Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Oktober 2016

Pesantren Global Napak Tilas Penaklukan Konstantinopel

Malang, Santriwati Cantik. Kajian rutin yang diasuh langsung oleh Agus Sunyoto di Pesantren Global, Malang, Selasa (26/2), menapaktilasi perjuangan Muhammad al-Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel. Dimulai dengan nonton bareng film Fetih 1453yang menceritakan perjuangan Muhammad al-Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel.

Setelah melihat perjuangan al-Fatih, Agus Sunyoto dan beberapa santri yang hadir merefleksikan kisah film yang di adopsi dari novel yang berjudul Fetih 1453 tersebut.

Pesantren Global Napak Tilas Penaklukan Konstantinopel (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Global Napak Tilas Penaklukan Konstantinopel (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesantren Global Napak Tilas Penaklukan Konstantinopel

Menurut Romo, sapaan akrab Agus Sunyoto di Pesantren itu, negara yang kuat akan terbentuk dengan kecintaan masyarakatnya. Hal itu terlihat jelas dalam film itu, dimulai dari warga, tentara, penasehat hingga sultan sangat menjunjung tinggi negara hingga akhirnya memperoleh kemenangan, meski dengan perjuangan yang tidak sebentar, 40 hari lebih.

Kecintaan seorang pimpinan harusnya tergambar dalam tindak-tanduk Murat sultan sebelum Mahmet yang lebih mencintai negara dengan mendedikasikan dirinya pada negara, bahkan mengesampingkan keluarganya sendiri, Itulah yang dibutuhkan Indonesia saat ini, dan masih belum ada hingga saat ini, ujarnya.

Santriwati Cantik

Selain itu, sejarah yang tidak boleh dilupakan dari perjalanan Muhammad al-Fatih ialah sikap moderat selaku pemimpin. Pola kepemimpinan Muhammad al-Fatih hampir sama dengan apa yang telah dilakukan oleh Sholahuddin al-ayyubi, yakni ketika menang dalam peperangan tidak semena-mena balas dendam dan membunuh semua musuh, namun sebaliknya, Mahmet II memberi kebebasan beragama dan keamanan pada siapapun.

Hal ini yang tidak pernah dilakukan oleh bangsa Eropa ketika menjajah. Mereka akan memberangus habis semua jajahan dan memaksakan ajaran Katolik, tak pelak dendam dan konflik pun akan terus terjadi antara katolik dan Kristen ortodoks akibat perbuatan keji sang pemenang perang.

Santriwati Cantik

Masa ketika Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel adalah masa awal Wali Songo di Indonesia, pungkas Agus.

Pesantren Global Tarbiyatul Arifin sendoro yang bertempat di belakang Pemandian Wendit, Malang. Pesantren ini dibesut oleh Agus Sunyoto, sejarawan NU penyusun Atlas Wali Songo.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Diana Manzila

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42798/pesantren-global-napak-tilas-penaklukan-konstantinopel

Santriwati Cantik

Senin, 11 Juli 2016

Setahun Ngaji ke Ustadz Sosmed, TKW Ini Jadi Tersangka Bom Panci

Santriwati Cantik - Tersangka terorisme di Bekasi, Dian Yulia Novi, menceritakan awal perkenalannya dengan aliran radikal sehingga membuat dia rela menjadi "pengantin" dan siap melakukan aksi bom bunuh diri. Dalam wawancara dengan stasiun televisi TV One di program Kabar Khusus yang disiarkan Selasa malam, 13 Desember 2016, Dian mengaku pertama kali mengenal ajaran radikal lewat sosial media (Sosmed) Facebook.

Dian adalah tersangka teroris yang ditangkap Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri (Densus 88) di Bintara Jaya, Bekasi, Sabtu, 10 Desember 2016. Menurut polisi, sebuah bom yang dikemas dalam panci siap diledakkan pada Minggu, 11 Desember 2016, saat upacara pergantian penjaga Paspampres di Istana Presiden.

Setahun Ngaji ke Ustadz Sosmed, TKW Ini Jadi Tersangka Bom Panci - Santriwati Cantik
Setahun Ngaji ke Ustadz Sosmed, TKW Ini Jadi Tersangka Bom Panci - Santriwati Cantik


Setahun Ngaji ke Ustadz Sosmed, TKW Ini Jadi Tersangka Bom Panci



Setahun Ngaji ke Ustadz Sosmed, TKW Ini Jadi Tersangka Bom Panci - Santriwati Cantik
Setahun Ngaji ke Ustadz Sosmed, TKW Ini Jadi Tersangka Bom Panci - Santriwati Cantik


Setahun Ngaji ke Ustadz Sosmed, TKW Ini Jadi Tersangka Bom Panci

Dian mengatakan, saat mulai tertarik dengan ajaran radikal, dia masih menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Singapura. Dian mengaku telah mengenakan hijab, tapi belum bercadar. Lewat media sosial, Dian mempelajari paham radikal dengan membaca status yang berbau jihadis lewat Facebook.

"Kurang lebih selama satu tahun saya aktif di Facebook. Namun saya tidak ikut grup apa pun. Saya hanya menyimak dan semakin penasaran. Karena itu, saya memberanikan untuk bertanya," ujar Dian.

Selain membaca status, Dian juga rajin membaca artikel-artikel yang disebar di Facebook. Dian mengaku selama setahun ini telah mengoleksi banyak artikel-artikel tersebut. Selain soal jihadis, Dian mengaku belajar seputar muamalah, fiqih, akidah, dan sejarah Islam.

"Semua saya terapkan. Semua itu bukan dalam bentuk buku, tapi dalam bentuk artikel dan audio voice. Kalau video tidak ada," kata Dian.

Lewat media sosial, Dian berkenalan dengan Nur Solihin. Pria yang juga jadi tersangka terorisme itu menikahi Dian tiga bulan lalu, tepatnya pada Oktober. Dian mengaku hubungannya berlanjut lewat Telegram setelah dikenalkan seseorang. Nur Solihin dan Agus Suproyadi ikut ditangkap dalam kasus bom panci ini.

"Kami tidak taaruf, kami juga tidak bertukar foto. Saya ikhlas berniat untuk mencari rida Allah. Saya juga belum tahu wajah Aa (panggilan Solihin) sebelumnya. Saya yakin saja," ucap Dian.

Meski begitu, Dian mengetahui Solihin sudah beristri dan memiliki anak. Pernikahan pun tetap dilangsungkan tanpa wali. Bahkan, Dian tidak hadir dalam prosesi pernikahannya, sosoknya hanya diwakilkan.

"Saya serahkan semuanya kepada Aa. Saya diwakilkan. Saya tidak tahu siapa yang wakilkan. Sebelum nikah, Aa bilang, ‘Neng, sebentar lagi pernikahan akan dilaksanakan’," tutur Dian.

Sabtu lalu, Densus 88 menangkap seorang perempuan terduga teroris di sebuah rumah kos di Jalan Bintara Jaya VIII, Kota Bekasi, pada Sabtu, 10 Desember 2016. Menurut identifikasi polisi, pelaku ialah Dian Yulia Novi. Selain meringkus Dian, polisi menangkap dua laki-laki, yakni Nur Solihin dan Agus Supriyandi, di sekitar Kalimalang. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/setahun-ngaji-ke-ustadz-sosmed-tkw-ini-jadi-tersangka-bom-panci.html

Rabu, 03 Juli 2013

Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang

Amalan Bulan Rajab - Bulan Rajab sangat banyak dinanti oleh orang Islam. Sebab bulan ini semakin mendekatkan hadirnya bulan Ramadan yang sangat agung. Oleh sebab itu, perlu kembali kita renungkan bagaimana KH Sholeh bin Umar Assamarani (dikenal Mbah Sholeh Darat) menjelaskan tentang fadlilah bulan Rajab ini.

Dalam Kitab Lathaifut Thaharah wa Asrarus Sholat karya Mbah Sholeh Darat halaman 83-88 dituliskan bab khusus tentang "Bab Fadlilah Rajab". Kitab yang ditulis dengan pegon dan diterbitkan oleh Thoha Putra Semarang ini sangat detail menjelaskan keutamaan Rajab merujuk pada hadits Nabi.

Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang - Santriwati Cantik
Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang - Santriwati Cantik


Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang

KH Sholeh menjelaskan: "Nabi bersabda: 'Barang siapa yang mengucapkan kalimat سبحان الحي القيوم sebanyak 100 kali tiap hari pada sepuluh hari awal Rajab, mengucap سبحان الاحد الصمد sebanyak 100 kali tiap hari pada sepuluh hari kedua, dan mengucap سبحان الرؤف sebanyak 100 kali tiap hari pada sepuluh hari ketiga, maka tidak ada orang yang bisa menghitung pahalanya".

Hadits ini memberikan pengertian tentang bacaan atau wirid yang perlu didawamkan untuk dibaca setiap hari di bulan Rajab. Dan pahala yang didapatkan sangat banyak sekali, sehingga tidak bisa dihitung.

Santriwati Cantik

Dan Rasulullah Saw juga menyampaikan bahwa bulan Rajab adalah bulannya Allah Swt, sedangkan bulan Sya'ban adalah bulannya Rasulullah, sementara bulan Ramadan merupakan bulannya umat Muhammad. Maka Nabi selanjutnya menegaskan bahwa siapa saja yang menjalankan puasa sehari di bulan Rajab murni karena Allah tanpa niat lainnya, maka akan selalu mendapatkan ridla agung Allah dan dijanjikan tempat surga Firdaus.

Sedangkan pahala puasa Rajab dua hari akan mendapatkan kelipatan dua kali hitungan semua gunung di dunia. Puasa tiga hari mendapat pahala penghalang neraka. Puasa empat hari mendapat pahala diselamatkan dari segala bala' yang menimpa semacam junun, judzam dan barash serta diselamatkan dari fitnah Dajjal.

Santriwati Cantik

Sedangkan pahala puasa selama lima hari akan selamat dari siksa kubur. Pahala puasa enam hari adalah jaminan wajahnya bersinar saat keluar dari qubur sebagaimana sinar rembulan tanggal empat belas. (Baca Duta Islam: Keramat Mbah Sholeh Darat)

Adapun puasa tujuh hari adalah ditutupnya tujuh pintu neraka. Untuk pahala puasa di bulan Rajab delapan hari adalah dibukakan delapan pintu surga. Pahala puasa sembilan hari adalah akan bangun dari qubur dengan memanggil kalimat لا اله الا الله dan langsung masuk surga. Dan pahala sepuluh hari berpuasa adalah jalan mulus menuju shiratal mustaqim.

Mbah Sholeh Darat masih melanjutkan pahala puasa sebelas hari adalah tidak akan mendapat tandingan pahala kecuali orang yang sama menjalankan puasa 11 hari. Dan pahala puasa dua belas hari adalah mendapatkan pengakuan sebagai hamba yang mulia dibandingkan dunia dan seisinya. [Santriwati Cantik/ab]

Bersambung.....

Oleh M Rikza Chamami, Wakil Ketua KOPISODA (Komunitas Pecinta Mbah Sholeh Darat), alumnus Qudsiyyah dan Dosen UIN Walisongo

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/keutamaan-bulan-rajab-menurut-kh-sholeh-darat-semarang.html

Senin, 27 Agustus 2012

Ini Lirik Pesantren Cipasung Karya Doel Sumbang

Tasikmalaya, Santriwati Cantik. Doel Sumbang menciptakan lagu Pesantren Cipasung yang diluncurkan di pesantren yang didirikan KH Ruhiat tersebut, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Jumat (17/9).

Ini lirik pesantren Cipasung Karya Doel Sumbang tersebut:

Ini Lirik Pesantren Cipasung Karya Doel Sumbang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Lirik Pesantren Cipasung Karya Doel Sumbang (Sumber Gambar : Nu Online)


Ini Lirik Pesantren Cipasung Karya Doel Sumbang

Pasantren Cipasung

Di pasantren Cipasung, na kelek Gunung Galunggung.

Santriwati Cantik

Opat welas Silih Mulud, caang bulan narawangan.

Budak santri diburuan, ulin tinu kabagjaan.

Sempau, guyon, gogonjakan

Santriwati Cantik

Nareumbang silih tembalan.

Tembang asih kaimanan

Tembang deudeuh kaislaman

Rumpakna kaakheratan

Wirahma kasalametan.

Di pasantren Cipasung, na kelek Gunung Galunggung.

Muka jalan, ngemparay hurung

Ngarah lengkah heunteu linglung.

Di pasantren Cipasung, na kelek Gunung Galunggung.

Nimba elmu anu luhung, sangkan hirup teu kaduhung.

Ini Video Klip Lagu Pesantren Cipasung : http://www.ponpescipasung.com/2016/05/video-clip-lagu-cipasung.html. (Husni Mubarok/Abdullah Alawi)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71336/ini-lirik-pesantren-cipasung-karya-doel-sumbang-

Santriwati Cantik

Senin, 20 Juni 2011

Jika Allah di Langit, Apa di Bumi Tidak Ada Allah?

Santriwati Cantik - Sering kita temui pertanyaan pertanyaan berkaitan dengan keberadaan Allah SWT. Pasalnya, kita mendapati pendidikan anak sejak usia dini di sekolah-sekolah yang berbasis wahabi-salafi diajarkan agar anak mengatakan "Allah di langit" dan mereka dilatih setiap hari untuk membiasakan hal itu.

Lalu bagaimana sebenarnya sikap kita untuk mengajari dan menjelaskan perihal keberadaan Allah SWT? Berikut ulasannya.

Jika Allah di Langit, Apa di Bumi Tidak Ada Allah? - Santriwati Cantik
Jika Allah di Langit, Apa di Bumi Tidak Ada Allah? - Santriwati Cantik


Jika Allah di Langit, Apa di Bumi Tidak Ada Allah?

Ketika ada anak kecil bertanya dimanakah Allah SWT berada tentu kita sebagai orang yang lebih dewasa haruslah mengajarkan dengan kearifan dan sesuai akidah ahlussunnah wal jama'ah. Maka kita ajarkan mereka untuk mengatakan "Allah tidak seperti makhluk apapun sebagaimana firmannya:

Santriwati Cantik

ليس كمثله شيء وهو على كل شيء قدير .

Dan kita juga perlu menjelaskan pada anak tersebut bahwa seyogyanya kita tidak berpikiran tentang bagaimana dzat Allah serta lebih menekankan pengenalan ibadah ritual yanng berkaitan dengan makhluqnya. Sehingga kelak akan menambah kadar keimanan si anak tersebut.

Sebagaimana yang dikatakan ulama':

تفكروا في خلق الله ولا تفكروا في ذات الله

Santriwati Cantik

"Berfikirlah tentang ciptaan Tuhan dan jangan berpikir tentang dzat Tuhan."

Sebab kalau dibiarkan si anak berfikir tentang sesuatu yang berkaitan dengan bentuk dan gerakan ini bisa sangat membahayakan dan bisa menyebabkan penyerupaan Dzat Allah dengan makhluknya.

Adapun mengenai pertanyaan "Allah di mana" sebagaimana dalam masalah akidah, kita harus percaya bahwa Allah wajib bersifat wujud (ada). Makna wajib wujud ialah bahwa ia tidak boleh binasa dan tidak bisa binasa secara azali maupun abadi.

Bahwa adanya Allah bukan karena perantara suatu sebab. Maksudnya, tidak ada yang bisa memberikan dampak atas keberadaan Allah SWT dan tidak akan berpengaruh dalam keberadaannya dan sifat nya, baik tempat maupun waktu.

Seandainya orang yang bertanya "Allah di mana" itu bertujuan menanyakan posisi dan arah, maka sudah pasti jawabannya membutuhkan penetapan suatu kondisi dan arah. Oleh karena itulah kita tidak boleh bertanya dengan kalimat ini. Sebab waktu dan ruang adalah perkara yang baru.

Artinya, ketika kita menetapkan suatu waktu dan ruang atas Dzat Allah, maka kita telah membuat sesuatu yang tidak pantas bagi dzatnya Yang Maha Qodim (dahulu).

Allah tidak mungkin serupa dengan makhluknya yang baru dan tidak butuh pada ruang dan waktu.

Dan hukum bertanya dengan lafadz "Aina Allah" (tuhan di mana) adalah tidak boleh.

Maka jawablah dengan "Wallahu 'alam". Meskipun anda mengatakan tidak tahu bukan berarti tidak bisa akan tetapi menurut ulama من قال لا اعلم وقد افتى

"Barang siapa berkata wallahu a'lam maka dia telah memberi fatwa," yaitu dengan mentafwidh (memasrahkan) kepada Allah.

قال الحافظ البيهقي في كتابه الأسماء والصفات: استدل بعض أصحابنا في نفي المكان عنه تعالى بقول النبي صلى الله عليه وسلم :"أنت الظاهر فليس فوقك شىء وأنت الباطن فليس دونك شىء" وإذا لم يكن فوقه شىء ولا دونه شىء لم يكن في مكان اهـ.

Berkata Al Hafidz al Baihaqi dalam kitab Asma was Sifat: sebagian Sahabat kita bertendensi atas penafian tempat bagi Allah SWT dengan hadits nabi: "Engkau Yang Maha Dlohir tidak ada di atas-Mu sesuatu, dan engkaulah Yang Maha Bathin dan tiada selain-Mu sesuatu". Dari konteks ini terbukti kalau Allah tidak ada diatasnya sesuatu apapun. Ia tidak bertempat.

ومارواه البخاري وابن الجارود والبيهقي بالإسناد الصحيح أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "كان الله ولم يكن شىء غيره" ومعناه أن الله لم يزل موجودًا في الأزل ليس معه غيره لا ماء ولا هواء ولا أرض ولا سماء ولا كرسيّ ولا عرش ولا إنس ولا جن ولاملائكة ولا زمان ولا مكان، فهو تعالى موجود قبل المكان بلا مكان، وهو الذى خلق المكان فكيف يحل في مخلوقاته وكيف تحده مخلوقاته ؟!!

Diriwayatkan dari Bukhari, Ibnu Jarud dari Baihaqi dengan sanad yang shahih bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Allah telah ada saat tidak ada sesuatu selainnya". Artinya, Allah sudah ada di azali dan tidak ada selainnya, tidak air, tidak udara, tidak langit dan tidak bumi, tidak kursi, tidak arash, tidak jin, tidak manusia, tidak malaikat, tidak waktu dan tempat. Dialah Allah telah ada sebelum ada tempat, tanpa ada tempat. Dialah pencipta tempat. Bagaimana mungkin dia akan berada pada ciptaannya dan bagaimana bisa dibatasi cipataannya?.

Sementara hadits pernyataan seorang jariyah (seorang budak) yang disebut-sebut mengatakan bahwa Allah di langit, Imam Nawawi berkomentar:

علق الإمام النووي رحمه الله على حديث الجارية في شرحه على مسلم قائلا : (هذا الحديث من أحاديث الصِّفات، وفيها مذهبان تقدَّم ذكرهما مرَّات في كتاب الإيمان: أحدهما: الإيمان به من غير خوض في ((( معناه )))، مع اعتقاد أنَّ الله ليس كمثله شيء،وتنزيهه عن سمات المخلوقات. والثَّاني:((تأويله ))) بما يليق به فمن قال بهذا – أي التأويل - قال: كان المراد امتحانها هل هي موحِّدة تقرُّ بأنَّ الخالق المدبِّر الفعَّال هو الله وحده، وهو الَّذي إذا دعاه الدَّاعي استقبل السَّماء،كما إذاصلَّى المصلِّي استقبل الكعبة،وليس ذلك لأنَّه منحصر في السَّماء، كما أنَّه ليس منحصراً في جهة الكعبة، بل ذلك لأنَّ السَّماء قبلة الدَّاعين، كما أنَّ الكعبة قبلة المصلِّين. أو هي من عبدة الأوثان العابدين للأوثان الَّتي بين أيديهم، فلمَّا قالت: في السَّماء علم أنَّها موحِّدة وليست عابدة للأوثان. ) انتهى من شرح النووي على مسلم

Dalam memaknai hadits jariyah maka bisa melalui dua metode yaitu: pertama, dengan beriman tanpa menelusuri maknanya. Yang kedua, dengan mentakwil dengan sesuatu yang sesuai.

Lagi pula hadits jariah ini banyak menimbulkan pertanyaan. Diantaranya, apakah benar kadar ukuran Islam seseorang dianggap hanya dengan mengatakan Allah di langit?.

Selanjutnya, mengenai berdoa dengan mengangkat tangan ke langit, kita bisa menyontohkan orang shalat yang menghadap Ka'bah, apakah Allah berada di dalam Ka'bah? Tidak! Begitu pula dengan saat budak tadi menunjuk ke langit atau saat orang berdo'a mengangkat tangan ke langit. Belum tentu menunjukkan Allah di langit. Tidak sama sekali.

Adapun menghadap Ka'bah, itu posisinya sebagai kiblat orang shalat. Begitu juga menunjuk ke atas sebagaimana kisah budak di atas saat berdoa.

الكعبة قبلة الصلاة والسماء قبلة الدعاء

Artinya: "Ka'bah adalah kiblat shalat dan langit adalah kiblat berdoa".

Tapi tetap saja Allah tidak bertempat dan menempati ruang. Coba kita pakai mantiq (logika). Seandainya Allah berada di suatu tempat, berarti Allah lebih kecil dari tempat tersebut. Seperti air menempati gelas, berarti ukuran gelas lebih besar dari ukuran airnya. Atau, paling tidak gelasnya berukuran sama. Sedangkan jika Allah dikatakan menempati ruang, boleh dibilang Allah lebih kecil dari ruangan tersebut. Padahal Allah Maha Besar.

Dan jika dikatakan Allah bertempat di langit, apakah di bumi tidak ada Tuhan? Bagaimana dengan ayat dalam surat Azzukhruf ayat 84:

وهو الذي في السمآء ءله وفي الارض اله وهو الحكيم العليم

"Dialah Tuhan (yang disembah di langit) dialah Tuhan (yang disembah) di bumi dan Dialah Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui".

Baca friman Allah berikut:

"Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa Dia yang berhak disembah, baik di langit maupun di bumi. Oleh karena itu, penghuni langit semuanya dan penduduk bumi yang beriman, mereka beribadah kepada-Nya, mengagungkan-Nya, dan tunduk kepada kebesaran-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” (QS. Ar Ra’d: 15)

Ayat di atas sama seperti firman-Nya, “Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi.” (QS. Al-An’aam: 3). Jadi bisa kita simpulkan bahwa Allah ada tanpa tempat ia berada. [Santriwati Cantik]

Tarim, Yaman, 11 syawal 1437 H.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/jika-allah-di-langit-apa-di-bumi-tidak-ada-allah.html

Minggu, 01 Mei 2011

Mewaspadai Skenario Penggembosan NU oleh Minhum

Santriwati Cantik - Ada skenario besar ingin menggerus NU. Baik NU struktural maupun kultural. Mereka yang menggerus NU sengaja melakukan hal-hal yang membuat wibawa NU jatuh tersungkur hingga warga NU tidak lagi mempercayai NU.

Mewaspadai Skenario Penggembosan NU oleh Minhum
Mewaspadai Skenario Penggembosan NU oleh Minhum


Ini era media sosial, dimana tiap orang bebas melakukan penggembosan NU tanpa harus melakukan tashih atau bahkan klarifikasi. Yang penting NU hancur, semua bisa halal dilakukan. Ini cara-cara yang ditempuh para penggembos NU, baik dari dalam maupun luar NU sendiri.

1. Mereka pisahkan nahdliyyin kultural dari para Kiai NU. Mereka fitnah dan caci maki sesepuh NU, berharap nahdliyyin kehilangan akhlaq dan pudar rasa hormat kepada beliau-beliau.

2. Mereka kampanyekan anti terhadap Ketum PBNU. Selain sebagai ikon, simbol dan mandatori muktamar PBNU selain juga Rois Aam, Ketum PBNU memiliki peran paling strategis di tubuh NU. Mereka berharap, dengan fitnahan dan cacian mereka terhadap Ketum PBNU, maka perlahan akan hilang muru'ah dan kebesaran ormas Nahdlatul Ulama.

3. Agitasi dan propaganda bukan hanya dari kalangan elit mereka terhadap masyarakat kelas menengah dan perkotaan, tapi sudah menyusup dan masuk di NU struktural di tingkatan paling bawah, baik PCNU, MWC maupun Ranting NU. Harapan mereka jelas, ranting sebagai ujung tombak NU, akan termakan isu yang mereka buat, mereka olah, dan menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat, saat tahlil, perayaan mawlid dan seremonial lain di masyarakat.

Ayo anak muda NU, melek medsos, dan sampaikan kepada siapapun dimanapun, bahwa kita ber-NU lahir bathin. Kepada mereka, jangan takut menyampaikan kata, kami akan lawan. [Santriwati Cantik/ tanmalika]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/mewaspadai-skenario-penggembosan-nu-oleh-minhum.html

Rabu, 16 Februari 2011

Jika FPI dan MUI Hidup di Zaman Purba, Sunan Kudus Mungkin Didemo GNPF

Santriwati Cantik - Sunan Kudus, salah satu dari anggota dewan Walisongo penyebar Islam di Nusantara, menggunakan pendekatan tasawuf dalam berdakwah. Beliau sangat ahli syariat, dan justru karenanya, bisa mendudukkan bahwa akhlak itu jauh lebih tinggi di atas fiqih.

Secara fiqih, syariat formal, sangat jelas bahwa menyembelih Sapi dan memakan dagingnya adalah halal. Namun beliau melarang hal itu, melarang para santrinya menyembelih Sapi dengan alasan demi menghormati pemeluk agama Hindu yang menganggap Sapi adalah hewan suci, karena simbol tunggangan Dewa Wisnu.

Jika FPI dan MUI Hidup di Zaman Purba, Sunan Kudus Mungkin Didemo GNPF - Santriwati Cantik
Jika FPI dan MUI Hidup di Zaman Purba, Sunan Kudus Mungkin Didemo GNPF - Santriwati Cantik


Jika FPI dan MUI Hidup di Zaman Purba, Sunan Kudus Mungkin Didemo GNPF

“Kularang kalian menyembelih sapi. Mari kita hormati pemeluk agama Hindu. Kalau mau makan daging, kerbau saja,” begitu kira-kira dhawuh Sunan Kudus apabila diIndonesiakan.

Santriwati Cantik

Sunan Kudus pasti tahu bahwa ajaran Hindu berbeda dengan ajaran Islam, namun beliau tidak menyalahkan ajaran Hindu, apalagi menghinanya. Seluruh atribut dan tradisi Hindu beliau hormati. Hingga sampai ketika membangun masjid, menaranya pun dibuat persis seperti bangunan Pura atau Candi.

Bayangkan seandainya di masa Sunan Kudus sudah ada MUI dan FPI. Serta merta beliau akan dicaci maki sebagai ulama munafiq pembela kapir, tukang melecehkan Islam dan menista agama. Mungkin pula akan didemo atau disweeping dengan dalih telah mencampur adukkan agama Islam dan agama Hindu.

Santriwati Cantik

MUI pernah mengeluarkan fatwa haram terhadap pluralisme, maka andai MUI ada di jaman Sunan Kudus, bisa jadi Sayyid Ja’far Shodiq itu akan divonis FPI dengan dukungan GNPF MUI sebagai dedengkot pluralis yang telah merusak akidah umat Islam.

Mari kita bandingkan, Sunan Kudus secara nyata telah berhasil gemilang membuat warga Kudus masuk Islam. Seratus persen warga Hindu di Kudus masuk Islam hanya dalam waktu singkat, karena merasa dihormati keyakinanya, dihargai perasaan keagamannya.

Islam yang datang kepada mereka adalah agama yang lembut, ramah dan penuh kemuliaan. Merasa bahwa Dewanya pun dihormati, mereka sukarela masuk Islam, lalu bergotong royong membangun menara masjid Al Aqso yang terkenal sebagai Menara Kudus itu.

Sampai sekarang, warga Kudus tidak berani menyembelih sapi karena menaati larangan Sunan Kudus itu. Tak ada jagal sapi di Kudus. Padahal sekarang sudah tidak ada warga selain muslim. Sampai sekarang pula, Anda pasti kesulitan menemukan pemeluk Hindu di Kudus. Jadi, Islamnya orang Kudus yang dulu banyak pemeluk Hindu, bertahan kuat sampai kini.

Dan perlu kita ketahui, Kudus adalah satu-satunya nama daerah di Indonesia yang memakai kata dari bahasa Arab. Kudus dari Quddus yang artinya suci. Masjid yang beliau dirikan bersama para muallaf dari Hindu itupun dinamai dengan nama Arab’ Al Aqsho. Jadi, betapa hebatnya Sayyid Ja’far Shodiq. Beliau bisa mengislamkan orang Hindu dan menamai daerah dengan nama Arab.

Nah, coba bayangkan seandainya Sunan Kudus memakai cara seperti MUI saat ini, mengharamkan orang Islam memakai busana mirip orang Hindu, mengharamkan udheng, jarit, sarung dan sebagainya yang saat itu merupakan pakaian ibadah orang Hindu.

Karena fatwa haram tersebut lantas orang Hindu merasa dihina kesuciannya, dianggap najis busana yang meraka pakai, bahkan diprovokasi dengan kebencian plus tindakan kriminal pengikut FPI macam di Solo dan Jakarta, apakah ada orang Hindu yang mau masuk Islam?

Apakah Islam akan bisa masuk dan berkembang di Jawa dan Nusantara? Dan apakah kita semua, termasuk bapak dan ibu yang ada di MUI akan mernjadi manusia beriman?

Sedangkan orang-orang beragama Islam sekarang ini adalah keturunan dari orang Islam di masa lalu, yang nenek moyangnya dulu kemungkinan bukan pemeluk Islam.

Jadi benar apa yang disampaikan teman saya di Langgar Mbah Masroh (Pondok Biharul Mutaallimin) Sedan Kabupaten Rembang. Menurut beliau, di tangan MUI sekarang, agama Islam berada dalam bahaya. Sungguh keadaan bahaya. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/jika-fpi-dan-mui-hidup-di-zaman-purba-sunan-kudus-didemo-gnpf.html

Rabu, 21 Juli 2010

Ya Lal Wathan Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional

Jombang, Santriwati Cantik. Setidaknya ada enam lagu baru yang akan ditetapkan sebagai lagu perjuangan nasional oleh Kementerian Sosial, salah satunya adalah "Ya Ahlal Wathan" atau yang kerap disebut Ya Lal Wathan karya KH Abdul Wahab Chasbullah.

"Kini dalam proses penyelesaian oleh tim sebelum nanti ditetapkan jelang peringatan hari pahlawan, 10 November 2016," ujar Menteri Sosial RI, Khofifah Indar Parawansah saat menghadiri Haul pendiri , penggerak NU, KH Wahab Chasbullah ke-45 di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (13/8) malam.

Ya Lal Wathan Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ya Lal Wathan Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)


Ya Lal Wathan Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional

Mensos menambahkan, lagu Cinta Tanah Air yang diciptakan KH Wahab Chasbullah ini menurutnya layak untuk menjadi salah satu lagu nasional. Karena menggelorakan semangat cinta tanah air yang sangat luar biasa. (Unduh Lagu Ya Lal Wathan di Sini)

"Kita tahu lagu-lagu nasional sejak lama tidak ada perubahan, sejak saya duduk di SD lagu-lagu nasional tidak ada perubahan. Ketika lagu ini saya perdengarkan ke tim yang sudah menggodok ternyata layak untuk dijadikan lagu nasional," imbuh Khofifah yang datang bersama pejabat Direktorat Jenderal Kepahlawanan dari Kementerian Sosial.

Santriwati Cantik

Menurutnya, untuk dapat menjadi lagu perjuangan nasional, maka ada sejumlah syarat yang harus dilalui, di antaranya aransemen. "Kami telah menyiapkan aransemen dan partitur lagu tersebut," kata perempuan yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU ini.

Demikian pula syair lagu yang awalnya berbahasa Arab, maka harus digubah ke bahasa Indonesia. "Karena kalau tetap berbahasa Arab, kami khawatir ini dikira lagunya ISIS. Itu kan bahaya," katanya disambut tawa hadirin.

Persyaratan lain yang mesti dilalui dalam penetapan ini adalah izin dari pihak keluarga. Jika direstui untuk diubah, kata Khofifah, maka lagu Ya Ahlal Wathon akan menjadi salah satu dari 6 lagu yang sekarang dalam penyelesaian oleh tim.

Santriwati Cantik

Saat ini sudah ada 5 lagu, jika disetujui pihak keluarga maka akan ada 6 lagu nasional. Salah satunya lagu Ya Ahlal Wathan," kata Menteri yang dikenal dekat dengan Presiden KH Abdurrahman Wahidini.

Lagu Ya Ahlal Wathan diciptakan Mbah Wahab sekitar tahun 1916, saat aktif dalam dunia pergerakan kebangsaan di Surabaya. Lagu ini selalu dinyanyikan siswa atau santri Madrasah Nahdlatul Wathan di Surabaya.

Khofifah pun mengatakan, sebelumnya sudah meminta elemen yang ada di NU agar selalu menyanyikan lagu ini saat mengadakan acara. Seperti acara diklat, seminar, maupun lainnya. "PMII, Fatayat, Muslimat sudah kami minta menyanyikan lagu ini saat acara," katanya.

Haul Mbah Wahab kali ini mengambil tema mengukuhkan hubbul wathan minal iman. Tampak hadir Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko dan pejabat yang lain. (Muslim Abdurrahman/Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70428/ya-lal-wathan-segera-jadi-lagu-perjuangan-nasional

Santriwati Cantik

Kamis, 25 Maret 2010

Wisuda Pesantren Miftahul Hikmah Berlangsung Meriah

Jembrana, Santriwati Cantik. Suasana meriah mewarnai prosesi wisuda TPQ Pondok Pesantren Miftahul Hikmah, Cupel, Negara, Jembrana, Bali, Rabu (11/7) malam. Bersamaan dengan peringatan hari jadi pesantren ke-54, acara puncak ini dipadati aneka penampilan para santri.

Dengan iringan musik hadrah, puluhan santri usia tujuh tahunan berlenggak-lenggok di atas panggung melantunkan shalawat, qashidah, dan lagu-lagu khas komunitas Islam tradisional. Sorak-sorai ratusan pengunjung meningkat saat pengumuman pemenang lomba yang diselenggarakan empat hari sebelum acara puncak.

Wisuda Pesantren Miftahul Hikmah Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Wisuda Pesantren Miftahul Hikmah Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)


Wisuda Pesantren Miftahul Hikmah Berlangsung Meriah

Pesantren asuhan Mustasyar PCNU Jembrana KH Muhammad Yasin ini melombakan beragam ketrampilan, seperti lomba baca dan terjemah Kitab Melayu, Tartil Al-Quran, cerdas cermat, azan, praktik shalat, hafalan doa harian, dan menulis Arab. Perlombaan diikuti seluruh santri TPQ dan Madrasah Diniyah menurut ketentuan kelas dan materi lomba yang ada.

Sebelum prosesi wisuda dan pengajian umum dimulai, para santri juga menampilkan kebolehan lain menghafal Juz Amma dan seni baca Al-Quran di atas panggung. Datuk Yasin, demikian sang pengasuh biasa dipanggil, mengungkapkan kegembiraannya atas prestasi para santri yang telah menyelesaikan pendidikan Al-Quran.

Santriwati Cantik

Ia menyadari, pesantren rintisannya dalam berbagai segi tidak sebagaimana umumnya pesantren di Tanah Jawa. Populasi penganut Hindu yang mayoritas di Pulau Dewata cukup mempengaruhi jumlah santri dan tenaga pengajar yang dibutuhkan.

Namun demikian, dengan modal kekuatan yang ada, pesantren di pesisir selatan ini terus berusaha menerapkan kurikulum kitab kuning yang sulit didapatkan di lembaga pendidikan Bali.

Santriwati Cantik

Pesantren ini tujuannya menciptakan bibit unggul yang dapat dikembangkan lagi di luar secara maksimal. Di daerah ini susah mendapatkan pendidikan ala pesantren, katanya kepada Santriwati Cantik.

Penulis : Mahbib Khoiron

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/38770/wisuda-pesantren-miftahul-hikmah-berlangsung-meriah

Santriwati Cantik

Kamis, 02 Juli 2009

Waspadalah Virus Syirik Bidah Liberal NU yang Sangat Radikal (Baca Lengkap Tidak Tersesat)

Santriwati Cantik - Sebenarnya ada apa dengan NU? Bukankah sudah menjadi sebuah rahasia umum bahwa dibalik penampilan para tokoh mereka yang tampak berwibawa, NU adalah "Thoghut" terbesar Indonesia yang sangat kejam, benar-benar kejam. NU merusak tatanan budaya kehidupan yang sudah ada jauh sebelum Indonesia ada. Orang waras jadi gila, orang sehat jadi bingung, orang beriman menjadi keluar dari keimanan yang dianutnya selama ini.

Waspadalah Virus Syirik Bidah Liberal NU yang Sangat Radikal (Baca Lengkap Tidak Tersesat) - Santriwati Cantik
Waspadalah Virus Syirik Bidah Liberal NU yang Sangat Radikal (Baca Lengkap Tidak Tersesat) - Santriwati Cantik


Waspadalah Virus Syirik Bidah Liberal NU yang Sangat Radikal (Baca Lengkap Tidak Tersesat)

Lihatlah anak-anak kita! Juga orang-orang dewasa yang merasa sakit, stress menderita oleh budaya mu’tal yang muncul tiba-tiba, yaitu NU. Indonesia memang aneh dan semua orang merasakannya. Perubahan adat yang tiba-tiba. Ada apa di balik ini semua? Ada apa NU dengan jaringan “thoriqot” mereka? Ada apa di balik ini semua? Banyak orang bertanya-tanya kenapa virus NU merajalela di bumi Indonesia?

NU punya mau. Apapun yang menghalangi jalannya akan mereka lawan. Apapun caranya harus dilakukan agar virus NU ini tetap berjaya walau umat manusia dan keyakinannya menjadi korban.

NU adalah oraganisasi bid’ah terbesar di Indonesia.

Cobalah tanya mereka tentang aqidah mereka. Apakah mereka mempunyai hujjah? Apakah mereka mempunyai landasan ilmiyyah? Kok bisa mereka menjadi organisasi bid’ah terbesar di negara Islam terbesar! Lantas kemana umat Islam yang "murni"? Tidakkah kalian merasakan hal yang aneh dalam kehidupan NU di Indonesia?

NU selalu ingin menjadi yang paling hebat. Mendapat yang paling hebat. Mereka memadukan berbagai macam cara agar mereka menjadi yang paling hebat dan kuat karenanya, walau berteman dengan kebid'ahan. Padahal kebid'ahan yang merupakan musuh besar Islam, namun telah tersebar di tengah rakyat melalui perantaraan mereka. Tersebar luas menyatu dalam tradisi dan budaya.

Bagi mereka bid'ah itu bukan sesat. Bagi NU kebi'dahan dan kemusyrikan bisa berubah menjadi bukan bid'ah dan syirik bila kita bisa mengolah niat dan bahasa. Misalnya seseorang meminta tolong pada jin yang merupakan perbuatan yang dilarang keras dalam Islam dalam ritual mistik. Mereka berkata, apa salahnya minta tolong sama jin jika memang dia bisa? Sama seperti minta tolong kepadamu jika kamu memang bisa melakukannya.

Bila jin itu menyuruh dia melakukan ucapan atau perbuatan kesyirikan agar mau menolong mereka, maka mereka melakukannya. Mereka berkata, ”itu cuma ucapan atau perbuatan, sedangkan hati kami tetap hanya pada Allah. Bukankah intinya di hati?” Dari mana dia punya pendapat semacam ini? Ulama mana yang dia ikuti? Apa mereka punya imam yang mereka ikuti dalam masalah ini atau cuma mengarang sendiri? Padahal akibatnya fatal sekali!

Padahal kesyirikan itu ada tiga macam: keyakinan, ucapan dan perbuatan. Dan ketiganya bisa membatalkan syahadatnya dan menjadikan pelakunya kekal dalam neraka. Tapi NU menganggap gampang dalam masalah ini demi mendapat bantuan...

Di sisi lain, NU menjadikan filsafat atau ilmu kalam sebagai landasan beragama mereka. Mereka mempelajari “ilmu berbicara” ini bersama kitab-kitab alat/lughoh dan mencampur adukkannya. Filsafat telah menjadi salah satu dasar agama mereka.

Bukankah Abu Yusuf (Ya`qub bin Ibrohim al Qodhi. Wafat : 183 H) berkata: “Barangsiapa mencari agama dengan ilmu kalam, pasti dia zindiq. Barangsiapa yang mencari makna-makna gorib hadits, pasti dia berdusta. Barangsiapa yang mencari harta dengan kimia (sulap), pasti dia bangkrut”. (Dzammul Kalam: 326).

Sehingga Al Imam Syafi’i mengatakan: ‘Hukuman terhadap ulama ilmu kalam ialah mereka ini dipukul dengan pelepah kurma dan kemudian dikelilingkan di berbagai kampung dan kabilah untuk dinyatakan di hadapan mereka : Inilah balasan bagi orang yang meninggalkan Al Kitab dan As Sunnah dan terjun dalam ilmu kalam.’ (Hr. al-Harowi dalam kitab Dzammul Kalam: 356).

Di NU juga ada aliran Tashawuf. Tapi mereka tak berani terang-terangan dalam mengajarkan aqidah ini. Metode mereka menggiring orang kepada pemahaman ini secara tak sadar melalui berbagai kiasan dan perumpamaan. Dan masyarakat nahdliyyin yang kebanyakan rakyat tak terdidik tidak sadar akan hal ini. Mereka telah dibuat kacau akal dan perasaannya karena tashawuf.

Cobalah kalian periksa sendiri aqidah mereka! Aqidah mereka itu aneh, campur aduk dan kacau balau. Tak bisa dijelaskan dan diluruskan baik dengan akal maupun dalil. Menyusun aqidah sendiri, padahal dalam syariat Islam sendiri tidak ada tashawuf.

Namun kata mereka tashawuf itu mengolah jiwa. Dan hasilnya mereka memang menjadi orang gila yang ahli jiwa. Mampu mengubah hati manusia dan merusak jiwa musuh-musuh mereka sebagai mana hati dan jiwa mereka.

Lihatlah Yahudi dan Nasrani musuh-musuh Islam. Punya berbagai kekuatan ekonomi, politik, militer, media mereka berkuasa. Orang Islam punya apa?

Orang NU berinovasi bahwa kita harus menyatukan kekuatan entah dari mistik tak peduli itu dari bangsa jin ke dalam kehidupan kita agar umat Islam punya kekuatan. Bukankan Islam itu rahmatan lil ‘alamin? Bukankah Rasullah SAW diutus pada jin dan manusia? Mereka berkhayal bahwa dengan meminta bantuan jin, mereka akan memperoleh kekuatan yang luar biasa yang tak akan terkalahkan.

Sudah jelas bagi kita bahwa perbuatan macam itu adalah terlarang. Tapi mereka tak peduli. Semuanya dilakukan untuk mencapai maksud tujuan mereka. Orang NU tak segan belajar mistik. Mereka menyebutnya “ilmu hikmah”. Jadi hikmah itu bagi mereka bukannya akhlak tapi kesaktian, guna-guna, dan semacamnya.

Dengan ilmu mistik mereka bisa punya pengaruh dan kewibawaan dan mudah menguasai hati manusia. Dengan mistik orang-orang yang menghalanginya diguna-guna. Dengan mistik mereka punya Pagar Nusa yang kuat digilas truk dan tak mempan dibacok. Lantas apa beda mistik mereka dengan sihir? Padahal sihir itu haram dan barang siapa melakukan sihir maka ia kafir.

Mereka beriman kepada jibt dan thaghut. Menurut ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu: Jibt ialah sihir, sedangkan thaghut ialah syaitan. Kata Jabir: Thaghut-thaghut ialah para tukang ramal yang didatangi syaitan; pada setiap kabilah ada seorang tukang ramal.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jauhilah tujuh perkara yang membawa kepada kehancuran. Para sahabat bertanya: Apakah ketujuh perkara itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab: Yaitu: syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan agama, memakan riba, memakai harta anak yatim, membelot dalam peperangan dan melontar tuduhan zina terhadap wanita yang terjaga dari perbuatan dosa, tidak tahu-menahu dengannya dan beriman.

Diriwayatkan hadits marfu’ dari Jundab: Hukuman bagi tukang sihir ialah dipenggal lehernya dengan pedang. Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dari Bajalah bin ‘Abdah, ia berkata: Umar bin Al-Khaththab telah menetapkan perintah, yaitu: Bunuhlah tukang sihir laki-laki maupun perempuan. Kata Bajalah selanjutnya: Maka kami pun melaksanakan hukuman mati terhadap tiga tukang sihir perempuan.

Tapi orang NU tak peduli. Segala sesuatunya mereka lakukan. Mereka punya ilmu “hakikat” yang mereka sembunyikan yang tidak kita ketahui. Benarkah?

Politik adalah salah satu kekuatan NU terbesar. Salah satu musuh Islam adalah Yahudi. Dan salah satu keunggulan yahudi adalah politiknya. Untuk mengalahkan Yahudi kita harus belajar lebih jahat dari Yahudi. Berpedoman pada azas ini mereka memutuskan untuk belajar “politik” untuk mengalahkan politik yahudi. Bahkan lebih dari itu mereka juga mendapat wangsit entahvdari mana dalam merumuskan dan menjalankan politik mereka.

NU merasa mereka itu termasuk yang terdepan dalam melawan Yahudi dan Nasrani. Kenyataannya musuh NU itu dalam prakteknya bukan Nasrani atau Yahudi tapi "umat Islam" sendiri. Siapapun yang menghalangi jalannya mereka hancurkan. Karenanya semua musuhnya adalah salah dan NU lah yang paling besar dan benar. Mereka menghancurkan "Islam" dan "umat Islam" untuk menegakkan keyakinan agama (NU) mereka.

NU itu sebagai identik dengan bid’ah, mereka ingin menyatukan segala macam bid’ah dalam satu wadah. Yang penting mereka besar. Mereka memang suka yang besar-besar. Salah satu orang yang aktif menyebarkan bid'ah di dalam dunia nyata dan dunia maya adalah Putra Rahman. Dia adalah seorang yang aktif dalam NU, terutama di Lesbumi dan Lakpesdam NU Jawa Tengah.

Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia) adalah lembaga yang bernaung di bawah PBNU (Pengurus Besar Nahdhatul Ulama). Pada mulanya, keberadaan lembaga ini merupakan upaya implementasi gagasan kembali ke khittah yang diamanahkan pada Muktamar ke-27 di Situbondo, diawali dengan perbincangan tentang pentingnya membuat konsep Pengembangan SDM NU (PSDM NU).

Namun dalam perjalanannya, lembaga ini seolah-olah sebagai wadah kaum liberalis untuk memperjuangakan dan menebarkan virus penyakit SIPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme). Lakpesdam menjadi lahan yang teramat subur untuk menanamkan benih-benih pemikiran liberalisme. Di bawah payung Lakpesdam ini, agenda kegiatannya pada tiga aspek utama, yaitu membendung fundamentalis Islam, mencegah munculnya kekerasan yang mengatasnamakan Islam dan mengembangkan demokrasi, menghargai HAM dan mengembangkan paham Islam liberal yang toleran, pluralis dan emansipatif.

Barangkali popularitas dan pengaruh Putra Rahman di tubuh NU tidaklah seberapa dibandingkan tokoh-tokoh liberalis ‘sepuh’ di ormas tersebut semisal KH. Said Aqil Siradj, Gus Dur, KH. Masdar Farid Mas’udi, KH. Mustofa Bisri, KH. Alwi & Quraish Syihab, dan sederet nama lainnya. Gus Ulil Abshar Abdalla dan Kyai Zuhairi Misrawi, dua liberalis yang aktif di Lakpesdam ini juga tidak kalah sengitnya dalam ‘mengusik‘ dan merongrong kemurnian syariat Islam.

Peran mereka sangat menentukan gerak langkah ormas NU ke depannya. Karena di tangan merekalah tongkat estafet kepengurusan PBNU ini akan diberikan. Lokomotif NU akan dikendalikan oleh mereka-mereka itu. Rangkaian gerbong di belakangnya tentu akan mengikuti ke mana arah lokomotif itu berjalan.

Keberadaan Lakpesdam dalam tubuh NU merupakan satu dari sekian banyak bukti yang menunjukkan citra NU sebagai virus yang harus diwaspadai. Bagaimana bisa lembaga yang demikian keadaannya masih bisa bertahan di dalam ormas yang katanya ‘dipandhegani‘ (diayomi) oleh para alim ulama dan kiai sepuh tersebut.

Itulah NU,

Sebuah organisasi terbesar yang akan terus menjadi virus untuk menyerang radikalisme yang bertopengkan Islam. NU adalah virus yang menyebarkan semangat Nasionalisme, dan menyerang mereka yang merusak citra Islam dan NKRI. Maka tidaklah heran jika disinyalir ada upaya besar untuk menggembosi ormas terbesar di Indonesia dan penggiringan opini seolah-olah Nahdlatul Ulama itu sesat dan menyesatkan.

Mereka yang tidak suka NU melakukan berbagai cara untuk mengajak umat Islam agar semakin membenci NU. Padahal negara Muslim di seluruh dunia saat ini banyak yang belajar kepada Nahdlatul Ulama tentang bagaimana membina dan mengelola Islam yang damai, ramah, dan santun.

Banyak orang mengaku-ngaku sebagai NU Garis Lurus, NU Garis Suci, atau pecinta NU yang justru menghancurkan NU dengan membuat opini-opini yang menebar kebencian dan memunculkan perpecahan. Digiring opini agar orang NU tidak percaya lagi pada ulama dan kyai-kyai NU.

Tragisnya bahkan orang NU sendiri yang notabene punya pengaruh besar di mata publik ikut terhanyut dalam hasutan dan hinaan oleh mereka para pembenci NU. Tidak dipungkiri bahwa gagasan “ISLAM NUSANTARA” bisa menjadi magnet besar dalam membangun besarnya kekuatan Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dan oleh media-media pembenci NU dijadikan lahan untuk menghancurkan NU dari dalam seolah-olah NU telah diboncengi oleh Liberal, Syiah, Nasrani, Yahudi dan PKI. Padahal telah jelas dan disepakati oleh ribuan ulama dan kiai pengasuh pondok pesantren serta majelis ta’lim di seluruh Indonesia bahwa tema Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang adalah “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Membangun Peradaban Indonesia dan Dunia”.

Tema tersebut dipilih untuk menunjukkan posisi strategis NU di Indonesia dan dunia sebagai pengusung Islam rahmatan lil ‘alamin. Cukup menjadi pelajaran berharga dari Afghanistan, Irak, Suriah, Libya, Yaman, Tunisia, Mesir, Somalia dan negara-negara Muslim yang menjadi sasaran konflik antar umat Islam karena tidak adanya persatuan diantara mereka.

Kita tidak menginginkan Indonesia seperti mereka, berapa juta umat Islam yang mati mengenaskan akibat konflik di negara-negara tersebut ?

Ide Islam Nusantara datang bukan untuk mengubah doktrin Islam. Ia hanya ingin mencari cara bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Islam Nusantara bukan sebuah upaya sinkretisme yang memadukan Islam dengan “agama Jawa”, melainkan kesadaran budaya dalam berdakwah sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu kita, yakni Walisongo. Islam Nusantara tidak anti arab, karena bagaimanapun juga dasar-dasar Islam dan semua referensi pokok dalam ber-islam berbahasa Arab. Makanya dalam NU ada istilah "Arab digarap, Jawa dibawa, Barat diruwat".

Walau istilah Islam Nusantara telah menimbulkan polemik pro dan kontra. Bagi NU sebagai ormas Islam terbesar, Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras. Bahwa Islam di Nusantara didakwahkan dengan cara merangkul budaya, menyelaraskan budaya, menghormati budaya, dan tidak memberangus budaya. Dari pijakan sejarah itulah, NU akan bertekad mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu Islam yang ramah, damai, terbuka dan toleran.

Menyimak wajah Islam di dunia saat ini, Islam Nusantara sangat dibutuhkan, karena ciri khasnya mengedepankan jalan tengah karena bersifat tawasut (moderat), tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik. Oleh karena itu, sudah selayaknya Islam Nusantara dijadikan alternatif untuk membangun peradaban dunia Islam yang damai dan penuh harmoni di negeri mana pun.

Menurut Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, Rais Syuriah PBNU Pusat sekaligus ketua Thariqat se-dunia menjelaskan, “Sebenarnya maksudnya Islam di Nusantara, bukan merupakan ajaran atau aliran sendiri. Jadi bagaimana mewarisi Islam yang telah digagas atau dikembangkan para wali-wali dulu.”

Beliau melanjutkan “Islam di belahan bumi Indonesia itu punya karakteristik sendiri yang unik. Kalau saja wali songo itu tidak coba beradaptasi dengan lingkungan sekitar ketika Hindu dan Budha masih menjadi agama mayoritas, mungkin kita tidak bisa menyaksikan Islam yang tumbuh subur seperti sekarang ini.”

Beliau berpesan bahwa inti Indonesia adalah terletak pada rasa persatuan dan kesatuan. Rasa inilah yang agaknya menjadi barang mahal dan sulit sekarang ini. Rasa itu sesungguhnya yang membingkai keberadaan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Karenanya tugas kita bagaimana terus menjaga NKRI ini, itulah mengapa dalam setiap ceramah beliau akhir-akhir ini sering membahas tentang upaya mengukuhkan Persatuan Bangsa dan Negara.

Indonesia itu menurut beliau, tidak disukai kalau ekonominya maju. Karenanya selalu ada upaya eksternal (asing) untuk memperlemah ekonomi Indonesia sekaligus terus mengancam NKRI. Ketika gagal melemahkan dari sisi ekonomi, dilemparlah isu Sunni-Syiah. Begitu merasa gagal dengan isu itu kemudian konflik antar umat beragama. Intinya cuma satu: memecah belah NKRI.

Maulana Habib Luthfi bin Yahya memberikan sebuah analogi tentang bagaimana menjadi muslim yang baik di bumi Indonesia, “Laut itu punya jati diri, pendirian, dan harga diri. Sehingga betapapun zat yang masuk ke dalam laut melalui sungai-sungai yang mengalir kepadanya, keasinan air laut tidak akan terkontaminasi. Karena laut itu bisa mengantisipasi limbah-limbah yang masuk.”

Lebih lanjut, beliau menjelaskan, ikan yang berada di dalam laut pun juga demikian. Ia tetap tawar dan tidak terkontaminasi oleh asinnya air laut. Sedangkan air laut sendiri tidak mengintervensi ikan yang ada di laut. Keduanya mempunyai jati diri yang luar biasa dan bisa hidup bersama, serta saling menghargai dalam “ideologinya” masing-masing.

“Dalam hidup berbangsa dan bernegara, laut adalah contoh konkret. Jati diri bangsa, harga diri bangsa, kehormatan bangsa tetep punya kepribadian yang luar biasa, dan kedua-duanya dapat hidup bareng dengan harmoni. Kalau kita bisa meniru kehidupan yang ada di laut, maka bangsa ini akan aman dan enggak bakal ruwet,” begitulah penjelasan Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

Perlu ditegaskan disini bahwa Islam Nusantara tidaklah anti budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam Nusantara tetaplah berpijak pada akidah tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam.

Karenanya, kehadiran karakteristik Islam Nusantara bukanlah respon dari upaya Arabisasi atau percampuran budaya arab dengan ajaran Islam, akan tetapi menegaskan pentingnya sebuah keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam. Dan semua itulah yang dilakukan oleh NU.

Makanya tidaklah heran jika ada yang memutarbalikkan fakta serta melihat yang dilakukan NU adalah menyimpang dari ajaran agama Islam, karena mereka itu tidak mengenal NU. Hanya sebatas melihat dan mendengar, tanpa memahaminya.

Dan tidak lupa saya ucapkan selamat Harlah ke-91 buat NU yang dengan tagline "Merawat Tradisi, Mengupayakan Inovasi, Menjaga NKRI". Jayalah NU, Jayalah NKRI! NU kan tetap menjadi benteng pertahanan NKRI. Siapa yang ingin merusak NKRI, maka kan berhadapan dengan NU. [Santriwati Cantik]

Putra Rahman, tinggal di Pekalongan

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/waspadalah-virus-syirik-bidah-liberal-nu-yang-sangat-radikal.html

Rabu, 22 April 2009

What? KH Hasyim Asyari Paling Wahabinya Wahabi?

Santriwati Cantik - Pada Senin (2 Mei 2016), saya mendapat undangan untuk menghadiri Seminar Internasional atas kerjasama Atase Agama Kedubes Saudi Arabia dan STAIN Pamekasan yang menghadirkan tiga nara sumber. 1). Dr. Ibrahim Sulaiman An Nughemsyi (Atase Agama Kedubes Saudi Arabia). 2). Prof. Dr. KH Ahsin Sakho Muahammad (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). 3). KH. Syukran Makmun (Pengasuh Pesantren Darur Rahman Jakarta).

What? KH Hasyim Asyari Paling Wahabinya Wahabi?
What? KH Hasyim Asyari Paling Wahabinya Wahabi?


Seminar ini dibuka oleh Ketua STAIN Pamekasan Dr. Taufiqurrahman, M.Pd. Kemudian dilanjutkan pemateri pertama, Prof. Dr. Akhsin Sakha yang menjelaskan tentang pemikiran Hadratus Syekh Hasyim Asyari dalam mempertahankan NKRI yang lalu dikenal dengan Resolusi Jihad.

Kemudian, pemateri kedua, KH. Syukran Makmun mencoba menyinggungg konflik di Timur Tengah akibat kesalahpahaman umat antara berbagai kelompok (firqah islamiyah). Beliau juga menekankan agar konflik di Timur Tengah jangan sampai terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, toleransi inter dan antar umat beragama harus lebih ditingkatkan.

Pemateri ketiga adalah Dr. Ibrahim Sulaiman, beliau menyampaikan beberapa poin penting bahwa wahabi dan NU tidak ada perbedaan. Menurut klaim Dr. Ibrahim, bahwa beliau adalah orang yang pertama kalinya mengkaji Hadratus Syekh Hasyim Asyari pada tahun kemarin di salah satu Universitas Islam di Malang. Bahkan beliau berpendapat Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asyari adalah paling wahabinya wahabi. Karena menurut beliau, Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asyari menolak Syiah Zaidiyah, sedangkan wahabi masih mentolerir Syiah Zaidiyah.

Pada sesi tanya jawab, sebenarnya penulis ingin bertanya dan memberi tanggapan terhadap para nara sumber. Namun, karena penulis tidak diberi kesempatan oleh moderator dengan alasan waktu terbatas, maka penulis menyampaikannya melalui catatan-catatan sebagai berikut:

Pertama, penulis sangat setuju dengan pernyataan Prof. Dr. Ahsin Sakho bahwa Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asyari memandang NKRI dari segi maqashid syariah dengan Resolusi Jihadnya.

Kedua, Konflik di Timur Tengah bukan disebabkan terpecahnya umat Islam karena faktor kelompok agama (firqah Islamiyah), akan tetapi perpecahan di Timur Tengah yang disebut Revolusi Timur Tengah disebabkan Al-Harakah Al-Siyasiyah (Pergerakan Politik). Berdasarkan fakta yang terjadi di Syiria, Sunni-Syiah selama bertahun-tahun hidup damai berdampingan. Begitu juga di Yaman, Tunisia, Lebanon, dan lainnya. Sehingga yang harus diwaspadai di Indonesia adalah Al-Harakah Al-Siyasiyah (Pergerakan Politik) yang akan memecah belah NKRI.

Ketiga, Klaim Dr. Ibrahim Sulaiman An Nughemsyi (Atase Agama Kedubes Saudi Arabia) bahwa beliau adalah yang pertama kali mengkaji pemikiran Hadratus Syekh adalah tidak benar. Karena para kader NU sejak sekitar 2007-an sudah intens mengkaji pemikiran beliau, sehingga lahirlah beberapa buku spektakuler dan film Sang Kiai.

Keempat, penulis sangat tidak setuju dengan pernyataan Dr. Ibrahim bahwa Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asyari adalah paling wahabinya wahabi. Karena ada perbedaan mendasar antara wahabi dan pemikiran Hadratus Syekh, bahwa wahabi adalah firqah mujassimah, yakni merupakan kelompok yang menganggap Tuhan memimiliki jism/jasad.

Wahabi adalah pergerakan politik, sedangkan Pemikiran Hadratus Syekh dengan NU-nya adalah murni pergerakan sosial keagamaan. Wahabi sering membawa masalah furu’iyah kepada aqidah, sedangkan Hadratus Syekh tidak demikian.

Bahkan dalam kitab karya Hadratus Syekh berjudul “Risalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah (hal 9)”, beliau menyatakan dengan tegas menolak pemikiran Syekh Muhammad ibn Abdul Wahab sebagai pendiri wahabi. Sehingga tuduhan bahwa Hadratus Syekh Hasyim Asyari adalah paling wahabinya wahabi adalah tidak benar.

Kelima, Dr. Ibrahim telah melakukan tahrif terhadap kitab Irsyadu al-Syari (Kumpulan Kitab Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asyari) dalam Risalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah halaman. 10. Menurutnya, Hadratus Syekh menolak Syiah Zaidiyah, padahal dalam kitabnya tersebut Hadratus Syekh menolak Syiah Rafidah karena mereka secara jelas telah mencela sahabat.

Ala kulli hal, semoga catatan ini bisa memberi pencerahan untuk masyarakat Pamekasan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. [Santriwati Cantik]

Muhammad Taufiq, kader NU dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pamekasan.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/what-kh-hasyim-asyari-paling-wahabinya-wahabi.html

Sabtu, 28 Juli 2007

Pernyataan Ketum PBNU Terkait Pilpres 2014

NU merupakan jamiyyah diniyyah ijtimaiyyah, organisasi masyarakat keagamaan. Sejak awal didirikan oleh para Kyai, NU mengemban tugas besar menjaga, merawat, dan mengembangkan ajaran Islam ala Ahlissunnah wal Jamaah di bumi Nusantara.

Karenanya sudah teramat jelas bahwa NU tidak bertujuan meraih kekuasaan politik. Kalaupun harus menyebut istilah politik, maka politik NU adalah politik kebangsaan dan politik kerakyatan. NU menunjukkan bahwa jalan menuju kemaslahatan individual dan kolektif terbentang begitu banyak dan luas. Sementara kekuasaan politik praktis hanya sebagian saja dari berbagai jalan yang ada.

Hingga sekarang dan kelak, NU secara tegas dan teguh memegang komitmen terhadap Khittah 1926 ini. Salah satu pelajaran penting dari Khittah 1926 ialah NU keluar dari batas-batas partai politik. NU meluaskan pandangan dan pengertian terhadap politik. Perluasan pandangan itu beranjak dari sebatas tukar guling kekuasaan meluas menjadi perjuangan kemaslahatan.

Pernyataan Ketum PBNU Terkait Pilpres 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pernyataan Ketum PBNU Terkait Pilpres 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)


Pernyataan Ketum PBNU Terkait Pilpres 2014

Sejak mengemban amanah Ketua Umum PBNU, saya dengan sadar dan sengaja berusaha meneruskan komitmen Khittah 1926. NU bukan bagian dari partai politik apapun. Bukan bagian dari PDIP, GOLKAR, PD, GERINDRA, PKB, PPP, dan seterusnya. Bagi saya, Karena NU jauh lebih besar dari partai, justru di partai-partai itulah tersebar kader-kader NU.

Indonesia pasca-reformasi yang antara lain ditandai dengan semangat desentralisasi atau otonomi daerah dibajak oleh penumpang gelap demokrasi. Pembajakan demokrasi di era otonomi itu membuat kekuasaan politik tersebar secara luas dan menyeret masyarakat sipil dalam godaan dan iming-iming duniawi yang tidak mudah dikendalikan.

Santriwati Cantik

Santriwati Cantik

Dalam pusaran semacam itu, unsur-unsur dalam NU kerap diseret-seret untuk terlibat dalam arus kekuasaan politik praktis. Dari level nasional hingga daerah, kecenderungan ini terjadi secara sporadis. Kita tahu bahwa jumlah Nahdliyin, merujuk sejumlah survei akademik, survey pemerintah, dan survey intelijen, memang besar sekali secara demografis. Tidak heran jika Agenda semacam pemilihan kepala daerah, seringkali membuat Nahdliyyin dihitung sebatas sebagai penyumbang suara. Padahal, ini yang kerap dilupakan, besarnya jumlah warga Nahdliyyin merupakan akibat dari perjuangan keaswajaan yang berangkat dari kesadaran, bukan semata akibat dari politik praktis yang berangkat dari hasrat kekuasaan.

Hari-hari ini, kita menyaksikan, proses menuju Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 begitu menyita perhatian. Sulit dipungkiri, NU kembali diseret-seret dalam proses tersebut. NU sebagai organisasi tidak layak diperalat untuk menjadi sekadar tim sukses. Yang didukung NU bukan sekadar kandidat, melainkan proses penyelenggaran pemilihan yang jujur, adil, dan bermartabat.

Sikap PBNU jelas dan tegas, tidak berpolitik praktis. Tak satupun yang akan mendapat stempel NU. Kalaupun ada pihak-pihak yang membawa-bawa NU untuk dijadikan komoditas politik, sudah pasti itu tidak lebih dari sekadar klaim.

Saya menghimbau warga NU untuk memilih pemimpin yang mampu menjadi solusi bagi Indonesia. Warga NU harus menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab. Tanggung jawab itu terus berlangsung hingga setidaknya lima tahun mendatang. Baik buruknya bangsa ini, ada di tangan kita sendiri.

Karena pemilihan presiden hanya merupakan satu tahap saja dari rangkaian pembangunan Indonesia, jauh lebih penting bagi PBNU untuk mengawal dan mengawasi pemerintahan terpilih. Saya akan berdiri di depan dan pasang badan jika presiden dan wakil presiden terpilih nanti tidak bekerja untuk kedaulatan rakyat. Jadi, tidak hanya 9 Juli yang penting, jauh lebih penting adalah hari-hari panjang sesudahnya.

Jakarta, 1 Juni 2014

DR KH Said Aqil Siroj, MA

Ketua Umum PBNU

Dari (Taushiyah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/52413/pernyataan-ketum-pbnu-terkait-pilpres-2014

Santriwati Cantik

Sabtu, 31 Maret 2007

Lakut IPNU Jepara Siapkan Kader Masa Depan NU

Jepara, Santriwati Cantik. Latihan Kader Utama (Lakut) IPNU Jepara bertujuan mempersiapkan kader NU untuk 30 tahun mendatang. Ketua PC IPNU Jepara Chusni Maulana menyatakan, kaderisasi merupakan sebuah proyek untuk membangun masa depan NU dengan menyiapkan kader berkualitas.

Mereka pada gilirannya nanti akan menggerakkan NU, Chusni Maulana.

Lakut IPNU Jepara Siapkan Kader Masa Depan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakut IPNU Jepara Siapkan Kader Masa Depan NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Lakut IPNU Jepara Siapkan Kader Masa Depan NU

Lakut berlangsung di pesantren Al-Haromain desa Rajekwesi kecamatan Mayong kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Jumat-Ahad (15-17/11). Lakut IPNU Jepara diikuti 20 peserta yang menerima sejumlah materi.

Santriwati Cantik

Materi yang diutarakan antara lain, ke-IPNU-IPPNUan, ke-NUan, Aswaja, Manajemen Program, Jaringan, Teknik Sidang dan Tata Cara Melantik, Geopolitik Global, Strategi Perencanaan, dan Metode Pengorganisasian Pelajar.

Kegiatan ini bertujuan membentuk kader yang memiliki kedalaman ideologis dan mampu mengejawanwantahkan ideologi Aswaja dalam pergumulan sosio-politik, sosio-budaya, dan sosio-ekonomi, tambah Ketua Panitia Hidayatun Nikmah.

Santriwati Cantik

Tujuan yang tidak kalah penting ialah untuk proyeksi pengurus cabang IPNU-IPPNU masa khidmah berikutnya, lanjut Nikmah.

Senada dengan Chusni, Ketua PCNU Jepara KH Asyhari Syamsuri menyampaikan, Lakut merupakan upaya untuk meneruskan pengganti NU 30 tahun ke depan. Asyhari menyebut usianya yang kini sudah 55 tahun. 30 tahun ke depan, Anda lah yang akan menggantikan perjuangan kami. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48250/lakut-ipnu-jepara-siapkan-kader-masa-depan-nu

Santriwati Cantik

Senin, 20 November 2006

Dilantik, Pengurus GP Ansor Cipondoh Kompak Kenakan Sarung

Tangerang, Santriwati Cantik. Pengurus Anak Cabang (PAC) Ansor Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang, Banten masa khidmah 2016-2018 di bawah pimpinan Nur Asyik resmi dilantik, Sabtu (29/10) lalu di Ballroom Hotel Narita Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang. SK Resmi pelantikan ini dibacakan oleh H. Syahroni Pengurus Wilayah GP Ansor Banten.

Dalam pelantikan tersebut, para pengurus baru kompak memakai sarung, seragam GP Ansor serta peci. Khusus soal sarung, tidak banyak yang melakukan pelantikan dengan memakainya. Sehingga inisiatif Ansor Cipondoh ini dapat menjadi teladan budaya.

Dilantik, Pengurus GP Ansor Cipondoh Kompak Kenakan Sarung (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Pengurus GP Ansor Cipondoh Kompak Kenakan Sarung (Sumber Gambar : Nu Online)


Dilantik, Pengurus GP Ansor Cipondoh Kompak Kenakan Sarung

Tampak hadir Ketua PC GP Ansor Kota Tangerang H. Mustaya Hasyim, Ketua PW GP Ansor Banten H Ahmad Imron, Wakil Ketua PP GP Ansor H Lukmanul Hakim. Hadir juga Sekretaris PCNU Kota Tangerang, Camat Cipondoh Demi Koswara, Kapolsek Cipondoh dan juga unsur tokoh masyarakat dan organisasi kepemudaan.

Ketua PC GP Ansor Kota Tangerang H. Mustaya Hasyim menyatakan, Ansor bukanlah organisasi politik. "Ansor berdiri di atas semua kaki. Karena itulah, cara pandang politik Ansor adalah politik kebangsaan bukan partisan. Itulah politik amar makruf nahi munkar yang menjadi haluan Nahdlatul Ulama," ujarnya.

Santriwati Cantik

Sedangkan Ketua PW GP Ansor Banten H. Ahmad Imron menyatakan, Ansor adalah organisasi yang merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah, maka jangan tanyakan apa yang telah diperbuat Ansor untuk Bangsa ini. Sehingga sudah semestinya kita sebagai kader-kader penerus melanjutkan dan mempertahankan kedaulatan, Kesatuan dan Persatuan NKRI, ujarnya.

Dalam sambutan selanjutnya mewakili PP GP Ansor H. Lukmanul Hakim menyampaikan terkait isu gerakan yang akan terjadi pada tanggal 4 November 2016, agar kader-kader Ansor, Banser, NU manut arahan PBNU.

Santriwati Cantik

Karena apa yang disampaikan PBNU berdasarkan hasil kajian-kajian yang sumbernya dapat dipercaya. Kita dorong melalui jalur hukum agar pihak terkait menegakkan hukum dengan seadil-adilnya. Kita percayakan kepada Kiai-kiai kita di PBNU untuk menghadapi masalah ini secara elegan, ujarnya.

Ketua terpilih, Nur Asyik berjanji untuk memberikan yang terbaik pada Ansor. "Insya Allah apa-apa yang diamanahkan oleh Pimpinan Cabang akan kami laksanakan dengan sebaik-baiknya," terangnya. Nur Asyik berharap, kepengurusan baru ini terdiri dari personil-personil yang amanah dan profesional.

"Tanpa hal ini, kerusakan yang akan terjadi. Semoga juga, pengurus memiliki karakter yang aktif, kreatif, inovatif dan komunikatif," jelasnya.

Tak lupa, Nur Asyik juga berharap semoga Ansor yang bermakna penolong itu bergerak untuk turut membantuk semua pihak dalam mewujudkan kebaikan bagi masyarakat. "Kita membantu di bidang keagamaan dan kemasyarakatan. Inilah gerakan Ansor sebagai penolong," tandasnya. (Atho/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72570/dilantik-pengurus-gp-ansor-cipondoh-kompak-kenakan-sarung

Santriwati Cantik

Sabtu, 06 Agustus 2005

Ikhtiar Majalah Surah untuk Penulis Pesantren

Jakarta, Santriwati Cantik. Pada Ramadhan tahun ini, Majalah Surah menggelar pelatihan menulis di sejumlah pesantren di Jakarta, Depok, Bogor, dan Bekasi. Karena merupakan majalah sastra, Surah dengan program Ngabuburit Bareng Surah belajar bareng bersama santri-santri bidang prosa (novel dan cerpen) dan puisi.

Pemimpin Umum Majalah Surah Abi Setyo Nugroho mengatakan, pelatihan ini merupakan ikhtiar "menemukan" dan mengasah para penulis di pondok-pondok pesantren. Dikatakan menemukan, menurut dia, karena sangat mungkin di pesantren ada bakat-bakat penulis.

Ikhtiar Majalah Surah untuk Penulis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikhtiar Majalah Surah untuk Penulis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)


Ikhtiar Majalah Surah untuk Penulis Pesantren

Kepada yang sudah berbakat, Majalah Surah berharap untuk berbagi dalam masalah teknis penulis, menyemangati mereka mereka supaya tetap berkarya. Kemudian bagaimana cara mengirim karya ke media-media nasional. Serta berjejaring dengan penulis-penulis lain, katanya kepada Santriwati Cantik, di Jakarta, Jumat (3/7).

Tentang itu, Abi menekankan, Majalah Surah misalnya yang memasuki edisi 6, beberapa kali menemukan penulis pesantren yang berbakat. Kalau terus diasah teknik dan kepekaannya, disuplai buku-buku yang bagus, disilaturahimkan dengan penulis lain, mereka akan menjadi penulis handal.

Santriwati Cantik

Lagi-lagi tentang bakat, ia menyebutkan pernah membaca satu cerpen yang dipublikasi di situs Santriwati Cantik karya santriwati dari Magelang. Dalam usia SMA, ia menulis dengan baik dan panjang. Tidak mustahil bakat itu terpendam di pesantren-pesantren di berbagai pelosok. Cuma sayangnya, kemampuan Surah masih di sekitar Jabodetabek, kata pria berkacamata ini.

Santriwati Cantik

Meski demikian, ia menambahkan, menulis itu bukan melulu persoalan bakat, tapi juga keahlian. Karenanya, menulis bisa dengan cara terus berlatih. Maka Surah berbagi teknik-teknik menulis. Mulai dari cara bagaimana penokohan, alur, dan lain sebagainya. Serta proses kreatif dari berbagai penulis yang sudah lebih dahulu berkarya. Tak hanya itu, mereka juga diajak menonton film.

Teknik-teknik menulis disampaikan para Redaktur Majalah Surah. Untuk novel disampaikan editor di penerbitan Mocca, Dedik Priyanto. Untuk cerpen disampaikan A Zakky Zulhazmi, cerpenis yang karyanya dimuat di beberapa harian nasional dan daerah. Kumpulan cerpennya yang ditulis bersama sahabatnya terbit awal tahun ini, Gula Kawung, Pohon Avokad dan Cerita Lainnya. Sementara puisi disampaikan M Irfan Kurniawan yang karya-karyanya dimuat di media nasional.

Kemudian, Abi menambahkan, setelah mendapatkan materi itu, para peserta diberikan motivasi khusus oleh para Dewan Redaksi Majalah Surah. Di Pesantren Qotrun Nada, Depok, misalnya, Surah mempertemukan santri dengan kritikus sastra yang dosen sastra Universitas Indonesia, Maman S Mahayana.

Sementara di Pesantren Assalam, Bogor, Surah mengajak Dewan Redaksi lain yang juga penulis Al-Hikam untuk Semua, Muhaji Fikriono. Di Pesantren Tapak Sunan, Jakarta Timur, Surah menghadirkan Abdullah Wong yang penulis novel Mata Penakluk, sebuah buku yang mengisahkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Selain tiga pesantren tersebut, Surah akan melakukan hal yang sama di Pesantren Al-Asiyah Cibinong Bogor dan Pondok Pesantren An-Nur, Bekasi Utara. Di tiap pesantren, Surah juga membagikan buku-buku yang menarik untuk peserta yang aktif dan untuk koleksi perpustakaan, tambah Abi.

Ngabuburit bareng Surah yang dikemas dengan santai, diselingi suguhan musik dari awak Majalah Surah tersebut, merupakan kerja sama dengan Penerbit Zaman, Lakpesdam NU, dan Penerbit Banana, serta Santriwati Cantik. (Abdullah Alawi)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/60615/ikhtiar-majalah-surah-untuk-penulis-pesantren

Santriwati Cantik

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Cantik sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Cantik. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Cantik dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock