Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 April 2017

Mantan Ketua IPPNU Blitar Dilantik Jadi Kepala SMK NU Wlingi

Blitar, Santriwati CantikKetua Pimpinan Cabang Lembaga Pendidikan Maarif NU Kabupaten Blitar H Muslih mengatakan, Sekolah Menengah Kejuaran (SMK) Islam sebagai lembaga milik Nahdlatul Ulama memiliki peran sangat strategis dalam menyiapkan kader NU militan untuk mengisi peran-peran penting dalam berbagai bidang kehidupan.

Paling utama bagaimana lembaga pendidikan NU ini di dalam menanamkan ajaran dan nilai-nilai Islam Ahlussunah wal-Jamaah Annahdliyah, katanya saat pelantikan Kepala Sekolah Menengah Kejuaruan Islam (SMKI) II Wlingi Blitar, Jawa Timur pada 31 September 2016. Terpilih sebagai Kepala Sekolah SMKI II Wlingi Hasanah. Ia adalah mantan Ketua Pimpinan Cabang IPPNU Kabupaten Blitar

Mantan Ketua IPPNU Blitar Dilantik Jadi Kepala SMK NU Wlingi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mantan Ketua IPPNU Blitar Dilantik Jadi Kepala SMK NU Wlingi (Sumber Gambar : Nu Online)


Mantan Ketua IPPNU Blitar Dilantik Jadi Kepala SMK NU Wlingi

Pelantikan dihadiri Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Blitar KH Imam Sugrowardi, Wakil Ketua PCNU Baharuddin, Ketua BPNU Darul Huda Wlingi dan beberapa pengurus MWCNU dan Badan Otonom NU.

Santriwati Cantik

SMK Islam milik Nahdlatul Ulama ini berdiri sejak tahun 1995 di atas tanah seluas 1.3 hektar. Sekolah yang berada di lingkungan Pesantren Darul Huda Wlingi tersebut, memiliki jurusan Teknik Jaringan Komputer (TKJ), Teknik Permesinan, Teknik Otomotif Umum dan Teknik Otomotif Sepeda Motor.

Santriwati Cantik

SMK Islam Wlingi II termasuk salah satu SMK unggulan meski berlokasi di Kota Wlingi sehingga ribuan siswa mengenyam pendidikan di sekolah kebanggaan warga NU tersebut. (imam kusnin ahmad/abdullah alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71670/mantan-ketua-ippnu-blitar-dilantik-jadi-kepala-smk-nu-wlingi

Senin, 24 Oktober 2016

Pesantren Global Napak Tilas Penaklukan Konstantinopel

Malang, Santriwati Cantik. Kajian rutin yang diasuh langsung oleh Agus Sunyoto di Pesantren Global, Malang, Selasa (26/2), menapaktilasi perjuangan Muhammad al-Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel. Dimulai dengan nonton bareng film Fetih 1453yang menceritakan perjuangan Muhammad al-Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel.

Setelah melihat perjuangan al-Fatih, Agus Sunyoto dan beberapa santri yang hadir merefleksikan kisah film yang di adopsi dari novel yang berjudul Fetih 1453 tersebut.

Pesantren Global Napak Tilas Penaklukan Konstantinopel (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Global Napak Tilas Penaklukan Konstantinopel (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesantren Global Napak Tilas Penaklukan Konstantinopel

Menurut Romo, sapaan akrab Agus Sunyoto di Pesantren itu, negara yang kuat akan terbentuk dengan kecintaan masyarakatnya. Hal itu terlihat jelas dalam film itu, dimulai dari warga, tentara, penasehat hingga sultan sangat menjunjung tinggi negara hingga akhirnya memperoleh kemenangan, meski dengan perjuangan yang tidak sebentar, 40 hari lebih.

Kecintaan seorang pimpinan harusnya tergambar dalam tindak-tanduk Murat sultan sebelum Mahmet yang lebih mencintai negara dengan mendedikasikan dirinya pada negara, bahkan mengesampingkan keluarganya sendiri, Itulah yang dibutuhkan Indonesia saat ini, dan masih belum ada hingga saat ini, ujarnya.

Santriwati Cantik

Selain itu, sejarah yang tidak boleh dilupakan dari perjalanan Muhammad al-Fatih ialah sikap moderat selaku pemimpin. Pola kepemimpinan Muhammad al-Fatih hampir sama dengan apa yang telah dilakukan oleh Sholahuddin al-ayyubi, yakni ketika menang dalam peperangan tidak semena-mena balas dendam dan membunuh semua musuh, namun sebaliknya, Mahmet II memberi kebebasan beragama dan keamanan pada siapapun.

Hal ini yang tidak pernah dilakukan oleh bangsa Eropa ketika menjajah. Mereka akan memberangus habis semua jajahan dan memaksakan ajaran Katolik, tak pelak dendam dan konflik pun akan terus terjadi antara katolik dan Kristen ortodoks akibat perbuatan keji sang pemenang perang.

Santriwati Cantik

Masa ketika Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel adalah masa awal Wali Songo di Indonesia, pungkas Agus.

Pesantren Global Tarbiyatul Arifin sendoro yang bertempat di belakang Pemandian Wendit, Malang. Pesantren ini dibesut oleh Agus Sunyoto, sejarawan NU penyusun Atlas Wali Songo.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Diana Manzila

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42798/pesantren-global-napak-tilas-penaklukan-konstantinopel

Santriwati Cantik

Sabtu, 30 Juli 2016

Cara Maki-Maki ke Gus Mus Sesuai Saran Beliau

Santriwati Cantik - Setelah dibully oleh netizen akibat ulahnya menghina KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Pandu Wijaya (Probolinggo) bersama dua orang lainnya, yakni Bahtiar (Pemuda asal Tegal) dan Hasan Albetas, sowan ke rumah beliau di Leteh Rambang, Jumat (25/11/2016) sore.

Cara Maki-Maki ke Gus Mus Sesuai Saran Beliau
Cara Maki-Maki ke Gus Mus Sesuai Saran Beliau


Ini berita penghinaan Pandu Wijaya: Menghina Gus Mus "Bid'ah Ndasmu", Karyawan Adhi Karya Ini Diburu!

Dalam sehari, Gus Mus menerima tamu yang telah menghinanya. Ya, ketiga nama di atas tercatat pernah melakukan penghinaan kepada Gus Mus di media sosial. Jika Pandu Wijaya menghina secara kasar menggunakan bahasa Jawa, "Bid'ah Ndasmu", maka Hasan Albetas menyebut "Mukamu aja bidah mus" dalam akun Facebooknya. Ini cepretan status Hasan Albetas:

Status Hasan Albetas yang menhina Gus Mus

Begitu juga dengan Bahtiar Prasojo. Anak Tegal ini datang sowan ke Leteh karena mengaku salah telah menghina Gus Mus, tokoh sangat dihormati warga NU seluruh dunia. Dalam akunnya, ia menyebut kasar Gus Mus sebagai orang yang tidak layak disebut kiai dan gus. Ini status kasarnya.

Status Bahtiar Prasojo yang menghina Gus Mus Setelah sowan, Bahtiar membuat status di akun Facebooknya Bahtiar Prasojo yang berisi pesan dari Gus Mus. Nasihat yang diucapkan Gus Mus kepada dirinya adalah: 1). "Janganlah menjadi orang yang jika senang, terlalu senang, dan jika benci, terlalu benci. Nanti Anda tidak bisa berbuat adil," 2) "Jangan menghakimi dan memvonis seseorang sebelum mengenalnya."

Kendati Gus Mus sendiri tidak ingin menuntut apa-apa dari Pandu, Bahtiar dan Hasan Albetas, bahkan menganggap tidak ada yang perlu dimaafkan, Pandu dkk. tetap datang sowan untuk meminta maaf. Bagi Gus Mus, kesalahan Pandu dkk. mungkin hanyalah menggunakan "bahasa khusus" yang digunakan di tempat umum. Ini tweet Gus Mus:

Tweet Gus Mus memaafkan Pandu Wijaya Ning Iyah, salah putri Gus Mus, menceritakan ketika abahnya ndawuhi (memberikan nasihat) kepada tamu-tamu itu. Ini dawuh Gus Mus ke mereka, "nomerku catet yo.. awakmu nek arep muring2 apa meh misuhi aku kari wa.. dadi wong2 gak ana sing reti/ nomorku catat ya, kalau kamu ingin ngamuk-ngamuk apalagi menghardik, tinggal WA saja aku, jadi orang-orang tidak ada yang tahu," tulis Ning Iyah dalam WA menirukan perkataan abahnya, sekitar pukul 5. 24 PM (25/11/2016).

Melihat Abahnya yang tabah ke penghinanya itu, Ning Iyah hanya mengucap, "ya Allah.....Abah". Sepertinya, Ning Iyah sedang melihat Abahnya sedang memberikan teladan baik kepada siapa pun.

Bukan hanya itu, Gus Mus juga bersedia foto selfie bersama Pandu Wijaya dan kawan-kawan yang telah menghinanya. Foto-foto ini didapatkan Santriwati Cantik dari beberapa group santri yang beredar serta dari akun Facebook M Dhofarul Muttaqqiin. [Santriwati Cantik/ab]

Sedeku: Pandu Wijaya (kiri) sedang mendengarkan dawuh Gus Mus

Minta Maaf: Bahtiar (dua dari kiri) sowan ke Gus Mus Dari kiri: Pandu Wijaya, Gus Mus dan Hasan Albetas

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/ini-cara-maki-maki-ke-gus-mus-sesuai-saran-beliau.html

Rabu, 04 Februari 2015

Kiai Said: Kita Benar dalam Beragama dan Bernegara

Jepara, Santriwati Cantik. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj saat hadir dalam Silaturrahim PBNU di Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang Desa Gemiring Lor Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara, Rabu (17/9), menyatakan NU sudah benar dalam beragama dan bernegara.

Nahnu minas shabil haq. Alhaqqud dini was siyasi. Kita adalah pembawa kebenaran dalam beragama dan bernegara, kata Kiai Said kepada ribuan santri dan jamaah Rebonan pesantren itu.

Kiai Said: Kita Benar dalam Beragama dan Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Kita Benar dalam Beragama dan Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)


Kiai Said: Kita Benar dalam Beragama dan Bernegara

Menurutnya, NU telah mengikuti ulama. Ulama terangnya merupakan terusan dari Nabi dan jamaatus shahabah. Organisasi yang didirikan KH Hasyim Asyari ini berpedoman pada al-Quran dan Hadits. Di samping itu juga berpedoman pada ijma dan qiyas.

Santriwati Cantik

Bagi lelaki berusia 61 tahun itu, penggunaan ijma dan qiyas adalah niscaya. Ia menyontohkan sebuah qiyas burhani tentang hamr. Al-Quran hanya mengharamkan hamr, arak. Apakah hukum narkoba dan semacamnya halal? tanyanya.

Sesuai dengan kaidah qiyas burhani semua barang yang memabukkan dihukumi haram. Kiai Said juga menyontohkan qiyas Aulawi. Kalau saja membentak orang tua tidak diperbolehkan apalagi memukulnya, misalnya.

Santriwati Cantik

Selain benar dalam agama, al-haqqud dini, NU tambahnya juga benar dalam al-haqqus siyasi, kebenaran berbangsa dan bernegara. NU menyatakan Pancasila tidak boleh diubah karena sudah final. NKRI harga mati. Karenanya, NU menolak keras kelompok yang hendak menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54551/kiai-said-kita-benar-dalam-beragama-dan-bernegara

Santriwati Cantik

Kamis, 13 Februari 2014

Kiai Said Mendapat Pertanyaan Kasar Ormas Sebelah

Santriwati Cantik - Saat itu, masih di periode awal milenium ketiga, persisnya pada tahun 2001, beberapa bulan setelah "perseteruan" saya dengan sebuah ormas Islam bertendensi anarkis.

Dan perlu saya garis bawahi ini bukan dendam pribadi atau perseteruan personal saya dengan anggota laskar mereka, tetapi benar-benar karena materi da'wah saya yang cenderung moderat dianggap melemahkan perjuangan mereka, hingga malam itu mereka datang dengan -secara istiadat umum- sangat mengganggu tatakrama bertamu.

Lalu saya sempat matur ke Kiai Said Aqil Siradj, yang saat itu belum menjadi Ketum PBNU. Pertemuan saya dengan beliau, juga di majelis ta'limnya -saat itu rutin mengikuti kajian tafsir Ar-Razi di kediaman beliau Ciganjur, direspon baik. Kiai Said bersedia datang ke kampung saya untuk memberikan pencerahan.

Kiai Said Mendapat Pertanyaan Kasar Ormas Sebelah - Santriwati Cantik
Kiai Said Mendapat Pertanyaan Kasar Ormas Sebelah - Santriwati Cantik


Kiai Said Mendapat Pertanyaan Kasar Ormas Sebelah

Sebuah perhelatan kecil segera saya siapkan, bertajuk halaqoh kebangsaan dengan mengangkat diskusi soal format da'wah Islam kontemporer. Saya mengundang para asâtidz kampung kami. Beberapa petinggi ormas Islam itu juga saya undang, hadir.

Santriwati Cantik

Pendek cerita, Kiai Said mendapatkan porsi luas sebagai pembicara tunggal. Beliau membedah Sirah Nabawi dalam kemasan fiqh da'wah yang penuh spirit cinta kasih lewat uraian tafsir QS Al-Fîl serta menggunakan rujukan Kitab I'ânah ath-Thâlibîn pada saat menguraikan terminologi Jihad.

Semua termangu saat Kiai Said membacakan nyaris satu lembar kitab Fathul Mu'in dengan hafalan di luar kepala. Beliu juga menyampaikan bahwa dengan metode da'wahnya yang moderat telah mengislamkan lebih dari 200 orang non-muslim. Kita sudah mengerti bahwa metode dakwah beliau jauh dari kesan sesat, apalagi liberal, nyata menjadi jalan hidayah buat para muallaf.

Santriwati Cantik

Saya yang menjadi memoderator halaqah tersebut tak banyak menyampaikan uraian. Saya benar-benar ingin memberi kesempatan luas kepada 40-an ustâdz dan kiai di kampung yang hadir. Tiba saatnya, ada salah satu pengurus ormas Islam itu mengajukan pertanyaan, yang membuat saya terhenyak. Bahkan Kiai Said sempat terlihat menelan ludah saat mendengar pertanyaan sang ustadz bergamis putih dan berimamah ini, begini dia bertanya:

"Pemaparan kiai tentang jihad boleh jadi benar, tapi saya mau tanya perasaan dan sikap kiai aja dah, seandainya anak perempuan kiai diperkosa didepan mata kiai, apa yang kiai lakukan? Apa kiai akan diam saja dan memaafkan si pemerkosa?."

Glek!

Saya segera mengingatkan sang ustadz untuk menjaga sopan santun dan adab dalam menyampaikan pertanyaan, tapi sang ustadz malah membentak saya, "kenapa saya disebut tidak sopan, saya mah nanya pake perasaan aja dah, kaga usah pake dalil panjang-panjang."

Saya menoleh Kiai Said, dan beliau mengambil mikrofon lalu mejawab sambil tersenyum tanpa amarah sama sekali, lalu memberikan jawaban panjang mengenai akhlaq seorang muslim menyikapi kemungkaran.

Kata kunci yang masih saya ingat adalah menegakkan amar ma'ruf bil ma'ruf (menyeru kebaikan dengan kebaikan) dan nahi munkar bil ma'ruf (mencegah kemunkaran juga dengan cara penuh kebaikan). Beliau memang tidak secara langsung menjawab pertanyaan sang ustadz, tetapi terhadap pertanyaan yang tidak santun seperti itu jawaban Kiai Said saya rasa sangat tepat.

Sayangnya sang ustadz tidak terima, ia berkali-kali mendesak dan membuat suasana gaduh, lalu saya coba menenangkan, tapi sang ustadz tetap dengan gayanya yang arogan sambil tangan menunjuk-nunjuk ke arah Kiai Said, namun kiai tetap tenang, tersenyum dan sama sekali tak menunjukkan amarahnya.

Sang ustadz pun meninggalkan ruangan, acara berlanjut kepada tanya jawab dari peserta lain, berjalan khidmat hingga menjelang sore, kami mengakhirinya dengan sholat Ashar berjamaah diimami abuya KH. Muhali dan do'a oleh Kiai Said.

Saat mengantar beliau ke mobil, saya berbisik lirih seraya mohon maaf atas kejadian tadi. Beliau hanya menepuk bahu saya dan berpesan, "Mas Huda yang sabar yaaa. Menghadapi mereka ndak perlu dengan kekerasan. Jihad kita dengan terus mewujudkan spirit rahmatan lil'alamin, saya mendukung penuh perjuanganmu di tempat ini."

Saya menangguk seraya menjawab, "inggih kiai, mohon do'a dan nasihat-nasihat kiai". Saya mencium tangan beliau dan menyerahkan map dan amplop berisi sedikit bisyâroh hasil gajian. Beliau menerimanya lalu meraih tangan saya,

"Mas Huda, saya datang karena ingin mendukung perjuangan dakwah sampean. Ini saya terima tapi saya kembalikan lagi untuk dakwahmu di kampung ini, sering-sering buat acara seperti ini agar banyak pencerahan buat mereka". Saya kaget, beliau menolak pemberian tulus ini dan memberi teladan yang tidak pernah saya lupakan. Sami'na wa atha'na kiai.

Untuk sang guru yang menjadi teladan dalam da'wah saya, KH. Said Aqil Siradj, semoga Allah paringi kesehatan dan panjang umur, bisirri asrâr al-fâtihah. [Santriwati Cantik]

Enha, pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/kesederhanaan-kiai-said-saat-dihardik-pertanyaan-kasar-ormas-sebelah.html

Selasa, 24 Desember 2013

Foto 2006 Disebar Lagi Untuk Provokasi Kebencian Tionghoa

Santriwati Cantik - Dalam sepekan ini beredar foto warga keturunan Tionghoa yang menggunakan atribut mirip pakaian Satuan Brimob Polda Sumut di jejaring sosial. Foto-foto itu menimbulkan pertanyaan besar. Banyak di antara netizen yang menyalahkan pemerintah.

Dalam foto tersebut sembilan orang warga keturunan Tionghoa terlihat berdiri rapi dalam pose berfoto.

Selain manggunakan baret, mereka juga menggunakan tanda kepangkatan plus sepatu hitam mengkilat.

Foto tersebut sempat dikaitkan dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Forum Bhayangkara Indonesia (FBI) yang juga menggunakan seragam layaknya anggota Polri.

Mulai lencana, seragam hingga baret.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Rina Sari Ginting, mengatakan ke sembilan orang tersebut memang mengunakan seragam satuan Brimob.

"Benar memang seragam yang digunakan tersebut milik Polri," katanya, Senin (19/12/2016).

Ke sembilannya orang yang diebut bermata sipit itu, kata Rina, adalah warga sipil yang mahir menggunakan peralatan musik dan tergabung dalam Korps Musik (Korsik) Brimob Polda Sumut. "Mereka adalah orang sipil yang menggunakan seragam polisi," ujarnya.

Menurutnya, mereka hanya menggunakan seragam pada moment tertentu di Polda Sumut. Dan mereka hanya tampil khusus untuk membawakan musik.

Namun, mantan Kapolres Binjai ini mengaku heran dengan kembali beredarnya foto tersebut. Dia mengatakan foto tersebut didokumentasikan pada tahun 2006. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/foto-2006-disebar-lagi-untuk-provokasi-kebencian-tionghoa.html

Rabu, 03 April 2013

Konfercab NU Jombang 2017 Siap Digelar dengan Pendanaan Mandiri

Jombang, Santriwati Cantik. Ketua Panitia Konfercab Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Munif Khusnan, mengungkapkan, persiapan Konfercab (konferensi cabang) sudah mulai memasuki tahap terakhir, dan beberapa persiapan yang belum rampung dalam waktu dekat ini akan segera terselesaikan.

Pernyataan ini disampaikan Munif dalam acara Tasyakkuran Hari Lahir (harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-94 dan Silatda (silaturahim daerah) kader penggerak NU di Gedung Serbaguna KH Hasbullah Said, Tambakberas, Jombang, Rabu (12/4/17) malam.

Konfercab NU Jombang 2017 Siap Digelar dengan Pendanaan Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab NU Jombang 2017 Siap Digelar dengan Pendanaan Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)


Konfercab NU Jombang 2017 Siap Digelar dengan Pendanaan Mandiri

"Seharusnya pada malam hari ini sudah penyerahan materi dan ID card peserta Konfercab NU Jombang. Tapi karena beberapa hal maka harus ditunda sampai tanggal 15 April 2017," jelasnya.

Ia menambahkan, Konfercab PCNU Jombang yang akan dilaksanakan pada tanggal 22-23 April 2017 di Pondok Pesantren Tebuireng itu sepenuhnya difasilitasi oleh warga Nahdliyin sendiri, khususnya dari sisi pendanaan, sehingga pihak manapun tidak bisa mengintervensi kegiatan NU.

Santriwati Cantik

"Untuk pertama kalinya, dana Konfercab ditanggung oleh warga Nahdliyin sendiri yang tidak ada motif apapun selain niat mengabdi buat NU. Bisa jadi ini adalah langkah pertama bagi PCNU seluruh nusantara," tegasnya.

Di sela-sela kegiatan harlah berlangsung, terpantau di lokasi, LAZISNU Jombang menyerahkan sumbangan dana sebesar 27.028.705 dari sejumlah sumbangan yang dihimpun oleh sejumlah kader penggerak NU pada beberapa bulan terahir.

Santriwati Cantik

"Bantuan dari LAZISNU Jombang ini menambah uang yang sudah terkumpul dari Pengurus Anak Cabang, ranting dan Banom, ini membuktikan bahwa NU bisa mandiri jika mau berusaha," tegasnya. (Syamsul Arifin/Mukafi Niam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76975/konfercab-nu-jombang-2017-siap-digelar-dengan-pendanaan-mandiri

Santriwati Cantik

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Cantik sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Cantik. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Cantik dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock