Tampilkan postingan dengan label Netizen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Netizen. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2017

Jangan Hanya Tiru Tampilan Fisik Nabi Muhammad SAW

Jombang, Santriwati Cantik. Dalam pandangan Imam Suprayogo, ketertinggalan umat Islam saat ini tidak dapat dipisahkan dari cara beragama yang semata mengejar penampilan. Sudah saatnya kaum muslimin justru meniru sifat dan pekerti luhur Nabi Muhammad SAW.

Jawaban ini didapatkan mantan Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang ini saat berkunjung ke salah seorang pengasuh pesantren. "Karena yang ditiru umat Islam saat ini semata aksesoris dari Nabi Muhammad SAW," katanya menirukan jawaban sang kiai, Sabtu (5/11).

Jangan Hanya Tiru Tampilan Fisik Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Hanya Tiru Tampilan Fisik Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)


Jangan Hanya Tiru Tampilan Fisik Nabi Muhammad SAW

Dalam penjelasannya, kiai itu mengatakan bahwa hingga kini kaum muslimin hanya mengejar penampilan dengan memanjangkan jenggot, membesarkan sorban, serta tampilan luar yang lain. "Tapi perilaku shiddiq, amanah, tablig, serta fathonah tidak ditiru," jelasnya.

Baginya, kemajuan dunia Barat hingga saat ini bukan karena mereka kenal secara baik siapa Nabi Muhammad SAW. "Tapi karena watak dan perilaku mereka meniru apa yang ada pada Beliau, walapun mereka tidak kenal," tegasnya.

Santriwati Cantik

Karenanya, Ketua Yayasan Universitas Hasyim Asyari (Unhasy) Jombang ini berpesan agar umat Islam segera menyudahi perburuan tampilan fisik. "Siapapun yang berperilaku seperti Nabi Muhammad, maka yang bersangkutan akan sukses," ungkapnya.

Pandangan ini disampaikan Imam Suprayogo saat tampil sebagai pemateri pada kegiatan Aktualisasi Resolusi Jihad yag diadakan di Pesantren Tebuireng. Sejumlah ulama, habaib, kiai, kalangan profesional serta akademisi ikut hadir pada acara yang berlangsung di aula pesantren setempat.

Santriwati Cantik

Pada acara tersebut hadir antara lain Tuan Guru Turmudzi, Habib Sholeh Al-Jufri, KH Anwar Manshur, Tuan Syech Akbar Marbun, KH Ahmad bin Zain Al-Kaff, KH Mahfudz Syaubari, Habib Nabil Al-Musawwa, KH Hanif Muslih, serta tuan rumah KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah).

Masing-masing membubuhkan tanda tangan pada Piagam Tebuireng Aktualisasi Resolusi Jihad yang juga dikuatkan kehadiran Asisten Teritorial (Aster) Panglima TNI, Mayjend TNI Wiyarto. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72707/jangan-hanya-tiru-tampilan-fisik-nabi-muhammad-saw

Santriwati Cantik

Jumat, 12 Februari 2016

IPNU-IPPNU Kencong Fokus Kaderisasi dan Pengembangan Kualitas

Jember, Santriwati CantikKaderisasi dan pengembangan kualitas kader merupakan program prioritas bagi Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kencong di masa-masa mendatang. Sebab, dua hal ini dinilai sangat mendesak bagi penetrasi organisasi sayap kepemudaan NU tersebut.

Demikian salah satu butir penting yang dihasilkan dalam Rapat Kerja Pengurus Cabang IPNU-IPPNU Kencong di aula SMK Daarul Muqamah, Gumukmas, Jember, Jawa Timur, yang berakhir Ahad (18/9).

IPNU-IPPNU Kencong Fokus Kaderisasi dan Pengembangan Kualitas (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kencong Fokus Kaderisasi dan Pengembangan Kualitas (Sumber Gambar : Nu Online)


IPNU-IPPNU Kencong Fokus Kaderisasi dan Pengembangan Kualitas

Menurut Ketua PC IPNU Kencong Muhammad Mansur, rekrutmen kader ke depan akan menyasar semua lembaga pendidikan dan pesantren. Kami akan rekrut kader sebanyak-banyaknya. Kalau bisa semua pelajar akan kami IPNU-kan, ujarnya kepada Santriwati Cantik melalui sambungan telepon seluler.

Santriwati Cantik

Mahasiswa semester akhir Jurusan Matematika FKIP Univeritas Islam Jember tersebut menambahkan, pondok pesantern akan menjadi perhatian khusus dalam rekruitmen kader. Dikatakannya, wilayah Cabang Kencong, sebenanya cukup banyak berdiri pesantren, sehingga santri-santrinya perlu diakomodasi dalam wadah IPNU-IPPNU. Target kami, di semua sekolah dan pesantren itu berdiri komisariat IPNU, ungkapnya.

Sedangkan mengenai pengembangan kualitas kader, lanjut Mansur, pihaknya akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memberikan, bahkan meningkatkan kualitas kader, baik menyangkut kepemimpinan, keterampilan dan lain-lain. Ketika kader memiliki keterampilan yang cukup, maka secara pasti akan meningkatkan performa organisasi. Dengan demikian, maka manfaat organisasi, dalam hal ini IPNU-IPPNU akan semakin dirasakan oleh masyarakat, ujarnya.

Santriwati Cantik

Rapat kerja itu sendiri berlangsung dua hari, diikuti oleh 50 peserta yang berasal dari 5 PAC IPNU-IPPNU se-Cabang Kencong. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71333/ipnu-ippnu-kencong-fokus-kaderisasi-dan-pengembangan-kualitas

Kamis, 20 November 2014

Pengurus NU Diminta Fokus Kawal Program Kerja Produk Muktamar

Bandung, Santriwati Cantik. Ketua PWNU Jawa Barat, Dr H Eman Suryaman mengatakan, saat ini pengurus NU diharapkan lebih fokus untuk mengawal program-program kerja produk Muktamar Ke-33 NU. Menurutnya, Muktamar NU sudah selesai dan semuanya patut bersyukur karena lancar, dinamis dan semakin berkualitas.

"Kita sepatutnya bersyukur muktamar berlangsung meriah dan menyenangkan. Jika ada pihak yang kurang berkenan dan bicara lain di luar, biarkan saja. Kita tidak usah bereaksi. Sudah biasa dalam organisasi seperti ini. Tinggal kita bersabar. Barangkali mereka masih emosi, nanti tunggu beberapa waktu juga reda sendiri," terangnya, Sabtu (8/8).

Pengurus NU Diminta Fokus Kawal Program Kerja Produk Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU Diminta Fokus Kawal Program Kerja Produk Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)


Pengurus NU Diminta Fokus Kawal Program Kerja Produk Muktamar

Di mata Eman, pihak-pihak yang merasa tidak puas dengan kegiatan Muktamar agar menghargai panitia yang sudah bekerja keras mengawal Muktamar dari awal hingga akhir. Menurutnya, persoalan kecewa, misalnya soal registrasi atau pelayanan dan ketatnya memasuki ruang persidangan itu bukan hanya dialami oleh satu pihak.

Santriwati Cantik

"Saya sendiri juga mengalami perasaan yang kurang mengenakkan. Tetapi kita juga harus bersikap dewasa. Panitia itu punya tanggungjawab penuh meraih target sukses. Jadinya ketat. Di hari pertama saya dan teman-teman juga merasa, kok ini sepertinya panitia sangat menekan peserta, tetapi pada akhirnya harus sama-sama sadar apa yang dilakukan panitia untuk kebaikan bersama," paparnya.

Ia berharap kepada semua pihak agar tidak membuat panas suasana, termasuk media massa yang sering mengambil judul atau kata-kata yang provokatif berkaitan isu Muktamar tandingan, muktamar ulang, kecurangan, NU pecah dan seterusnya.

Santriwati Cantik

"Harus proporsional melihat Muktamar secara umum. Situasi Muktamar berlangusng baik. Insiden kecil sudah biasa terjadi. Begitulah dinamika," terang penulis buku Jalan Hidup Sunan Gunung Jati yang baru terbit Juli 2015 ini.

Lebih lanjut Eman berpesan agar semua sumberdaya NU saat ini lebih fokus bergerak secara aktif mengawal mandat Muktamar yang meletakkan spirit gerakan dakwah di jalur budaya dengan spirit Islam-Nusantara. Fokus melanjutkan gerakan pembangunan rumah sakit, pendirian sekolah dan kampus. Juga serius menggerakkan ekonomi rakyat karena warga NU mayoritas berada di lapisan ekonomi bawah. (Yus Makmun/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/61489/pengurus-nu-diminta-fokus-kawal-program-kerja-produk-muktamar

Santriwati Cantik

Selasa, 11 Juni 2013

Mengapa NU Terseret Politik Praktis di Pilkada DKI? Polemik Istighatsah Tanpa Ijin

Santriwati Cantik - Acara Istighotsah Kebangsaan yang digelar oleh Warga Nahdliyin Jakarta di Masjid al-Huda Jl Talang No 3 Jakarta Pusat, mengundang polemik. PWNU mengirimkan rilis yang memprotes istighotsah itu.

Anehnya, rilis hanya ditandatangani Rais Syuriah dan Wakil Ketua Tanfidziyah. Kalau resmi, rilis itu mestinya ditandatangi oleh Rais Syuriah, Katib Syuriah, Ketua Tanfidziyah dan Sekretaris Tanfidziyah. Tapi yang menarik, sejak kapan Istighotsah Nahdliyin perlu izin PWNU?

Mengapa NU Terseret Politik Praktis di Pilkada DKI? Polemik Istighatsah Tanpa Ijin - Santriwati Cantik
Mengapa NU Terseret Politik Praktis di Pilkada DKI? Polemik Istighatsah Tanpa Ijin - Santriwati Cantik


Mengapa NU Terseret Politik Praktis di Pilkada DKI? Polemik Istighatsah Tanpa Ijin

Apalagi yang mengadakan adalah tokoh NU yakni Djan Faridz yang mantan Ketua Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta (2011-2014) dan dihadiri oleh KH Nur Iskandar SQ, yang baru sembuh dari sakit, yang pernah dikabarkan wafat gara-gara menolak Aksi 411 (Alhamdulillah Kiai, njenengan dipanjangkan umur dan diberi kesehatan setelah difitnah macam-macam).

Bagi pihak yang menolak istighatsah ini menganggap istighasah ini politis, karena diadakan oleh Djan Faridz yang juga Ketua Umum PPP dan hanya dihadiri oleh salah seorang Cagub yakni Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Santriwati Cantik

Kita sayangkan politisasi ini, tapi, politisasi terhadap NU tidak hanya dilakukan oleh Djan Faridz, karena sampai ke struktur PBNU juga melakukan. Rais Aam Syuriah, Ketum PBNU dan Sekjend PBNU hanya menerima Paslon Nomer 1: Agus-Sylvi pada bulan Oktober tahun lalu, bahkan diberi KartaNU.

Santriwati Cantik

Sejak kapan Agus jadi NU, peduli ke NU, datang ke NU dan sowan ke Kiai, tiba-tiba dapat keistimewaan diberi KartaNU dan langsung oleh Rais Aam PBNU dan Ketum PBNU? Apa kriteria ini? Saya saja yang dari lauhul mahfudz sudah NU, hingga lahir dan besar, perlu ngantri untuk dapat KartaNU. Hehehe..

Banyak yang curiga karena Sekjen PBNU juga merupakan politisi PKB dan anggota DPR Fraksi PKB yang satu koalisi dengan Cikeas. Tanpa mengurangi rasa hormat pada Rais Aam PBNU, Kiai Ma'ruf Amin (semoga Allah SWT memberikan beliau kesehatan dan panjang umur) adalah Watimpres zaman SBY dan pada Pilkada 2012 mendukung Foke yang merupakan cagub dari Demokrat.

Andai PBNU dan struktur PBNU tidak main-main dengan khittah 1926 yakni benar-benar netral dari politik praktis, maka pihak-pihak lain akan segan melakukan politisasi NU, tapi karena di Pengurus Besarnya sudah "main" maka tidak heran, pihak-pihak lain juga akan melakukan hal yang sama dengan dalih yang bermacam-macam, apalagi di NU dikenal yang kuat adalah jamaah dan kiainya, bukan di strukturnya. Di NU tergantung kiai, juga tergantung ke mana arah politik kiai.

Andai PBNU melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Keluarga Gus Dur di Ciganjur dalam Acara Haul bulan Desember 2016, yakni mengundang semua calon maka, ini akan memberikan dampak yang lebih baik. Meski kita juga tahu, Keluarga Gus Dur sangat dekat secara emosional dengan Ahok.

Ahok pernah diberikan Gus Dur Award dan Ahok membangun RPTRA dengan patung Gus Dur Kecil di depan Taman Amir Hamzah di depan kantor Wahid Institute. Tapi, kedekatan dan kesukaan keluarga Gus Dur pada Ahok, tidak mengurangi mereka untuk bersikap adil pada calon-calon yang lain.

Jadi, kalau menurut Al-Quran, "janganlah kebencianmu pada suatu kaum mendorong mu tidak berbuat adil" maka dalam pesan yang lain bisa juga ditangkap, "janganlah kecintaanmu pada suatu kaum mendorong mu tidak berbuat adil." Jadi, meskipun Sekjen PBNU adalah politisi PKB dan satu koalisi dengan Cikeas, harusnya bisa bersikap adil pada cagub-cagub lain.

Publik dan warga NU juga tidak bisa dibohongi, bicara Khittah 1926 dan netral politik, ternyata malah "main" dengan salah satu Paslon Cagub. Ini yang benar-benar disayangkan, sehingga ini menyeret kemuliaan Rais Aam PBNU dan nama baik NU secara jam'iyyah.

Intinya, banyak pihak yang sekarang "main" di NU, khususnya para politisi NU yang masuk di banyak parpol yang tergantung dengan arah koalisi Cagub. Secara struktural PKB memegang NU di Tanfidziyahnya. Tentu saja mereka melakukan segala helah agar NU tetap bisa dimanfaatkan untuk Paslon mereka dan melakukan "blocking" terhadap pengaruh dari politisi-politisi NU dari non-PKB.

Politisi NU dari parpol lain tidak kehilangan akal, karena sebenarnya warga NU sangat cair, tergantung pada kiai. Di sinilah mereka tetap bisa "main". Karena kiai ibaratnya adalah pemilik saham di NU, yang punya jamaah.

Meskipun kiai ini tidak masuk dalam struktur NU, tapi punya jamaah yang banyak dan sudah dikenal sebagai kiai NU, maka tidak ada yang bisa membendung pengarung kiai tersebut. Gelar kiai juga dapat dari pengakuan masyarakat, bukan diberi oleh struktur NU.

Maka, apabila struktur NU, yakni Jam'iyyah NU dikooptasi oleh satu parpol, oleh satu kepentingan politik tertentu, pastilah akan ada perlawanan dari gerakan kultural, jamaah NU yang bisa saja ditunggangi kelompok-kelompok politik lain. Dan NU terjebak dalam pusaran politis yang tak ada habisnya.

Biar gak mumet, apa solusinya?

Ke depan dan untuk jangka panjang, pengurus struktur NU harus benar-benar menunjukkan keseriusan dan komitmen pada Khittah 1926, artinya ya jangan "main" politik. Kehadiran Agus-Sylvi ke PBNU itu jelas-jelas bagian dari "main politik". Kalau ada pihak-pihak saat ini yang menyeret-nyeret NU, maka itu tidak lebih dari reaksi terhadap oknum PBNU yang mempolitisasi NU dgn kehadiran Agus-Sylvi.

Nah, agar tidak "main" politik, maka pengurus di PBNU jangan dipilih dari politisi, seperti Sekjen PBNU sekarang yang berasal dari politisi dan anggota DPR PKB. Sebagai "petugas partai", Sekjen PBNU sekarang pastilah akan membela habis-habisan kepentingan partainya di PBNU dengan pelbagai dalih: PKB dilahirkan NU, hanya PKB yang peduli NU dan Kiai dll. Harusnya kalau konsisten dan Khittah 1926, maka, tidak boleh ada satu parpol yang punya klaim dan satu-satunya yang punya akses, bahkan menguasai NU.

Untuk jangka pendek, masih ada waktu bagi PBNU untuk menetralisir semua ini dengan mengundang semua Paslon agar tidak dianggap sepihak dengan "permainan" oknum di PBNU yang mendukung Pasangan Agus-Sylvi saja. Cara Keluarga Gus Dur bisa ditempuh.

Ini cara yang sangat arif yang bisa meletakkan politik keadilan dan kesetaraan, semua Paslon diundang. Meski kita juga tahu, Nyai Yenny Wahid adalah seorang politisi, yang juga punya arah politik tapi tidak mengurangi kearifan Keluarga Gus Dur untuk bersikap adil.

Maka, untuk menunjukkan netralitas PBNU dan komitmen pada Khittah 1926, bisa mengundang semua Paslon, memberikan doa dan taushiyah kebangsaan bagi mereka, siapapun yang menang, terserah pilihan warga DKI.

Kalau ada pertanyaan, bagaimana dengan Ahok yang bukan muslim? Kalau memakai argumen kaidah fiqih, maka mudah menjawabnya yang biasa dilakukan oleh kiai-kiai NU, bahwa pencalonan Ahok adalah produk konstitusi negeri ini, yang selama ini dikenal dengan akronim PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45).

Maka, apabila NU rela dan setia pada dasar-dasar dan pilar-pilar di atas, harusnya rela dengan apa yang menjadi produk dari konstitusi.

Kaidahnya berbunyi الرضا بالشيء رضاً بما يتولد منه, rela pada sesuatu, maka harus rela apa yang lahir dari sesuatu itu. Konstitusi Indonesia tidak mengenal perbedaan agama dan suku dalam pencalonan. Maka secara konsisten NU harus rela dan setia pada produk konstitusi itu. Dengan tidak membeda-bedakan Paslon berdasarkan perbedaan agama dan suku.

Kalau tidak rela pada produk Konstitusi ini, maka NU nanti bisa mengusulkan amandemen, perubahan UUD 1945 yang mengharuskan agama Islam, misalnya, menjadi salah satu syarat sebagai calon pemimpin di negeri ini. Jika ini terjadi, NU akan sama dengan DI/TII, Masyumi, FPI, FUI, Majelis Mujahidin, dllnya. Tapi ini tidak akan terjadi, insya Allah, karena Konstitusi 18 Agustus 1945 dan Amandemen UUD setelah reformasi merupakan hasil ijtihad politik orang-orang NU juga.

Kesimpulan, untuk menjaga Khittah NU, ke depan, pengurus-pengurus NU jangan diambil dari politisi. Janganlah politisi yang "nyambi" pengurus NU. Jangan pula menampakkan dukungan dan keterlibatan dengan salah satu partai dan Paslon tertentu, klau pun mau hadir sebagai bagian dari dakwah dan syiar, maka adillah, hadiri semuanya. Jangan mengistimewakan salah satu parpol dan pasangan saja yg selama ini terjadi.

Untuk jangka pendek dalam konteks Pilkada DKI, PBNU mestinya bisa mengundang semua calon dan mendoakan semuanya serta memberikan nasehat pada semuanya. Dengan demikian bisa ditepis kedekatan dan "permainan" oknum di PBNU terhadap salah satu Paslon. Kira-kira demikian. Wallahul muwaffiq ila Aqwawith Thariq. [Santriwati Cantik]

Solihin Hidayat, warga NU pendatang di Jakarta, tidak punya KTP Jakarta, masih KTP Madiun.

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/mengapa-nu-terseret-politik-praktis-di-pilkada-dki-jakarta.html

Minggu, 26 Mei 2013

Hari Ibu Dimulai dari Pertemuan Pejuang Wanita Tahun 1928 di Jogja

Santriwati Cantik - Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22 – 25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung Dalem Jayadipuran yang sekarang berfungsi sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional dan beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso.

Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dhien, Tjoet Nyak Meutia, R.A. Kartini, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dan lain-lain. (Yang Menyebut Ibu Nabi di Neraka, Kurangajar)

Hari Ibu Dimulai dari Pertemuan Pejuang Wanita Tahun 1928 di Jogja - Santriwati Cantik
Hari Ibu Dimulai dari Pertemuan Pejuang Wanita Tahun 1928 di Jogja - Santriwati Cantik


Hari Ibu Dimulai dari Pertemuan Pejuang Wanita Tahun 1928 di Jogja

Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan.

Santriwati Cantik

Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan gender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di banyak tempat yang tidak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate.

Santriwati Cantik

Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama.

Di Solo, misalnya, 25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu, panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok.

Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung. Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1946.

Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa. Selamat Hari Ibu utk semua perempuan Indonesia. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/hari-ibu-dimulai-dari-pertemuan-pejuang-wanita-tahun-1928-di-jogja.html

Sabtu, 22 Desember 2012

Cara Indah Menggambar Nabi Muhammad Saw

Santriwati Cantik - Kau tahu anakku, manakala beberapa kartunis Denmark ramai-ramai ingin memvisualisasi baginda Rasululllah shallallahu alaihi wasallam dengan imajinasi kotor mereka, kita marah, jelas marah. Tapi apakah kita melawan dengan anarkis? Tidak. Itu tidak akan menyelesaikan masalah, anakku. Ingatlah kalimat indah dari Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam 'Jaddid Hayatak' bahwa laut tidak akan pasang gara-gara lemparan kerikil seorang bocah.

Banyak yang melakukan tindakan anarkistis menyikapi kartun tolol tersebut. Tapi, tahukah engkau anakku, ada kisah keren menanggapi karikatur bodoh tersebut. Ya, kisah sekelompok anak-anak muda Inggris yang memutuskan membagikan mawar dan buku-buku biografi Nabi Muhammad kepada orang awam yang berlalu lalang. Ini langkah cerdas, anakku. Sukakah kau? Kuharap demikian.

Cara Indah Menggambar Nabi Muhammad Saw - Santriwati Cantik
Cara Indah Menggambar Nabi Muhammad Saw - Santriwati Cantik


Cara Indah Menggambar Nabi Muhammad Saw

Ada juga kisah lain manakala Habib Ali al-Jufry yang memutuskan berangkat ke Denmark dan menemui salah satu karikaturis yang dengan konyol dan tolol menggambarkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Apakah keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itu langsung memukul dan mencaci maki sang kartunis? Oh tidak. Jelas itu bukan metode akhlak warisan datuknya.

Habib Ali Al-Jufry dengan lembut menjelaskan akhlak, kemuliaan, dan karakteristik Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Penjelasan yang membuat kartunis itu terpekur dan tidak menyangka betapa mulianya tokoh yang ia karikaturkan.

Santriwati Cantik

Sudah cukup? Belum anakku. Habib Umar bin Hafidz, keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang murah senyum itu pernah mendarat di Denmark. Manakala rombongan menginjakkan kaki di bandara, tiba-tiba beliau disambut dengan pembacaan shalawat Nabi oleh sekelompok muslimin Denmark, hingga beliau menoleh ke Habib Salim, putranya, lalu berkata "Bahkan, di negara yang pernah kartunisnya pernah memvisualisasi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ini, kau lihat anakku, kita disambut dengan pembacaan shalawat Nabi".

Anakku, apa kau sudah mengantuk, sayang? Dalam peringatan hari lahir Kanjeng Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ada segelintir pihak yang mempermasalahkan keabsahan ritual mulia ini. Sejenak, lupakan celoteh orang-orang sinis nan aneh itu. Buang-buang waktu saja meladeni celoteh kebencian. Setidaknya kau bisa menukar waktu debatmu dengan cara menonton film ringkas inspiratif.

Santriwati Cantik

Isinya, seorang guru di Prancis yang memerintahkan para muridnya menggambar Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Seorang anak muslim termenung, lalu ia melaksanakan perintah gurunya dengan cara menuliskan tentang Rasulullah shallallahu alaihi wasalam dan citra beliau bagi dirinya, anggota keluarganya dan umat Muslim. Di bagian belakang tulisannya, sang murid pun hanya menulis kata “Muhammad”. Keren, bukan? [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/12/cara-indah-menvisualkan-nabi.html

Jumat, 27 April 2012

Doa Ibu Lebih Utama dari Wali Besar Manapun

Santriwati Cantik - Di Hadramaut (Yaman), setiap orang yang datang menghadap Habib Salim atau habaib sepuh yang alim di Tarim untuk minta didoakan, selalu mendapat pertanyaan yang sama; apakah kamu masih memiliki permata (ibu) di rumahmu?

Jika jawabannya, masih. Maka beliau dengan halus mengatakan, "tahukah kamu, bahwa doa ibu untukmu, lebih mulia dan lebih maqbul daripada doa seorang wali besar sekalipun."

Ketika Habib Umar Bin Hafidz dan abangnya Habib Ali Masyhur Bin Hafidz masih bayi dan sering menangis, Ibunda mereka Hubabah Zahra akan memeluk dan membelai anak-anaknya sambil mengusap kepala mereka.

Kepada Habib Ali Masyhur, beliau sering berbisik "mufti, mufti" dan sekarang, Habib Ali Masyhur telah menjadi Mufti Yaman. Kepada Habib Umar sang ibu selalu berdoa "da'i, da'i". Dan kini Habib Umar telah menjelma menjadi Da'i Islam terkenal di zaman ini.

Rasulullah ﷺ bersabda orang tua adalah pintu surga yang paling tengah, maka jangan sia-siakan pintu itu atau jagalah ia. (HR. Tirmidzi).

Ingat, ibu adalah pintu surga bagi anak-anaknya, dan ayah adalah jembatan menuju kepadanya. Air susu ibu yg kita minum adalah saripati makanan hasil jerih payah dan keringat ayah yang mencari nafkah untuk keluarga. Karena itu, muliakan lah mereka.

Mau keluar rumah, jangan lupa cium tangan Ibu dan Ayah. (Ingatlah ketika kita masih kecil, kita selalu dipeluk dan diciumnya). Bila kita sudah bekerja atau berkeluarga, atau tak tinggal serumah, Sering-sering lah mengunjunginya.

Bila tidak memungkinkan, teleponlah agar beliau senang dan ridlo atas seluruh jerih payah dan setiap tetesan susu yang telah menjadi darah daging kita. Semoga Allah SWT meridloi kita dan keluarga tercinta. Aamiin. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/doa-ibu-lebih-utama-dari-wali-besar-manapun-muliakanlah.html

Rabu, 15 Februari 2012

Sebut Pancasila Soekarno Ketuhanan Ada di Pantat, Habib Rizieq Dipolisikan Sukma

Santriwati Cantik – Puteri Proklamator Bung Karno Sukmawati Soekarnoputri melaporkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq ke Bareskrim Polri atas tuduhan pelecehan Pancasila.‎ Dugaan pelecehan terhadap Pancasila dilakukan Habib Rizieq saat‎ gelaran Tabligh Akbar FPI.

Sebut Pancasila Soekarno Ketuhanan Ada di Pantat, Habib Rizieq Dipolisikan Sukma
Sebut Pancasila Soekarno Ketuhanan Ada di Pantat, Habib Rizieq Dipolisikan Sukma


“Saya datang sebagai ketua umum PNI Marhaenisme melaporkan Habib Rizieq perihal penodaan terhadap lambang dan dasar negara Pancasila. Serta menghina kehormatan martabat Dr. Ir Soekarno sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia dan presiden pertama Republik Indonesia,” jelas Sukma di Gedung KKP Bahari II Bareskrim, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Kamis (27/10/2016).

Sebuah rekaman video berisi pernyataan Habib Rizieq yang menyebut ‘Pancasila Soekarno ketuhanan ada di pantat, sedangkan pancasila Piagam Jakarta ketuhanan ada di kepala’ menjadi barang bukti yang diajukan Sukma ke polisi.

Video Habib Rizieq

Rekaman itu sebenarnya sudah beredar sejak dua tahun lalu, namun Sukma mengaku baru melihatnya pada Juni 2016 lalu‎ atau tepat saat peringatan Hari Lahir Pancasila.

“Ya, saya baru terima di bulan Juni ketika itu bulan lahir Pancasila. Saat itu, teman saya teringat rekaman tentang komentar atau pernyataan Rizieq tentang Pancasila tersebut yang terkait dengan Proklamator Bung Karno,” tutur Sukma.

“Sebagai anak saya marah sekali. Tersinggung karena kata-katanya sangat tidak santun, tidak hormat sebagai pimpinan ormas FPI,” jelas puteri ketiga Bung Karno itu.

‎Untuk itu, Sukma mendesak kepolisian segera memanggil Habib Rizieq agar pentolan FPI itu bisa memberikan klarifikasi kepada masyarakat. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/sebut-pancasila-soekarno-ketuhanan-ada-di-pantat-habib-rizieq-dipolisikan.html

Jumat, 29 Oktober 2010

Khutbah Idul Fitri - Bangsa yang Cinta Damai

Khutbah idul fitri Oleh M. Rikza Chamami kali ini sangat bagus sekali karena idul fitri adalah momen yang sangat baik dalam menyampaikan sesuatu yang positif. Bersifat mengayomi dan ngadem-ngademi itulah kewajiban khotib idul fitri, karena setelah melaksanakan ibadah puasa selama 1 bulan maka ketika teks Khotbah idul fitri dibacakan maka menjadi sesuatu yang berkesan.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبركبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا. لا اله الا الله والله اكبر. الله اكبر ولله الحمد. الحمد لله انعمنا بختم رمضان الكرام، واعاد علينا بعيد الفطر العظام، اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له، شها دة تنجي قا ئلها من عذاب اخر الايام. واشهد ان محمدا عبده ورسوله، الذي نال رسول الختام. اللهم صل وسلم وبا رك على سيدنا محمد حاء الرحمة وميم الملك ودال الدوام، وعلى اله وصحبه وسلم. الله اكبر الله اكبر ولله الحمد. فيا معاشر المسلمين رحمكم الله، اتقو الله واعلموا ان يومكم هذا يوم عيد وسرور.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Marilah dalam kesempatan awal bulan Syawwal ini kita bersama-sama meningkatkan taqwa kita kepada Allah Swt dengan senantiasa melaksanakan segala perintahnya dan berusaha secara maksimal meninggalkan segala laranganNya. Sebab ketaqwaan inilah yang menjadi inti dari ibadah mulia selama menjalani puasa satu bulan penuh di bulan Ramadan “لعلكم تتقون”.

Khutbah Idul Fitri - Bangsa yang Cinta Damai - Santriwati Cantik
Khutbah Idul Fitri - Bangsa yang Cinta Damai - Santriwati Cantik


Khutbah Idul Fitri - Bangsa yang Cinta Damai

Rasa syukur yang terindah hadir di tengah-tengah kita dengan kalimat “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin” atas limpahan karunia berupa umur panjang dan kesehatan yang dapat mengantarkan kita menyelesaikan ibadah Ramadan dan hadir memuliakan Idul Fitri tahun 1437 H/2016 M ini. Nikmat ini menjadikan pertimbangan bagi kita untuk menjadi hamba Allah yang selalu rajin bersyukur. Allah berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 7:

Santriwati Cantik

واذ تاذن ربكم لئن شكرتم لازيدنكم ولئن كفرتم ان عذابي لشديد

Santriwati Cantik

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Bulan Syawwal yang hadir di tengah kita merupakan bulan mulia. Di satu sisi kita sangat menanti dengan penuh harapan dan kegembiraan, sedangkan di sisi lain kita sedang bersedih ditinggalkan bulan Ramadan. Sehingga, Ramadan dan Syawwal ini menjadi masa transisi ibadah sekaligus menjadi ujian keistiqamahan kita dalam selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Bulan Syawwal bukan awal dari kemenangan dan kebebasan semata. Justru Syawwal menjadi pintu gerbang dalam menguji hamba Allah dalam menjalankan ibadah secara baik sebagaimana bulan Ramadan. Kalau itu mampu dilaksanakan, maka Syawwal benar-benar menjadi bulan peningkatan.

Dan Syawwal menjadi hari raya yang sangat bermakna. Sebab masih banyak orang yang ikut merayakan ‘idul fitri, tapi masih belum mampu istiqamah berpuasa. Banyak orang yang ikut berbaju baru, tapi tidak menjalani tarawih. Banyak orang yang ikut membagikan parsel dan ucapan “Selamat ‘idul fitri”, namun melepaskan amaliyah Ramadan.

Hari ini menjadi penegasan bagi kita, bahwa Syawwal kita jadikan momentum mulia dalam menjaga, melestarikan dan meneguhkan kehambaan kita kepada Allah Swt. Sebab kita semua hidup di dunia ini tujuan utamanya adalah ibadah. Tentunya ibadah yang kita lakukan bersama kelak menjadi bekal menghadap keharibaan Allah Swt. Allah berfirman dalam Surat Al Dzariyat ayat 56:

وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Di penghujung Ramadan, kita dikejutkan terjadinya Bom secara bergantian, baik di Turki, Madinah Al Munawarah dan Solo. Sungguh kejam sekali sebuah peristiwa yang merusak kesucian Ramadan sekaligus menjadi teror di awal bulan Syawwal.

Patut kita renungi bersama, bahwa setan yang telah dikunci rapat oleh Allah ternyata masih bisa lepas dengan menggoda para manusia yang belum bisa memaknai hakikat puasanya. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw, bahwa banyak orang yang rajin berpuasa, namun tidak memahami esensi puasa. Mereka hanya mendapatkan lelah dan dahaga belaka. Rasulullah bersabda:

كم من صائم ليس له من صيامه الا الجوع والعطش

“Banyak orang yang berpuasa, namun puasanya sia-sia. Kecuali hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga”

Mudah-mudahan kita semua dibebaskan oleh Allah Swt dari golongan yang demikian. Amin amin amin ya rabbal ‘alamin.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Ada empat pokok penting yang patut kita renungi bersama dalam menatap 11 bulan ke depan setelah ditinggalkan Ramadan. Ini semua menjadi bagian dari muhasabah atau renungan diri agar kita menjadi hamba Allah yang mampu menyandingkan kehidupan ukhrawi dan kehidupan duniawi kita.

Pertama, di penghujung bulan Ramadan memasuki bulan Syawwal, umat Islam dianjurkan untuk menunaikan rukun Islam berupa zakat. Hal yang paling inti dari zakat adalah penyucian diri. Dimana harta yang kita miliki perlu dibagikan kepada orang lain yang sangat membutuhkan. Disinilah Islam mendorong hidup secara bersama.

Yang kaya mengingat yang miskin dengan berbagi harta dan bendanya. Islam tidak mengajarkan kesombongan dengan menumpuk harta. Akan tetapi Islam mengajarkan untuk berbagi dengan term zakat, infaq dan shadaqah. Bahkan Rasulullah menyampaikan pesan bahwa:

صوم شهر رمضان معلق بين السماء والارض ولا يرفع الا بزكاة الفطر

“Puasa bulan Ramadan itu digantungkan antara langit dan bumi dan tidak akan diangkat (diterima pahalanya), kecuali dengan mengeluarkan zakat fitrah”.

Hadits ini memberikan penegasan bahwa betapa pentingnya kita berzakat yang terkecil, yaitu zakat fitrah dengan mengeluarkan beras 2,5 Kg (+ Rp.30.000). Sebab zakat fitrah itulah yang menyambungkan pahala Ramadan kita.

Dan patut dicatat, bahwa shadaqah menjadi salah satu tema khutbah Rasulullah Saw dalam khutbah ‘idul fitrinya. Oleh sebab itu, di pagi yang mulia ini kita bersama-sama berusaha untuk menjadi orang yang rajin mendermakan harta dan benda yang kita memiliki. Dengan usaha menjadi dermawan, maka secara otomatis kita mengharap sebagai orang yang kaya dan selalu ingat Allah dengan mendekat pada orang miskin. Rasulullah Saw bersabda:

اجتهدو يوم الفطر في الصدقة واعمال الخير والبر من الصلاة والزكاة

“Bersungguh-sungguhlah kamu sekalian pada hari berbuka (‘idul fitri) dalam bershadaqah dan melakukan amal-amal kebaikan dan kebajikan, berupa shalat dan zakat”.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Kedua, kembali berpuasa. Bahwa agama Islam mengajak kepada umatnya selalu berbuat baik dan tidak berlebih-lebihan. ‘Idul fitri memang hari kita bersenang-senang. Satu Syawwal memang menjadi momentum perayaan kemenangan menghadapi keberhasilan puasa sebulan.

Dan ‘idul fitri menjadi puncak kebahagiaan dengan sebutan “hari lebaran berbuka puasa”. Dan Allah juga melarang kita berpuasa di tanggal satu Syawwal sebagaimana sabda Rasulullah dari Sayyidatina ‘Aisyah: الفطر يوم يفطر الناس، والاضحى يوم يضحي الناس

“Hari raya ‘id itu adalah hari berbuka bagi para manusia. Dan hari raya ‘idul adlha adalah hari menyembelih kurban bagi para manusia”.

Ketika kita diperbolehkan makan (berbuka), maka pada tanggal 2 hingga 7 Syawwal, Nabi Muhammad mensunnahkan menjalankan puasa kembali. Hal ini sebagaimana sabda Nabi:

من صام رمضان ثم اتبعه ستا من شوَّال كان كصيام الدهر كله

“Barangsiapa berpuasa bulan Ramadan, kemudian dia lanjutkan dengan enam hari dari bulan Syawwal, maka seolah-olah ia perpuasa satu tahun penuh”.

Betapa indahnya Islam mengatur ibadah bagi para pemeluknya. Setelah orang berpuasa satu bulan penuh, diberi kesempatan berbuka sehari dan ada amalan sunnah kembali enam hari berpuasa. Ini menandakan bahwa Islam ini selalu melatih umatnya untuk tidak berlebih-lebihan dalam makan. Termasuk menjaga kesehatan tubuh dengan cara banyak berpuasa.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Ketiga, menggandakan amal shalih. Kehadiran bulan Syawwal ini jangan sampai membuat kita larut dan merasa bebas. Bebas karena tidak perlu bangun sahur, tidak perlu tarawih, tidak ada qiyamul lail dan tidak ada buka puasa. Justeru Syawwal menjadi ujian sangat berat. Ibarat ukuran orang mabrur atau tidaknya haji dilihat dari sepulang dari tanah suci. Maka kemaqbulan puasa, dapat dilihat bagaimana kehidupan kita di bulan Syawwal hingga Sya’ban yang akan datang.

Oleh sebab itu, tugas hidup kita dalam menatap dunia dan akhirat ini masih sangat panjang. Oleh sebab itu, amal shalih yang menjadi ladang pahala kita perlu tingkatkan. Usaha beramal baik ini menjadi satu-satunya bekal kita kelak menghadap Allah. Sebab kita tidak tahu kapan akan menghadap Allah.

Sepanjang nyawa masih ada, maka mari kita selalu berbuat baik pada siapapun. Jaga lisan kita dari berkata kotor. Jaga diri kita dari maksiyat dan dekatkan kita pada Allah dengan selalu berdzikir. Dan dekatkan kita pada Rasulullah dengan bershalawat.

Besok di hadapan Allah yang bersaksi atas apa yang kita kerjakan bukan mulut kita. Tapi tangan dan kaki yang akan bersaksi atas apa yang kita lakukan. Sementara mulut kita yang suka berbohong dikunci rapat-rapat. Allah berfirman salam surat Yasin ayat 65:

اليوم نختم على افواههم وتكلمنا ايديهم وتشهد ارجلهم بما كانوا يكسبون

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Dan keempat, menjaga kerukunan dan kedamaian. Indonesia negeri kita tercinta ini sangat butuh umat Islam yang rukun dan damai. Di bulan Syawwal ini tangan kita rajin mengetik ucapan maaf lahir dan batin.

Mulut kita tidak malu mengucap dan meminta maaf pada siapapun orang yang ada. Badan dan wajah kita bisa bergerak dan tersenyum manis mengucap salam dan maaf hinggacipika-cipiki. Saatnya kebangkitan bangsa pemaaf dan pribadi pemaaf ini menjadi modal Indonesia yang damai dan rukun.

Jangan sampai keutuhan umat Islam di negeri ini kita cabik-cabik hanya persoalan adu domba. Kita patut waspada atas agenda menjadikan Indonesia sebagai Timur Tengah lanjutan yang selalu berkonflik antar golongan Islam.

Kejadian bom Solo kemarin menjadi wujud nyata, bahwa masih ada saudara kita yang masih lemah jiwa kebangsaannya. Mari ajak saudara kita yang masih ingin mendirikan negara Islam dan menghapus NKRI untuk sadar.

Sebab bangsa kita, bukan bangsa yang hobi perang, tapi bangsa kita bangsa yang cinta damai. Maka semangat “حب الوطن” patut kembali kita dengungkan kembali lewat peristiwa ‘idul fitri ini. Allah berfirman dalam Surat Al Hujarat ayat 10:

انما المؤمنون اخوة فاصلحوا بينةاخويكم واتقوا الله لعلكم ترحمون

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”

Demikian khutbah singkat ini kami sampaikan. Dengan semangat ‘idul fitri, mari kita tetap teguhkan bahwa hari-hari kita tetap terasa keramadanannya. Dan mari kita isi, 11 bulan ke depan dengan empat hal: rajin bershadaqah, rajib berpuasa sunnah, selalu berbuat baik dan cinta bangsa dengan kerukunan dan persatuan.

جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين والمقبولين كل عام وأنتم بخير. آمين اعوذ بالله من الشيطان الرجيم وسارعوا الى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموات والارض اعدت للمتقين وقل رب اغفر وارحم وانت خير راحمين

Khutbah Kedua

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا اله الا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد الحمد لله الذى وحده صدق وعده واعز جنده وهزم الاحزاب وعده ولا حول ولا قوة الا بالله. اللهم فصل وسلم على سيدنا محمد صاحب كنز الرحمة وعلى آله وصحبه ومن والاه. اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمدا رسول الله. اما بعده، فيا ايها الحاضرون اتقوا الله، اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون. قال الله تعالى فى كتابه الكريم والعصر ان الانسان لفى خسر الا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الاحياء منهم والاموات، اللهم اعز الاسلام والمسلمين واهلك الكفرة والظالمين. اللهم لا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا. اللهم اجعل بلدتنا اندونيسيا بلدة طيبة تجرى فيها احكامك ورسولك، برحمتك يا ارحم الراحمين. فيا عباد الله ان الله يأمر بالعدل والاحسان وايتاء ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر ولذكر الله أكبر

M. Rikza Chamami, dosen Universitas Islam Negeri Walisongo dan Majelis Ulama Indonesia Kota Semarang

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/khutbah-idul-fitri-1437-h-bangsa-yang-cinta-damai.html

Minggu, 24 Oktober 2010

Putra Kiai Bergitar yang Dijaga Santrinya Hingga Jadi Kiai

Santriwati Cantik - Seorang Gus dari desa memiliki kesempatan untuk belajar di Arab, di sebuah kota yang cukup sekuler. Selama ini dia hidup di tengah-tengah relijiusitas yang kuat. Dia menjadi muslim yang taat, dan itu dia jalani sebagai sesuatu yang sangat wajar. Ketaatan berlangsung begitu saja, tanpa perjuangan yang pantas untuk diceritakan. Semua yang dia kenal juga kira-kira seperti itu adanya. Memang tidak maha taat, tapi cukup lah untuk disebut ‘alim’.

Putra Kiai Bergitar yang Dijaga Santrinya Hingga Jadi Kiai
Putra Kiai Bergitar yang Dijaga Santrinya Hingga Jadi Kiai


Tapi kini dia hidup di lingkungan yang berbeda. Negara yang dia diami memang kategori negara Islam, bahkan salah satu kiblat negara Islam. Tapi lingkungan yang menaunginya sekarang berbeda sekali. Dahulu dia sangat jarang—tepatnya sulit untuk—salat subuh telat. Orang-orang dan suasana di sekelilingnya tak banyak memberi kesempatan kepada dia untuk telat subuh.

Tapi kini, dia melihat orang-orang sedang lelap-lelapnya ketika azan Subuh dikumandangkan. Mula-mula dia merasakan kejanggalan. Minggu-minggu berikutnya dia terbiasa. Dan bulan-bulan selanjutnya bahkan mulai mengikutinya, sebelum kemudian ikut “menikmatinya”.

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari ABG telat. Dandannya, gaya hidupnya, dan model pakaiannya adalah style ABG kesiangan. Yang lebih nggirisi, perubahan itu tidak hanya pada luarnya saja, tapi juga pada batinnya: jiwanya benar-benar menikmati itu. Gaya dan jiwa seorang Gus pesantren banyak tereduksi.

Beruntung sekali, meski terseok-seok, studinya akhirnya rampung juga. Saatnya dia harus pulang kampung, kembali ke pesantren. Sungguh di luar dugaan, dia disambut oleh “umatnya” bak seorang pangeran yang berhasil merampungkan uji kamukten. Dia tidak saja dianggap telah menguasai “ilmu kulit”, tapi juga mampu meresapi “ilmu biji”. Tangan yang acap dia gunakan untuk memetik senar gitar tiba-tiba saja berubah menjadi seperti tangan suci kekasih Allah yang dibuat rebutan untuk diciumi.

Gus sudah kembali seperti semula. Tak lagi dia menjemur Subuh di bawah terik matahari, dan juga tak lagi ber-ABG yang tidak pantas. Bahkan sekarang dia punya tugas baru, yaitu menjadi imam salat rawatib dan mengajar kitab-kitab kuning, sehingga beberapa kalangan sudah menyebutnya dengan kyai. Salah satu kitab favoritnya adalah “Hikam Ibn ‘Athaillah as-Sakandari”, karena sebenarnya lebih merupakan petuah-petuah untuk dirinya ketimbang untuk santri-santrinya.

Suatu pagi dia meneruskan pengajian Hikamnya:

“laa tashhab man laa yunhidhuka haaluh-u wa laa yadulluka ala Allaah-i maqaaluh-u”

“Jangan jadikan sebagai sahibmu seseorang yang tindak-tanduknya tidak membangkitkan dirimu dan tutur-katanya tidak mengantarkan dirimu kepada Allah.”

“Banyak yang mengira, kyai adalah yang menjaga santri-santrinya. Demikian ini tidak sepenuhnya benar. Banyak kyai yang justru dijaga oleh santri-santrinya. Kalau dia hidup terpisah dari santri-satrinya boleh jadi dia tidak akan khusyuk dan alim seperti biasanya. Saya termasuk kyai kategori ini. Oleh karena itu saya sangat suka dengan santri-santri dan akan selalu menjadikan mereka sebagai sahib-sahib yang mengingatkan diriku kepada Allah.

Seorang mursyid waskita suatu ketika ditanya oleh seorang muridnya:

“Apa rahasianya Tuan Guru begitu dekan dengan Allah SWT ..?”

Beliau menjawab:

“Itu hanya perasaanmu saja .. yang hebat adalah mereka-mereka itu. Aku hanya ditunjuk saja untuk memimpin ..”

Mungkin Guru Waskita itu merasa, bahwa andai benar dia dekat dengan Allah maka itu tak lain adalah karena murid-murid itu yang menjaganya.” [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/putra-kiai-bergitar-yang-dijaga-santrinya-hingga-jadi-kiai.html

Selasa, 12 Oktober 2010

Umat Islam Unyu-Unyu Suka Sekali Kiai Said Aqil dan NU Dinistakan Media

Santriwati Cantik - "Mereka ingin memadamkan cahaya Allah, tetapi Allah tidak menghendakinya, bahkan semakin menyempurnakan cahaya-Nya…”

Banyak dari umat islam unyu-unyu di Indonesia ini yang lebih menyukai bungkus luar. Berhadapan dengan seseorang bergelar habib langsung gemetar. Melihat orang berjubah, jenggotnya sampai dada, jidadnya hitam, dianggap orang suci. Simbol-simbol yang diambil dari agama atau kebudayaan lain, seperti jilbab, rosario, kubah, bulan sabit, disakral-sakralkan.

Sementara ketika bertemu kyai toleran, pakai batik, sarungan dan peci ke mana-mana, dianggap liberal dan disesat-sesatkan. Karena wajah mereka yang tidak ada arab-arabnya, logat mereka yang medok, keluarga mereka yang sangat Indonesia, lantas dengan mudah fitnah dihembuskan pada mereka.

Umat Islam Unyu-Unyu Suka Sekali Kiai Said Aqil dan NU Dinistakan Media - Santriwati Cantik
Umat Islam Unyu-Unyu Suka Sekali Kiai Said Aqil dan NU Dinistakan Media - Santriwati Cantik


Umat Islam Unyu-Unyu Suka Sekali Kiai Said Aqil dan NU Dinistakan Media

Gusdur dimusuhi, keluarganya yang tidak berjilbab (hanya memakai kerudung) dicaci, masih pula difitnah selingkuh. Tapi dengan santai tuduhan itu dibiarkan. Nanti juga capek sendiri, kata Gusdur ringan. Gusdur memang tidak mau ambil pusing.

Santriwati Cantik

Hanya karena Gusdur tidak memakai gelar habib dan tidak berjubah, bukan berarti tidak islami. Siapa yang tidak kenal Mbah Hasyim Asy’ari? Masih meragukan nasabnya yang sampai pada Sunan Giri dan menyambung pada Rasulullah? Habib Jawa medok ini memang tidak menganggap penting gelar seperti itu. Namun membela Rizieq dan merendahkan Gusdur hanya karena nasab misalnya, adalah kekeliruan berpikir.

Santriwati Cantik

Setelah Gusdur tiada, pusaran fitnah yang sangat keras menerpa Kyai Said. Siapakah ulama yang dianggap syiah dan liberal ini?

Sebagaimana Gusdur, Kyai Said juga habib. Nasabnya menyambung pada Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Tapi kenapa yang bersangkutan tidak heboh ke mana-mana pamer nasab? Karena yang suka pamer itu kelasnya anak kecil. Yang senang membangga-banggakan nama orang tua biasanya karena mereka tidak mempunyai prestasi yang membanggakan.

Sejak kecil ia hidup dalam didikan pesantren. Kemudian membuat pilihan mengejutkan dengan meneruskan studi ke Universitas Umm Al-qura, Arab Saudi. Sarang dari kelompok penyamun bernama Wahabi. Tapi Said Aqil berkeyakinan, para pengajar di sana rata-rata dari Mesir. Saudi dan Mesir sama saja. Karena Saudi ketika itu (sampai sekarang) memang masih terbelakang dalam hal pemikiran.

Tidak hanya sekadar studi sekilas-lalu, Said Aqil menamatkan S1, S2 dan S3nya di sana. Dengan ilmu yang sangat mumpuni, Gusdur menyebutnya sebagai perpustakaan berjalan. Namun seperti ikan yang tak terpengaruh asinnya air laut, dagingnya tetap manis. Begitulah Said Aqil, ia dibesarkan oleh lingkungan Wahabi, tapi sekarang justru paling getol melawan aliran keras itu di Indonesia.

Akibatnya, simpatisan Wahabi yang mendapatkan kucuran dana petrodolar sangat membencinya. Ratusan situs, ribuan pembenci, memfitnahnya siang-malam. Muslim unyu-unyu yang tak paham apa-apa ikut mencaci dan menebarkan permusuhan. Serangan-serangan terhadap para kyai NU ini sejatinya adalah upaya pembusukan dari dalam.

Mereka tidak mungkin melakukan itu secara terbuka dengan identitas organisasi mereka. Karena itulah mereka menyaru, menyusup, dan menyebarkan bibit fitnah dari dalam. Orang-orang NU dipisahkan dari kyai-kyai mereka yang toleran. Saat mereka terhasut, para srigala berbulu domba ini akan mulai menerkam.

Karena NU adalah musuh terbesar mereka. Para ekstremis dan gerakan intoleran memahami betul, selama ada NU, selama itu pula mereka tak bisa bergerak leluasa. NU harus dihancurkan dari dalam. Mereka ingin memadamkan “cahaya” itu. Namun Tuhan semakin menyempurnakannya.

Habib-habib medok itu seolah-seolah terhapuskan nasabnya karena mereka membaur. Sebagian sengaja tak ingin diberi gelar demikian, padahal sangat layak menerimanya, seperti Quraish Shihab. Sikap merasa tak layak ini sejatinya muncul dari sifat rendah hati, bukan karena yang bersangkutan tidak pantas.

Habib dan sayid dua hal berbeda yang sering dicampur-adukkan di Indonesia. Padahal, ada juga yang dengan bangga mengobral gelar tersebut, meskipun masih dipertanyakan kualitasnya. Mereka mungkin sayid (keturunan Nabi), tapi belum tentu habib (sayid yang dicintai).

Salah satu fitnah yang kembali didaur-ulang adalah persoalan makelar tanah seminari di Malang, juga di Batam. Dengan tanpa rasa sungkan lagi, Kyai Said dituduh telah melakukan penipuan. Tidak saja melalui media online, tapi juga cetak. Konon pemilik media ini salah satu satu kader partai politik. Dengan tujuan merendahkan, Kyai Said disebut makelar.

Fitnah dasarnya dari kebencian. Sedangkan benci tidak memiliki agama. Orang yang menyebarkan fitnah tidak perduli lagi dengan kaidah agama. Bagi mereka, dosa itu sesuatu yang asing dan tak layak dihitung.

Kyai Said telah membantah fitnah tersebut, tapi banyak yang telah termakan hasutan semacam itu. Dan mereka dengan bangga mengatas-namakan diri sebagai bagian dari NU. Sebagai bagian dari organisasi yang dipimpin oleh orang yang mereka caci. Lagipula orang-orang itu memang tak perduli dengan kebenaran. Mereka lebih suka meributkan asap daripada menyelidiki muasal apinya.

Said Aqil Siradj memang sosok yang serba mengejutkan. Semua itu berawal dari kiprah Gusdur. Bahkan lebih jauh, sebenarnya berawal dari maha guru mereka, Sayid Muhammad Al-Maliki. Jauh-jauh hari sang guru berpesan kepada Gusdur agar kelak mengangkat Said muda sebagai katib NU. Satu posisi yang biasanya diisi orang-orang tua, atau yang telah lama mengabdi di NU. Banyak yang protes, tapi Gusdur dengan santai membelanya. Said memang masih muda, tapi ilmunya sangat luas, soal tasawuf misalnya, ia memiliki seribu referensi.

Said Aqil dan Gusdur bersama guru para ulama Aswaja dunia, Sayid Muhammad al-Maliki (di tengah) Cak Nur (Nurcholis Majid) mengatakan, bahwa Said Aqil ini pernah ingin membuat buku yang isinya mengkritik pemikiran Algazali. Satu nama yang dianggap keramat di Indonesia. Dengan senang hati Cak Nur menanggapi hal itu. Untungnya buku itu tidak jadi diterbitkan. Bayangkan bagaimana hujatan yang akan ia terima jika hal itu diwujudkan. Berapa besar serangan yang akan ia terima. Bukan dari luar lagi, tapi dari dalam barisan yang dipimpinnya sendiri.

Said Aqil dianggap liberal. Pikiran-pikirannya mengguncang kebiasaan dalam tubuh NU. Konon di tahun 90-an ada trend Said-Aqilian menjangkiti para Nahdliyin muda. Tentu saja hal itu juga menimbulkan reaksi keras. Para pengkritik bahkan ingin agar gelar akademisnya dicabut. Tapi ia menjawab enteng, jangankan gelar akademis, gelar haji jika diminta akan ia berikan.

Said Aqil adalah fenomena mengejutkan. Seorang habib yang menanggalkan gelarnya. Seorang intelek yang diam saja ketika dihina oleh orang-orang dungu. Ia membiarkan dirinya dicaci dan difitnah hanya demi satu hal, agar orang-orang berpikir kritis dan waras. Atas nama toleransi beragama, ia membuat keputusan kontroversial, seperti berceramah di gereja, bersikap rahmah pada non-muslim. Tidak mengejutkan jika kemudian ia dicap syiah dan diliberalkan.

Maka benarlah Imam Syafii, "Carilah pemimpin yang banyak panah-panah fitnah menuju kepadanya, ikutlah mereka yang banyak difitnah, karena sesungguhnya mereka sedang berjuang di jalan yang benar." [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/umat-islam-unyu-unyu-suka-sekali-kiai-said-aqil-dinistakan-media.html

Rabu, 01 September 2010

Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara

Santriwati Cantik - Para tamu dari berbagai daerah telah sampai di Pekalongan untuk mengikuti berbagai rangkaian acara Konferensi Internasional Bela Negara. Nampak di antara para tamu tersebut ialah ulama sepuh kharismatis, KH Maimun Zubair, pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang.

Para tamu siang ini sudah mulai melakukan registrasi dan mendapat ID Card resmi untuk mengikuti Konferensi Internasional Bela Negara yang akan digelar pada 27-29 Juli 2016 di kota Pekalongan. Menurut salah satu panitia, Dani, pada siang hari ini registrasi peserta dilakukan di dua tempat.

Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara - Santriwati Cantik
Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara - Santriwati Cantik


Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara

“Hari ini, registrasi peserta konferensi dilaksanakan di dua tempat, sebagian tamu melakukan registrasi di Hotel Santika, sedangkan sebagian lagi melakukan registrasi di Gedung Kanzus Sholawat,” ujarnya.

Untuk peserta yang sudah melakukan registrasi di antaranya peserta dari Jakarta, Banten, Papua, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat. Untuk wilayah Bali, Maluku , dan lain-lain diperkirakam akan sampai sore ini.

Santriwati Cantik

Sebelumnya, panitia Konferensi Internasional Bela Negara mengirim undangan acara kepada para ulama, mursyid, muqoddam, khalifah, pengasuh pesantren, pengurus JATMAN, TNI, POLRI, dan tokoh masyarakat dari dalam maupun luar negeri.

Ada beberapa persyaratan yang harus diserahkan oleh para tamu untuk melakukan registrasi. Di antaranya, harus membawa surat mandat dari panitia. Menurut Nala Riskiati, salah satu panitia registrasi, setelah melakukan registrasi peserta akan diantar ke penginapan.

Lokasi acara registrasi cukup kondusif dan aman. Bapak Sugianto, salah satu personil Polsek Pekalongan Timur, menyatakan telah menerjunkan 15 personil untuk membantu kelancaran registrasi di Gedung Kanzus Sholawat. Sementara di Hotel Santika, pengamanan tak kalah ketat. Nampak belasan personil polisi dan jibom yang diturunkan untuk mengamankan lokasi.

Santriwati Cantik

KH. Dr. Hamdani, pengurus JATMAN yang ikut mengawasi proses registrasi, sangat antusias atas acara yang digagas oleh Al-Habib Lutfi Bin Yahya ini.

“Saya pikir ini adalah sejarah, sehingga thariqah tidak hanya dikonotasikan sebagai orang-orang yang ahli dzikir, tetapi juga memiliki komitmen nasionalisme. Bahkan ini mendunia! Dengan acara Konferensi Internasional Ulama Thariqah sedunia ini menunjukan bahwa ahli thariqah itu juga berkontribusi kepada dunia dalam hal peradaban, dan kemanusiaan yang berdasarkan atas perdamaian dunia. Dan itu adalah suatu sejarah yang mungkin belum terjadi sebelumnya. Kita patut mengapresiasi kegiatan ini, terutama kepada Habib Lutfi sebagai Rais ‘Aam JATMAN yang memelopori dan menggagas acara ini. Patut kita syukuri dan teladani," ujarnya.

Ia juga berharap, acara ini bisa ditindaklanjuti dari apa yang dibahas dalam konfrensi. “Harapan saya, kita bisa melanjutkan dan menindaklanjuti acara semacam ini, sebagaimana dhawuh Habib Lutfi, bahwa thariqah harus memberikan keteladanan di tengah konflik yang banyak terjadi saat ini,” pungkasnya.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/pekalongan-dibanjiri-ulama-peserta-konferensi-internasional-bela-negara.html

Selasa, 25 Mei 2010

Bupati dan Wakil Bupati Kompak Foto Kartanu

Jombang, Santriwati Cantik. Warga NU Kota Santri patut berbangga memiliki Bupati Suyanto dan Wabup Widjono Soeparno. Sebab keduanya tak segan turut menyukseskan program-program ormas Islam terbesar itu. Termasuk program pembuatan kartu tanda anggota NU (Kartanu) yang diluncurkan di Jombang sejak 10 Maret lalu.

Rabu (10/4) kemarin, keduanya melakukan pemotretan Kartanu di komplek pendopo kabupaten.

Bupati dan Wakil Bupati Kompak Foto Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati dan Wakil Bupati Kompak Foto Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)


Bupati dan Wakil Bupati Kompak Foto Kartanu

"Saat masih aktif sebagai pengurus MWCNU Bareng, saya dulu juga ikut menggerakkan Kartanu. Saya malah masih ingat kalau waktunya pemotretan di suatu kampung mesti dilakukan ledang lebih dulu. Diworo-woro menggunakan mobil kalau hari itu warga diharap berkumpul di rumah si A untuk pemotretan Kartanu. Tak ada salahnya kalau cara-cara seperti itu digunakan lagi sekarang, kata Bupati Suyanto.

Santriwati Cantik

Wabup Widjono Soeparno sendiri mengaku bangga memiliki Kartanu. Apapun program NU pasti kita dukung. Apalagi Kartanu ini sangat banyak manfaatnya. Selain untuk pendataan, ini juga menunjukkan ketaatan kita pada para kiai dan guru-guru kita di NU, tegas adik kandung mantan Gubernur Jatim, Imam Utomo ini.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Rojiful Mamduh

Santriwati Cantik

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43694/bupati-dan-wakil-bupati-kompak-foto-kartanu

Senin, 30 November 2009

Membongkar Kebohongan FPI Seputar Demo 4 November 2016

Santriwati Cantik - Kasus kekerasan Front Pembela Islam (FPI) memang banyak terjadi. Sejak tahun 1999, FPI sudah dikenal masyarakat luas dan dijauhi banyak kalangan karena ulahnya membuat keonaran dan kekerasan. Ini catatan kekerasan FPI yang sempat didokumentasikan. Klik SINI.

Membongkar Kebohongan FPI Seputar Demo 4 November 2016
Membongkar Kebohongan FPI Seputar Demo 4 November 2016


FPI melakukan konferensi pers dengan menggunakan nama GNPF MUI terkait aksi 4 November karena mereka mengetahui jika memakai nama FPI, tidak akan dipercaya rakyat lagi mengingat rekam jejak FPI yang penuh dengan aksi anarkhis.

Aksi demo 4 November 2016 adalah tindakan makar pada pemerintah yang konstitusional dan dipilih rakyat, terbukti menjadi aksi kudeta FPI yang gagal. Semuanya terekam di internet:

1. FPI berbohong dengan mengatakan tidak ada kesepakatan antara istana dengan peserta aksi. Faktanya bisa dilihat di YouTube bahwa Ustad Bachtiar Natsir memberikan keterangan bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla bahwa sudah ada kesepakatan yang dicapai. Lihat di sini videonya:

2. FPI berbohong dengan mengatakan polisi melakukan aksi biadab. Faktanya mobil aparat keamanan dibakar, polisi dilempar batu dan dipukuli sehingga banyak dari polisi menjadi korban aksi brutal serta dirawat di rumah sakit. Lihat videonya di sini:

Semua pihak memberikan apresiasi pada Polri dan TNI yang mau menahan diri, menggunakan cara cara persuasif dan tidak meladeni provokasi. Walaupun banyak tindakan melanggar hukum, seperti melewati batas waktu yang diperbolehkan UU yang dilakukan para demonstran, tapi polisi memilih tetap toleran. Lihat beritanya di SINI.

3. FPI berbohong dengan mengatakan peserta aksi ada sekitar 2 juta orang. Faktanya, Ustad Bachtiar Nasir sendiri yang mengatakan jumlah massa hanya 100 ribu orang dan paling mentok 200 ribu orang. Dan mereka sendiri yang mengaku dibayar untuk berunjuk rasa dengan dana Rp. 100 miliar. Lihat beritanya di SINI.

4. FPI berbohong dengan mengatakan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan pakar Hukum Tata Negara pak Margarito ikut dalam unjuk rasa. Faktanya Menteri Agama selesai Sholat Jumat di Istiqlal langsung masuk ke Istana Negara. Baca beritanya di SINI.

Dan Pak Margarito sama sekali tidak ikut unjuk rasa, hanya menghadiri diskusi di tanggal 5 November tentang aksi 4 November. Cek laporannya di SINI.

5. FPI juga berbohong dengan mengatakan Wakapolri membentak Ustad Bachtiar Nasir. Faktanya, Ustad Natsir menghina serta berkata tidak sopan pada Wapres. Hal ini membuat Panglima TNI, Kapolri dan Wakapolri marah dan tidak terima atas perkataan yang menghina itu. Ini disaksikan oleh wakil dari Komisi 3 DPR yang hadir saat itu. Setelah itu, Ustad Natsir minta maaf pada Wapres. Untung saja, Pak Wapres Jusuf Kalla berbesar hati memaafkan tindakan Ustad yang betul-betul tidak bisa menjadi panutan ummat. Akhirnya, Ustad Natsir terlihat baik-baik saja tersenyum setelah menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla. Lihat videonya di sini:

6. FPI berbohong dengan mengatakan ada korban jiwa dari gas air mata. Faktanya, pemeriksaan Rumah Sakit jelas menunjukkan almarhum meninggal karena asma. Kebohongan ini dipaksakan FPI karena mereka mencari sosok martir untuk memvalidasi kudeta mereka yang gagal. Bahkan media Islam pun sudah memberitakan yang meninggal 4 November adalah karena asma. Cek beritanya di SINI.

Baca juga: Beredar Video Makar Ingin Menjadikan Indonesia Negara Perang Jika Demo 4 November Gagal Misi.

Silakan disebar agar makin banyak orang yang tidak termakan kebohongan FPI yang sengaja ingin menjatuhkan pemerintahan yang sah menggunakan cara-cara yang mengatasnamakan agama, apalagi mengatasnamakan tafsir. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/membongkar-kebohongan-fpi-seputar-demo-4-november-2016.html

Selasa, 23 Juni 2009

KMNU IIUM Meluas Jadi KMNU Malaysia

Kuala Lumpur, Santriwati Cantik. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) International Islamic University Malaysia (IIUM) kini sudah berubah nama menjadi KMNU Malaysia. Hal tersebut dilatari makin banyaknya mahasiswa di luar kampus IIUM yang ingin bergabung di KMNU.

Muhammad Robi Ulfi Zaini Tohir, ketua KMNU IIUM demisioner mengungkapkan, karena atmosfer pelajar Indonesia di setiap perguruan tinggi di Malaysia berbeda dari Indonesia, terobosan ini perlu dicanangkan guna mempermudah ruang gerak. Dengan mengubah status KMNU IIUM menjadi KMNU Malaysia, katanya, jaringan mahasiswa kader NU di Malaysia akan semakin luas.

KMNU IIUM Meluas Jadi KMNU Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU IIUM Meluas Jadi KMNU Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)


KMNU IIUM Meluas Jadi KMNU Malaysia

Perbahan nama diputuskan dalam Musyawarah Besar Ke-2 KMNU IIUM pada 2 April kemarin di ADM TR 13, Gedung utama IRK, kampus IIUM, Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam forum permusyawaratan tertinggi KMNU setempat ini , hadir para anggota KMNU IIUM dan kader NU dari perguruan tinggi lainnya di Malaysia, seperti Sayyidina Ustman ELqusyairi selaku perwakilan dari Universitas Tekhnologi Malaysia (UTM), Broto Wiguna (Universitas Kebangsaan Malaysia), dan turut bergabung pula Mahfudz Arifin, perwakilan dari Universitas Terbuka (UT).

Santriwati Cantik

Saya berharap acara Mubes ke-2 kali ini membuahkan sebuah terobosan baru untuk kemajuan KMNU di Malaysia pada periode mendatang, ungkap Ali Wafa, selaku ketua sidang di forum yang juga menjadi ajang pergantian pengurus ini.

Dalam sesi pembacaan laporan pertanggungjawaban (LPJ) kepengurusan KMNU IIUM periode 2015-2016, para peserta Mubes menerima dan mengapresiasi dengan baik kinerja pengurus selama ini.

Santriwati Cantik

Setelah serangkaian agenda mubes usai, dan keputusan perubahan status disetujui oleh forum, acara berlanjut dengan pemilihan ketua. Sesuai hasil musyawarah mufakat, forum menetapkan Nur Alfin Mubarok ketua pertama KMNU Malaysia periode 2016-2017.

Harapan kami, perubahan status menjadi KMNU Malaysia ini akan menciptakan perpaduan yang akan mewarnai kepengurusan KMNU periode kali ini, tegas Alfin, mantan koordinator Publikasi dan Dokumentasi KMNU IIUM periode 2015-2016.

Broto Wiguna, mahasiswa dari Universitas Kebangsaan Malaysia mengaku sangat senang bisa ikut bergabung dalam satu wadah bersama kader-kader NU. Kami siap berkomitmen untuk memajukan KMNU bersama di Malaysia," ujarnya. (Ali-Rofik/Mahbib)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67077/kmnu-iium-meluas-jadi-kmnu-malaysia

Selasa, 16 Juni 2009

Ini yang Dikatakan Gus Dur Saat Grup Bagito Menghinanya

Santriwati Cantik - Di awal pemerintahan Gus Dur, Grup Pelawak Bagito pernah mengejek fisik Gus Dur di dalam sebuah tayangan di stasiun Televisi. Kontan saja, salah satu warga Nahdliyin merasa keberatan dan melakukan protes ke stasiun TV yang bersangkutan.

Keesokan harinya, Bagito malah diundang ke Istana oleh Gus Dur. Bercampur rasa takut dan bersalah, mereka menghadap Gus Dur yang saat itu baru beberapa minggu menjadi Presiden.

Ini yang Dikatakan Gus Dur Saat Grup Bagito Menghinanya - Santriwati Cantik
Ini yang Dikatakan Gus Dur Saat Grup Bagito Menghinanya - Santriwati Cantik


Ini yang Dikatakan Gus Dur Saat Grup Bagito Menghinanya

Dalam perbincangan itu, Gus Dur bukannya menegur dan memarahi mereka. Melainkan menasehati Bagito untuk terus memberikan kritik kepada pemerintah. Gus Dur juga berpesan, jika tidak ada kritik kepada pemerintah, Demokrasi akan mati.

Di akhir pertemuan itu, Miing, salah satu anggota Bagito bertanya pada Gus Dur, bolehkah mereka tetap melawak di stasiun televisi?

Santriwati Cantik

Saat itu Gus Dur menjawab, "Jangan tanya pada saya, tapi tanyalah kepada pemilik stasiun tv itu. Namun jika kalian ditolak, tolong hubungi saya".

****

Santriwati Cantik

Setelah puluhan tahun berlalu, kejadian hampir serupa berulang kembali. Sasarannya bukan lagi Gus Dur, melainkan para kyai NU yang maqomnya sangat dihormati oleh kalangan Nahdliyin.

Apa yang dilakukan para kyai itu ? Bagi orang di luar Nahdliyin pasti heran. Para kyai itu malah dengan terbuka memafkan para pelaku.

Hal ini tentu saja beda dengan teman-teman di sebelah ketika peristiwa yang sama terjadi pada mereka, mungkin akan mengkondisikan "umatnya" untuk turun ke jalan ataupun menempuh jalur hukum.

Namun seandainya para kyai NU itu menghendaki, ratusan ribu GP Anshor dan Banser seluruh Indonesia akan bilang kepada para kyai, Sami'na Wa Atho'na/ saya dengar dan akan saya laksanakan.

Disinilah yang membedakannya. Akhlak para kyai itu dipelajari turun temurun dari guru ke murid terus berkesinambungan sampai sanadnya ketemu dengan Rosulullah. [Santriwati Cantik]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/ini-yang-dikatakan-gus-dur-saat-grup-bagito-menghinanya.html

Sabtu, 06 Agustus 2005

Ikhtiar Majalah Surah untuk Penulis Pesantren

Jakarta, Santriwati Cantik. Pada Ramadhan tahun ini, Majalah Surah menggelar pelatihan menulis di sejumlah pesantren di Jakarta, Depok, Bogor, dan Bekasi. Karena merupakan majalah sastra, Surah dengan program Ngabuburit Bareng Surah belajar bareng bersama santri-santri bidang prosa (novel dan cerpen) dan puisi.

Pemimpin Umum Majalah Surah Abi Setyo Nugroho mengatakan, pelatihan ini merupakan ikhtiar "menemukan" dan mengasah para penulis di pondok-pondok pesantren. Dikatakan menemukan, menurut dia, karena sangat mungkin di pesantren ada bakat-bakat penulis.

Ikhtiar Majalah Surah untuk Penulis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikhtiar Majalah Surah untuk Penulis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)


Ikhtiar Majalah Surah untuk Penulis Pesantren

Kepada yang sudah berbakat, Majalah Surah berharap untuk berbagi dalam masalah teknis penulis, menyemangati mereka mereka supaya tetap berkarya. Kemudian bagaimana cara mengirim karya ke media-media nasional. Serta berjejaring dengan penulis-penulis lain, katanya kepada Santriwati Cantik, di Jakarta, Jumat (3/7).

Tentang itu, Abi menekankan, Majalah Surah misalnya yang memasuki edisi 6, beberapa kali menemukan penulis pesantren yang berbakat. Kalau terus diasah teknik dan kepekaannya, disuplai buku-buku yang bagus, disilaturahimkan dengan penulis lain, mereka akan menjadi penulis handal.

Santriwati Cantik

Lagi-lagi tentang bakat, ia menyebutkan pernah membaca satu cerpen yang dipublikasi di situs Santriwati Cantik karya santriwati dari Magelang. Dalam usia SMA, ia menulis dengan baik dan panjang. Tidak mustahil bakat itu terpendam di pesantren-pesantren di berbagai pelosok. Cuma sayangnya, kemampuan Surah masih di sekitar Jabodetabek, kata pria berkacamata ini.

Santriwati Cantik

Meski demikian, ia menambahkan, menulis itu bukan melulu persoalan bakat, tapi juga keahlian. Karenanya, menulis bisa dengan cara terus berlatih. Maka Surah berbagi teknik-teknik menulis. Mulai dari cara bagaimana penokohan, alur, dan lain sebagainya. Serta proses kreatif dari berbagai penulis yang sudah lebih dahulu berkarya. Tak hanya itu, mereka juga diajak menonton film.

Teknik-teknik menulis disampaikan para Redaktur Majalah Surah. Untuk novel disampaikan editor di penerbitan Mocca, Dedik Priyanto. Untuk cerpen disampaikan A Zakky Zulhazmi, cerpenis yang karyanya dimuat di beberapa harian nasional dan daerah. Kumpulan cerpennya yang ditulis bersama sahabatnya terbit awal tahun ini, Gula Kawung, Pohon Avokad dan Cerita Lainnya. Sementara puisi disampaikan M Irfan Kurniawan yang karya-karyanya dimuat di media nasional.

Kemudian, Abi menambahkan, setelah mendapatkan materi itu, para peserta diberikan motivasi khusus oleh para Dewan Redaksi Majalah Surah. Di Pesantren Qotrun Nada, Depok, misalnya, Surah mempertemukan santri dengan kritikus sastra yang dosen sastra Universitas Indonesia, Maman S Mahayana.

Sementara di Pesantren Assalam, Bogor, Surah mengajak Dewan Redaksi lain yang juga penulis Al-Hikam untuk Semua, Muhaji Fikriono. Di Pesantren Tapak Sunan, Jakarta Timur, Surah menghadirkan Abdullah Wong yang penulis novel Mata Penakluk, sebuah buku yang mengisahkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Selain tiga pesantren tersebut, Surah akan melakukan hal yang sama di Pesantren Al-Asiyah Cibinong Bogor dan Pondok Pesantren An-Nur, Bekasi Utara. Di tiap pesantren, Surah juga membagikan buku-buku yang menarik untuk peserta yang aktif dan untuk koleksi perpustakaan, tambah Abi.

Ngabuburit bareng Surah yang dikemas dengan santai, diselingi suguhan musik dari awak Majalah Surah tersebut, merupakan kerja sama dengan Penerbit Zaman, Lakpesdam NU, dan Penerbit Banana, serta Santriwati Cantik. (Abdullah Alawi)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/60615/ikhtiar-majalah-surah-untuk-penulis-pesantren

Santriwati Cantik

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santriwati Cantik sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santriwati Cantik. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santriwati Cantik dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock