Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 April 2017

Mantan Ketua IPPNU Blitar Dilantik Jadi Kepala SMK NU Wlingi

Blitar, Santriwati CantikKetua Pimpinan Cabang Lembaga Pendidikan Maarif NU Kabupaten Blitar H Muslih mengatakan, Sekolah Menengah Kejuaran (SMK) Islam sebagai lembaga milik Nahdlatul Ulama memiliki peran sangat strategis dalam menyiapkan kader NU militan untuk mengisi peran-peran penting dalam berbagai bidang kehidupan.

Paling utama bagaimana lembaga pendidikan NU ini di dalam menanamkan ajaran dan nilai-nilai Islam Ahlussunah wal-Jamaah Annahdliyah, katanya saat pelantikan Kepala Sekolah Menengah Kejuaruan Islam (SMKI) II Wlingi Blitar, Jawa Timur pada 31 September 2016. Terpilih sebagai Kepala Sekolah SMKI II Wlingi Hasanah. Ia adalah mantan Ketua Pimpinan Cabang IPPNU Kabupaten Blitar

Mantan Ketua IPPNU Blitar Dilantik Jadi Kepala SMK NU Wlingi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mantan Ketua IPPNU Blitar Dilantik Jadi Kepala SMK NU Wlingi (Sumber Gambar : Nu Online)


Mantan Ketua IPPNU Blitar Dilantik Jadi Kepala SMK NU Wlingi

Pelantikan dihadiri Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Blitar KH Imam Sugrowardi, Wakil Ketua PCNU Baharuddin, Ketua BPNU Darul Huda Wlingi dan beberapa pengurus MWCNU dan Badan Otonom NU.

Santriwati Cantik

SMK Islam milik Nahdlatul Ulama ini berdiri sejak tahun 1995 di atas tanah seluas 1.3 hektar. Sekolah yang berada di lingkungan Pesantren Darul Huda Wlingi tersebut, memiliki jurusan Teknik Jaringan Komputer (TKJ), Teknik Permesinan, Teknik Otomotif Umum dan Teknik Otomotif Sepeda Motor.

Santriwati Cantik

SMK Islam Wlingi II termasuk salah satu SMK unggulan meski berlokasi di Kota Wlingi sehingga ribuan siswa mengenyam pendidikan di sekolah kebanggaan warga NU tersebut. (imam kusnin ahmad/abdullah alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71670/mantan-ketua-ippnu-blitar-dilantik-jadi-kepala-smk-nu-wlingi

Minggu, 20 November 2016

Merah Putih Ditambahi Kalimat Tahlil Itu Bidah Makar ala Khilafah Dhalalah

Santriwati Cantik - Soal bendera merah putih yang ditulis atau dicorat-coret oleh salah satu pria beberapa waktu lalu memang sungguh memprihatinkan. Yang kontra menyalahkan-nyalahkan pihak kepolisian karena dianggap reaktif dan tidak berdasar, sementara yang pro, pria itu memang harus mendapatkan pelajaran berharga.

Banyak kasus bendera mereha putih ditulisi macam-macam. Sebetulnya tidak masalah jika niat menulis di bendera merah putih itu bukan makar. Tentang hal ini, Santriwati Cantik mendapatkan keterangan dari KH Abdul Mun'im DZ, wakil Sekjend PBNU.

Ia menulis, grafiti dalam bendera merah putih di beberapa tempat mungkin bentuknya sama, yakni sama-sama menambah lambang negara atau mencorat-coretnya, motifnya bisa dibedakan, ada yang Sunnah, karena sebagai ekspresi cinta tanah air, ada yang makruh karena digunakan untuk motif sempit dan ada pula yang haram karena bermaksud mau mengubah haluan NKRI berdasarkan Pancasila ini, ini bagian dari gerakan subversif (makar) kepada negara.

Pelaksana dan penegakan hukum selalu melihat motif dalam menentukan hukum. Polisi sebagai penegak hukum, dibantu para ahli dan ulama yang tahu tentang anatomi politik, bisa mengetahui motif para pembuat grafiti tersebut yang sengaja dibuat oleh pria yang konon hafal Al-Qur'an tersebut.

Kelompok pertama (sunnah) bermotif seni, kelompok kedua (makruh) bermotif politik. Tetapi kelompok ketiga yang menuliskan kalimat thoyyibah atau tahlil, itu bermotif subversif. Hal itu bisa dilihat dari siapa yang membuat, siapa pendukungnya dan siapa pembelanya. Bukan yang lain, mereka adalah para pendukung Khilafah Islamiyyah yang ingin mengganti Pancasila dan NKRI.

Betul, kalimat tahlil tertulis dalam bendera, tapi mereka bisa saja para pembenci syiar kalimat tahlil, yakni tradisi Tahlilan. Apalagi ada logo pedang di bawah kalimat tahlil, kalimat thayyibah itu. Anda tentu tahu negara mana yang menggunakan lambang bendera dengan kalimat suci tersebut yang dibawahnya ada pedang. Ini bid'ah dholalah sebagai warga negara.

Karena itulah, subversif dalam kasus pria perusuh bendera merah putih Indonesia tersebut, bisa saja menjadi haram mugholladah (berat) karena selain ingin mengganti negara NKRI jadi khilafah sejak dari niat, mereka juga sengaja menggunakan simbol negara lain untuk lambang negara kita, Indonesia, dan itu sangat politis. Ini jelas makar kuadrat.

Jadi, yang dilarang dan diperkarakan oleh polisi itu bukan kalimat thayyibah, tetapi orang yang menyalahgunakan kalimat tauhid tahlil tersebut utk tujuan subversi, makar terselubung. Sementara, umat Islam Indonesia, khususnya warga NU, telah terikat oleh kesepakatan suci bangsa Indonesia untuk hidup bersama dalam Pancasila dan NKRI. Janji ini wajib ditepati sebagai Amanah dan wafa bil 'ahdi (menepati perjanjian). [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/merah-putih-ditambahi-kalimat-tahlil-itu-bidah-makar-ala-khilafah-dhalalah.html

Selasa, 21 Oktober 2014

Fakta-Fakta Fiktif Khilafah

Santriwati Cantik - Ternyata banyak kalangan yang belum "peduli" terhadap kemakaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). HTI itu cabang atau bagian dari HT, kelompok politik yang didirikan di Al-Quds, waktu itu bagian dari Yordania, pada tahun 1953, bertujuan untuk mendirikan Khilafah Islamiyah. Khilafah yang dimaksud adalah kepemimpinan umat dalam suatu Daulah Islam yang universal di muka bumi ini, dengan dipimpin seorang pemimpin tunggal (khalifah) yang dibai’at oleh umat.

Fakta-Fakta Fiktif Khilafah
Fakta-Fakta Fiktif Khilafah


Jadi, gerakan politik HTI itu gerakan makar: akan mengubah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila menjadi "negara" bagian dari kekhalifahan dunia yang dipimpin oleh seorang raja (khalifah).

Khilafah Islamiyah itu bagian dari ajaran Islam? Meskipun menggunakan nama Islam, kepemimpinan tunggal ini bukan bagian dari ajaran Islam. Silakan simak tulisan berbentuk tanya-jawab berikut ini:

1. Wajibkah mendirikan khilafah?

Tidak wajib! Yang wajib itu adalah memiliki pemimpin, yang dahulu disebut khalifah, kini bebas saja mau disebut ketua RT, kepala suku, presiden, perdana menteri, etc. Ada pemelintiran seakan-akan para ulama mewajibkan mendirikan khilafah, padahal arti kata "khilafah" dalam teks klasik tidak otomatis bermakna sistem pemerintahan Islam (SPI) yang dipercayai oleh para pejuang pro-khilafah.

Masalah kepemimpinan ini simple saja: "Nabi mengatakan kalau kita pergi bertiga, maka salah satunya harus ditunjuk jadi pemimpin". Tidak ada nash yang qat'i di al-Qur'an dan Hadis yang mewajibkan mendirikan SPI . Yang disebut "khilafah" sebagai SPI itu sebenarnya hanyalah kepemimpinan yang penuh dengan keragaman dinamika dan format. Tidak ada format kepemimpinan yang baku.

2. Bukankah ada Hadis yang mengatakan khilafah itu akan berdiri lagi di akhir zaman?

Para pejuang berdirinya khilafah percaya bahwa Nabi telah menjanjikan akan datangnya kembali khilafah di akhir jaman nanti. Mereka menyebutnya dengan khilafah 'ala minhajin nubuwwah. Ini dalil pegangan mereka:

"Adalah masa Kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah 'ala minhajin nubuwwah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya (menghentikannya) apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menggigit (Mulkan 'Adldlon), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah 'ala minhajin nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam." (Musnad Ahmad: IV/273).

Cukup dengan berpegang pada dalil di atas, para pejuang khilafah menolak semua argumentasi rasional mengenai absurd-nya sistem khilafah. Mereka menganggap kedatangan kembali sistem khilafah adalah sebuah keniscayaan. Ada baiknya kita bahas saja dalil di atas. Salah satu rawi Hadis di atas bernama Habib bin Salim. Menurut Imam Bukhari, "fihi nazhar".

Inilah sebabnya imam Bukhari tidak pernah menerima hadis yang diriwayatkan oleh Habib bin Salim tsb. Di samping itu, dari 9 kitab utama (kutubut tis'ah) hanya Musnad Ahmad yang meriwayatkan hadis tsb. Sehingga "kelemahan" sanad hadis tsb tidak bisa ditolong.

Rupanya Habib bin salim itu memang cukup "bermasalah." Dia membaca hadis tsb. di depan khalifah 'Umar bin Abdul Aziz untuk menjustifikasi bahwa kekhilafahan 'Umar bin Abdul Aziz merupakan khilafah 'ala minhajin nubuwwah. Saya menduga kuat bahwa Habib mencari muka di depan khalifah karena sebelumnya ada sejumlah hadis yang mengatakan: "Setelah kenabian akan ada khilafah 'ala minhajin nubuwwah, lalu akan muncul para raja."

Hadis ini misalnya diriwayatkan oleh Thabrani (dan dari penelaahan saya ternyata sanadnya majhul). Saya duga hadis Thabrani ini muncul pada masa Mu'awiyah atau Yazid sebagai akibat pertentangan politik saat itu.

"Khilafah 'ala minhajin nubuwwah" di teks Thabrani ini mengacu kepada khulafa al-rasyidin, lalu "raja" mengacu kepada Mu'awiyah dkk. Tapi tiba-tiba muncul Umar bin Abdul Azis -dari dinasti Umayyah-yang baik dan adil. Apakah beliau termasuk "raja" yang ngawur dalam hadis tsb?

Maka muncullah Habib bin Salim yang bicara di depan khalifah Umar bin Abdul Azis bahwa hadis yang beredar selama ini tidak lengkap. Menurut versi Habib, setelah periode para raja, akan muncul lagi khilafah 'ala minhajin nubuwwah-dan ini mengacu kepada Umar bin Abdul Azis. Jadi nuansa politik hadis ini sangat kuat.

Repotnya, istilah khilafah 'ala minhajin nubuwwah yang dimaksud oleh Habib (yaitu Umar bin Abdul Azis) sekarang dipahami oleh Hizbut Tahrir (dan kelompok sejenis) sebagai jaminan akan datangnya khilafah lagi di kemudian hari. Mereka pasti repot menempatkan 'Umar bin Abdul Aziz dalam urutan di atas tadi: kenabian, khilafah 'ala mihajin nubuwwah periode pertama (yaitu khulafa al-rasyidin), lalu para raja, dan khilafah 'ala minhajin nubuwwah lagi. Kalau khilafah 'ala minhajin nubuwwah periode yang kedua baru muncul di akhir jaman maka Umar bin Abdul Azis termasuk golongan para raja yang ngawur.

Saya kira kita memang harus bersikap kritis terhadap hadis-hadis berbau politik. Sayangnya sikap kritis ini yang sukar ditumbuhkan di kalangan para pejuang khilafah.

3. Bukankah khilafah adalah solusi dari masalah ummat? Selama ummat Islam mengadopsi sistem kafir (demokrasi) maka ummat Islam tidak akan pernah jaya?

Di sinilah letak perbedaannya: sistem khilafah itu dianggap sempurna, sedangkan sistem lainnya (demokrasi, kapitalis, sosialis, dll) adalah buatan manusia. Kalau kita menemukan contoh "jelek" dalam sejarah Islam, maka kita buru-buru bilang, "yang salah itu manusianya, bukan sistem Islamnya!". Tapi kalau kita melihat contoh "jelek" dalam sistem lain, kita cenderung untuk bilang, "demokrasi hanya menghasilkan kekacauan!" Jadi, yang disalahkan adalah demokrasinya. Ini namanya kita sudah menerapkan standard ganda.

Biar adil, marilah kita melihat bahwa yang disebut sistem khilafah itu sebenarnya merupakan sistem yang juga tidak sempurna, karena ia merupakan produk sejarah, dimana beraneka ragam pemikiran dan praktek telah berlangsung. Sayangnya, karena dianggap sudah "sempurna" maka sistem khilafah itu seolah-olah tidak bisa direformasi. Padahal banyak sekali yang harus direformasi.

Contoh: dalam sistem khilafah pemimpin itu tidak dibatasi periode jabatannya (tenure). Asalkan dia tidak melanggar syariah, dia bisa berkuasa seumur hidup. Dalam sistem demokrasi, hal ini tidak bisa diterima. Meskipun seorang pemimpin tidak punya cacat moral, tapi kekuasaannya dibatasi sampai periode tertentu.

Saya maklum kenapa sistem khilafah tidak membatasi jabatan khalifah. Soalnya pada tahun 1924 khilafah sudah bubar, padahal pada tahun 1933 (the 22nd Amendment) Amerika baru mulai membatasi jabatan presiden selama dua periode saja. Sayangnya, buku tentang khilafah yang ditulis setelah tahun 1933 masih saja tidak membatasi periode jabatan khalifah. Itulah sebabnya kita menyaksikan bahwa dalam sepanjang sejarah Islam, khalifah itu naik-turun karena wafat, dibunuh, atau dikudeta. Tidak ada khalifah yang turun karena masa jabatannya sudah habis.

Contoh lainnya, sistem khilafah selalu mengulang-ulang mengenai konsep baiat (al-bay`ah) dan syura. Tapi sayang berhenti saja sampai di situ [soalnya sudah dianggap sempurna]. Dalam tradisi Barat, electoral systems itu diperdebatkan dan terus "disempurnakan" dalam berbagai bentuknya. Dari mulai sistem proporsional, distrik sampai gabungan keduanya.

Begitu juga dengan sistem parlemen. Dari mulai unicameral sampai bicameral system dibahas habis-habisan, dan perdebatan terus berlangsung untuk menentukan sistem mana yang lebih bisa merepresentasikan suara rakyat dan lebih bisa menjamin tegaknya mekanisme check and balance.

Tapi kalau kita mau "melihat" ke teori Barat, nanti kita dituduh terpengaruh orientalis atau terjebak pada sistem kafir. Akhirnya kita terus menerus memelihara teori yang sudah ketinggalan kereta.

4. Kalau khilafah berdiri, maka ummat islam akan bersatu. Lantas kenapa harus ditolak? Bukankah kita menginginkan persatuan ummat?

Sejumlah dalil mengenai persatuan ummat Islam dan kaitannya dengan khilafah banyak dikutip oleh "pejuang khilafah" belakangan ini: Rasulullah SAW bersabda: "Jika dibai'at dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya." (HR. Muslim)

Bagaimana "rekaman" sejarah soal ini? Ini daftar tahun berkuasanya khilafah yang sempat saya catat:

Ummayyah (661-750)

Abbasiyah (750-1258)

Umayyah II (780-1031)

Buyids (945-1055)

Fatimiyah (909-1171)

Saljuk (1055-1194)

Ayyubid (1169-1260)

Mamluks (1250-1517)

Ottoman (1280-1922)

Safavid (1501-1722)

Mughal (1526-1857)

Dari daftar di atas kita ketahui bahwa selepas masa Khulafa al-Rasyidin, ternyata hanya pada masa Umayyah dan awal masa Abbasiyah saja terdapat satu khalifah untuk semua ummat Islam. Sejak tahun 909 (dimana Abbasiyah masih berkuasa) telah berdiri juga kepemimpinan ummat di Egypt oleh Fatimiyyah (bahkan pada periode Fatimiyah inilah Universitas al-Azhar Cairo dibangun).

Di masa Abbasiyah, Cordova (Andalusia) juga memisahkan diri dan punya kekhalifahan sendiri (Umayyah II). Di Andalusia inilah sejarah Islam dicatat dengan tinta emas, namun pada saat yang sama terjadi kepemimpinan ganda di tubuh ummat, toh tetap dianggap sukses juga.

Pada masa Fatimiyyah di Mesir (909-1171), juga berdiri kekuasaan lainnya: Buyids di Iran-Iraq (945-1055). Buyids hilang, lalu muncul Saljuk (1055-1194), sementara Fatimiyah masih berkuasa di Mesir sampai 1171. Ayubid meneruskan Fatimiyyah dengan kekuasaan meliputi Mesir dan Syria (1169-1260). Dan seterusnya, ... silahkan diteruskan sendiri.

Jadi, sejarah menunjukkan bahwa khilafah itu tidak satu; ternyata bisa ada dua atau tiga khalifah pada saat yang bersamaan. Siapa yang dipenggal lehernya dan siapa yang memenggal? Mana yang sah dan mana yang harus dibunuh?

Kita harus kritis membaca Hadis-Hadis "politik" di atas. Saya menduga kuat Hadis semacam itu baru dimunculkan ketika terjadi pertentangan di kalangan ummat islam sepeninggal rasul. Alih-alih bermusyawarah, seperti yang diperintahkan Qur'an, para elit Islam tempo doeloe malah melegitimasi pertempuran berdarah dengan Hadis-Hadis semacam itu.

Sejumlah Ulama yang datang belakangan kemudian berusaha "mentakwil" makna Hadis di atas. Mereka menyadari bahwa situasi sudah berubah, dan Islam sudah meluas sampai ke pelosok kampung. Pernyataan Nabi di atas tidak bisa dilepaskan dari konteks traditional-state di Madinah, dimana resources, jumlah penduduk, dan luas wilayah masih sangat terbatas. Cocok-kah Hadis itu diterapkan pada saat ini?

Berpegang teguh pada makna lahiriah Hadis di atas akan membuat darah tumpah di mana-mana. Contoh saja, karena tidak ada aturan yang jelas, maka para ulama berdebat, seperti direkam dengan baik oleh al-Mawardi, M. Abu faris dan Wahbah al-Zuhayli: berapa orang yang dibutuhkan untuk membai'at seorang khalifah? Ada yang bilang lima [karena Abu Bakr dipilih oleh 5 orang], tiga [dianalogikan dengan aqad nikah dimana ada 1 wali dan 2 saksi], bahkan satu saja cukup [Ali diba'iat oleh Abbas saja]. Jadi, cukup 5 orang saja untuk membai'at khalifah. Aturan itu cocok untuk kondisi Madinah jaman dulu, namun terhitung "menggelikan" untuk jaman sekarang.

Di samping itu, urusan "memenggal kepala" itu tidak lagi cocok dengan situasi sekarang. Contoh: ribut-ribut jumlah suara antara Al Gore dengan Bush 4 tahun lalu diselesaikan bukan dengan putusnya leher salah satu di antara mereka.

Begitu juga Gus Dur tidak bisa meminta kepala Mega dipenggal ketika Mega "merebut" kekuasaannya tempo hari. Mekanisme konstitusi yang menyelesaikan semua itu. Nah, mekanisme itu yang di jaman dulu kagak ada. Apa kita mau balik ke jaman itu lagi?

Akhirnya, dengan adanya catatan sejarah yang menunjukkan bahwa terdapat beberapa khalifah dalam masa yang sama, di wilayah yang berbeda. Hadis politik di atas sudah tidak cocok lagi diterapkan.

5. Jawaban anda sebelumnya seolah-olah hendak mengatakan bahwa berdirinya khilafah justru akan menimbulkan pertumpahan darah sesama ummat islam, bukan menghadirkan persatuan seperti yang didengungkan para pejuang khilafah saat ini. Betulkah demikian? Benarkah sejarah khilafah menunjukkan pertumpahan darah tersebut?

Ketika Bani Abbasiyah merebut khilafah, darah tertumpah di mana-mana. Ini "rekaman" kejadiannya:Pasukan tentara Bani Abbas menaklukkan kota Damsyik, ibukota Bani Umayyah, dan mereka "memainkan" pedangnya di kalangan penduduk, sehingga membunuh kurang lebih lima puluh ribu orang. Masjid Jami' milik Bani Umayyah, mereka jadikan kandang kuda-kuda mereka selama tujuh puluh hari, dan mereka menggali kembali kuburan Mu'awiyah serta Bani Umayyah lainnya. Dan ketika mendapati jasad Hisyam bin Abdul Malik masih utuh, mereka lalu menderanya dengan cambuk-cambuk dan menggantungkannya di hadapan pandangan orang banyak selama beberapa hari, kemudian membakarnya dan menaburkan abunya.

Mereka juga membunuh setiap anak dari kalangan Bani Umayyah, kemudian menghamparkan permadani di atas jasad-jasad mereka yang sebagiannya masih menggeliat dan gemetaran, lalu mereka duduk di atasnya sambil makan. Mereka juga membunuh semua anggota keluarga Bani Umayyah yang ada di kota Basrah dan menggantungkan jasad-jasad mereka dengan lidah-lidah mereka, kemudian membuang mereka di jalan-jalan kota itu untuk makanan anjing-anjing.

Demikian pula yang mereka lakukan terhadap Bani Umayyah di Makkah dan Madinah.

Kemudian timbul pemberontakan di kota Musil melawan as-Saffah yang segera mengutus saudaranya, Yahya, untuk menumpas dan memadamkannya. Yahya kemudian mengumumkan di kalangan rakyat: "Barangsiapa memasuki masjid Jami', maka ia dijamin keamanannya." Beribu-ribu orang secara berduyun-duyun memasuki masjid, kemudian Yahya menugaskan pengawal-pengawalnya menutup pintu-pintu Masjid dan menghabisi nyawa orang-orang yang berlindung mencari keselamatan itu. Sebanyak sebelas ribu orang meninggal pada peristiwa itu. Dan di malam harinya, Yahya mendengar tangis dan ratapan kaum wanita yang suami-suaminya terbunuh di hari itu, lalu ia pun memerintahkan pembunuhan atas kaum wanita dan anak-anak, sehingga selama tiga hari di kota Musil digenangi oleh darah-darah penduduknya dan berlangsunglah selama itu penangkapan dan penyembelihan yang tidak sedikit pun memiliki belas kasihan terhadap anak kecil, orang tua atau membiarkan seorang laki-laki atau melalaikan seorang wanita.

Seorang ahli fiqh terkenal di Khurasn bernama Ibrahim bin Maimum percaya kepada kaum Abbasiyin yang telah berjanji "akan menegakkan hukum-hukum Allah sesuai dengan al-Qur'an dan Sunnah". Atas dasar itu ia menunjukkan semangat yang berkobar-kobar dalam mendukung mereka, dan selama pemberontakan itu berlangsung, ia adalah tangan kanan Abu Muslim al-Khurasani. Namun ketika ia, setelah berhasilnya gerakan kaum Abbasiyin itu, menuntut kepada Abu Muslim agar menegakkan hukum-hukum Allah dan melarang tindakan-tindakan yang melanggar kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, segera ia dihukum mati oleh Abu Muslim.

Cerita di atas bukan karangan orientalis tapi bisa dibaca di Ibn Atsir, jilid 4, h. 333-340, al-Bidayah, jilid 10, h. 345; Ibn Khaldun, jilid 3, h. 132-133; al-Bidayah, jilid 10, h. 68; al-Thabari, jilid 6, h. 107-109. Buku-buku ini yang menjadi rujukan Abul A'la al-Maududi ketika menceritakan ulang kisah di atas dalam al-Khilafah wa al-Mulk.

Catatan:

Yang jelas sejarah "buruk" kekhilafahan bukan hanya milik khalifah Abbasiyah, tapi juga terjadi di masa Umayyah (sebelum Abbasiyah) dan sesudah Abbasiyah. Misalnya, menurut al-Maududi, dalam periode khilafah pasca khulafatur rasyidin telah terjadi: perubahan aturan pengangkatan khalifah seperti yang dipraktekkan sebelumnya, perubahan cara hidup para khalifah, perubahan kondisi baitul mal, hilangnya kemerdekaan mengeluarkan pendapat, hilangnya kebebasan peradilan, berakhirnya pemerintah berdasarkan syura, munculnya kefanatikan kesukuan, dan hilangnya kekuasaan hukum.

Sejarah itu seperti cermin: ada yang baik dan ada yang buruk. Kita harus menyikapinya secara proporsional; jangan "buruk muka, cermin dibelah. Sengaja saya tampilkan sisi buruknya agar kita tidak hidup dalam angan-angan atau nostalgia masa lalu saja, tanpa mengetahui sisi buruk masa lalu itu.

Ada kesan bahwa dengan menjadikan "khilafah is the (only) solution" maka kita melupakan bahwa sebenarnya banyak kisah kelam (sebagaimana juga banyak kisah "keemasan") dalam masa kekhilafahan itu. Jadi, mendirikan kembali khilafah tidak berarti semua problem akan hilang dan lenyap; mungkin kehidupan tanpa problem itu hanya ada di surga saja.

6. Ada sejumlah kewajiban yang pelaksanaannya tidak terletak di tangan individu rakyat. Di antaranya adalah pelaksanaan hudûd, jihad fi sabilillah untuk meninggikan kalimat Allah, mengumpulkan zakat dan mendistribusikannya, dan seterusnya. Sejumlah kewajiban syariat ini bergantung pada pengangkatan Khalifah. Bukankah di sinilah letak urgensinya kita mendirikan khilafah?

Cara berpikir anda itu masih menganggap khilafah itu sama dengan sebuah sistem pemerintahan Islam [SPI], padahal hadis-hadis yang menyinggung soal khilafah itu hanya bicara mengenai pentingnya mengangkat pemimpin (dan sekarang semua negara punya pemimpin kan?).

Kalau pertanyaannya saya tulis ulang: bukankah sebagian pelaksanaan syariat islam membutuhkan campur tangan pemimpin? Jawabannya benar,dan itulah yang sudah dilakukan di sejumlah negara: misalnya memungut zakat, memberangkatkan jamaah pergi haji, membuat peradilan Islam (mahkamah syariah), menentukan 1 Ramadan dan 1 Syawal, dst. Jadi, syariat Islam sudah bisa berjalan saat ini tanpa harus ada khilafah.

Lha wong kita sholat, puasa, sekolah, makan, bekerja, menikah, dst. adalah bagian dari syariat Islam dan kita bisa menjalaninya meski tidak ada khilafah dalam arti SPI. Kita menjalaninya karena pemimpin kita membebaskan kita melakukan itu semua. Kita tidak dilarang menjalankannya.

Di Saudi Arabia, tanpa ada khilafah sekalipun hukuman potongan tangan (hudud) sudah diberlakukan. Bukan berarti saya setuju dengan penerapan hudud ini. Saya hanya ingin menunjukkan tanpa khilafah maka syariat Islam juga bisa diterapkan.

7. Apa lagi letak keberatan anda terhadap ide mendirikan khilafah?

Kalau khilafah berdiri maka dunia ini tidak akan damai. Perang terus menerus. Para pejuang khilafah menerima saja mentah-mentah Hadis yang mengungkapkan 3 langkah dalam berurusan dengan non-muslim:

Ajak mereka masuk Islam

Kalau mereka enggan, suruh mereka bayar jizyah

Kalau enggan masuk Islam dan enggan bayar jizyah, maka perangilah mereka.

Kalau Indonesia sekarang berubah menjadi khilafah, maka Singapora, Thailand, Philipina dan Australia akan diajak masuk Islam, atau bayar jizyah, atau diperangi. Masya Allah!

Simak cerita Dr. Jeffrey Lang di bawah ini (yang diceritakan ulang oleh Dr Jalaluddin Rakhmat):

Kira-kira dua bulan setelah saya masuk Islam, mahasiswa-mahasiswa Islam di universitas tempat saya mengajar mulai mengadakan pengajian setiap Jum'at malam di masjid universitas. Ceramah kedua disampaikan oleh Hisyam, seorang mahasiswa kedokteran yang sangat cerdas yang telah belajar di Amerika selama hampir sepuluh tahun. Saya sangat menyukai dan menghormati Hisyam. Dia berbadan agak bulat dan periang, dan mukanya tampak sangat ramah. Dia juga mahasiswa Islam yang sangat bersemangat.

Malam itu Hisyam berbicara tentang tugas dan tanggungjawab seorang Muslim. Dia berbicara panjang lebar tentang ibadah dan kewajiban etika orang yang beriman. Ceramahnya sangat menyentuh dan telah berjalan kira-kira satu jam ketika dia menutupnya dengan ucapan yang tidakdisangka- sangka berikut ini.

"Akhirnya, kita tidak dapat lupa --dan ini benar-benar penting-- bahwa sebagai orang Muslim, kita wajib untuk merindukan, dan ketika mungkin berpartisipasi di dalamnya, yakni menggulingkan pemerintah yang tidak Islami --di mana pun di dunia ini-- dan menggantinya dengan pemerintahan Islam."

"Hisyam!" Saya mencela. "Apakah anda bermaksud mengatakan bahwa warga negara Muslim Amerika harus melibatkan diri dalam penghancuran pemerintah Amerika? Sehingga mereka harus menjadi pasukan kelima di Amerika; suatu gerakan revolusioner bawah tanah yang berusaha untuk menggulingkan pemerintah? Apakah yang kamu maksudkan adalah jika seorang Amerika masuk Islam, dia harus melibatkan diri dalam pengkhianatan politik?"

Saya berfikir begitu dengan maksud memberikan Hisyam suatu skenario yang sangat ekstrem, sehingga dapat memaksanya untuk melunakkan atau mengubah pernyataannya. Dia menundukkan pandangannya ke lantai sementara dia merenungi pertanyaan saya sebentar. Kemudian dia menatap saya dengan suatu ekspresi yang mengingatkan saya terhadap seorang doktor yang hendak menyampaikan khabar kepada pesakitnya bahwa tumornya adalah tumor berbahaya. "Ya," dia berkata, "Ya, itu benar."

Dr. Jeffrey Lang, muslim Amerika yang juga profesor matematik di Universitas Kansas, menceritakan pengalaman di atas untuk menunjukkan betapa "absurdnya" gagasan mendirikan negara Islam bagi orang Islam di Amerika. "Bagi mereka, ide bahwa kaum Muslim --menurut agama mereka-- berkewajiban untuk menyerang negara-negara yang tidak agresif seperti Swiss, Brazil, Ekuador atau jika mereka tidak mau tunduk kepada Islam sangat tidak masuk akal," kata Dr. Lang selanjutnya.

Sekian kutipan dari Dr Jeffrey Lang.

Kalau kita sekarang nggak suka dengan doktrin pre-emptive strikenya Bush, maka sebenarnya kalau sekarang khilafah berdiri, maka khilafah itu juga memiliki doktrin yang sama. Sungguh mengerikan.

Hadis di atas telah diplintir maknanya sedemikian rupa sehingga khilafah akan menjadi monster yang memaksa negara sekitarnya untuk memeluk Islam dengan cara diperangi. Inilah salah satu keberatan saya dengan ide mendirikan kembali khilafah.

8. Saya heran dengan anda. CIA saja sudah bisa memprediksi bahwa khilafah akan berdiri pada tahun 2020. Kalau musuh-musuh Islam saja percaya dengan hal ini, bagaimana mungkin anda sebagai Muslim malah tidak mendukung berdirinya khilafah?

Biar nggak Ge-Er, kawan-kawan yang pro-khilafah coba baca baik-baik laporan lengkapnya di sini: http://www.foia.cia.gov/2020/2020.pdf. Intinya, CIA membuat 4 skenario fiktif sebagai gambaran situasi tahun 2020. Khilafah itu hanya satu dari empat skenario fiktif tersebut. Jadi jangan diplintir seolah-olah CIA mengatakan khilafah akan berdiri tahun 2020. Khilafah Islam, Fiktif! [Santriwati Cantik/ed]

Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, pengajar di Monash Law School, Australia dan Rais Syuriyah (=ketua dewan permusyawaratan) Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Australia-Selandia Baru. Repost dari Muhammad Aziz Hakim

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/fakta-fakta-fiktif-khilafah.html

Senin, 02 Juni 2014

Al Maidah Ayat 51 Menurut Pakar Tafsir Quraish Shihab

Santriwati Cantik - Seperti diketahui, ayat dari Surah Al-Maidah yang kerap disebut sebagai dalil menolak ‘pemimpin kafir’ itu ialah:

Al Maidah Ayat 51 Menurut Pakar Tafsir Quraish Shihab - Santriwati Cantik
Al Maidah Ayat 51 Menurut Pakar Tafsir Quraish Shihab - Santriwati Cantik


Al Maidah Ayat 51 Menurut Pakar Tafsir Quraish Shihab

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi ‘awliya’; sebahagian mereka adalah awliya bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 51).

Al Maidah Ayat 51 Menurut Pakar Tafsir Quraish Shihab - Santriwati Cantik
Al Maidah Ayat 51 Menurut Pakar Tafsir Quraish Shihab - Santriwati Cantik


Al Maidah Ayat 51 Menurut Pakar Tafsir Quraish Shihab



Al Maidah Ayat 51 Menurut Pakar Tafsir Quraish Shihab - Santriwati Cantik
Al Maidah Ayat 51 Menurut Pakar Tafsir Quraish Shihab - Santriwati Cantik


Al Maidah Ayat 51 Menurut Pakar Tafsir Quraish Shihab

Benarkah ayat di atas menyerukan penolakan “pemimpin kafir”? Menurut pakar tafsir Al-Qur’an Prof. Quraish Shihab, ayat di atas tidaklah berdiri sendiri, namun memiliki kaitan dengan ayat-ayat sebelumnya. Hanya memenggal satu ayat dan melepaskan ayat lain berimplikasi pada kesimpulan akhir. Padahal, Al-Maidah ayat 51 merupakan kelanjutan atau konsekuensi dari petunjuk-petunjuk sebelumnya.

“Konsekuensi dari sikap orang yang memusuhi Al-Qur’an, enggan mengikuti tuntunannya…”

Pada ayat sebelumnya, Al-Qur’an diturunkan untuk meluruskan apa yang keliru dari kitab Taurat dan Injil akibat ulah kaum-kaum sebelumnya. Jika mereka – Yahudi dan Nasrani, enggan mengikuti tuntunan Al-Qu’ran, maka mereka berarti memberi ‘peluang’ pada Allah untuk menjatuhkan siksa terhadap mereka karena dosa-dosa yang mereka lakukan.

“Jadi, mereka dinilai enggan mengikuti tuntunan Tuhan tapi senang mengikuti tuntunan jahiliyah,” kata Quraish Shihab dalam pengajian Tafsir Al-Qur’an di salah satu stasiun TV swasta.

Lalu, dilanjutkan oleh ayat 51 surat Al-Maidah. Kalau memang seperti itu sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani – mengubah kitab suci mereka, enggan mengikuti Al-Qur’an, keinginannya mengikuti jahiliyah, – “Maka wahai orang-orang beriman janganlah engkau menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagaiawliya.”

Bagi Quraish Shihab, hubungan ayat ini dan ayat sebelumnya sangat ketat. “Kalau begitu sifat-sifatnya, jangan jadikan mereka awliya. Nah, awliya itu apa?,” tanya Quraish memantik diskusi sebelum mengkaji lebih dalam.

‘Awliya’ ialah jamak atau bentuk plural dari ‘wali’. Di Indonesia, kata ini populer sehingga ada kata wali-kota, wali-nikah dan seterusnya. Wali ialah, kata penulis Tafsir Al Misbah ini, pada mulanya berarti “yang dekat”. Karena itu,waliyullah juga bisa diartikan orang yang dekat dengan Allah.

“Wali kota itu berarti yang mestinya paling dekat dengan masyarakat. Orang yang paling cepat membantu Anda, ialah orang yang paling dekat membantu Anda. Nah, dari sini lantas dikatakan bahwa wali itu pemimpin atau penolong.”

Adapun wali dalam pernikahan – apalagi terhadap anak gadis – sebenarnya fungsinya melindungi anak gadis itu dari pria yang hanya ingin ‘iseng’ padanya. Seseorang yang dekat pada yang lain, berarti ia senang padanya. Karena itu, iblis jauh dari kebaikan karena ia tidak senang. “Dari sini, kata ‘wali’ yang jamaknya ‘awliya’ memiliki makna bermacam-macam.”

Yang jelas, kata jebolan Al Azhar Mesir ini, kalau ia dalam konteks hubungan antar manusia, berarti persahabatan yang begitu kental. Sedemikan hingga tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Demikian pula hubungan suami-istri yang dileburkan oleh cinta.

“Dalam ayat ini, jangan angkat mereka –Yahudi dan Nasrani- yang sifatnya seperti dikemukakan pada ayat sebelumnya menjadi wali atau orang dekatmu. Sehingga engkau membocorkan rahasia kepada mereka.”

Dengan demikian, ‘awliya’ bukan sebatas bermakna pemimpin, kata Quraish Shihab. “Itu pun, sekali lagi, jika mereka enggan mengikuti tuntunan Allah dan hanya mau mengikuti tuntunan Jahiliyah seperti ayat yang lain.”

Contohnya, jika mereka juga menginginkan kemaslahatan untuk kita, boleh tidak kita bersahabat? Quraish Shihab kembali bertanya, jika ada pilihan antara pilot pesawat yang pandai namun kafir dan pilot kurang pandai yang muslim, “pilih mana?” sontak jamaah yang hadir pun tertawa.

Atau, pilihan antara dokter kafir yang kaya pengalaman dan dokter muslim tapi minim pengalaman. Dalam konteks seperti ini, bagi Quraish Shihab, tidak dilarang. Yang terlarang ialah melebur sehingga tidak ada lagi perbedaan termasuk dalam kepribadian dan keyakinan. Karena tidak ada lagi batas, kita menyampaikan hal-hal yang berupa rahasia pada mereka. “Itu yang terlarang,” tegasnya.

Namun, kalau pergaulan sehari-hari, dagang, membeli barang dari tokonya dan sebagainya, tidaklah dilarang. Selanjutnya, ayat ini berbicara tentang sebagian mereka adalah awliya bagi sebagian yang lain. Artinya, sebagian orang Yahudi bekerjasama dengan orang Nasrani yang walaupun keduanya beda agama namun kepentingannya sama, yaitu mencederai kalian.

Oleh sebab itu, Al-Qur’an berpesan, “Siapa yang menjadikan mereka itu orang yang dekat, yaitu meleburkan kepribadiannya sebagai muslim sehingga sama keadaannya (sifat-sifatnya) dengan mereka, oleh ayat ini diaggap sama dengan mereka,” jelas Quraish.

Terakhir, Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang zalim. Menurut Quraish Shihab, petunjuk ada dua macam; umum dan khusus. Petunjuk khusus itu, memberi tahu dan mengantar. Allah memberi tahu kepada semua manusia tentang ini baik dan itu buruk tapi tidak semua diantar oleh-Nya.

Di sisi lain, ada yang tidak sekedar diberitahu jalan baik, namun juga diantar jika orang itu menginginkan. Meski demikian, Allah tidak memberi petunjuk khusus mereka yang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/al-maidah-ayat-51-menurut-pakar-tafsir-quraish-shihab.html

Senin, 16 Desember 2013

Pesan-Pesan Gus Mus yang Patut Direnungkan

Santriwati Cantik - Di bawah ini adalah beberapa kumpulan quotes KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang dikumpulkan dari beberapa sumber tweet, ceramah maupun hasil obrolan dengan beberapa narasumber. Semua pesan-pesan Gus Mus patut direnungkan untuk kemudian direfleksikan dan dipraktikkan.

Quote Gus Mus

1. Kebenaran kita berkemungkinan salah, kesalahan orang lain berkemungkinan benar. Hanya kebenaran Tuhan yang benar-benar benar.

2. Kalau Anda boleh meyakini pendapat Anda, mengapa orang lain tidak boleh. Jangan banyak mencari banyak, carilah berkah. Banyak bisa didapat dengan hanya meminta. Tapi memberi akan mendatangkan banyak dan berkah.

Pesan-Pesan Gus Mus yang Patut Direnungkan - Santriwati Cantik
Pesan-Pesan Gus Mus yang Patut Direnungkan - Santriwati Cantik


Pesan-Pesan Gus Mus yang Patut Direnungkan

3. Tidak ada alasan untuk tak bersedekah kepada sesama. Karena sedekah tidak harus berupa harta. Bisa berupa ilmu, tenaga, bahkan senyum.

Santriwati Cantik

4. Apa yang kita makan, habis. Apa yang kita simpan, belum tentu kita nikmati. Apa yang kita infaqkan justru menjadi rejeki yang paling kita perlukan kelak.

5. Abadikan kebaikanmu dengan melupakannya.

Santriwati Cantik

6. Tawakkal mengiringi upaya. Doa menyertai usaha.

7. “Berkata baik atau diam” adalah pesan Nabi yang sederhana tapi sungguh penting dan berguna untuk diamalkan dan disosialisasikan.

8. Janganlah setan terang-terangan engkau laknati dan diam-diam engkau ikuti.

9. Mau mencari aib orang? Mulailah dari dirimu!

10. Hati yang bersih dan pikiran yang jernih adalah suatu anugerah yang sungguh istimewa. Berbahagialah mereka yang mendapatkannya.

11. Meski sudah tahu bahwa memakai kaca mata hitam pekat membuat dunia terlihat gelap, tetap saja banyak yang tak mau melepaskannya.

12. Awalilah usahamu dengan menyebut nama Tuhanmu dan sempurnakanlah dengan berdoa kepada-Nya.

13. Ada pertanyaan yang “tidak bertanya”; maka ada jawaban yang “tidak menjawab”. Begitu.

14. Sambutlah pagi dengan menyalami mentari, menyapa burung-burung, menyenyumi bunga-bunga, atau mendoakan kekasih.

15. Jangan awali harimu dengan melaknati langit.

16. Wajah terindahmu ialah saat engkau tersenyum. Dan senyum terindahmu ialah yang terpantul dari hatimu yang damai dan tulus.

Apa yang disampaikan Gus Mus di atas semoga menjadi manfaat buat kita semua, terutama untuk mengisi kekosongan suasana dakwah Islam yang hingga sekarang sering mengampanyekan radikalisme dan mengajak membuat permusuhan antar bangsa kian menggejala. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/pesan-pesan-gus-mus-yang-patut-direnungkan.html

Jumat, 26 Juli 2013

Assad Pernah Peringatkan Perancis

Karma. Anda tahu apa itu karma? Karma itu apa yang terjadi di Perancis kemarin. Insiden terorisme di sebuah Hall konser di Timur Paris, ratusan tewas. Presiden Perancis Francois Hollande menyatakan setidaknya 127 warga sipil tewas dan puluhan disandera.

Apa belum pernah ada yang memperingatkan kalian soal ini? Dialah Bashar al Assad, Presiden Suriah yang hendak kalian gulingkan itu. Ia sudah berkali-kali memperingatkan agar dunia tidak mensponsori para teroris asing yang "berjihad" di negaranya.

Eropa tidak menggubrisnya ketika pada 28 November 2014 ia berkata: "Prosentase terbesar dari para teroris Eropa yang datang ke negeri kami berasal dari Perancis. Dan kalian punya beberapa insiden terorisme di Perancis. Terorisme di Eropa tidak lagi tertidur, mereka telah dibangkitkan (oleh pemerintahnya sendiri)." Assad sudah berkali-kali memperingatkan bahwa ribuan teroris asal Eropa yang "berjihad" di Suriah dan mendapat sokongan dari Rezim-rezim NATO itu suatu saat akan pulang dan membuat ulah di negaranya masing-masing. Masih ingat kan pada 20 Januari 2014 Assad berkata: "Negara-negara Barat telah kehilangan kredibilitasnya.

Assad Pernah Peringatkan Perancis - Santriwati Cantik
Assad Pernah Peringatkan Perancis - Santriwati Cantik


Assad Pernah Peringatkan Perancis

Mereka telah menjual prinsip-prinsip mereka demi kepentingan semata. Saya tidak mempercayai Eropa, khususnya Perancis, kecuali ia mengubah kebijakan luar negerinya." Masih ingat kan saat Assad mengatakan ini? "Kami telah menyeru Barat agar mereka tidak menyokong Terorisme (di negeri kami) dan memberikannya perlindungan politik. Karena ini pasti akan berdampak pada negara kalian dan rakyat kalian sendiri. Mereka tidak mendengarkan kami." Eropa mengetahui industri Takfirisme dan Radikalisme itu sangat potensial. Demi menggulingkan Rezim Assad, NATO bersama USA dan Rezim-rezim Teluk menyirami bibit itu, menghabiskan Milyaran dollar untuk membesarkannya, menyokongnya, mempersenjatainya dan menyediakan kamp-kamp pelatihan untuknya di Jordania, Turki, Qatar dll lalu melepasnya di Suriah guna menggulingkan Rezim.

Tapi mereka lupa satu hal! Resiko Beternak anjing gila sang majikan pun bisa kena gigitannya. Karena hakikatnya anjing gila hanya tahu mengamuk. Para monster ini menganggap kafir, thoghut dan layak mati semua orang yang tak sejalan, meski terhadap tangan yang selama ini memberinya makan sekalipun. Siapa yang menyuruh kalian memelihara teroris? Bukankah Assad sudah memperingatkan kalian dengan kalimat berikut: "Terorisme bukanlah sebuah kartu yang bisa anda mainkan dan masukan kembali ke dalam kantong. Seperti kalajengking, ia akan menyengat setiap saat." Masih ingat saat Assad mengatakan ini. "Barat telah menghabiskan 10 tahun untuk memerangi Terorisme. Mereka telah membunuh jutaan manusia dengan dalih ini. Dan kini mereka menyokong para teroris yang sama di Suriah. Dan kini aku yang jadi penjahatnya?" Siapa yang menyuruh kalian beternak teroris? Bukankah Assad sudah memperingatkan kalian! Assad juga pernah berkata: "Barat telah bersepakat dengan para teroris dengan cara yang paling munafik. Mereka menyebutnya Terorisme jika aksi tersebut menghantam mereka, namun menyebutnya Revolusi, pembebasan, Demokrasi dan HAM jika itu menghantam kami (Suriah)." Apa yang ingin kalian katakan sekarang wahai Hipokrit? Dengarkan! sekali lagi dengarkan wahai Rezim-rezim yang menghabiskan uangnya di jalan setan, apa yang lagi-lagi pernah dikatakan Pemimpin Syam ini. "Para teroris hanya memiliki satu pesan.

Yang mana dari ideologi gelap yang mereka bawa, bagi mereka semua siapapun yang tidak berpikir seperti mereka tidak layak untuk hidup." Jangan menangis! Terlambat untuk menangis. Assad sudah 4,5 tahun menghadapi puluhan ribu teroris bersenjata binaan kalian dan sampai hari ini ia tetap tegar. Sedangkan kalian baru menghadapi beberapa teroris yang kalian biayai sendiri sudah kelabakan. Jangan sampai setelah ini kalian kembali menyalahkan Rusia (seperti yang biasanya NATO lakukan) dengan berkata "Gara-gara Rusia mengamuk di Suriah, akhirnya para teroris binaan kami kabur pulang kampung ke Eropa dan membuat ulah." Siapa suruh ternak anjing gila?

Para monster itu akan kembali ke negara masing2 dan pastinya akan berbuat ulah. Siap2 saja.

Santriwati Cantik

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/assad-pernah-peringatkan-perancis.html

Santriwati Cantik

Jumat, 24 Mei 2013

Sufi : Tampilan Suci Dalamnya Najis

Santriwati Cantik - Sufisme Suatu ketika seorang Sufi Abu Yazid al-Basthami berpapasan dengan seekor anjing, maka ia pun menarik ujung qamis yang dipakainya karena takut bersentuhan dengan anjing.

Sufi : Tampilan Suci Dalamnya Najis - Santriwati Cantik
Sufi : Tampilan Suci Dalamnya Najis - Santriwati Cantik


Sufi : Tampilan Suci Dalamnya Najis

Atas kuasa dan kehendak Allah Swt, anjing itu berkata kepada Abu Yazid: "Wahai tuan guru...ketika pakaianmu dikotori olehku, maka pakaianmu masih bisa disucikan lagi dengan tujuh kali basuhan. Tetapi jika engkau sendiri yang mengotorinya, maka ia tidak akan bisa suci sekalipun engkau membasuhnya dengan tujuh puluh lautan."

Abu Yazid berkata kepada anjing itu: "Engkau, tubuhmu najis tapi hatimu suci. Sedangkan aku, tubuhku suci tapi hatiku najis. Nampaknya kita harus bersama dulu untuk beberapa waktu, sampai akhirnya kita bisa menemukan apa yang bisa membersihkan diri kita masing masing"

Anjing itu berkata: "Engkau tidaklah pantas menyertaiku dan menemaniku, karena orang orang tidak menyukaiku. Kemanapun aku pergi, aku pasti ditolak dan dimusuhi orang orang. Sedangkan engkau itu dicintai orang orang. Kemanapun engkau pergi, pasti dipuja dan diterima orang. Orang orang ketika menjumpaiku, mereka akan menyapaku dengan lemparan batu. Sedangkan engkau ketika orang orang menjumpaimu, maka mereka akan menyapamu: "Assalaamu 'alaika yaa sulthoonal-'aarifiin.........Salam untukmu wahai rajanya orang orang yang mengenali Allah." Engkau...engkau memiliki sedangan gandum, sementara aku tidak memiliki sepotong tulang pun untuk besok."

Abu Yazid berkata: "Jika untuk menemani dan menyertai seekor anjing saja aku tidak layak, maka bagaimana aku bisa menyertai jiwa jiwa yang disucikan, bagaimana aku kuat menghadap ke Hazhrah Tuhanku yang Maha Agung." Santriwati Cantik

Kisah lain: Jalaluddin Rumi Pun Digebuki Ketika Habib Baharun Diajak Memancing

NB: Semoga kita tidak pernah merasa orang lain lebih rendah dan hina dari diri kita.

Hakikatnya manusia itu sama, diciptakan dari tanah, hidup diatas tanah, dan akan kembali kedalam tanah.

Baik dan mulianya manusia tergantung Iman dan Taqwanya, sedang Iman dan Taqwa itu semata mata taufiq dan hidayah pertolonganNya, tanpa pertolonganNya...manusia tidak akan punya itu. Jadi apa yang layak kita banggakan...hingga merasa diri ini lebih suci dari orang lain. padahal sejatinya Iman dan Taqwa itu juga bukan milik kita, cuma sekedar titipan yang harus dirawat dan dijaga.

Jangan pernah membenci orang lain karena keburukannya, karena pada hakikatnya...ia ada didunia ini atas kehendak dan kuasaNya.

Ia tidak pernah menciptakan sebuah kesia-siaan, segala sesuatu dari ciptaanNya pasti mengandung hikmah dan makna yang tersirat.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/tampilan-suci-dalamnya-najis.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Cantik sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Cantik. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Cantik dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock