Tampilkan postingan dengan label Netizen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Netizen. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2017

Jangan Hanya Tiru Tampilan Fisik Nabi Muhammad SAW

Jombang, Santriwati Cantik. Dalam pandangan Imam Suprayogo, ketertinggalan umat Islam saat ini tidak dapat dipisahkan dari cara beragama yang semata mengejar penampilan. Sudah saatnya kaum muslimin justru meniru sifat dan pekerti luhur Nabi Muhammad SAW.

Jawaban ini didapatkan mantan Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang ini saat berkunjung ke salah seorang pengasuh pesantren. "Karena yang ditiru umat Islam saat ini semata aksesoris dari Nabi Muhammad SAW," katanya menirukan jawaban sang kiai, Sabtu (5/11).

Jangan Hanya Tiru Tampilan Fisik Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Hanya Tiru Tampilan Fisik Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)


Jangan Hanya Tiru Tampilan Fisik Nabi Muhammad SAW

Dalam penjelasannya, kiai itu mengatakan bahwa hingga kini kaum muslimin hanya mengejar penampilan dengan memanjangkan jenggot, membesarkan sorban, serta tampilan luar yang lain. "Tapi perilaku shiddiq, amanah, tablig, serta fathonah tidak ditiru," jelasnya.

Baginya, kemajuan dunia Barat hingga saat ini bukan karena mereka kenal secara baik siapa Nabi Muhammad SAW. "Tapi karena watak dan perilaku mereka meniru apa yang ada pada Beliau, walapun mereka tidak kenal," tegasnya.

Santriwati Cantik

Karenanya, Ketua Yayasan Universitas Hasyim Asyari (Unhasy) Jombang ini berpesan agar umat Islam segera menyudahi perburuan tampilan fisik. "Siapapun yang berperilaku seperti Nabi Muhammad, maka yang bersangkutan akan sukses," ungkapnya.

Pandangan ini disampaikan Imam Suprayogo saat tampil sebagai pemateri pada kegiatan Aktualisasi Resolusi Jihad yag diadakan di Pesantren Tebuireng. Sejumlah ulama, habaib, kiai, kalangan profesional serta akademisi ikut hadir pada acara yang berlangsung di aula pesantren setempat.

Santriwati Cantik

Pada acara tersebut hadir antara lain Tuan Guru Turmudzi, Habib Sholeh Al-Jufri, KH Anwar Manshur, Tuan Syech Akbar Marbun, KH Ahmad bin Zain Al-Kaff, KH Mahfudz Syaubari, Habib Nabil Al-Musawwa, KH Hanif Muslih, serta tuan rumah KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah).

Masing-masing membubuhkan tanda tangan pada Piagam Tebuireng Aktualisasi Resolusi Jihad yang juga dikuatkan kehadiran Asisten Teritorial (Aster) Panglima TNI, Mayjend TNI Wiyarto. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72707/jangan-hanya-tiru-tampilan-fisik-nabi-muhammad-saw

Santriwati Cantik

Jumat, 12 Februari 2016

IPNU-IPPNU Kencong Fokus Kaderisasi dan Pengembangan Kualitas

Jember, Santriwati CantikKaderisasi dan pengembangan kualitas kader merupakan program prioritas bagi Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kencong di masa-masa mendatang. Sebab, dua hal ini dinilai sangat mendesak bagi penetrasi organisasi sayap kepemudaan NU tersebut.

Demikian salah satu butir penting yang dihasilkan dalam Rapat Kerja Pengurus Cabang IPNU-IPPNU Kencong di aula SMK Daarul Muqamah, Gumukmas, Jember, Jawa Timur, yang berakhir Ahad (18/9).

IPNU-IPPNU Kencong Fokus Kaderisasi dan Pengembangan Kualitas (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kencong Fokus Kaderisasi dan Pengembangan Kualitas (Sumber Gambar : Nu Online)


IPNU-IPPNU Kencong Fokus Kaderisasi dan Pengembangan Kualitas

Menurut Ketua PC IPNU Kencong Muhammad Mansur, rekrutmen kader ke depan akan menyasar semua lembaga pendidikan dan pesantren. Kami akan rekrut kader sebanyak-banyaknya. Kalau bisa semua pelajar akan kami IPNU-kan, ujarnya kepada Santriwati Cantik melalui sambungan telepon seluler.

Santriwati Cantik

Mahasiswa semester akhir Jurusan Matematika FKIP Univeritas Islam Jember tersebut menambahkan, pondok pesantern akan menjadi perhatian khusus dalam rekruitmen kader. Dikatakannya, wilayah Cabang Kencong, sebenanya cukup banyak berdiri pesantren, sehingga santri-santrinya perlu diakomodasi dalam wadah IPNU-IPPNU. Target kami, di semua sekolah dan pesantren itu berdiri komisariat IPNU, ungkapnya.

Sedangkan mengenai pengembangan kualitas kader, lanjut Mansur, pihaknya akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memberikan, bahkan meningkatkan kualitas kader, baik menyangkut kepemimpinan, keterampilan dan lain-lain. Ketika kader memiliki keterampilan yang cukup, maka secara pasti akan meningkatkan performa organisasi. Dengan demikian, maka manfaat organisasi, dalam hal ini IPNU-IPPNU akan semakin dirasakan oleh masyarakat, ujarnya.

Santriwati Cantik

Rapat kerja itu sendiri berlangsung dua hari, diikuti oleh 50 peserta yang berasal dari 5 PAC IPNU-IPPNU se-Cabang Kencong. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71333/ipnu-ippnu-kencong-fokus-kaderisasi-dan-pengembangan-kualitas

Kamis, 20 November 2014

Pengurus NU Diminta Fokus Kawal Program Kerja Produk Muktamar

Bandung, Santriwati Cantik. Ketua PWNU Jawa Barat, Dr H Eman Suryaman mengatakan, saat ini pengurus NU diharapkan lebih fokus untuk mengawal program-program kerja produk Muktamar Ke-33 NU. Menurutnya, Muktamar NU sudah selesai dan semuanya patut bersyukur karena lancar, dinamis dan semakin berkualitas.

"Kita sepatutnya bersyukur muktamar berlangsung meriah dan menyenangkan. Jika ada pihak yang kurang berkenan dan bicara lain di luar, biarkan saja. Kita tidak usah bereaksi. Sudah biasa dalam organisasi seperti ini. Tinggal kita bersabar. Barangkali mereka masih emosi, nanti tunggu beberapa waktu juga reda sendiri," terangnya, Sabtu (8/8).

Pengurus NU Diminta Fokus Kawal Program Kerja Produk Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU Diminta Fokus Kawal Program Kerja Produk Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)


Pengurus NU Diminta Fokus Kawal Program Kerja Produk Muktamar

Di mata Eman, pihak-pihak yang merasa tidak puas dengan kegiatan Muktamar agar menghargai panitia yang sudah bekerja keras mengawal Muktamar dari awal hingga akhir. Menurutnya, persoalan kecewa, misalnya soal registrasi atau pelayanan dan ketatnya memasuki ruang persidangan itu bukan hanya dialami oleh satu pihak.

Santriwati Cantik

"Saya sendiri juga mengalami perasaan yang kurang mengenakkan. Tetapi kita juga harus bersikap dewasa. Panitia itu punya tanggungjawab penuh meraih target sukses. Jadinya ketat. Di hari pertama saya dan teman-teman juga merasa, kok ini sepertinya panitia sangat menekan peserta, tetapi pada akhirnya harus sama-sama sadar apa yang dilakukan panitia untuk kebaikan bersama," paparnya.

Ia berharap kepada semua pihak agar tidak membuat panas suasana, termasuk media massa yang sering mengambil judul atau kata-kata yang provokatif berkaitan isu Muktamar tandingan, muktamar ulang, kecurangan, NU pecah dan seterusnya.

Santriwati Cantik

"Harus proporsional melihat Muktamar secara umum. Situasi Muktamar berlangusng baik. Insiden kecil sudah biasa terjadi. Begitulah dinamika," terang penulis buku Jalan Hidup Sunan Gunung Jati yang baru terbit Juli 2015 ini.

Lebih lanjut Eman berpesan agar semua sumberdaya NU saat ini lebih fokus bergerak secara aktif mengawal mandat Muktamar yang meletakkan spirit gerakan dakwah di jalur budaya dengan spirit Islam-Nusantara. Fokus melanjutkan gerakan pembangunan rumah sakit, pendirian sekolah dan kampus. Juga serius menggerakkan ekonomi rakyat karena warga NU mayoritas berada di lapisan ekonomi bawah. (Yus Makmun/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/61489/pengurus-nu-diminta-fokus-kawal-program-kerja-produk-muktamar

Santriwati Cantik

Selasa, 11 Juni 2013

Mengapa NU Terseret Politik Praktis di Pilkada DKI? Polemik Istighatsah Tanpa Ijin

Santriwati Cantik - Acara Istighotsah Kebangsaan yang digelar oleh Warga Nahdliyin Jakarta di Masjid al-Huda Jl Talang No 3 Jakarta Pusat, mengundang polemik. PWNU mengirimkan rilis yang memprotes istighotsah itu.

Anehnya, rilis hanya ditandatangani Rais Syuriah dan Wakil Ketua Tanfidziyah. Kalau resmi, rilis itu mestinya ditandatangi oleh Rais Syuriah, Katib Syuriah, Ketua Tanfidziyah dan Sekretaris Tanfidziyah. Tapi yang menarik, sejak kapan Istighotsah Nahdliyin perlu izin PWNU?

Mengapa NU Terseret Politik Praktis di Pilkada DKI? Polemik Istighatsah Tanpa Ijin - Santriwati Cantik
Mengapa NU Terseret Politik Praktis di Pilkada DKI? Polemik Istighatsah Tanpa Ijin - Santriwati Cantik


Mengapa NU Terseret Politik Praktis di Pilkada DKI? Polemik Istighatsah Tanpa Ijin

Apalagi yang mengadakan adalah tokoh NU yakni Djan Faridz yang mantan Ketua Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta (2011-2014) dan dihadiri oleh KH Nur Iskandar SQ, yang baru sembuh dari sakit, yang pernah dikabarkan wafat gara-gara menolak Aksi 411 (Alhamdulillah Kiai, njenengan dipanjangkan umur dan diberi kesehatan setelah difitnah macam-macam).

Bagi pihak yang menolak istighatsah ini menganggap istighasah ini politis, karena diadakan oleh Djan Faridz yang juga Ketua Umum PPP dan hanya dihadiri oleh salah seorang Cagub yakni Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Santriwati Cantik

Kita sayangkan politisasi ini, tapi, politisasi terhadap NU tidak hanya dilakukan oleh Djan Faridz, karena sampai ke struktur PBNU juga melakukan. Rais Aam Syuriah, Ketum PBNU dan Sekjend PBNU hanya menerima Paslon Nomer 1: Agus-Sylvi pada bulan Oktober tahun lalu, bahkan diberi KartaNU.

Santriwati Cantik

Sejak kapan Agus jadi NU, peduli ke NU, datang ke NU dan sowan ke Kiai, tiba-tiba dapat keistimewaan diberi KartaNU dan langsung oleh Rais Aam PBNU dan Ketum PBNU? Apa kriteria ini? Saya saja yang dari lauhul mahfudz sudah NU, hingga lahir dan besar, perlu ngantri untuk dapat KartaNU. Hehehe..

Banyak yang curiga karena Sekjen PBNU juga merupakan politisi PKB dan anggota DPR Fraksi PKB yang satu koalisi dengan Cikeas. Tanpa mengurangi rasa hormat pada Rais Aam PBNU, Kiai Ma'ruf Amin (semoga Allah SWT memberikan beliau kesehatan dan panjang umur) adalah Watimpres zaman SBY dan pada Pilkada 2012 mendukung Foke yang merupakan cagub dari Demokrat.

Andai PBNU dan struktur PBNU tidak main-main dengan khittah 1926 yakni benar-benar netral dari politik praktis, maka pihak-pihak lain akan segan melakukan politisasi NU, tapi karena di Pengurus Besarnya sudah "main" maka tidak heran, pihak-pihak lain juga akan melakukan hal yang sama dengan dalih yang bermacam-macam, apalagi di NU dikenal yang kuat adalah jamaah dan kiainya, bukan di strukturnya. Di NU tergantung kiai, juga tergantung ke mana arah politik kiai.

Andai PBNU melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Keluarga Gus Dur di Ciganjur dalam Acara Haul bulan Desember 2016, yakni mengundang semua calon maka, ini akan memberikan dampak yang lebih baik. Meski kita juga tahu, Keluarga Gus Dur sangat dekat secara emosional dengan Ahok.

Ahok pernah diberikan Gus Dur Award dan Ahok membangun RPTRA dengan patung Gus Dur Kecil di depan Taman Amir Hamzah di depan kantor Wahid Institute. Tapi, kedekatan dan kesukaan keluarga Gus Dur pada Ahok, tidak mengurangi mereka untuk bersikap adil pada calon-calon yang lain.

Jadi, kalau menurut Al-Quran, "janganlah kebencianmu pada suatu kaum mendorong mu tidak berbuat adil" maka dalam pesan yang lain bisa juga ditangkap, "janganlah kecintaanmu pada suatu kaum mendorong mu tidak berbuat adil." Jadi, meskipun Sekjen PBNU adalah politisi PKB dan satu koalisi dengan Cikeas, harusnya bisa bersikap adil pada cagub-cagub lain.

Publik dan warga NU juga tidak bisa dibohongi, bicara Khittah 1926 dan netral politik, ternyata malah "main" dengan salah satu Paslon Cagub. Ini yang benar-benar disayangkan, sehingga ini menyeret kemuliaan Rais Aam PBNU dan nama baik NU secara jam'iyyah.

Intinya, banyak pihak yang sekarang "main" di NU, khususnya para politisi NU yang masuk di banyak parpol yang tergantung dengan arah koalisi Cagub. Secara struktural PKB memegang NU di Tanfidziyahnya. Tentu saja mereka melakukan segala helah agar NU tetap bisa dimanfaatkan untuk Paslon mereka dan melakukan "blocking" terhadap pengaruh dari politisi-politisi NU dari non-PKB.

Politisi NU dari parpol lain tidak kehilangan akal, karena sebenarnya warga NU sangat cair, tergantung pada kiai. Di sinilah mereka tetap bisa "main". Karena kiai ibaratnya adalah pemilik saham di NU, yang punya jamaah.

Meskipun kiai ini tidak masuk dalam struktur NU, tapi punya jamaah yang banyak dan sudah dikenal sebagai kiai NU, maka tidak ada yang bisa membendung pengarung kiai tersebut. Gelar kiai juga dapat dari pengakuan masyarakat, bukan diberi oleh struktur NU.

Maka, apabila struktur NU, yakni Jam'iyyah NU dikooptasi oleh satu parpol, oleh satu kepentingan politik tertentu, pastilah akan ada perlawanan dari gerakan kultural, jamaah NU yang bisa saja ditunggangi kelompok-kelompok politik lain. Dan NU terjebak dalam pusaran politis yang tak ada habisnya.

Biar gak mumet, apa solusinya?

Ke depan dan untuk jangka panjang, pengurus struktur NU harus benar-benar menunjukkan keseriusan dan komitmen pada Khittah 1926, artinya ya jangan "main" politik. Kehadiran Agus-Sylvi ke PBNU itu jelas-jelas bagian dari "main politik". Kalau ada pihak-pihak saat ini yang menyeret-nyeret NU, maka itu tidak lebih dari reaksi terhadap oknum PBNU yang mempolitisasi NU dgn kehadiran Agus-Sylvi.

Nah, agar tidak "main" politik, maka pengurus di PBNU jangan dipilih dari politisi, seperti Sekjen PBNU sekarang yang berasal dari politisi dan anggota DPR PKB. Sebagai "petugas partai", Sekjen PBNU sekarang pastilah akan membela habis-habisan kepentingan partainya di PBNU dengan pelbagai dalih: PKB dilahirkan NU, hanya PKB yang peduli NU dan Kiai dll. Harusnya kalau konsisten dan Khittah 1926, maka, tidak boleh ada satu parpol yang punya klaim dan satu-satunya yang punya akses, bahkan menguasai NU.

Untuk jangka pendek, masih ada waktu bagi PBNU untuk menetralisir semua ini dengan mengundang semua Paslon agar tidak dianggap sepihak dengan "permainan" oknum di PBNU yang mendukung Pasangan Agus-Sylvi saja. Cara Keluarga Gus Dur bisa ditempuh.

Ini cara yang sangat arif yang bisa meletakkan politik keadilan dan kesetaraan, semua Paslon diundang. Meski kita juga tahu, Nyai Yenny Wahid adalah seorang politisi, yang juga punya arah politik tapi tidak mengurangi kearifan Keluarga Gus Dur untuk bersikap adil.

Maka, untuk menunjukkan netralitas PBNU dan komitmen pada Khittah 1926, bisa mengundang semua Paslon, memberikan doa dan taushiyah kebangsaan bagi mereka, siapapun yang menang, terserah pilihan warga DKI.

Kalau ada pertanyaan, bagaimana dengan Ahok yang bukan muslim? Kalau memakai argumen kaidah fiqih, maka mudah menjawabnya yang biasa dilakukan oleh kiai-kiai NU, bahwa pencalonan Ahok adalah produk konstitusi negeri ini, yang selama ini dikenal dengan akronim PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45).

Maka, apabila NU rela dan setia pada dasar-dasar dan pilar-pilar di atas, harusnya rela dengan apa yang menjadi produk dari konstitusi.

Kaidahnya berbunyi الرضا بالشيء رضاً بما يتولد منه, rela pada sesuatu, maka harus rela apa yang lahir dari sesuatu itu. Konstitusi Indonesia tidak mengenal perbedaan agama dan suku dalam pencalonan. Maka secara konsisten NU harus rela dan setia pada produk konstitusi itu. Dengan tidak membeda-bedakan Paslon berdasarkan perbedaan agama dan suku.

Kalau tidak rela pada produk Konstitusi ini, maka NU nanti bisa mengusulkan amandemen, perubahan UUD 1945 yang mengharuskan agama Islam, misalnya, menjadi salah satu syarat sebagai calon pemimpin di negeri ini. Jika ini terjadi, NU akan sama dengan DI/TII, Masyumi, FPI, FUI, Majelis Mujahidin, dllnya. Tapi ini tidak akan terjadi, insya Allah, karena Konstitusi 18 Agustus 1945 dan Amandemen UUD setelah reformasi merupakan hasil ijtihad politik orang-orang NU juga.

Kesimpulan, untuk menjaga Khittah NU, ke depan, pengurus-pengurus NU jangan diambil dari politisi. Janganlah politisi yang "nyambi" pengurus NU. Jangan pula menampakkan dukungan dan keterlibatan dengan salah satu partai dan Paslon tertentu, klau pun mau hadir sebagai bagian dari dakwah dan syiar, maka adillah, hadiri semuanya. Jangan mengistimewakan salah satu parpol dan pasangan saja yg selama ini terjadi.

Untuk jangka pendek dalam konteks Pilkada DKI, PBNU mestinya bisa mengundang semua calon dan mendoakan semuanya serta memberikan nasehat pada semuanya. Dengan demikian bisa ditepis kedekatan dan "permainan" oknum di PBNU terhadap salah satu Paslon. Kira-kira demikian. Wallahul muwaffiq ila Aqwawith Thariq. [Santriwati Cantik]

Solihin Hidayat, warga NU pendatang di Jakarta, tidak punya KTP Jakarta, masih KTP Madiun.

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/mengapa-nu-terseret-politik-praktis-di-pilkada-dki-jakarta.html

Minggu, 26 Mei 2013

Hari Ibu Dimulai dari Pertemuan Pejuang Wanita Tahun 1928 di Jogja

Santriwati Cantik - Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22 – 25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung Dalem Jayadipuran yang sekarang berfungsi sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional dan beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso.

Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dhien, Tjoet Nyak Meutia, R.A. Kartini, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dan lain-lain. (Yang Menyebut Ibu Nabi di Neraka, Kurangajar)

Hari Ibu Dimulai dari Pertemuan Pejuang Wanita Tahun 1928 di Jogja - Santriwati Cantik
Hari Ibu Dimulai dari Pertemuan Pejuang Wanita Tahun 1928 di Jogja - Santriwati Cantik


Hari Ibu Dimulai dari Pertemuan Pejuang Wanita Tahun 1928 di Jogja

Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan.

Santriwati Cantik

Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan gender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di banyak tempat yang tidak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate.

Santriwati Cantik

Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama.

Di Solo, misalnya, 25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu, panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok.

Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung. Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1946.

Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa. Selamat Hari Ibu utk semua perempuan Indonesia. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/hari-ibu-dimulai-dari-pertemuan-pejuang-wanita-tahun-1928-di-jogja.html

Sabtu, 22 Desember 2012

Cara Indah Menggambar Nabi Muhammad Saw

Santriwati Cantik - Kau tahu anakku, manakala beberapa kartunis Denmark ramai-ramai ingin memvisualisasi baginda Rasululllah shallallahu alaihi wasallam dengan imajinasi kotor mereka, kita marah, jelas marah. Tapi apakah kita melawan dengan anarkis? Tidak. Itu tidak akan menyelesaikan masalah, anakku. Ingatlah kalimat indah dari Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam 'Jaddid Hayatak' bahwa laut tidak akan pasang gara-gara lemparan kerikil seorang bocah.

Banyak yang melakukan tindakan anarkistis menyikapi kartun tolol tersebut. Tapi, tahukah engkau anakku, ada kisah keren menanggapi karikatur bodoh tersebut. Ya, kisah sekelompok anak-anak muda Inggris yang memutuskan membagikan mawar dan buku-buku biografi Nabi Muhammad kepada orang awam yang berlalu lalang. Ini langkah cerdas, anakku. Sukakah kau? Kuharap demikian.

Cara Indah Menggambar Nabi Muhammad Saw - Santriwati Cantik
Cara Indah Menggambar Nabi Muhammad Saw - Santriwati Cantik


Cara Indah Menggambar Nabi Muhammad Saw

Ada juga kisah lain manakala Habib Ali al-Jufry yang memutuskan berangkat ke Denmark dan menemui salah satu karikaturis yang dengan konyol dan tolol menggambarkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Apakah keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itu langsung memukul dan mencaci maki sang kartunis? Oh tidak. Jelas itu bukan metode akhlak warisan datuknya.

Habib Ali Al-Jufry dengan lembut menjelaskan akhlak, kemuliaan, dan karakteristik Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Penjelasan yang membuat kartunis itu terpekur dan tidak menyangka betapa mulianya tokoh yang ia karikaturkan.

Santriwati Cantik

Sudah cukup? Belum anakku. Habib Umar bin Hafidz, keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang murah senyum itu pernah mendarat di Denmark. Manakala rombongan menginjakkan kaki di bandara, tiba-tiba beliau disambut dengan pembacaan shalawat Nabi oleh sekelompok muslimin Denmark, hingga beliau menoleh ke Habib Salim, putranya, lalu berkata "Bahkan, di negara yang pernah kartunisnya pernah memvisualisasi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ini, kau lihat anakku, kita disambut dengan pembacaan shalawat Nabi".

Anakku, apa kau sudah mengantuk, sayang? Dalam peringatan hari lahir Kanjeng Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ada segelintir pihak yang mempermasalahkan keabsahan ritual mulia ini. Sejenak, lupakan celoteh orang-orang sinis nan aneh itu. Buang-buang waktu saja meladeni celoteh kebencian. Setidaknya kau bisa menukar waktu debatmu dengan cara menonton film ringkas inspiratif.

Santriwati Cantik

Isinya, seorang guru di Prancis yang memerintahkan para muridnya menggambar Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Seorang anak muslim termenung, lalu ia melaksanakan perintah gurunya dengan cara menuliskan tentang Rasulullah shallallahu alaihi wasalam dan citra beliau bagi dirinya, anggota keluarganya dan umat Muslim. Di bagian belakang tulisannya, sang murid pun hanya menulis kata “Muhammad”. Keren, bukan? [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/12/cara-indah-menvisualkan-nabi.html

Jumat, 27 April 2012

Doa Ibu Lebih Utama dari Wali Besar Manapun

Santriwati Cantik - Di Hadramaut (Yaman), setiap orang yang datang menghadap Habib Salim atau habaib sepuh yang alim di Tarim untuk minta didoakan, selalu mendapat pertanyaan yang sama; apakah kamu masih memiliki permata (ibu) di rumahmu?

Jika jawabannya, masih. Maka beliau dengan halus mengatakan, "tahukah kamu, bahwa doa ibu untukmu, lebih mulia dan lebih maqbul daripada doa seorang wali besar sekalipun."

Ketika Habib Umar Bin Hafidz dan abangnya Habib Ali Masyhur Bin Hafidz masih bayi dan sering menangis, Ibunda mereka Hubabah Zahra akan memeluk dan membelai anak-anaknya sambil mengusap kepala mereka.

Kepada Habib Ali Masyhur, beliau sering berbisik "mufti, mufti" dan sekarang, Habib Ali Masyhur telah menjadi Mufti Yaman. Kepada Habib Umar sang ibu selalu berdoa "da'i, da'i". Dan kini Habib Umar telah menjelma menjadi Da'i Islam terkenal di zaman ini.

Rasulullah ﷺ bersabda orang tua adalah pintu surga yang paling tengah, maka jangan sia-siakan pintu itu atau jagalah ia. (HR. Tirmidzi).

Ingat, ibu adalah pintu surga bagi anak-anaknya, dan ayah adalah jembatan menuju kepadanya. Air susu ibu yg kita minum adalah saripati makanan hasil jerih payah dan keringat ayah yang mencari nafkah untuk keluarga. Karena itu, muliakan lah mereka.

Mau keluar rumah, jangan lupa cium tangan Ibu dan Ayah. (Ingatlah ketika kita masih kecil, kita selalu dipeluk dan diciumnya). Bila kita sudah bekerja atau berkeluarga, atau tak tinggal serumah, Sering-sering lah mengunjunginya.

Bila tidak memungkinkan, teleponlah agar beliau senang dan ridlo atas seluruh jerih payah dan setiap tetesan susu yang telah menjadi darah daging kita. Semoga Allah SWT meridloi kita dan keluarga tercinta. Aamiin. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/doa-ibu-lebih-utama-dari-wali-besar-manapun-muliakanlah.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Cantik sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Cantik. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Cantik dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock