Tampilkan postingan dengan label Sohih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sohih. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Januari 2017

NU dari Kiai Hasyim Asyari ke Kiai Hasyim Muzadi

Oleh Deni Gunawan

Nahdlatul Ulama (NU) patut bersyukur, sampai detik ini ia masih bisa menghasilkan kader-kader terbaiknya untuk agama dan bangsa. Ini terbukti dari munculnya kader-kader NU yang berkiprah dan memberikan kontribusinya bagi kemajuan agama dan bangsa. Sejak NU didirikan, NU telah memiliki orang-orang hebat yang dihasilkan dari didikan serius ulama-ulama Nusantara. NU memang serius dalam meproduksi ulama-ulama kelas elit guna menyokong kemajuan bangsa dan agama. Elit disini tidak diartikan bahwa kader-kader NU dan ulamanya sebagai sok atas akan tetapi makna elit disini berkaitan dengan kemampuan yang luar biasa dan tinggi yang dimiliki kader-kader NU dan kiainya dalam menjawab persoalan-persoalan umat yang berkembang setiap saat.

NU dari Kiai Hasyim Asyari ke Kiai Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dari Kiai Hasyim Asyari ke Kiai Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)


NU dari Kiai Hasyim Asyari ke Kiai Hasyim Muzadi

Kiai Hasyim Asyari adalah salah satu figur elit yang pernah dimiliki NU, selain sebagai pendiri, ketua umum pertama dan hadratus syaikh di kalangana NU. Ia secara nyata telah meninggalkan warisan penting bagi kelangsungan umat dan bangsa Indonesia. Ia telah mewariskan satu wadah organisasi yang menampilkan satu wajah Islam yang ramah dan berkemajuan. Selain itu, Kiai Hasyim juga ikut melakukan perjuangan demi kemerdekaan bangsa Indonesia kala itu. Ini terbukti dari resolusi jihad yang dikeluarkannya untuk melawan penjajah hingga gelar pahlawan nasional yang diberikan negara padanya.

Dari Kiai Hasyim muncul lagi Kiai Hasyim-Hasyim yang lain di NU. Maksudnya adalah, bahwa NU selalu melahirkan ulama-ulama jenius yang memiliki wawasan keagamaan yang luas dibarengi dengan pemahaman kebangsaan yang tinggi. Dari Kiai Hasyim saat mendirikan NU hingga lahir Kiai Hasyim yang beberapa hari lalu telah berpulang adalah produk-produk elit NU yang sepanjang sejarahnya memang tidak pernah absen memberikan kader dan ulama terbaiknya bagi bangsa dan agama. Kepergian Kiai Hasyim Muzadi beberpa hari lalu memang menyisakan luka yang mendalam bagi masyarakat muslim Indonesia khususnya NU. Namun begitu, kepergian Kiai Hasyim tentu bukanlah kepergian yang sia-sia, sebagaimana tidak ada yang sia-sia dari kepergian Kiai Hasyim Asyari jauh sebelumnya. Hanya saja, sejauh mana ketidaksia-siaan itu dapat ditangkap pada generasi berikutnya adalah soal lain yang mestinya menjadi pertanyaan serius di dalam dirinya, khususnya generasi baru NU.

Santriwati Cantik

Warisan Kiai Hasyim

Secara garis besar perjuangan ulama-ulama NU tidak akan lepas dari persoalan keislaman dan kebangsaan. Dari sisi Islam, NU memang telah menyusun keislamannya dalam bentuk Islam yang bercirikan Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang di dalamnya dikembangkan sikap-sikap atau pripsip-prinsip hidup beragama kaum Nahdliyin. Prinsip-prinsip tersebut tidak lepas dari sikap tawassuth (moderat), taaddul (adil), tasamuh (toleran), dan tawazzun (imbang). Prinsip dasar ini kemudian juga memberikan sumbangan besar bagi NU dalam hidup berbangsa dan bernegara di negara yang realitas penduduknya adalah plural.

Santriwati Cantik

Pada prinsipnya Kiai Hasyim Muzadi juga memegang prisip Islam Aswaja ini dalam beragama dan bernegara. Bagi Kiai Hasyim Islam Indonesia adalah Islam yang ramah di mana ia harus mampu menampilkan wajah yang damai dan toleran sehingga dapat hidup berdampingan dengan siapapun. Selain itu, gagasan mengenai negara Islam bagi Indonesia harus ditolak mentah-mentah sebab tidak sesuai dengan kenyataan demografi bangsa Indonesia yang majemuk selain secara historis memang para founding father tidak menghendaki negara ini bagi satu golongan saja.

Style perjuangan Kiai Hasyim tentu tidak akan sama dengan Gus Dur, Kiai Hasyim Asyari dan Kiai-kiai yang lainnya. Akan tetapi secara prinsip mereka memperjuangkan hal yang sama yakni Islam Aswaja yang damai serta NKRI dan Pancasila dalam kedudukan konstitusionalnya adalah final bagi bangsa Indonesia. Tentu prinsip ini bukanlah prinsip yang mati dan kaku. Akan tetapi prinsip ini adalah prinsip yang dinamis yang kemudian memiliki skala kontekstualitas dalam penafsirannya sehingga menjadi relevan bagi masyarakat yang terus tumbuh dan berkembang. Karena itulah perbedaan cara pandang dalam kiai-kiai NU itu sering terjadi, ini karena pada dasarnya NU sebagai rumah besar memberikan peluang pada setiap penafsiran selama bisa dipertanggungjawabakan, ikhtilafu ummati khasanah, perbedaan di dalam umatku itu baik.

Saat sebagian orang dan warga dunia mengecam dunia Islam karena dianggap sarang teroris dan intoleran Kiai Hasyim semasa hidupnya berjuang menyuarakan baik di skala nasional maupun internasional bahwa Islam itu damai dan ramah. Ia selalu tampil dalam bingkai kebangsaan dengan baju ke-NU-annya. Kiai Hasyim memberikan contoh kepada dunia bahwa ada Islam ramah yang dimiliki dan ditampilkan oleh Islamnya orang-orang Indonesia.

Meski terdapat kritikan LSM dan dunia Internasional kepada Islam Indonesia yang dianggap tidak ramah dan intoleran terhadap minoritas. Kiai Hasyim tampil sebagai penyeimbang (tawazzun) yang semasa hidupnya pernah menjabat sebagai Ketua PBNU, Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) dan sekaligus sekjend ICIS (International Conference for Islamic Scholar). Ia menyampaikan kepada dunia bahwa cara pandang demikian sangatlah keliru. Indonesia sebagai negara, dan Islam sebagai mayoritas pada prinsipnya telah toleran terbukti dari kerukunan secara umum yang masih terjamin sampai saat ini di Indonesia. Hanya saja memang riak-riak intoleransi dalam skup lokalitas masih terjadi, ini memang perlu kerja keras dalam menemukan titik temunya dan (meminjam bahasa Gus Dur) perlu keberanian menegakkan hukum.

Kiai Hasyim dan Generasi Baru NU

Kepergian Kiai Hasyim Muzadi beberapa hari lalu memang tidak bisa ditolak, sebab memang sudah takdirnya Kiai Hasyim untuk pulang sebagaimana Kiai Hasyim Asyari yang juga sudah pulang. Kepulangan ini memang sudah menjadi sunatullah yang harus diterima dengan hati yang ikhlas dan lapang. Kepergian seorang ulama di satu sisi dalam agama Islam bisa dimaknai secara positif sebagai kasih sayang Allah kepada ulama tersebut, sehingga ia dipanggil Allah untuk segera istirahat dari hiruk-pikuk dunia. Namun di sisi lain, terkadang juga bisa bermakna negatif dari sisi manusia yang ditinggalkan. Kepergian ulama bisa menjadi bencana sebab sumber hikmah Tuhan yang berada dalam diri ulama itu telah dicabut dari tengah-tengah masyarakat bersamaan dengan diwafatkannya ulama tersebut.

Kepergian Kiai Hasyim harus dimaknai secara positif oleh generasi penerus NU selanjutnya. Maksudnya, Kiai Hasyim memang sudah saatnya berpulang, ini berarti Allah memberikan kesempatan kepada generasi baru NU untuk melakukan estafet perjuangan yang selama ini telah diusahakan Kiai Hasyim. Kepergian Kiai Hasyim harus sejalan dengan kemunculan generasi baru di NU yang memiliki vitalitas dan kharisma sekelas Kiai Hasyim atau bahkan lebih, tentu dengan berbagai karakter dan pemikirannya yang dibingkai dalam konsep Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang di dalamnya menampilkan Islam yang ramah dan progresif. Sebab jika tidak demikian maka kematian Kiai Hasyim dan kiai-kiai elit sebelumnya hanya akan membuat kita kehilangan hikmah itu secara totalitas di tengah-tengah hidup kita sebagai generasi NU.

Penulis adalah koordinator bidang Kaderisasi dan Intelektual PC PMII Jakarta Selatan

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77202/nu-dari-kiai-hasyim-asyari-ke-kiai-hasyim-muzadi

Santriwati Cantik

Kamis, 25 Juli 2013

LPBINU Sampang Desak Pemerintah Perbaiki Terumbu Karang

Sampang, Santriwati Cantik. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) menilai, kerusakan lingkungan di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, tak hanya terjadi di darat tapi juga di laut. Ironisnya, selama ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang memandang sebelah mata dalam menyikapi rusaknya terumbu karang di laut.

Menurut Ketua LPBINU Sampang Hasan Jailani, kerusakan alam di dasar laut salah satunya terjadi di perairan Pulau Mandangin, Sampang. Akibat kerusakan itu, tiap tahunnya sebaran terumbu karang di perairan Pulau Mandangin menjadi berkurang.

LPBINU Sampang Desak Pemerintah Perbaiki Terumbu Karang (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Sampang Desak Pemerintah Perbaiki Terumbu Karang (Sumber Gambar : Nu Online)


LPBINU Sampang Desak Pemerintah Perbaiki Terumbu Karang

Untuk itu, kami mengajak Pemerintah Daerah ikut terlibat. Karena salama ini pemerintah tidak pernah menyentuh ke arah pelestaraian terumbu karang. Masyarakat juga harus bersama-sama menjaga alam. Karena kerusakan alam terjadi akibat ulah manusia, tegas pria yang akrab dipanggil Mamak ini, Rabu (16/12/2015).

Mamak menambahkan, untuk menanggulangi kerusakan terumbu karang, pihaknya Selasa, (15/12) kemarin, terlibat dalam kegiatan rehabilitasi Pulau Mandangin bersama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Pesisir dan Kelautan (PPLPK) dan Lembaga Pusat Pengabdian Masyarakat (LPPM).

Santriwati Cantik

Santriwati Cantik

Kegiatan yang diisi dengan aksi penenggelaman terumbu karang dan penataan terumbu karang buatan di peraian Pulau Mandangin tersebut melibatkan penyelam dari LPBINU Sampang, mahasiswa ilmu kelautan Universitas Trunojoyo Madura (UTM), serta warga Pulau Mandangin yang tergabung dalam kelompok konservasi Tase Biru.

Penyelam dari LPBINU Sampang, Parmadi, mengatakan, kondisi terumbu karang di Pulau Mandangin saat ini banyak yang rusak dan berkurang. Salah satu faktornya adalah aksi pengambilan batu karang oleh nelayan dan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dengan menggunakan potas.

Kegiatan ini juga melibatkan masyarakat setempat untuk memberikan pemahaman akan pentingnya menjaga terumbu karang dan lingkungan perairan. Karena terumbu karang menjadi tempat berlindung dan bertelurnya ikan, jadi kalau termbu karang rusak maka ikan tidak ada. Yang rugi juga nelayan karena hasil tangkapan berkurang, papar penyelam yang akrab dipanggil Aar. (Red: Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/64343/lpbinu-sampang-desak-pemerintah-perbaiki-terumbu-karang

Senin, 08 Juli 2013

Ini yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Ziarah ke Makam KH Ahmad Dahlan

Pintu masuk makam KH Ahmad Dahlan Santriwati Cantik - Jumlah makam pahlawan nasional di Provinsi Yogyakarta hingga tahun 2016 ini totalnya ada 15. Di antara ke-15 itu, tersebut nama pendiri Ormas Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, yang berlokasi di komplek makam umum kampung Karangkajen, Rt. 41 Rw. 11, Kel. Brontokusumo, Mergangsan, Yogyakarta.

Nursyamhudi (53), penjaga makam, kepada Santriwati Cantik mengatakan kalau tanah makam tersebut adalah tanah keraton. Makanya, para penjaga makam harus abdi dalem Keraton Yogyakarta. "Saya baru dua tahun gantikan kang mas saya," kata Nursyamhudi kepada Santriwati Cantik saat berkesempatan ziarah ke lokasi, Senin (22/08/2016) sore.

Ini yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Ziarah ke Makam KH Ahmad Dahlan - Santriwati Cantik
Ini yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Ziarah ke Makam KH Ahmad Dahlan - Santriwati Cantik


Ini yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Ziarah ke Makam KH Ahmad Dahlan

Dalam pengamatan Santriwati Cantik, makam KH Ahmad Dahlan nampak cukup bersih. Kata Nasruddin, warga Sleman yang ketika itu ikut ziarah, makam pendiri Muhammadiyah tersebut lebih baik dibanding pertama ketika ia pindah ke Jogja tahun 2006 silam. Tahun itu, katanya, makam tersebut masih tidak terawat, "alhamdulillah sekarang sudah bersih dan rapi," ujar Nasruddin.

Namun, untuk ziarah ke makam tersebut, Anda tidak akan leluasa melaksanakan tahlilan sebagaimana lazimnya di makam-makam wali. Pasalnya, posisi makam terletak di samping tembok pembatas persis di kiri gerbang masuk kompleks. Untuk bersila saja tidak akan bisa kecuali membawa tikar sendiri.

Santriwati Cantik

Sesekali, aku Nursyamhudi, ada ratusan orang yang ziarah ke makam KH Ahmad Dahlan. Dari Jawa Tengah, rombongan Kabupaten Banjarnegara sering ke makam. Jumlahnya ratusan orang. Paling banyak, katanya, adalah rombongan ziarah dari Provinsi Jawa Timur.

Santriwati Cantik

Di dalam makam, para peziarah hanya disarankan untuk berdoa saja, "al-Fatihah saja," kata Syamhudi, "kalau niat berdoa tidak apa. Kalau niat ngalap berkah kulo sing mboten sambung," lanjutnya ketika ditanya ritual ziarah yang disarankan.

Nursyamhudi juga menerangkan tidak ada haul khusus atas tanggal wafatnya KH Ahmad Dahlan. Namun, tiap tanggal 15 Ruwah (Sya'ban), para ahli waris berkumpul di makam untuk berdoa dan bersih-bersih makam kiai.

Bersama beberapa rekannya, Nusyamhudi merawat kompleks makam. Namun, khusus makam pahlawan KH Ahmad Dahlan, ia selalu membersihkan secara rutin. Ia mengaku tidak digaji siapapun untuk melaksanakan itu semua, alias ikhlash.

Karena abdi dalem, tiap tiga bulan sekali ia berkumpul bersama penjaga makam tanah keraton lainnya. Kadang diberi sumbangan seikhlasnya karena merawat makam tokoh pahlawan. Nursyamhudi adalah penjaga kompleks makam yang meneruskan tugas kakaknya, Nur Hadi, yang juga meneruskan M Jazir, ayahnya, dan Mbah Mughni, kakek. Semuanya adalah abdi dalem keraton.

Menurut keterangan yang didapatkan Santriwati Cantik, KH Ahmad Dahlan dan juga Jenderal Sudirman, yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Yogyakarta, keduanya adalah waliyullah sebagaimana KH Hasyim Asy'ari yang terkenal waliyullah juga. Sebelum NU terbentuk, Mbah Dahlan dapat rekom mendirikan ormas dari Mbah Cholil Bangkalan. Silakan ziarah, tapi harus ijin dulu kepada penjaga! [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/ini-yang-tidak-boleh-dilakukan-saat-ziarah-ke-makam-kh-ahmad-dahlan.html

Senin, 27 Agustus 2012

Ini Lirik Pesantren Cipasung Karya Doel Sumbang

Tasikmalaya, Santriwati Cantik. Doel Sumbang menciptakan lagu Pesantren Cipasung yang diluncurkan di pesantren yang didirikan KH Ruhiat tersebut, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Jumat (17/9).

Ini lirik pesantren Cipasung Karya Doel Sumbang tersebut:

Ini Lirik Pesantren Cipasung Karya Doel Sumbang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Lirik Pesantren Cipasung Karya Doel Sumbang (Sumber Gambar : Nu Online)


Ini Lirik Pesantren Cipasung Karya Doel Sumbang

Pasantren Cipasung

Di pasantren Cipasung, na kelek Gunung Galunggung.

Santriwati Cantik

Opat welas Silih Mulud, caang bulan narawangan.

Budak santri diburuan, ulin tinu kabagjaan.

Sempau, guyon, gogonjakan

Santriwati Cantik

Nareumbang silih tembalan.

Tembang asih kaimanan

Tembang deudeuh kaislaman

Rumpakna kaakheratan

Wirahma kasalametan.

Di pasantren Cipasung, na kelek Gunung Galunggung.

Muka jalan, ngemparay hurung

Ngarah lengkah heunteu linglung.

Di pasantren Cipasung, na kelek Gunung Galunggung.

Nimba elmu anu luhung, sangkan hirup teu kaduhung.

Ini Video Klip Lagu Pesantren Cipasung : http://www.ponpescipasung.com/2016/05/video-clip-lagu-cipasung.html. (Husni Mubarok/Abdullah Alawi)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71336/ini-lirik-pesantren-cipasung-karya-doel-sumbang-

Santriwati Cantik

Selasa, 24 Juli 2012

Kisah Imam Syafii Menghadapi Murid Ngambek Jika Kalah Debat

Santriwati Cantik - Yunus bin ‘Abdul A’la adalah salah seorang murid Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Suatu ketika, dia berbeda pendapat dengan Imam Syafi’i, gurunya, karena satu permasalahan yang sempat muncul saat pengajian di majelis.

Saat itu Yunus dihinggapi perasaan sedikit emosi, ia tidak setuju atas pendapat gurunya sembari berdiri sambil menunjukan ekspresi marah dan meninggalkan pengajian lalu pulang ke rumah. Saat malam tiba, Yunus mendengar suara pintu rumahnya diketuk oleh seseorang.

“Siapa?” Tanya Yunus.

Kisah Imam Syafii Menghadapi Murid Ngambek Jika Kalah Debat - Santriwati Cantik
Kisah Imam Syafii Menghadapi Murid Ngambek Jika Kalah Debat - Santriwati Cantik


Kisah Imam Syafii Menghadapi Murid Ngambek Jika Kalah Debat

Santriwati Cantik

“Muhammad bin Idris,” jawab orang yang mengetuk pintu. Pikiran Yunus menerawang pada siapa saja yang namanya Muhammad bin Idris.

“Ini Syafi’i,” terdengar susulan jawaban dari luar.

Waktu pintu dibuka, Yunus kaget luar biasa, gurunya datang ke rumah mengunjunginya. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk, Imam Syafi’i berkata,

"Hai Yunus, ratusan masalah menyatukan kita, apakah hanya karena satu masalah kita berpisah. Janganlah engkau berupaya untuk selalu menang dalam setiap perdebatan, karena memenangkan hati lebih utama dari pada memenangkan perdebatan," pesan Imam Syafi'i.

Santriwati Cantik

Lebih lanjur, Imam Syafii mengatakan, "jangan kau hancurkan jembatan yang sudah kau bangun dan kau seberangi. Karena bisa jadi engkau membutuhkannya untuk kembali di satu hari nanti. Upayakan engkau selalu membenci kesalahan, bukan membenci pelakunya. Marahlah engkau pada maksiat, tapi maafkan pelakunya. Kritiklah pendapat orang, namun tetap hormatilah orang yang mengatakannya," demikian pesan sang guru kepada muridnya itu.

Tugas kita dalam hidup ini adalah membunuh penyakit, bukan membunuh orang yang sakit. Itu inti dari cerita di atas. Cerita ini diambil dari keterangan Habib Husain bin Anis al-Habsy, Solo. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/kisah-imam-syafii-menghadapi-murid-ngambek-jika-kalah-debat.html

Kamis, 28 Juni 2012

Novita Hotel Jambi Digeruduk Setelah Lafadz Allah Dibuat Lantai di Bawah Ornamen Natal

Lafadz Allah di lantai Hotel Novita Jambi Santriwati Cantik - Tadi malam, Jumat (23/12/2016), Gubernur Jambi H. Zumi Zola dan Kapolda Jambi dilaporkan menemui pihak manajemen Novita Hotel yang berada di Jalan Gatot Subroto 44, Kota Jambi.

Hal itu dilakukan ada laporan warga lalu menjadi pesan berantai (viral) dimana menyebutkan kalau di halaman tersebut ada ornamen natal yang dianggap bisa memicu ketegangan warga karena menyinggung simbol agama lain, Islam. .

Novita Hotel Jambi Digeruduk Setelah Lafadz Allah Dibuat Lantai di Bawah Ornamen Natal  - Santriwati Cantik
Novita Hotel Jambi Digeruduk Setelah Lafadz Allah Dibuat Lantai di Bawah Ornamen Natal - Santriwati Cantik


Novita Hotel Jambi Digeruduk Setelah Lafadz Allah Dibuat Lantai di Bawah Ornamen Natal

Pantauan Santriwati Cantik menyebutkan, ada lafaldz "Allah" dalam bahasa Arab yang diletakkan di bawah ornamen pohon dan rumah gereja bersalib khas natal di halaman hotel tersebut. Kalimat Allah, oleh beberapa pihak di lapangan, memang sengaja digunakan sebagai lantai.

Kontan saja, hal itu memicu kemarahan umat Islam setempat setelah foto-foto tersebut tersebar luas di beberapa grup WhatsApp dan media sosial.

Santriwati Cantik

Tidak mau berbuntut panjang, Wali Kota Jambi, H. Syarif Fasha, langsung melakukan tindakan dengan menyegel Novita Hotel secara simbolik. Dengan membawa kertas karton putih, Syarif Fasha menulis "Maaf hotel ini dihentikan operasinya", ditandatangani. Ia perlihatkan foto segel itu ke warga yang malam itu berkumpul di sana.

Pasca diprotes warga, lampu halaman depan Novita Hotel Jambi langsung dipadamkan, gelap gulita, agar tidak menarik animo masyarakat lebih jauh, walau masih banyak warga yang berkumpul di sana saat itu.

Santriwati Cantik

Ornamen natal bermasalah sudah disegel police line Hingga laporan ini diturunkan Santriwati Cantik, lokasi hotel tersebut sudah disegel dengan police line. Entah bagaimana dengan nasib para tamunya. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/novita-hotel-jambi-digeruduk-setelah-lafadz-allah-dibuat-lantai-di-bawah-ornamen-natal.html

Rabu, 08 Februari 2012

Wahai Pemuda, Hidup Itu Akidah dan Perjuangan!

Boyolali, Santriwati Cantik. Pemuda saat ini adalah pemimpin masa depan. Demikian pula para kader GP Ansor dan Banser, di masa kini, merupakan calon pemimpin bangsa ini di masa depan.

Ansor di masa kini adalah pemimpin NU, pemimpin bangsa di masa mendatang, kata Sekretaris PW GP Ansor Jawa Tengah Sholahudin Aly, saat memberikan semangat kepada para peserta pembaretan yang diselenggarakan GP Ansor-Banser Boyolali di Pondok Pesantren Dawar Boyolali, Sabtu (15/4).

Wahai Pemuda, Hidup Itu Akidah dan Perjuangan! (Sumber Gambar : Nu Online)
Wahai Pemuda, Hidup Itu Akidah dan Perjuangan! (Sumber Gambar : Nu Online)


Wahai Pemuda, Hidup Itu Akidah dan Perjuangan!

Ditambahkan Sholah, jamiyyah NU beserta lembaga dan nanomnya menjadi tonggak penting dalam berdirinya NKRI.

Santriwati Cantik

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Dawar Mojosongo Boyolali KH Abdul Hamid memberikan pesan kepada para peserta pembaretan agar senantiasa memegang dua prinsip hidup.

Santriwati Cantik

Perlu Anda ingat, wahai pemuda Ansor dan Banser, sesungguhnya hidup adalah akidah dan perjuangan! Hidup adalah bagaimana mempertahankan akidah. Akidah Aswaja tidak boleh dirongrong oleh akidah lain, tuturnya.

Kiai Abdul Hamid menambahkan, hidup juga perjuangan. Berjuang untuk agama, berjuang untuk bangsa.

Ia juga mengapresiasi kepada para peserta pembaretan, yang rela menempuh perjalanan dengan jalan kaki sejauh 50 km.

Semangat para sahabat ini membuat saya merasa bangga dan bahagia. Harapan saya Indonesia ini masih tetap utuh dan kokoh, tutupnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77175/wahai-pemuda-hidup-itu-akidah-dan-perjuangan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Cantik sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Cantik. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Cantik dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock