Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Desember 2016

Silakan yang Tertib Ketika Berqurban, Jangan Dhalim Kepada Panitia

Santriwati Cantik - Judul diatas tentu terkesan aneh, masak orang berqurban kok bisa dholim. Begini, dulu sekitar 40 tahun yang lalu, sebelum marak bermunculannya panitia-panitia Qurban, ketika itu siapa pun yang berqurban maka dia harus mengurus sendiri qurbannya, mulai dari beli hewan, merawatnya sebelum penyembelihan, proses penyembelihan yang melelahkan, sampai membagikannya kepada yang berhak menerima.

Silakan yang Tertib Ketika Berqurban, Jangan Dhalim Kepada Panitia
Silakan yang Tertib Ketika Berqurban, Jangan Dhalim Kepada Panitia


Sungguh ketika itu Qurban merupakan rangkaian ibadah yang membutuhkan kerja keras yang sangat melelahkan, dan disitulah makna Qurban itu begitu terasa, sehingga kata Qurban ْقُرْبَان yang aslinya bermakna dekat/mendekat dalam bahasa arabnya, tapi dalam bahasa kita berubah pengertian menjadi upaya berat atau kerja keras yang sulit dan melelahkan. Kemudian muncullah kalimat-kalimat seperti; 'sukses butuh pengorbanan' atau 'kita harus berkurban demi orang banyak'.

Atau ketika itu jika orang yang berqurban tidak sanggup, maka Qurban diserahkan kepada seorang kiai atau guru ngaji yang punya santri, tentunya disertai pemberian uang sebagai rasa terimakasih. Atau cara yang lain adalah orang yang berqurban itu menyuruh beberapa orang untuk mengurusi qurbannya hingga selesai dibagikan, seraya membayar tenaga mereka dengan uang.

Lalu sekarang ini, bermunculannya panitia-panitia Qurban itu sebenarnya adalah hal baru yang tidak wajib ada, tetapi itu sangat baik dan membantu sekali terhadap kita yang hendak berqurban, disamping menjadi syiar agama.

Maka pantaskah kiranya, jika kita yang beribadah Qurban, kita yang mengharap pahala Qurban, nama kita yang disebut saat penyembelihan Qurban, lalu ada orang lain yang tidak ikut Qurban, tetapi mereka dengan suka rela ikhlas membantu ibadah kita, dari awal hingga akhir, yang itu sungguh sangat melelahkan.

Selanjutnya kita hanya menyerahkan hewan Qurban saja kepada mereka, tanpa uang ongkos, tanpa uang lelah atau tanpa uang terimakasih. Bahkan semua biaya konsumsi, akomodasi dan distribusi, kita biarkan saja mereka yang menanggungnya, mereka yang memikulnya.

Tidak jarang mereka itu urunan (patungan), padahal bisa jadi mereka itu perekonomiannya di bawah kita sebagai orang yang berqurban. Terbayang kah dalam benak kita, ada orang kaya yang berqurban tapi ibadahnya itu dibiayai oleh orang miskin? Astaghfirullohal adhim.

Maka jangan salahkan, jika mereka terpikir menjual kulit, kepala dan kaki hewan Qurban kita, meski itu dilarang Rasulullah. Dalam hadits yang lain, beliau menyatakan lebih tegas lagi, bahwa yang menjual kulit Qurban berarti tidak dianggap Qurban.

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَتِهِ فَلَا أُضْحِيَةَ لَهُ

Artinya: "Barang siapa menjual kulit hewan qurbannya maka tidak ada qurban baginya"

Karena itulah, solusi atas semua ini: 1). Cukupilah kebutuhan mereka panitia-panitia Qurban itu yang telah membantu ibadah kita. 2). Tanyakan juga kepada mereka berapa kira-kira biaya yang mereka keluarkan untuk mengurusi Qurban kita.

3). Berikan tambahan uang sebagai hadiah terimakasih kita kepada mereka, meskipun mereka tidak meminta dan mengharapkannya. 4). Setelah tercukupi maka Panitia jangan lagi terpikir menjual kulit, kepala dan kaki hewan Qurban, sebab itu bukan hak mereka. Mereka hanya menjadi wakil dalam menyembelih dan menyalurkan Qurban, sebagaimana yang tertera dalam spanduk-spanduk itu. Bukan wakil menjual, karena pemilik Qurban saja dilarang menjualnya. Bagaimana mungkin sah, seseorang mewakilkan sesuatu yang dirinya sendiri saja tidak sah melaksanakannya.

5). Berikan saja kulit dan lain-lain yang biasa dijual itu kepada panti asuhan atau orang fakir miskin. Biarkan saja mereka yang menjualnya. Atau jika mereka itu minta tolong mewakilkan kepada panitia untuk menjualkannya, maka itu baru boleh dan sah. Sebab dari tiga kelompok yang bisa menerima Qurban yakni yang berqurban (sunnah untuk mengambil keberkahan), orang kaya (boleh sebagai hadiah) dan fakir miskin (wajib mendapatkannya).

Maka mereka yang fakir miskin (termasuk anak yatim) itulah yang sah menjual dari Qurban yang mereka terima, karena apa yang mereka terima itu otomatis menjadi hak milik mereka, mau dimakan, diberikan kepada orang lain atau dijual, semuanya adalah sah. Menjadi sah pula mereka itu mewakilkannya.

Sedangkan pemilik Qurban dan orang kaya itu, mereka itu bukan memilikinya, karena sudah diqurbankan jika ia yang punya hewan, atau karena mereka itu termasuk kaya yang hanya boleh memanfaatkannya saja, yaitu dengan memakannya atau memberikan lagi kepada yang lain. Mereka berdua tidaklah berhak menjualnya, karena apa yang mereka terima itu tidak menjadi milik bagi mereka berdua.

6). Adapun hielah/rekayasa hukum, dengan cara kulit - kepala dan kaki itu diberikan kepada salah satu panitia yang fakir atau yang miskin, lalu ia menjualnya, kemudian uangnya diberikan kepada kepanitiaan guna menutupi kekurangan biaya. Meskipun cara ini adalah sah secara fiqih, tapi tetap saja itu tidak mengurangi kedhaliman kita kepada mereka yang telah membantu kita.

25 Agustus 2016, Sidoarjo, Jatim

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/silakan-yang-tertib-ketika-berqurban-jangan-dhalim-kepada-panitia.html

Minggu, 20 November 2016

Merah Putih Ditambahi Kalimat Tahlil Itu Bidah Makar ala Khilafah Dhalalah

Santriwati Cantik - Soal bendera merah putih yang ditulis atau dicorat-coret oleh salah satu pria beberapa waktu lalu memang sungguh memprihatinkan. Yang kontra menyalahkan-nyalahkan pihak kepolisian karena dianggap reaktif dan tidak berdasar, sementara yang pro, pria itu memang harus mendapatkan pelajaran berharga.

Banyak kasus bendera mereha putih ditulisi macam-macam. Sebetulnya tidak masalah jika niat menulis di bendera merah putih itu bukan makar. Tentang hal ini, Santriwati Cantik mendapatkan keterangan dari KH Abdul Mun'im DZ, wakil Sekjend PBNU.

Ia menulis, grafiti dalam bendera merah putih di beberapa tempat mungkin bentuknya sama, yakni sama-sama menambah lambang negara atau mencorat-coretnya, motifnya bisa dibedakan, ada yang Sunnah, karena sebagai ekspresi cinta tanah air, ada yang makruh karena digunakan untuk motif sempit dan ada pula yang haram karena bermaksud mau mengubah haluan NKRI berdasarkan Pancasila ini, ini bagian dari gerakan subversif (makar) kepada negara.

Pelaksana dan penegakan hukum selalu melihat motif dalam menentukan hukum. Polisi sebagai penegak hukum, dibantu para ahli dan ulama yang tahu tentang anatomi politik, bisa mengetahui motif para pembuat grafiti tersebut yang sengaja dibuat oleh pria yang konon hafal Al-Qur'an tersebut.

Kelompok pertama (sunnah) bermotif seni, kelompok kedua (makruh) bermotif politik. Tetapi kelompok ketiga yang menuliskan kalimat thoyyibah atau tahlil, itu bermotif subversif. Hal itu bisa dilihat dari siapa yang membuat, siapa pendukungnya dan siapa pembelanya. Bukan yang lain, mereka adalah para pendukung Khilafah Islamiyyah yang ingin mengganti Pancasila dan NKRI.

Betul, kalimat tahlil tertulis dalam bendera, tapi mereka bisa saja para pembenci syiar kalimat tahlil, yakni tradisi Tahlilan. Apalagi ada logo pedang di bawah kalimat tahlil, kalimat thayyibah itu. Anda tentu tahu negara mana yang menggunakan lambang bendera dengan kalimat suci tersebut yang dibawahnya ada pedang. Ini bid'ah dholalah sebagai warga negara.

Karena itulah, subversif dalam kasus pria perusuh bendera merah putih Indonesia tersebut, bisa saja menjadi haram mugholladah (berat) karena selain ingin mengganti negara NKRI jadi khilafah sejak dari niat, mereka juga sengaja menggunakan simbol negara lain untuk lambang negara kita, Indonesia, dan itu sangat politis. Ini jelas makar kuadrat.

Jadi, yang dilarang dan diperkarakan oleh polisi itu bukan kalimat thayyibah, tetapi orang yang menyalahgunakan kalimat tauhid tahlil tersebut utk tujuan subversi, makar terselubung. Sementara, umat Islam Indonesia, khususnya warga NU, telah terikat oleh kesepakatan suci bangsa Indonesia untuk hidup bersama dalam Pancasila dan NKRI. Janji ini wajib ditepati sebagai Amanah dan wafa bil 'ahdi (menepati perjanjian). [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/merah-putih-ditambahi-kalimat-tahlil-itu-bidah-makar-ala-khilafah-dhalalah.html

Minggu, 22 Mei 2016

Banser Bongkar Desain Aksi Dagelan 212 yang Disembunyikan

Santriwati Cantik - Aksi Maulid Akbar 212 di Monas berjalan damai, walaupun hal itu adalah dagelan politik tingkat tinggi yang diatasnamakan Bela Islam III. Media-media online pendukung alumni 212 kemudian mensyiarkan aksi tersebut sebagai kemenangan mereka, sembari mengutuk kiai-kiai NU yang dianggap tidak bermartabat karena mengeluarkan fatwa anti aksi 212. Padahal, itu hanya status di medsos, beda dengan fatwa yang dalam logika mereka harus selalu dikawal jutaan umat turun ke jalan. Masyaallah.

Banser Bongkar Desain Aksi Dagelan 212 yang Disembunyikan
Banser Bongkar Desain Aksi Dagelan 212 yang Disembunyikan


Dibalik pengamanan itu, ternyata ada 3000 pasukan Banser yang menyamar menggunakan setelan baju koko putih khas kode seragam peserta aksi 212. Keterangan yang didapatkan Santriwati Cantik dari Fanpage Facebook Kongkow Bareng Gus Dur, ribuan Banser dari Bandung tersebut sengaja melebur dengan peserta aksi untuk mengamankan acara.

Sesuai instruksi, mereka ditempatkan di beberapa titik bersama aparat kepolisian. Hasilnya, ditemukan beberap hal yang memang tidak diunggah ke media sosial maupun media online agar tetap berjalan damai dan "super damai". Ini hasil kerja mereka:

1. Tertangkapnya pembawa 10 bendera khilafah ISIS.

2. Tertangkapnya satu orang teroris asal Majalengka.

3. Dan satu kantong penuh bahan peledak yang siap menghancurkan aksi "super damai" tersebut.

Mereka ditangkap, tapi tidak dipublikasikan demi menjaga "marwah" aksi agar tetap bisa disebut damai. Hasil di lapangan itu kemudian ditindaklanjuti di hari berikutnya. Mulai tanggal 3-6 Desember 2016, rapat maratoin diadakan untuk menggodok kematangan informasi yang didapatkan oleh tim di lapangan.

Pada tanggal 7 Desember 2016, tim memastikan akan ada "eksekusi" 3 orang teroris alumni aksi 212 yang memang sengaja didanai ikut acara untuk membuat rusuh suasana aksi damai tersebut. Setelah dipastikan alamat kosnya ada di Bekasi, pada tanggal 8 Desember 2016, dilakukanlah penangkapan. Dan, hasilnya, teroris tetap tertangkap sementara marwah aksi 212 tetap bersih dari rusuh.

"Jadi peran Banser, Ansor dan kader-kader muda NU militanlah yang sebenarnya berjasa dalam membuat "aksi super damai 212" itu benar-benar damai," demikian tulis Fanpage Kongkow Bareng Gus Dur, Ahad (12/12/2016) malam. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/banser-bongkar-desain-aksi-dagelan-212-yang-disembunyikan.html

Kamis, 23 Juli 2015

Ketika Perbedaan Jadi Proyek Hoax Adu Domba di Medsos

Contoh berita hoax Nusron Wahid Santriwati Cantik - Ini bukan cerita tentang tokoh tertentu, tapi sekadar contoh dua tokoh yang sering jadi "proyek" media sosial (medsos), yakni Nusron Wahid dan KH Ahmad Musta'in Syafi'ie dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

"Kalau Peserta Aksi 212 (2-12-2016) Lebih dari Seribu Orang Ludahi Muka Saya....". Begitu ungkapan Nusron yang jadi viral. Bahkan ada viral yang sama tapi diberi capture "detikcom". Nah, Nusron dan detikcom sama-sama membantah.

Nusron bilang kalau dia tidak pernah ngomong seperti itu. Detikcom juga bilang tidak pernah menampilkan foto dan pernyataan Nusron seperti itu. Artinya, semuanya hanya "tempelan". Dampaknya? Akal jadi tidak waras. Itulah adu domba.

Contoh adu domba yang lain. Pernyataan KH Ahmad Musta'in Syafi'ie (Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur) yang berjudul "Dahsyatnya Energi Al-Maidah 51". Pernyataan itu diluruskan asisten KHA Musta'in Syafi'ie, yakni Masrukhin.

Katanya, Kiai Musta'in tidak pernah membuat surat itu. Anehnya, surat adu domba antara ulama dengan PBNU yang dibuat atas nama Kiai Mustain itu bukan hanya sekali ini beredar di medsos. Tapi beberapa orang terprovokasi untuk yakin. Itulah adu domba.

Baca: Bongkar Hoax "Energi Al Maidah 51" yang Dibuat Atas Nama KH Mustain Syafii Jombang.

Sejatinya, perbedaan pendapat itu merupakan hal biasa yang terjadi sejak para pendahulu negeri ini. Bung Karno sudah biasa berbeda pendapat dengan Bung Hatta, namun saat Bung Hatta menikah pun, Bung Karno datang.

Sebaliknya, saat Bung Karno sakit, Bung Hatta juga menjenguk, meski dicegah sejumlah orang. Pendiri NU KH Hasyim Asy'ari juga biasa berbeda pendapat dengan tokoh NU lainnya, KH Wahab Chasbullah. Bahkan perbedaan soal beduk cukup melegenda. .

Tokoh Muhammadiyah Hamka juga biasa berbeda pendapat dengan Bung Karno. Dan, banyak lagi. Sebuah beda pendapat yang minus dosa. Baca juga: Buya Hamka Tinggalkan Qunut Untuk Keharmonisan

Baca juga: Bung Hatta Kutuk Cara Orde Baru Perlakukan Soekarno Saat Sakit.

Dulu, beda pendapat itu digunakan untuk memahami orang lain, karena beda pendapat dianggap sunnatullah dan bahkan kemajemukan juga dianggap takdir-Nya. Sekarang, beda pendapat justru digunakan untuk menyalahkan, mencurigai, mengkafirkan, membid'ahkan, membenci, dan sejenis itu.

Gawatnya lagi, beda pendapat itu kini menemukan "sarana" berbentuk media sosial yang akhirnya beda pendapat itu untuk "adu domba" seperti dialami Nusron, Kiai Mustain, Prof Syafii Maarif, Gus Mustofa Bisri, dan sebagainya. Ya, hoax tapi targetnya untuk provokasi.

Jika dicermati "proyek" adu domba dalam medsos itu agaknya ada unsur kesengajaan dan ada target tertentu, karena bahasa yang digunakan mirip, pelakunya juga sepertinya punya target orang atau lembaga yang sama, karena pihak yang menjadi sasaran "proyek" itu juga selalu itu-itu saja.

Momentum yang dipakai adalah penistaan Al-Quran (sebenarnya juga kitab suci Kristiani) yang menghasilkan dua cara penyikapan yakni cara hukum (persuasif) dan cara massa (411 dan 212). Masalahnya, cara massa menyikapi dengan menyalahkan pihak dengan cara lain yang seolah salah total. Jadi, beda itu biasa, kok diadu domba?

Boleh jadi, cara hukum (persuasif) tidak sepopuler cara massa. Tapi, keduanya sama-sama bisa untuk mendorong hasil yang sama (seperti anti penistaan Al-Quran, penetapan tersangka, membuat rakyat tidak memilih pemimpin tertentu, dan sebagainya).

Kalau hasilnya sama, kenapa bisa menyalahkan pihak lain? Apa cara massa itu tidak justru membuat orang mudah pakai massa untuk menghalalkan kepentingannya dan main klaim? Bukankah Tuhan mementingkan keihlasan, substansi, niat dan hati?

Hati-hati, ada "proyek" yang sengaja dilakukan untuk memberangus orang atau lembaga tertentu dalam waktu 10-15 tahunan. [Santriwati Cantik/ emy]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/ketika-perbedaan-jadi-proyek-hoax-adu-domba-di-medsos.html

Rabu, 03 Juni 2015

PCNU Jember Buka Beasiswa ke Yaman

Jember, Santriwati Cantik. PCNU Jember membuka pelaung bagi Nahdliyin untuk menempuh pendidikan di Yaman secara gratis. "Ini program nyata untuk meningkatkan kemampuan kader NU atau santri."

Demikian disampaikan oleh Rais Syuriah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad usai menerima kunjungan Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Al-Iman Al-Syafii di Mukalla, Hadramut, Yaman, Syaikh Muhammad bin Ali Baathiyyah Al-Dauani, di aula PCNU Jember, Senin malam (11/3).

PCNU Jember Buka Beasiswa ke Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jember Buka Beasiswa ke Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)


PCNU Jember Buka Beasiswa ke Yaman

Menurut Kiai Muhyiddin, pihak Yaman akan menanggung biaya akomodasi dan pendidikan selama kuliah.

Jadi calon mahasiswa hanya menanggung tiket sekitar Rp. 18 juta. Itu saja. Di sana semuanya ditanggung perguruan tinggi bersangkutan, jelasnya pada Santriwati Cantik.

Santriwati Cantik

Penulis beberapa buku tentang Aswaja itu menambahkan, pendidikan yang disediakan bagi program beasiswa tersebut setingkat dengan program D2 dan S1. Dikatakannya, tidak ada syarat khusus bagi calon mahasiswa untuk menempuh pendidikan di negara tersebut kecuali syarat-syarat yang dibutuhkan untuk melanjutkan ke strata D2 dan S1.

Santriwati Cantik

Tapi yang pasti, harus bisa bahasa Arab dan baca kitab kuning, ungkapnya.

Tawaran peluang tersebut mendapat sambutan hangat dari salah seorang pengurus MWCNU Ajung, Nurhadi. Menurutnya, peluang tersebut harus dimanfaatkan betul oleh kader NU. Sebab, tidak banyak orang yang berkesempatan menimba ilmu di Yaman secara gratis.

Ini kesempatan emas. Saya kira kita mempunyai cukup banyak kader yang memenuhi syarat untuk sekoah di Yaman, ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, Syaikh Muhammad bin Ali dan rombongan juga bertemu dengan para kiai dan Ketua MWCNU. Dalam kesempatan itu, Syaikh Muhammad bin Ali juga memberikan ijazah kepada para hadirin untuk mengaji kitab-kitab yang ditulisnya.

Redaktur : Hamzah Sahal

Kontributor : Aryudi A. Razaq

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43070/pcnu-jember-buka--beasiswa-ke-yaman

Santriwati Cantik

Jumat, 07 November 2014

Sedekah Atas Nama Orang yang Meninggal Itu Dianjurkan

Santriwati Cantik - Untuk Menjawab tuduhan kesamaan tradisi kematian umat Islam yang disamakan dengan tradisi di Hindu-Budha, ada penjelasan menarik dari Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Mufti Hijaz di Makkah dan Madinah dari Madzhab Syafiiyah, tentang sedekah atas nama orang yang sudah meninggal:

وَالتَّصَدُّقُ عَنِ الْمَيْتِ عَلَى وَجْهِ شَرْعِيٍّ مَطْلُوبٌ وَلَا يُتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ سَبْعَةَ أيَّامٍ او أَكْثَرَ او أَقَلَّ ، وَتَقْيِيدٌ بِبَعْضِ الْأيَّامِ مِنَ الْعَوَائِدِ فَقَطْ. كَمَا أَفْتَى بِذَلِكَ السَّيِّدُ أَحْمَدُ دَحَلانَ وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ الْمَيْتِ فِي ثَالِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِي سابعٍ وَفِي تَمامِ الْعَشْرَيْنِ وَفِي الأربعين وَفِي المِائَةِ وَبَعْدَ ذَلِكَ يُفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلًا فِي يَوْمِ الْمَوْتِ كَمَا أَفَادَ شَيْخُنَا يُوسُفُ السَنْبَلاَوِينِي (نهاية الزين باب الوصية للشيخ نووي البنتني)

Sedekah Atas Nama Orang yang Meninggal Itu Dianjurkan - Santriwati Cantik
Sedekah Atas Nama Orang yang Meninggal Itu Dianjurkan - Santriwati Cantik


Sedekah Atas Nama Orang yang Meninggal Itu Dianjurkan

“Bersedekah atas nama mayit dengan cara yang syar’i adalah dianjurkan, tanpa ada ketentuan harus 7 hari, lebih atau kurang dari 7 hari. Sedangkan penentuan sedekah pada hari-hari tertentu itu hanya merupakan kebiasaan masyarakat saja, sebagaimana difatwakan oleh Sayyid Ahmad Dahlan.

Sungguh telah berlaku di masyarakat adanya kebiasaan bersedekah untuk mayit pada hari ketiga kematian, hari ketujuh, dua puluh, empat puluh hari serta seratus hari. Setelah itu dilakukan setiap tahun pada hari kematiannya. Sebagaimana disampaikan oleh guru kami Syaikh Yusuf al-Sunbulawaini.”. (Nihayatuz Zain bab Wasiat karya Syeikh Nawawi Banten)

Kalau di sekitar Negeri Hijaz kala itu telah membolehkan sedekah pada hari-hari tertentu, akankah terkontaminasi budaya Hindu-Budha? Pernahkah Hindu-Budha masuk ke wilayah Hijaz?

Andaikata ada kemiripan, apakah dalam Hindu-Budha membaca Yasin dan Tahlil? Kalau semua hal yang sama dengan agama lain, maka dalam agama Hindu-Budha juga ada pernikahan. Apakah anda akan meninggalkan pernikahan karena di semua agama ada nikah? [Santriwati Cantik]

Ma'ruf Khozin, Aswaja NU Center Jatim

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/sedekah-atas-nama-orang-yang-meninggal-itu-dianjurkan.html

Selasa, 12 Agustus 2014

564 Jamaah Haji Probolinggo Gelar Tasyakuran

Probolinggo, Santriwati Cantik. Sebanyak 564 jamaah haji Probolinggo yang baru datang dari tanah suci, menggelar tasyakuran di Pendopo Kabupaten Probolinggo, Ahad (23/11) malam. Tasyakuran ini digelar sebagai wujud ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kedatangan jamaah haji dari tanah suci dalam keadaan sehat wal afiat dan selamat.

Tampak hadir Mustasyar PCNU Probolinggo H Hasan Aminuddin, Rais Syuriyah PCNU Kraksaan KH Munir Kholili, Ketua PCNU Kraksaan H Nasrullah A Sujai, Rais Syuriyah PCNU Probolinggo KH Jamaluddin al-Hariri, dan Ketua PCNU Probolinggo KH Abdul Hadi.

564 Jamaah Haji Probolinggo Gelar Tasyakuran (Sumber Gambar : Nu Online)
564 Jamaah Haji Probolinggo Gelar Tasyakuran (Sumber Gambar : Nu Online)


564 Jamaah Haji Probolinggo Gelar Tasyakuran

Tasyakuran ini diikuti oleh seluruh jamaah haji Probolinggo tahun 2014 sejumlah 564 orang dan Calon Jamaah Haji (CJH) tahun 2015. Mereka diundang dengan tujuan untuk semakin mempererat tali silaturahmi sehingga bisa menjadi haji yang mabrur.

Santriwati Cantik

H Hasan Aminuddin mengatakan, pelaksanaan ibadah haji mulai dari berangkat hingga kembali ke tanah air selalu dipantau baik oleh Pemerintah Daerah maupun PCNU Probolinggo dan Kraksaan. Hal ini merupakan sebuah pelayanan yang diberikan kepada tamu Allah SWT supaya menjadi terhormat.

Santriwati Cantik

Mari bersyukur atas nikmat kesempatan yang telah diberikan Allah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Dalam setiap tahunnya selalu istiqomah mencari kekurangan dalam pelayanan kepada tamu Allah SWT untuk melaksanakan ibadah haji, sehingga tamu Allah SWT ini bisa melaksanakan ibadahnya dengan khusyuk, ujarnya.

Hasan menjelaskan, predikat haji mabrur itu diperoleh sesudah datang dari tanah suci dan amal ibadah yang dilakukan selalu ada peningkatan serta mempertahankan amalan ibadah yang telah dilaksanakan selama di tanah suci.

Perilaku atau perbuatan harus ada perbedaan dari sebelum melaksanakan ibadah haji hingga setelah melaksanakan ibadah haji. Amalan ibadah juga semakin ditingkatkan. Selain itu, perilaku atau perbuatan terhadap masyarakat juga semakin meningkat untuk mewujudkan hablum minallah dan hablum minannas, tegasnya.

Sedangkan KH Wasik Hannan selaku Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD) Probolinggo menyampaikan ungkapan terima kasih kepada pemerintah yang telah memberikan bantuan fasilitas dalam membantu kelancaran melaksanakan ibadah haji selama di tanah suci.

Alhamdulillah, para jamaah haji dapat menikmati dengan sebaik baiknya semua fasilitas yang disediakan. Mulai dari fasilitas dalam melaksanakan manasik haji, sarana dan prasarana transportasi dan kebutuhan lainnya yang disediakan pemerintah daerah secara gratis tanpa ada pungutan biaya, ujarnya.

Tasyakuran ini diakhiri dengan ceramah yang disampaikan KH Ghozali Bahar, pengasuh pesantren Nahdlotut Tholibin dari desa Blado Wetan kecamatan Banyuanyar.

Barang siapa yang memulyakan tamu Allah SWT dan memberikan kemudahan dalam melaksanakan ibadah, niscaya itu tergolong orang yang paling dimulyakan Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat, ungkapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55963/564-jamaah-haji-probolinggo-gelar-tasyakuran

Santriwati Cantik

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Cantik sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Cantik. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Cantik dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock