Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Desember 2016

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam

Jakarta, Santriwati Cantik. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengaku tak terlalu serius menanggapi stigma ahli bidah (mengada-ada dalam beribadah) yang diarahkan padanya maupun organisasi yang ia pimpin. Hal itu dilakukannya demi menjaga kerukunan di antara sesama umat Islam di Indonesia.

Dicap bidah-lah, dianggap kurang Islam-lah, saya biarkan aja. Kalau ditanggapi, saya khawatir jadi konflik nantinya. Kalau sudah konflik, meluas, dan akhirnya Islam mudah dipecah-belah, ujar Hasyim kepada wartawan usai menerima kunjungan Duta Besar Swiss untuk Indonesia Bernardino Regazzoni di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (9/1) kemarin.

Presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP) itu mengaku, hal yang dilakukannya didasari atas pertengkaran umat Islam di Timur Tengah yang hingga saat ini tak kunjung mereda. Meski sadar bahwa pertengkaran tersebut bukanlah didasari persoalan agamamelainkan konflik politik, menurutnya, hal itu cukup menjadi bukti bahwa umat Islam mudah sekali diadu-domba.

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)


Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam

Ketika umat Islam berhasil diadu-domba, maka, lanjut Hasyim, kondisi tersebut berarti membuka peluang bagi pihak luar untuk memanfaatkan Islam. Hal itulah, katanya, yang sedang terjadi pada umat Islam di Irak, terutama pasca eksekusi mati mantan Presiden Irak Saddam Hussein.

Video eksekusi Saddam terus ditayangkan. Saya yakin, maksudnya itu supaya orang Sunni marah dan berkelahi dengan Syiah. Sementara sekarang kepemimpinan Irak dipegang Syiah. Nah, saat mereka berkelahi, Amerika Serikat masuk ngambil minyak, urai Hasyim yang juga Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars.

Hal yang sama juga ia lakukan ketika sejumlah aset milik warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU) seperti masjid dan madrasah diambil-alih oleh kelompok Islam garis keras. Ia yakin, jika ditanggapi apalagi dengan kekerasan, maka akan tumbuh benih-benih perpecahan di antara umat Islam.

Santriwati Cantik

Biarkan saja. Saya tidak mungkin nyuruh warga NU marah dan mengambil lagi masjid atau madrasahnya. Saya yakin, masyarakat sendiri yang nanti akan menentukan sikap. Kalau nggak diadili langsung oleh masyarakat, ya, masjidnya ditinggalin jamaah, ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur itu.

Ditambahkan Hasyim, meski umat Islam di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia relatif tenang. Namun, bukan tidak mungkin ketenangan itu akan diusik, seperti halnya di Timur Tengah. Jangan sampai hal itu (konflik: Red) terjadi di Asia Tenggara, juga di Indonesia. Kuncinya jangan sampai tercerai berai, imbaunya.

Santriwati Cantik

Untuk kepentingan itu, Hasyim akan mengusahakan pertemuan rutin para pemimpin organisasi kemasyarakat (ormas) Islam di Indonesia, tak terkecuali ormas Islam yang tergolong garis keras. Saya ingin tokoh-tokoh Islam Indonesia kumpul, minimal tiga bulan sekali di sini (PBNU). Ya, sekedar silaturrahim aja. Biar kita bisa berkomunikasi dan saling terbuka, harapnya. (rif)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/5811/tak-tanggapi-stigma-bid039ah-demi-kerukunan-umat-islam

Santriwati Cantik

Selasa, 30 Agustus 2016

Muslimat NU Jepara Fokus pada Tiga Garapan

Jepara, Santriwati Cantik. Pimpinan Cabang Muslimat NU Jepara masa khidmah kepengurusan 2015-2020 akan fokus pada tiga hal yakni kesehatan, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan.

Hal ini disebutkan Ketua PC Muslimat NU Jepara Hj Noor Ainy di sela-sela kegiatan Gebyar Anak dan Guru PAUD yang dihelat Muslimat setempat di Gedung NU Jepara, Sabtu (19/03) siang.

Muslimat NU Jepara Fokus pada Tiga Garapan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Jepara Fokus pada Tiga Garapan (Sumber Gambar : Nu Online)


Muslimat NU Jepara Fokus pada Tiga Garapan

Dalam bidang kesehatan, sebut dia, Muslimat NU Jepara saat ini memaksimalkan keberadaan Klinik Masyitoh yang berada di Gedung NU Jepara. Untuk hal pendidikan, melalui Yayasan Pendidikan Muslimat (YPM), Muslimat NU Jepara akan menjaga kualitas dan kuantitas lembaga pendidikan yang dinaunginya, mulai dari kelompok belajar (KB), taman pendidikan Al-Quran (TPQ), pendidikan anak usia dini (PAUD), hinga raudlatul athfal (RA).

Santriwati Cantik

Sedangkan untuk sosial kemasyarakatan, Muslimat NU sedang membangun Lembaga Kesejahteraan Anak Asuh Darul Hadlonah yang lokasinya juga di Gedung NU Jepara. Kami merencanakan setelah lebaran mendatang anak-anak yatim sudah bisa menempati panti ini, papar Ainy.

Klinik Masyitoh tujuannya untuk melayani kesehatan warga. Darul Hadlonah untuk menyayomi anak yatim. Sementara itu, pendidikan yang tujuannya untuk mencerdaskan anak bangsa pihaknya mempunyai mimpi agar kelak memiliki gedung pendidikan tersendiri.

Agar tiga garapan ini berjalan dengan maksimal, pihaknya menjalin kerja sama dengan para pemangku kepentingan. Klinik Masyitoh bekerja sama dengan DKK dan BP2KB. Unsur pendidikan dengan Dikpora dan Kemenag serta Lembaga Kesejahteraan Anak Asuh dengan Dinsos.

Santriwati Cantik

Ia mengatakan, tanpa turut serta dari pemerintah garapan-garapan Muslimat mustahil berjalan dengan mulus. Noor Ainy berharap pemerintah berkenan memberikan sumbangsih material dan moral untuk program-program Muslimat ini.

Kekompakan Muslimat NU dari tingkat Ranting, Anak Cabang hingga Cabang, tegas sarjana agama ini, merupakan kekuatan Muslimat untuk terus berkhidmah kepada bangsa dan negara.

Kami banyak kendala, mas, karena ibu-ibu sibuk mengurusi rumah tangga sehingga susah untuk mengatur waktu untuk berorganisasi. Tetapi dengan komitmen yang ada, bisa teratasi, terang ibu yang tinggal di Mantingan RT.04 RW.01 Tahunan, Jepara.

Kegiatan Muslimat NU Jepara juga selalu mendapat dukungan dari PCNU setempat di bawah kepemimpinan KH Hayatun Abdullah Hadziq (Ketua PCNU) dan KH Ubaidillah Nur Umar (Rais Syuriyah).

Jika kucuran dana pemerintah seret, kata Ainy, para anggota akan iuran Rp1000-Rp10.000 untuk keberlangsungan kegiatan-kegiatan yang dijalankan Muslimat NU Cabang Jepara. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66660/muslimat-nu-jepara-fokus-pada-tiga-garapan

Santriwati Cantik

Jumat, 19 Agustus 2016

Pemuda NU NTT Dialog Antikorupsi Bersama Lintas OKP

Kupang, Santriwati Cantik. Para pimpinan organisasi kepemudaan di lingkungan NU, antara lain dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Gerakan Pemuda Ansor, dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bersama lintas organisasi pemuda lainnya menggelar dialog antikorupsi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Acara yang diprakarsai oleh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) NTT ini mengusung tema Posisi dan Peran strategis Pemuda dalam Pemberantasan Korupsi dan berlangsung Selasa (15/12) lalu di gedung Graha Pena, Kupang.

Pemuda NU NTT Dialog Antikorupsi Bersama Lintas OKP (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda NU NTT Dialog Antikorupsi Bersama Lintas OKP (Sumber Gambar : Nu Online)


Pemuda NU NTT Dialog Antikorupsi Bersama Lintas OKP

Hadir dalam dialog lintas pemuda tersebut Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) NTT Heri Boki, Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor NTT Abdul Muis, Ketua Pimpinan Cabang PMII Kupang, Ketua PW IPNU NTT, dan pimpinan organisasi lainnya, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kupang, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kupang, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Kupang, LSM Kompak Kota Kupang dan beberapa OKP Lokal.

Santriwati Cantik

Forum tersebut di antaranya mengundang pembicara Dedi Manafe (akademisi Universitas Nusa Cendana), Paul Sonlolaloe (LSM PIAR), dan Stanley Boymau (Redaksi Timor Expres).

Paul Sonlolaloe, dalam kesempatan tersebut menyinggung peran pemuda dalam pemberantasan korupsi, termasuk soal pencegahan serta penindakan terkait berbagai kasus hukum di wilayah NTT.

Santriwati Cantik

Ia mengatakan, persoalan korupsi di NTT yang paling dominan ditemukan pada sektor pembangunan infrastruktur. Korupsi dilakukan secara berjamaah lantaran terjadi pembagian jatah dari pusat sampai ke daerah. Gerakan pemberantasan korupsi belum berjalan maksimal, karenanya ia mendorong pemuda turut mengawasi korupsi yang terjadi di NTT.

Menurut Dedi Manage dari Universitas Nusa Cendana, pemuda menjadi harapan bagi masa depan bangsa ini. Berbagai tipe yang dianggap jati diri menjadi sebuah ujian kita dalam mengatasi gerakan pengantasan korupsi.

Perwakilan Redaksi Media Lokal Timor Expres, Stenly Boimau mengatakan, media bersama berbagai pihak harus berani membuka tabiat para pelaku korup di NTT. Berbagai langkah yang dilakukan media, seperti melakukan advokasi, itu ruang lingkup serta dukungan moril dari masyarakat bahwa apapun bentuknya masalah korupsi tidak bisa ditolerir, katanya. (Ajhar Jowe/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/64347/pemuda-nu-ntt-dialog-antikorupsi-bersama-lintas-okp

Santriwati Cantik

Senin, 25 Juli 2016

Klaim Logo NU untuk Annas, KH Athian Ali Ditegur

Acara Pengukuhan dan Pelatihan Pengurus Aliansi Nasional Anti-Syiah (ANNAS) yang akan digelar pada Ahad, 22 November 2015, di Aula KONI Gelanggang Olahraga Kota Bogor dirundung masalah. Sebab di dalam undangan tersebut mencantumkan logo organisasi besar Nahdlatul Ulama (NU). Membaca berita tersebut, Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat (PWNU-Jabar) H. Ki Agus Zaenal Mubarok langsung angkat bicara.

Klaim Logo NU untuk Annas, KH Athian Ali Ditegur
Klaim Logo NU untuk Annas, KH Athian Ali Ditegur


“Saya melihat pada brosur yang beredar di media online itu tercantum logo Nahdlatul Ulama tanpa menyertakan nama daerah tertentu. Ini bisa menjadi masalah karena dengan begitu muncul seakan-akan itu organisasi NU secara nasional. Kedua, PCNU setempat (Kota Bogor-Red) juga tidak mengetahui apalagi terlibat dalam acara tersebut,” ujarnya kepada Katakini.com, Jumat 20/11/2015.

Tokoh NU Jabar yang biasa dipanggil Pak Deden tersebut berpesan kepada panitia acara, terutama kepada KH. Athian Ali (Ketua ANNAS-Red) agar tidak mengklaim organisasi NU untuk kepentingan gerakannya. Apalagi gerakan itu tidak sejalan dengan PBNU.

Pengajar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjajaran itu memberi pandangan, untuk menjadi besar dan mendapat tempat di masyarakat NU dan Muhammadiyah itu tidak sebatas memakai acara gelar deklarasi dan penggalangan seperti acara politik melainkan tumbuh berkembang dari rahim pendidikan, sosial dan kultural.

“Besarnya NU selain karena para aktivisnya, para kiai-kiai itu mendidik masyarakat dari pesantren dan madrasah. Selain itu NU juga lekat dengan kegiatan sosial dan gerakan kultural. Dan lebih penting lagi Pak Kiai Athian Ali harus paham, NU besar karena sikap sabar, bukan karena sikap emosional apalagi memakai tindakan barbar seperti teror dan kekerasan."

Deden menambahkan, Organisasi NU juga tidak besar karena sering publikasi di media apalagi hanya publikasi aliansi dengan deklarasi. Menurutnya, Bangsa Indonesia itu terwujud dan besar bukan karena acara proklamasi 17 Agustusnya, melainkan perjuangannya pemimpin dan rakyatnya dalam masa panjang melalui dan yang lebih penting lagi adalah kontribusi kepada bangsa dan negara.

“Itulah mengapa NU tetap menarik masyarakat karena NU dengan Islam Nusantara-nya lebih menekankan pentingnya Islam yang partisipatif ketimbang Islam yang aspiratif. Islam partisipatif itu memberi, sedangkan Islam aspiratif itu meminta atau menuntut. Apakah kita orang Islam itu kerjaannya hanya meminta dan menutut saja tanpa mau memberi?,” terangnya memberikan masukan kepada kelompok yang oleh Kiagus disebut sebagai kelompok Islam skriptual dan simplistis itu.

Kepada kelompok KH.Athian Ali itu Kiagus berharap agar mereka segera melakukan klarifikasi secara terbuka. “Jika tidak, itu berarti memang ada kesengajaan untuk memanfaatkan NU. Dan itu akan menjadi masalah besar di masyarakat, ”pungkasnya. [Viv/Rahmat].

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/klaim-logo-nu-untuk-annas-kh-athian-ali.html

Jumat, 08 November 2013

Membongkar Rencana Busuk Khasebul Katholik

Niat ingsun, lillahi ta’ala untuk keadilan, kedamaian, dan kemanusiaan.Santriwati Cantik - Saya telah tuntas membaca buku Islam Jowo Bertutur Sabdaraja: Pertarungan Kebudayaan, khasebul, dan Kerja Misi, karya teman seperguruan, Mbakyu Bray Sri Paweling. Isi di dalamnya sungguh mendebarkan, dan saya 101 persen membenarkan analisis Mbakyu Weling—panggilan akrab Bray Sri Paweling.

Saya juga mengikuti tanggapan dan respons dari sejumlah kalangan, termasuk resensi yang digubah oleh penulis anonim, Khasebul Katolik dan Runtuhnya Islam-Tradisi Jawa dan tanggapan dari seorang bernama Natalius Pigai, Benarkah Pater Beek, CSIS, dan Misi Katolik Merusak Budaya Jawa dan Kesultanan.

Membongkar Rencana Busuk Khasebul Katholik - Santriwati Cantik
Membongkar Rencana Busuk Khasebul Katholik - Santriwati Cantik


Membongkar Rencana Busuk Khasebul Katholik

Tentang tulisan pertama dari penulis anonim, saya tidak punya komentar, karena 99% sejalan dengan ide dalam buku Mbakyu Weling, sedangkan untuk tulisan kedua, ada beberapa catatan yang ingin saya jelaskan di sini.

Santriwati Cantik

Pertama, Natalius sepertinya ahistoris dan salah duga, yang menyebutkan seolah-olah penulis resensi buku Mbakyu Weling adalah Dr. Syaganda Nainggolan, padahal bukan, sebagaimana telah saya konfirmasi langsung kepada teman-teman paguyuban Islam Jawa. Kesalahan Natalius ini sebenarnya remeh, tapi cukup mengganggu konsentrasi dengan tiba-tiba menyebut Syaganda. Mungkin, Natalius membaca resensi buku yang penulisnya anonim itu karena diposting oleh saudara Syaganda, sehingga menduga kalau penulisnya adalah si pemosting.

Kedua, tulisan Natalius sama sekali tidak menyinggung pada pokok pikiran yang ada dalam resensi buku maupun bukunya langsung, sebab saya yakin, ia belum membaca dan memilikinya. Jadi wajar kalau tulisannya terasa hambar, seperti tubuh tak bertulang. Tetapi, Natalius justru mengafirmasi berdasarkan analisa historis yang ia kemukakan, bahwa memang telah terjadi konspirasi sejak tahun 1960-an yang dilakukan oleh Pater Beek, CSIS, dan Khasebul untuk kerja-kerja misi.

Pengakuan Natalius tersebut semakin menguatkan data-data yang terhampar detail dalam buku Mbakyu Weling. Dan yang lebih utama, afirmasi Natalius semakin meyakinkakan kami bahwa Khasebul alias fundamentalisme Katolik itu bukanlah hantu atau fiktif, tetapi berwujud nyata dan telah berhasil melakukan banyak agenda gerakan misi “Katolikisasi”.

Santriwati Cantik

Ketiga, Natalius berlindung di balik sejarah tentang akulturasi budaya Jawa Keraton dengan ajaran Katolik, yang menurutnya telah berlangsung lama sejak pra-kemerdekaan RI, bahkan konon era Sultan Hamengkubuwono VII (1877-1921). Argumen ini sepintas benar, tetapi justru merunyamkan masalah.

Natalius tidak jeli dan abai bahwa sejak Amangkurat IV (1719-1724) merupakan orang pertama menggunakan gelar khalifatullah, yang menegaskan perubahan konsep lama raja Jawa, dari perwujudan dewa menjadi wakil Allah di dunia. Dan ini jelas dan nyata pengaruh Islam sangat kuat serta formal, sebagaimana terlihat dalam gelar Sultan: Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Alaga Abdur Rahman Sayidin Panatagama Kalifatullah.

Tentang Sultan Hamengkubuwono VII yang disebutkan sangat toleran dan mengizinkan penyebaran agama Katolik di bumi Jogja itu adalah keniscayaan sebagai konsekuensi dari gelar Abdur Rahman Sayyidin Panatagama, yang berarti Sultan dianggap sebagai penata, pemuka dan pelindung agama, dan khalifatullah sebagai wakil Allah di muka bumi.

Tetapi yang terjadi hari ini, atau tepatnya sejak 2005 pasca-Sabdaraja, gelar yang menunjukkan simbol Islam itu telah dihapus atas inisiatif lingkaran Khasebul, seperti tertuang tegas dalam buku Mbakyu Weling, berdasarkan pengakuan langsung dari informan internal Keraton dan orang-orang Khasebul.

Pada akhirnya, saya memaklumi, Natalius yang berada di Jakarta tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Jogja. Kami yang berada di sekitar Keraton, dan bahkan di bilik cagaknya, bukan hanya suara jangkring yang terdengar, tapi juga rencana busuk Khasebul fundamentalisme Katolik lewat lingkaran orang-orang dekat Sultan.

Apa perlu kami ceritakan pula bagaimana Kristenisasi itu berlangsung kejam sejak era kolonialisme Belanda lewat Fransiscus Georgius Josephus van Lith—yang oleh Natalius disebut sebagai misionaris Belanda yang berkarya di Jawa—berhasil merekrut secara massal anak-anak muslim yang kala itu sekolah, sampai-sampai Karel Steenbrink mencatat, bahwa anak laki-laki yang masuk sekolah Katolik adalah semuanya muslim dan semuanya tamat sebagai orang Katolik. Korban utama dari Kristenisasi generasi awal dari kalangan pribumi ini adalah Soegijapranata, atau dikenal sebagai Romo Sogieja, yang tak lain adalah cucu dari seorang kiai di Jogja.

Atau apa perlu juga kami update berita tentang bagaimana Kristenisasi itu masih terus berlangsung sampai hari ini, di sekitaran Merapi-Merbabu, Kulonprogo, dan Gunungkidul, atau dari arah Muntilan-Magelang? Kami tahu semua, dan sengaja memilih diam dengan paling hanya melakukan peneguran secara kekeluargaan. Kami sadar, bahwa fundamentalisme Katolik melakukan kerja misi dengan cara memanfaatkan jargon Jogja city of tolerance.

Tetapi apa terus kami akan diam? Tidak! Di balik layar, kami akan bergerilya dan membangunkan semua jaringan untuk membentengi akidah umat Islam. Sedangkan di muka layar, atas nama toleransi, kami orang Jogja, juga siap menyambut rencana kunjungan Paus Fransiskus, pimpinan tertinggi umat Katolik, yang dijadwalkan tahun 2017 akan melewati karpet merah-darah Keraton Yogyakarta.

Suatu saat nanti, mungkin kami perlu membangunkan kembali dan menjalin kerjasama dengan ormas-ormas Islam yang sejak awal kontra-Kristenisasi, dari yang moderat sampai garis keras. Dan kepada kelompok Khasebul, teruslah berkelit atas fenomena ini, karena dengan cara itu kami bisa bangkit, amunisi data masih menumpuk, untuk sekadar berkampanye buruk rupa umat Katolik, agar tercipta kesadaran “Katolikfobia” di Indonesia. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/membongkar-rencana-busuk-khasebul-katholik.html

Sabtu, 29 Juni 2013

Sebab-sebab Perkawinan Dini Temuan Fatayat NU

Jakarta, Santriwati Cantik. Di tahun 2012, di wilayah ASEAN, Indonesia adalah negara dengan jumlah perkawinan anak tertinggi kedua setelah Kamboja (BKKBN 2012). Sementara data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2012 menyebutkan jumlah perempuan yang menikah di usia 10-15 tahun mencapai 11,13 persen; sedangkan perempuan usia 16-18 tahun menikah sebanyak 32,10 persen (BPS, 2013).

Artinya, perempuan yang melangsungkan perkawinan di usia sampai dengan 18 tahun di Indonesia pada tahun 2012 mencapai sekitar 43,23% atau hampir separuh dari jumlah perkawinan yang terjadi.

Sebab-sebab Perkawinan Dini Temuan Fatayat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebab-sebab Perkawinan Dini Temuan Fatayat NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Sebab-sebab Perkawinan Dini Temuan Fatayat NU

Penelitian yang dilakukan Fatayat NU (2016) melalui Pusat Informasi Kesehatan Reproduksi Perempuan (PIKER) dan Lembaga Konsultasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (LKP3A), menemukan perkawinan anak terjadi karena 3 faktor, yaitu kemiskinan, pemahaman keagamaan, dan tekanan sosial.

Santriwati Cantik

Perkawinan kerap dianggap sebagai jalan keluar dari ketidakberuntungan ekonomi. Orangtua maupun anak melihat perkawinan dapat mengentaskan kemiskinan. Orangtua berharap dengan perkawinan, anak mendapatkan kehidupan lebih baik dan lebih terjamin secara ekonomi. Sedangkan bagi anak, perkawinan sebagai salah satu cara meringankan beban orangtua.

Pemahaman keagamaan juga menjadi faktor mengapa perkawinan anak masih terjadi. Larangan berpacaran dalam Islam dan kekhawatiran zina menjadi salah satu alasan mendasar. Pacaran dianggap melanggar ajaran agama sekaligus bentuk tindakan dosa. Tanggung jawab orangtua dalam menjaga anak (perempuannya) akan terbebas dengan menikahkan mereka. Menikahkan anak juga merupakan salah satu bentuk pemenuhan hak anak yang seharusnya dipenuhi orangtua selain memberikan nama yang baik dan mendidik anak.

Santriwati Cantik

Sementara itu, anak menilai perkawinan yang dijalaninya merupakan bentuk kebaktian. Ajaran agama yang menegaskan birrul walidain (berbuat baik pada orantua) dipahami [salah satunya] dengan tidak menolak keputusan orangtua dalam menikahkan/menjodohkan anaknya. Menolak keputusan orantua adalah dosa, meski hati sang anak sebenarnya tidak ingin menikah di usianya saat itu.

Usia yang dianggap sudah tua meski baru belasan tahun, kunjungan laki-laki, dan kehamilan yang di luar perkawinan menjadi alasan mendasar terjadinya perkawinan anak. Ketika anak sudah berusia belasan tahun, orangtua merasa khawatir anaknya tidak laku jika tidak ada yang melamar. Begitu anak akan masuk usia belasan, orangtua buru-buru mencarikan jodoh untuk sang anak atau menerima pinangan yang ditujukan pada anak perempuannya.

Keyakinan bahwa sekolah tinggi mengakibatkan anak perempuan kesulitan mendapatkan jodoh juga masih ditemukan. Hal ini mengakibatkan anak segera buru-buru ditunangkan dan dinikahkan pada saat masih usia sekolah di tingkat SMP atau SMA.

Selain itu, ketika anak perempuan sudah memiliki pacar dan kerap dikunjungi sang pacar di rumahnya, orangtua merasa risih dengan desas-desus yang muncul. Hal itu menjadikan orangtua merasa penting segera menikahkan anak, agar tidak menjadi sumber gosip dan mempertaruhkan nama keluarga, apalagi sampai terjadi kehamilan. Kehamilan yang terlanjur terjadi menjadi alasan yang tidak dapat ditawar bagi orangtua untuk menikahkan anaknya, tanpa peduli apakah masih usia anak atau sudah dewasa.

Penelitian dilakukan dengan wawancara mendalam kepada 14 perempuan yang pernah menjalani perkawinan anak, tersebar di Jakarta, Depok, Lebak, Jember, Medan, dan Makassar. Perkawinan anak pada penelitian ini terjadi pada anak perempuan dalam rentang usia 12-17 tahun.

Semua pasangan dari anak-anak perempuan ini adalah laki-laki dewasa dari usia 19-32 tahun. Artinya, pola perkawinan anak yang terjadi dalam penelitian ini adalah perkawinan anak perempuan dengan laki-laki dewasa. Dari 14 kasus yang ada, terdapat 2 kasus perkawinan terjadi sebelum terjadinya menstruasi dan 2 kasus yang mengalami kehamilan sebelum perkawinan.

Hasil penelitian yang diketuai Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah disampaikan pada Seminar Kajian Perkawinan Anak dan Startegi Penanggulangannya di hotel Bintang Griya Wiasta Jakarta Pusat, pekan lalu. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75746/sebab-sebab-perkawinan-dini-temuan-fatayat-nu

Santriwati Cantik

Jumat, 22 Juni 2012

21 April, Mengapa Harus Kartini?

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingatinya sebagai hari nasional, Hari Kartini. Hari Kartini semakin semarak ketika Presiden Soekarno ( 2 Mei 1964) memberi anugerah Kartini sebagai Pahlawan Nasional. Bagi Bung Karno, Kartini layak mendapatkan gelar tersebut sebab jasanya yang mengentaskan perempuan nusantara dari kungkuman keterbelakangan pendidikan.

Dalam menilai Kartini, ada dua kubu yang berbeda pendapat. Sebagian melolak Kartini sebab ia tidak lain adalah didikan Belanda, yang menindas bangsa Indonesia. Sebagian lagi menerima tanpa mempermasalahkan siapa itu Kartini secara mendalam. Mereka hanya melihat jasa besar yang ditorehkan Kartini dalam emansipasi wanita, terlebih dunia pendidikan.

21 April, Mengapa Harus Kartini? - Santriwati Cantik
21 April, Mengapa Harus Kartini? - Santriwati Cantik


21 April, Mengapa Harus Kartini?

Orang yang tidak setuju dengan adanya Kartini membandingkan dengan pahlawan perempuan yang berjasa untuk bangsa Indonesia semisal Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, Cutpo Fatimah, Rohana Kudus, Dewi Sartika, Fatimah binti Abdus Shomad, dan Fatimah binti Abdul Wahhab Bugis. Semua perempuan ini berjasa terhadap bangsanya, bukan hanya dalam upaya melawan penjajah, akan tetapi dunia pendidikan pun dijalaninya.

Mengkaji kebesaran nama Kartini memang tidak bisa dipisahkan dari peran Belanda. Mereka sangat berjasa memfasilitasi Kartini dan mengenalkan Kartini, hingga karyanya (dalam kumpulan surat-suratnya berbahasa Belanda) diterjemah dalam berbagai bahasa, Inggris, Perancis, Indonesia, Jawa, Arab, dan Jerman. Belanda ingin membuktikan bahwa selain menjajah mereka juga berbuat jasa mencerdaskan kehiudupan pribumi dengan politik etisnya setelah lama digencarkan rodi-rodi dan tanam paksa. Mereka ingin membuktikan bahwa jasanya lebih besar dibanding dengan penderitaan yang ditumpahkan.

Tanpa menelisik kekurangan-kekurangan Kartini sebagai manusia biasa, ada kelebihan yang tidak diimiliki oleh perempuan lain, baik pendahulunya, maupun perempuan di masa mendatang. Kartini adalah sosok yang cerdas, putri bangsawan, dan mempunyai pemikiran besar yang dituangkan dalam karya tulis, yang senantiasa menginspirasi generasi setelahnya.

Santriwati Cantik

Ia sangat gigih melawan ketidak adilan pemerintah Hindia Belanda dan memperjuangkan hak perempuan untuk menerima pendidikan sebagaimana laki-laki. Hak pendidikan perempuan yang didengunkan Kartini bukan untuk menyaingi laki-laki, akan tetapi agar perempuan bisa memenuhi kuwajibannya sebagai ibu, orang yang pertama akan pendidik manusia. Jika seorang ibu sudah terbelakangkan pendidikannya, maka bagaimana dengan anaknya. Kartini sangat mewanti-wanti masalah tersebut. Pendidikan yang digagasnya bukan hanya diperuntukkan kaum bangsawan, namun semebar untuk semua kalangan. Ia tidak menyukai pengkotakan yang tidak memanusiakan manusia.

Santriwati Cantik

Bukan hanya membela bangsanya, melalui penanya, ia membela agamanya (Islam). Ia berkata, “Usahakan zending itu, tetapi tidak dengan menashranikan orang!” Dengan teguh ia membela agamanya. Bahkan dengan lantang ia menyuarakan gelar yang diidamkan selama hidupnya, yaitu menjadi “Hamba Allah”, sebuah sematan yang diburu para nabi, rasul, ulama, dan ahli ibdah untuk mendapatkan derajat tinggi di sisi Allah.

Atas jasa besar yang ditorehkan Kartini, banyak orang yang terinsiprasi darinya. Setelah terbitnya Door Duisternis Tot Licht ini (1911), berbondong-bondong lembaga pendidikan perempuan berdiri, semisal sekolah Kartini di Semarang (1912), Pondok Pesantren Putri Denanyar asuhan Kiai Bisry Syansuri, dan Pondok Pesantren Putri Sablak (1921) asuhan Ibu Nyai Khairiyah. Karena pengaruh kuat Kartini, ada salah satu pengasuh perempuan yang dijuluki “Kartini dari Jombang”, yaitu Ibu Nyai Abidah, putri Ibu Nyai Khairiyah.

Pengaruh Kartini atas emansipasi pendidikan perempuan telah menginspirasi Ibu Nyai Khairiyah untuk mengusulkan agar di Dar al-Ulum Makkah al-Mukarramah (Saudi Arabia) dibuat lembaga pendidikan untuk perempuan disamping lembaga pendidikan laki. Usul itu diterima oleh suaminya, Syaikh Muhaimin al-Lasemi (Rektor Dar al-Ulum). Karena jasa Ibu Nyai Khairiyah dalam memproklamirkan pendidikan perempuan pertama di Saudi Arabia, namanya diabadikan menjadi sebuah perguruan tinggi, Universitas Khairiyah.

Amirul Ulum, sejarawan muslim, penulis buku “Kartini Nyantri”

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/21-april-mengapa-harus-kartini.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Cantik sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Cantik. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Cantik dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock