerian Agama, bukan Kementerian Pendidikan. Berikutnya, sebagian pesantren bermetamorfosa menjadi madrasah atau sekolah formal yang diakui oleh pemerintah dan menyeleggarakan juga pendidikan tinggi dengan berbagai bidang keahlian yang hampir sama dengan yang dikembangan di lembaga pendidikan tinggi umum. Kementerian Agama juga sangat aktif melakukan proyek integrasi ilmu agama-umum dan memfasilitasi kaum santri untuk mendalami bidang sains dan humaniora.

Hasilnya, banyak sekali kaum santri yang mempunyai keahlian selain bidang agama-normatif. Bahkan, bukan rahasia lagi sejak dahulu putra-putri para tokoh NU disekolahkan di lembaga pendidikan umum, bukan di pesantren atau lembaga pendidikan Islam. Dan pada saat Indonesia mengalami bonus demografi, sudah banyak kaum santri yang menjadi ahli matematika dan statistik,ahli biologi dan kimia, ahli teknologi, ahli astronomi, bahkan ahli di bidang nuklir: Bidang-bidang keahlian ini mungkin tidak terpikirkan pada 31 Januari 1926.

Organisasi NU sebagai rumah besar kaum santri memang terlalu tua untuk merespon bonus demografi kaum santri ini, namun intsitusi yang dipimpin para kiai pesantren ini menjadi sarana kopi darat generasi santri yang sudah beredar kemana-mana. (Di Jakarta misalnya halaqah-halaqah, istighotsah atau kegiatan apapun menjadi saranan berkumpul kaum santri, sekedar ngobrol-ngobrol, bercanda dan membahas hal-hal yang tidak penting (tidak berkaitan dengan bidang profesi mereka).

Sebagian orang luar masih menganggap kaum santri hanya sebagai komunitas massa Islam yang berkecimpung di bidang agama. Misalnya, para wartawan yang diturukan untuk meliput berbagai kegiatan NU atau datang menemui kiai di pesantren hampir selalu wartawan desk-politik. Singkatnya, NU dan pesantren di kancah nasional hampir selalu identik dengan manuver politik dan fatwa keagamaan.

Namun siapapun tidak bisa membendung arus pergerakan generasi kaum santri di berbagai bidang dan pos-pos penting. Di bidang politik, beberapa santri duduk sebagai pimpinan berbagai partai politik. Di birokrasi, kaum santri juga tidak hanya masuk melalui jalur Kementeria Agama. Di bidang keahlian lain pergerakan kaum santri di era bonus demografi ini juga tidak bisa dibendung dan dihalangi oleh siapapun atau apapun. Semua berlangsung secara alamiah dan bebas dari pengaruh konspirasi wahyudi sekalipun.

Penulis adalah Redaktur Santriwati Cantik

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76797/bonus-demografi-kaum-santri

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Cantik sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Cantik. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Cantik dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock