Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Januari 2017

Pesantren Berupaya Teguhkan Kembali Yogyakarta sebagai Kota Toleransi

Yogyakarta, Santriwati Cantik. Dewasa ini, pendidikan moral dan etika sangatlah mendesak. Beruntung bangsa ini memiliki pesantren sebagai institusi yang tak henti-hentinya menanamkan akhlakul karimah kepada para peserta didiknya.

Sebab, toleransi tidak akan terwujud tanpa adanya akhlaqul karimah, ungkap KH Jazilus Sakhok saat menutup acara Workshop Tingkat Provinsi Program Sub-Grant Pesantren for Peace (PFP) di DSalvatore Hotel Yogyakarta, Ahad (6/11) siang.

Pesantren Berupaya Teguhkan Kembali Yogyakarta sebagai Kota Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Berupaya Teguhkan Kembali Yogyakarta sebagai Kota Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesantren Berupaya Teguhkan Kembali Yogyakarta sebagai Kota Toleransi

"Saya harap melalui acara ini dapat menghasilkan nilai-nilai positif, terutama tentang pola pikir kita soal bagaimana menghargai dan mengembangkan toleransi di masyarakat, kata Kyai Sakhok kepada sedikitnya 30 ustadz/ustadzah perwakilan Pesantren di seluruh DI Yogyakarta.

Santriwati Cantik

Sementara itu, perwakilan dari Uni Eropa, Gusrini Saidi mengatakan, persoalan yang dibahas mengenai toleransi ini adalah soal isu yang secara global terutama di Indonesia merupakan isu yang krusial dan penting.

"Di Eropa sendiri, isu mengenai toleransi sedang diuji. Bersamaan dengan masuknya kelompok pengungsi dari negara-negara konflik di Timur tengah ke eropa menjadi tantangan tersendiri bagi Eropa untuk membumikan toleransi," tuturnya.

Selain itu, lanjutnya, forum ini juga dimaksudkan untuk mempertajam, memperkuat serta menegaskan kembali bahwa Islam itu damai dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan.

Santriwati Cantik

Acara yang mengusung tema "Peningkatan Peran Pesantren dalam Meneguhkan Kembali Yogya sebagai City of Tolerance" ini merupakan gagasan Pesantren Sunan Pandanaran yang bekerja sama dengan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Konrad Adenauer Stiftung (KAS), didanai oleh Uni Eropa, dan didukung oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri RI).

"Tema ini dianggap penting sebab Yogya sekarang jauh dari citra toleran. Pesantren dalam konteks lokal Yogya memiliki peranan yang sangat strategis di masyarakat. Kami berharap pesantren mamainkan peranannya dalam mengampanyekan Islam yang toleran demi terciptanya kembali Yogya sebagai City of Tolerance, ungkap Mohamad Yahya, Ketua Panitia.

Dalam workshop tersebut, lanjutnya, asatidz pesantren secara bersama-sama memetakan konflik dan tindakan intoleran di Yogyakarta. Berbasis pada pemetaan tersebut, mereka secara bersama-sama pula mencarikan solusinya dan membangun komitmen bersama untuk mengkampanyekan Islam yang toleran demi terciptanya kembali Yogya sebagai City of Tolerance. (Anwar Kurniawan/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72755/pesantren-berupaya-teguhkan-kembali-yogyakarta-sebagai-kota-toleransi-

Sabtu, 02 Januari 2016

Peduli Yuyun, Pelajar NU Gelar Shalat Ghaib dan Doa Bersama

Banyuwangi, Santriwati Cantik. Peristiwa tragis yang menimpa Yuyun (14), pelajar SMP di Bengkulu mengundang simpati dan keprihatinan banyak pihak, termasuk para pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

Puluhan pelajar Pimpinan Cabang IPNU Banyuwangi melaksanakan shalat ghaib dan doa bersama untuk almarhumah Yuyun. Selain itu, juga memanjatkan doa untuk seluruh pelajar Indonesia agar kasus sejenis tak muncul kembali.

Peduli Yuyun, Pelajar NU Gelar Shalat Ghaib dan Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Yuyun, Pelajar NU Gelar Shalat Ghaib dan Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)


Peduli Yuyun, Pelajar NU Gelar Shalat Ghaib dan Doa Bersama

Sebagai bentuk solidaritas dan komitmen kita di dunia pendidikan, kita mendoakan almarhumah Yuyun agar diterima di sisi-Nya dan ke depannya tak ada lagi kasus-kasus demikian menimpa pelajar di Indonesia, tutur Yahya Muzakki, Ketua PC IPNU Banyuwangi usai doa bersama di Masjid Al-Mujahirin, Kelurahan Kebalenan, Banyuwangi, Selasa malam (3/5).

Kasus Yuyun, menurut Yahya, bukan sekadar kasus kriminal biasa. Hal ini merupakan tamparan keras terhadap dunia pendidikan Indonesia. Apalagi mengingat para pelaku pemerkosa dan pembunuh Yuyun terhitung masih berusia pelajar, yakni 16 sampai 20 tahun.

Santriwati Cantik

Ini pukulan telak bagi dunia pendidikan Indonesia. Peserta didik tidak hanya menjadi korban, tapi kini mulai merambah menjadi pelaku, ujar Yahya.

Santriwati Cantik

Oleh karena itu, terang Yahya, aktivis IPNU bersama IPPNU (Ikatan Pelajar Putri NU) terus menyuarakan toleransi, anti-kekerasan, dan penguatan nilai-nilai keagamaan di kalangan pelajar Banyuwangi. Kita terus mendampingi pelajar Banyuwangi, imbuh Yahya.

Sementara itu, angka kekerasan seksual yang menimpa anak-anak terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2015 kemarin ada 2.898 kasus kekerasan terhadap anak. Sebanyak 59,3 persen di antaranya merupakan kasus kejahatan seksual. Angka ini naik dari 2.726 kasus kekerasan terhadap anak pada tahun 2014, yang 56 persen di antaranya pelecehan seksual. Ironisnya, hanya 179 kasus yang dilaporkan.

Ragam kekerasan anak berupa kekerasan fisik, penelantaran, penganiayaan, perkosaan, adopsi ilegal, penculikan, perdagangan anak untuk eksploitasi seksual. KPAI mencatat bahwa pelaku kekerasan anak adalah anggota keluarga, tetangga, teman, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat dan lain-lain. Dari kasus itu tindak kekerasan terjadi di ruang privat sebesar 62 persen dan ruang publik seperti rumah, sekolah, panti asuhan, lembaga keagamaan sebanyak 38 persen. (Anang Lukman Afandi/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67880/peduli-yuyun-pelajar-nu-gelar-shalat-ghaib-dan-doa-bersama

Santriwati Cantik

Jumat, 06 November 2015

MTA Solo Diajak Baca Kitab Kuning Malah Kabur

Santriwati Cantik - Sebagaimana dijelaskan dalam site resminya, Yayasan Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) adalah sebuah lembaga pendidikan dan dakwah Islamiyah yang berkedudukan di Surakarta. MTA didirikan oleh Almarhum Ustadz Abdullah Thufail Saputra di Surakarta pada tangal 19 September 1972 dengan tujuan untuk mengajak umat Islam kembali ke Al-Qur’an. Sesuai dengan nama dan tujuannya, pengkajian Al-Qur’an dengan tekanan pada pemahaman, penghayatan, dan pengamalan Al-Qur’an menjadi kegiatan utama MTA.

Organisasi yang sekarang dipimpin oleh Ahmad Sukino ini, meskipun bertujuan melakukan pengkajian Al-Qur’an dengan tekanan pada pemahaman, penghayatan, dan pengamalan Al-Qur’an, namun dalam prakteknya cara pemahamannya sangat dangkal dan cenderung memahami sesuai keinginan nafsunya untuk membid’ahkan dan mengkufurkan orang Islam.

Meskipun sering menyalahkan dan membid’ahkan orang, ternyata organisasi ini tidak kebal kritik atau tidak mau diluruskan apalagi disalahkan. Salah satu buktinya, pada Pengajian di Wonosobo dalam tri wulanan jamaah tariqoh Naqsabandiyah-Kholidiyah, Gus Zuhrul Anam Pondok Pesantren Leler Banyumas, salah seorang menantu Mbah Kyai Maimun Zubair Sarang dan murid Abuya Sayyid Muhammad Alwy al Maliki, bercerita bahwa beliau baru saja didatangi kelompok garis keras MTA (Majelis Tafsir Al-Quran).

MTA menyatakan keberatan dengan pengajian-pengajian Gus Anam yang sering menyinggung-nyinggung MTA. Gus Anam menjawab, bahwa dia menyinggung ajaran MTA hanya sekadar menggunakan hak jawab, karena ceramah-ceramah MTA sering membid’ahkan dan menyesat amaliah-amaliah umat Islam, khususnya NU. Gus Anam menyarankan agar MTA tidak usah menyinggung-menyinggung soal khilafiah dalam dakwahnya.

MTA tetap tidak bisa menerima penjelasan Gus Anam. Gus Anam kemudian mengusulkan debat terbuka di Banyumas difasilitasi perguruan tinggi dengan guru-guru atau tokoh MTA. Debat disiarkan langsung di TV, diliput wartawan-wartawan untuk membuktikan siapa yang benar. MTA tidak mau, alasannya agama bukan untuk debat-debatan.

Gus Anam menjawab yang membuat masalah terlebih dahulu bukan dirinya, tapi MTA. Dan di dalam Qur’an disebutkan “wa jadilhum billatiy hiya ahsan”.

Meski sudah dijelaskan panjang, MTA tetap memaksa Gus Anam jangan menyinggung-nyinggung lagi MTA dalam tiap pengajiannya. Bosan bertemu dengan orang-orang bodoh tapi ngeyel, Gus Anam akhirnya mengambil kitab, tokoh-tokoh MTA disodori kitab diminta membaca kitab tersebut. Mengetahui akan dites bahasa Arab dan pengetahuan agamanya, rombongan MTA langsung bersiap pamit.

Gus Anam terus meminta agar salah satu rombongan MTA mau membaca kitab itu, tapi tetap tidak mau, bahkan mereka terus berdiri, dan pergi tanpa sempat menikmati minuman dan makanan yang dhidangkan.

Cerita ini, seperti cerita-cerita lain tentang tokoh-tokoh Wahabi yang sering lari bila diajak berdebat atau berdiskusi sehat untuk membuktikan hujjah siapa yang sahih dan benar, bukan dalam rangka merendahkan mereka, namun agar kita semua tidak mudah terlena dengan jargon kembali kepada Al Qur’an dan Hadits. Terlebih bila jargon itu dipekikkan oleh orang yang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban ilmu yang dimilikinya, dan hanya berani bermain petak umpet, seperti anak kecil yang tidak perlu diladeni apalagi digugu dan ditiru. Wallahu a’lam bish shawwab. [Santriwati Cantik/ab]


Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/mta-solo-diajak-baca-kitab-kuning-malah-kabur.html

Sabtu, 22 Desember 2012

Cara Indah Menggambar Nabi Muhammad Saw

Santriwati Cantik - Kau tahu anakku, manakala beberapa kartunis Denmark ramai-ramai ingin memvisualisasi baginda Rasululllah shallallahu alaihi wasallam dengan imajinasi kotor mereka, kita marah, jelas marah. Tapi apakah kita melawan dengan anarkis? Tidak. Itu tidak akan menyelesaikan masalah, anakku. Ingatlah kalimat indah dari Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam 'Jaddid Hayatak' bahwa laut tidak akan pasang gara-gara lemparan kerikil seorang bocah.

Banyak yang melakukan tindakan anarkistis menyikapi kartun tolol tersebut. Tapi, tahukah engkau anakku, ada kisah keren menanggapi karikatur bodoh tersebut. Ya, kisah sekelompok anak-anak muda Inggris yang memutuskan membagikan mawar dan buku-buku biografi Nabi Muhammad kepada orang awam yang berlalu lalang. Ini langkah cerdas, anakku. Sukakah kau? Kuharap demikian.

Cara Indah Menggambar Nabi Muhammad Saw - Santriwati Cantik
Cara Indah Menggambar Nabi Muhammad Saw - Santriwati Cantik


Cara Indah Menggambar Nabi Muhammad Saw

Ada juga kisah lain manakala Habib Ali al-Jufry yang memutuskan berangkat ke Denmark dan menemui salah satu karikaturis yang dengan konyol dan tolol menggambarkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Apakah keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itu langsung memukul dan mencaci maki sang kartunis? Oh tidak. Jelas itu bukan metode akhlak warisan datuknya.

Habib Ali Al-Jufry dengan lembut menjelaskan akhlak, kemuliaan, dan karakteristik Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Penjelasan yang membuat kartunis itu terpekur dan tidak menyangka betapa mulianya tokoh yang ia karikaturkan.

Santriwati Cantik

Sudah cukup? Belum anakku. Habib Umar bin Hafidz, keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang murah senyum itu pernah mendarat di Denmark. Manakala rombongan menginjakkan kaki di bandara, tiba-tiba beliau disambut dengan pembacaan shalawat Nabi oleh sekelompok muslimin Denmark, hingga beliau menoleh ke Habib Salim, putranya, lalu berkata "Bahkan, di negara yang pernah kartunisnya pernah memvisualisasi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ini, kau lihat anakku, kita disambut dengan pembacaan shalawat Nabi".

Anakku, apa kau sudah mengantuk, sayang? Dalam peringatan hari lahir Kanjeng Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ada segelintir pihak yang mempermasalahkan keabsahan ritual mulia ini. Sejenak, lupakan celoteh orang-orang sinis nan aneh itu. Buang-buang waktu saja meladeni celoteh kebencian. Setidaknya kau bisa menukar waktu debatmu dengan cara menonton film ringkas inspiratif.

Santriwati Cantik

Isinya, seorang guru di Prancis yang memerintahkan para muridnya menggambar Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Seorang anak muslim termenung, lalu ia melaksanakan perintah gurunya dengan cara menuliskan tentang Rasulullah shallallahu alaihi wasalam dan citra beliau bagi dirinya, anggota keluarganya dan umat Muslim. Di bagian belakang tulisannya, sang murid pun hanya menulis kata “Muhammad”. Keren, bukan? [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/12/cara-indah-menvisualkan-nabi.html

Jumat, 22 Juni 2012

21 April, Mengapa Harus Kartini?

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingatinya sebagai hari nasional, Hari Kartini. Hari Kartini semakin semarak ketika Presiden Soekarno ( 2 Mei 1964) memberi anugerah Kartini sebagai Pahlawan Nasional. Bagi Bung Karno, Kartini layak mendapatkan gelar tersebut sebab jasanya yang mengentaskan perempuan nusantara dari kungkuman keterbelakangan pendidikan.

Dalam menilai Kartini, ada dua kubu yang berbeda pendapat. Sebagian melolak Kartini sebab ia tidak lain adalah didikan Belanda, yang menindas bangsa Indonesia. Sebagian lagi menerima tanpa mempermasalahkan siapa itu Kartini secara mendalam. Mereka hanya melihat jasa besar yang ditorehkan Kartini dalam emansipasi wanita, terlebih dunia pendidikan.

21 April, Mengapa Harus Kartini? - Santriwati Cantik
21 April, Mengapa Harus Kartini? - Santriwati Cantik


21 April, Mengapa Harus Kartini?

Orang yang tidak setuju dengan adanya Kartini membandingkan dengan pahlawan perempuan yang berjasa untuk bangsa Indonesia semisal Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, Cutpo Fatimah, Rohana Kudus, Dewi Sartika, Fatimah binti Abdus Shomad, dan Fatimah binti Abdul Wahhab Bugis. Semua perempuan ini berjasa terhadap bangsanya, bukan hanya dalam upaya melawan penjajah, akan tetapi dunia pendidikan pun dijalaninya.

Mengkaji kebesaran nama Kartini memang tidak bisa dipisahkan dari peran Belanda. Mereka sangat berjasa memfasilitasi Kartini dan mengenalkan Kartini, hingga karyanya (dalam kumpulan surat-suratnya berbahasa Belanda) diterjemah dalam berbagai bahasa, Inggris, Perancis, Indonesia, Jawa, Arab, dan Jerman. Belanda ingin membuktikan bahwa selain menjajah mereka juga berbuat jasa mencerdaskan kehiudupan pribumi dengan politik etisnya setelah lama digencarkan rodi-rodi dan tanam paksa. Mereka ingin membuktikan bahwa jasanya lebih besar dibanding dengan penderitaan yang ditumpahkan.

Tanpa menelisik kekurangan-kekurangan Kartini sebagai manusia biasa, ada kelebihan yang tidak diimiliki oleh perempuan lain, baik pendahulunya, maupun perempuan di masa mendatang. Kartini adalah sosok yang cerdas, putri bangsawan, dan mempunyai pemikiran besar yang dituangkan dalam karya tulis, yang senantiasa menginspirasi generasi setelahnya.

Santriwati Cantik

Ia sangat gigih melawan ketidak adilan pemerintah Hindia Belanda dan memperjuangkan hak perempuan untuk menerima pendidikan sebagaimana laki-laki. Hak pendidikan perempuan yang didengunkan Kartini bukan untuk menyaingi laki-laki, akan tetapi agar perempuan bisa memenuhi kuwajibannya sebagai ibu, orang yang pertama akan pendidik manusia. Jika seorang ibu sudah terbelakangkan pendidikannya, maka bagaimana dengan anaknya. Kartini sangat mewanti-wanti masalah tersebut. Pendidikan yang digagasnya bukan hanya diperuntukkan kaum bangsawan, namun semebar untuk semua kalangan. Ia tidak menyukai pengkotakan yang tidak memanusiakan manusia.

Santriwati Cantik

Bukan hanya membela bangsanya, melalui penanya, ia membela agamanya (Islam). Ia berkata, “Usahakan zending itu, tetapi tidak dengan menashranikan orang!” Dengan teguh ia membela agamanya. Bahkan dengan lantang ia menyuarakan gelar yang diidamkan selama hidupnya, yaitu menjadi “Hamba Allah”, sebuah sematan yang diburu para nabi, rasul, ulama, dan ahli ibdah untuk mendapatkan derajat tinggi di sisi Allah.

Atas jasa besar yang ditorehkan Kartini, banyak orang yang terinsiprasi darinya. Setelah terbitnya Door Duisternis Tot Licht ini (1911), berbondong-bondong lembaga pendidikan perempuan berdiri, semisal sekolah Kartini di Semarang (1912), Pondok Pesantren Putri Denanyar asuhan Kiai Bisry Syansuri, dan Pondok Pesantren Putri Sablak (1921) asuhan Ibu Nyai Khairiyah. Karena pengaruh kuat Kartini, ada salah satu pengasuh perempuan yang dijuluki “Kartini dari Jombang”, yaitu Ibu Nyai Abidah, putri Ibu Nyai Khairiyah.

Pengaruh Kartini atas emansipasi pendidikan perempuan telah menginspirasi Ibu Nyai Khairiyah untuk mengusulkan agar di Dar al-Ulum Makkah al-Mukarramah (Saudi Arabia) dibuat lembaga pendidikan untuk perempuan disamping lembaga pendidikan laki. Usul itu diterima oleh suaminya, Syaikh Muhaimin al-Lasemi (Rektor Dar al-Ulum). Karena jasa Ibu Nyai Khairiyah dalam memproklamirkan pendidikan perempuan pertama di Saudi Arabia, namanya diabadikan menjadi sebuah perguruan tinggi, Universitas Khairiyah.

Amirul Ulum, sejarawan muslim, penulis buku “Kartini Nyantri”

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/21-april-mengapa-harus-kartini.html

Selasa, 03 Mei 2011

Penelitian Tafsir Lokal Masih Minim

Semarang, Santriwati Cantik. Ahmad Arif Junaidi yang sukses mempertahankan disertasinya di IAIN Walisongo Semarang berjudul Tafsir Al-Quranul Adhim, Interteks dan Ortodoksi dalam Penafsiran Raden Pengulu Tafsir Anom V memaparkan, kajian atas tafsir Al-Quran karya ulama lokal memang masih sangat minim.

Menurutnya, kebanyakan kitab tafsir yang populer dipelajari di madrasah dan pesantren adalah karya ulama yang punya kaitan ilmu langsung dengan Mekah. Sebut saja Tafsir A-Munir karya Syaikh Nawawi Banten, Tarjuman al-Mustafid Syaikh Abdur Rauf Sinkel Aceh, Tafsir Faidlur Rahman karya KH Soleh Darat Semarang.

Penelitian Tafsir Lokal Masih Minim (Sumber Gambar : Nu Online)
Penelitian Tafsir Lokal Masih Minim (Sumber Gambar : Nu Online)


Penelitian Tafsir Lokal Masih Minim

Arif yang juga aktivis Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Jawa Tengah sukses meneliti kitab tafsir Al-Quran karya pejabat tinggi Kasultanan Surakarta, Raden Pengulu Tafsir Anom V dan berhasil meraih titel tertinggi dalam dunia akademik formal.

Santriwati Cantik

Pada Jumat (13/7) lalu, ia meraih nilai sangat memuaskan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,66 dalam Rapat Senat Terbuka Terbatas Ujian Promosi Doktor atas dirinya di ruang ujian lantai III Gedung Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang.

Dari hasil penelusurannya, ternyata banyak kitab tafsir karya ulama lokal yang tidak belajar langsung di Arab. Ia sebutkan, Kitab Tafsir Jalalain Basa Jawi karya Kiai Bagus Ngarfah, guru madrasah Manbaul Ulum Surakarta. Tafisr ini belum selesai karena penulisnya wafat pada 1913, namun ada penerusnya, Siti Chayati yang membuat Tafsir Surat Wal-Asri serta Dara Masyitoh yang menulis Tafsir Djawen. Dan yang paling menarik menurutnya, adalah Kuran Winedhar Juz I dan Tafsir Al-Quranul Adhim karya Raden Pengulu Tafsir Anom V.

Santriwati Cantik

Tafsir buatan Pengulu Tafsir Anom V sangat menarik karena ada dua edisi, dengan aksara Arab pegon, dan aksara latin, terangnya.

Tafsir edisi pertama, adalah tulisan asli Raden Pengulu Tafsir Anom yang dikumpulkan oleh anak-anaknya yang bertugas di Mahkamah Syariyyah di ibukota Jawa, Solo. Sedangkan edisi kedua yang diberi judul Tafsir Al-Quran Suci Basa Jawi, dibukukan secara baik (kahimpun) dening Prof KH Raden Muhammad Adnan, salah satu anak Pengulu Tafsir Anom.

Arif tertarik meneliti tafsir lokal itu karena penulisnya adalah pejabat keagamaan tertinggi di Kraton Solo, juga karena tafsir tersebut punya banyak keunikan. Khususnya yang terkait dengan intertekstualitas penafsiran, yaitu hubungan antara teks dengan teks sebelumnya.

Kebanyakan mufassir, ujarnya, mengutip isi kitab tafsir lainnya, dan itu menjadi pola umum di kalangan para penulis kitab. Namun Pengulu Tafsir Anom V selain kitab tafsir lain, juga banyak mengutip kitab fiqih, hal mana tidak dilakukan mufassir lain.

Salah satu contoh kutipan fiqih adalah tafsir atas surat Al-Baqoroh ayat 226-228 tentang ila dan thalaq, sang pengulu merujuk kitab fiqih Mizan Syarony, Fathul Qorib dan Ianatut Tholibin (Anom, tentu: 92-93). Total ada 16 kitab yang dijadikan rujukan sang pengulu.

Perujukan kitab-kitab fiqih ini dilakukan dengan memposisikan sebagai anutan, bukan teks yang dikritik atau teks yang penulisnya berbeda pendapat dengannya. Fenomena ini sekaligus menampakkan keunikan lainnya, yaitu indikasi ortodoksi pemikiran Islam jika dilihat dari konteks Kasunanan Surakarta pada awal abad ke-20. Sebab para sarjana barat menanggap kraton adalah pusat sinkretisme Jawa. Terlebih waktu itu Jawa dijajah Belanda, terang Arif.

Ia melanjutkan, Raden Pengulu Tafsir Anom V adalah pengulu ke-18 yang punya nama asli Raden Muhammad Qomar. Anak ke-6 dari Raden Pengulu Tafsir Anom IV ini lahir pada 11 Rabiul Awal Tahun Jimakir 1786 Jawa (1854 M) yang punya garis leluhur sampai Sultan Trenggana, penguasa terakhir Kasultanan Islam Demak.

Arif mengakui, ia tidak berhasil menemukan banyak informasi tentang riwayat pendidikan Raden Qomar. Tetapi diperoleh fakta bahwa Muhammad Qomar belajar agama pada sang ayah dan Kiai Mukmin di Kampung Gajahan Solo. Lalu mondon mondok di Pesantren Tegalsari Ponorogo lalu Pesantren Banjarsari Madiun, dan Pesantren Kebonsari Madiun.

Berlanjut pada usia 21 tahun nyantri di Semarang pada KH Soleh Darat, ulama terkemuka abad ke-19 di Jawa. Pada umur 23 Qomar pulang dan lantas menjadi penerjemah Raja Solo, lalu menjadi guru agama bagi Sri Susuhunan Pakubuwono IX dengan cara membacakan kitab tafsir Al-Quran, kitab tasawuf Ihya Ulumiddin, kitab Sirajul Mulk dan lain-lain di waktu sela sang raja.

Selama menjadi pembaca kitab bagi raja, Qomar masih sering ke Semarang untuk mengaji pada Kiai Soleh Darat termasuk ngaji pasanan (mengaji saat bulan puasa). Qomar termasuk murid kesayangan Mbah Soleh Darat, sehingga selalu dikirimi buku karangan sang kiai lewat pos.

Tafsir Anom V juga seorang modernis, karena ikut merintis berdirinya Madrasah Manbaul Ulum di Solo. Padahal waktu itu sistem pendidikan Islam hanyalah pondok pesantren yang tidak model kelas-kelasan. Madrasah yang sempat ditentang para ulama Solo itu didirikan untuk mencetak calon-calon pengulu. Resmi berdiri pada 23 Juli 1905, tutur Arif.

Tak hanya itu, tambahnya, Pengulu Tafsir Anom juga mendirikan Perpustakaan dan Penerbitan kitab agama Islam berbahasa Jawa yang diberi nama Mardikinta. Pengabdiannya yang sangat lama, 49 tahun, membuat pengulu ini menjadi satu-satunya pengulu dan pejabat istana yang diberi gelar tertinggi, yaitu Pangeran Sentana. Serta ketika wafat pada 21 September 1933 ia dimakamkan di kompleks pemakanan raja-raja Mataram di Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muhammad Ichwan

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/38935/penelitian-tafsir-lokal-masih-minim

Santriwati Cantik

Kamis, 10 Desember 2009

Mengapa Harus Bermadzhab?

Santriwati Cantik Mendapat pertanyaan : Kenapa kebanyakan umat Islam dalam beribadah memakai madzhab Imam Syafi'i, Maliki, Hanafi atau Hambali, bukankah yang benar adalah yang mengikuti AlQur’an dan Sunnah (Hadits)? Kenapa tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah saja?

Mengapa Harus Bermadzhab?
Mengapa Harus Bermadzhab?


Jawab : Sebuah pertanyaan yang menarik, mengapa kita harus bermadzhab? Mengapa kita tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah saja?

Kalimat "Mengapa kita tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah saja?" seakan-akan menghakimi bahwa orang yang bermadzhab itu tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah. Penggunaan kalimat "Mengapa kita tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah saja?" tersebut telah menyebabkan sebagian orang memandang remeh ijtihad dan keilmuan para ulama, terutama ulama terdahulu yang sangat dikenal kesalehan dan keluasan ilmunya.

Dengan menggunakan kalimat "Mengapa kita tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah saja?" sekelompok orang sebenarnya sedang berusaha mengajak pendengar dan pembaca tulisannya untuk mengikuti cara berpikirnya, metodenya dalam memahami AlQur’an dan Sunnah, serta menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar, karena ia telah berpegang kepada AlQur’an dan Sunnah, bukan fatwa atau pendapat para ulama. Hal semacam ini tentunya sangat berbahaya.

Sebenarnya sungguh aneh jika seseorang menyatakan agar kita tidak bermadzhab dan seharusnya kembali kepada AlQur’an dan Sunnah. Mengapa aneh, coba perhatikan, apakah dengan mengikuti suatu madzhab berarti tidak mengikuti AlQur’an dan Sunnah? Madzhab mana yang tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah? Justru para pemuka madzhab tersebut adalah orang-orang yang sangat paham tentang AlQur’an dan Sunnah. Coba dicek, hasil ijtihad yang mana dalam suatu madzhab, yang tidak kembali kepada AlQur’an dan Al Hadits?

Ternyata semua hasil ijtihad keempat madzhab yang populer di dalam Islam semuanya bersumber kepada AlQur’an dan Hadits. Artinya dengan bermadzhab kita justru sedang kembali kepada AlQur’an dan Hadits dengan cara yang benar, yaitu mengikuti ulama yang dikenal keluasan ilmu dan kesalehannya.

Akhir-akhir ini memang muncul sekelompok orang yang sangat fanatik dengan golongannya dan secara sistematis berupaya mengajak umat Islam meninggalkan madzhab. Mereka seringkali berkata, "Kembalilah kepada Alquran dan Sunnah". Ajakan ini sepintas tampak benar, akan tetapi sangat berbahaya, karena secara tidak langsung mereka menggunakan kalimat (propaganda) di atas untuk menjauhkan umat dari meyakini pendapat para ulama terdahulu yang telah mumpuni. Mereka memaksakan agar kita semua hanya mengikuti pendapat gurunya.

Kemudian perhatikan lebih cermat lagi, apakah mereka yang menyatakan kembali kepada AlQur’an dan Sunnah benar-benar langsung kembali kepada AlQur’an dan Sunnah? Tidak bukan, mereka ternyata menyampaikan pendapat guru-gurunya. Artinya, mereka sendiri sedang membuat madzhab baru sesuai pemikiran guru-gurunya.

Coba bayangkan, andai saja setiap orang kembali kepada AlQur’an dan Sunnah secara langsung, tanpa bertanya kepada pakarnya, apa yang akan terjadi? Yang terjadi adalah setiap orang akan menafsirkan AlQur’an dan Sunnah menurut akalnya sendiri, jalan pikirnya sendiri, sehingga akan sangat berbahaya.

Oleh karena itu, kita harus bermadzhab, agar kita tidak salah memahami AlQur’an dan Sunnah. Kita sadar, tingkat keilmuan para pakar yang ada di masa ini tidak dapat disamakan dengan para ulama terdahulu, begitu pula tingkat ibadah dan kesalehan mereka.

Oleh Ustadz Novel Bin Muhammad Alaydrus, Pengasuh Majelis Ilmu Dan Dzikir AR-RAUDHAH, Solo

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/03/mengapa-harus-bermadzhab.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Cantik sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Cantik. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Cantik dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock